Kesaksian Mencekam Penumpang Selamat Bus ALS: Antara Firasat Buruk dan Kobaran Api di Jalur Muratara

Dimas Pratama | RADAR LOKAL
07 Mei 2026, 12:18 WIB
Kesaksian Mencekam Penumpang Selamat Bus ALS: Antara Firasat Buruk dan Kobaran Api di Jalur Muratara

RadarLokal — Tragedi memilukan kembali mengoyak ketenangan aspal jalan lintas Sumatera, tepatnya di wilayah Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan. Sebuah insiden hebat yang melibatkan bus antar-provinsi ternama, ALS, dengan sebuah truk tangki BBM, menyisakan duka mendalam serta kisah-kisah heroik sekaligus menyayat hati dari mereka yang berhasil lolos dari maut. Di tengah puing-puing kendaraan yang hangus menghitam, terselip kesaksian dari empat nyawa yang secara ajaib berhasil keluar dari kepungan api yang membara.

Detik-Detik Mencekam di Tengah Kobaran Api

Kejadian yang berlangsung begitu cepat ini tidak hanya meninggalkan trauma psikis, tetapi juga luka fisik yang nyata bagi para penyintas. Tercatat empat orang penumpang berhasil menyelamatkan diri dari bus yang terjebak dalam kecelakaan maut tersebut. Mereka adalah M Tahrul Hubaidi (31), Padli (30), Ngadiono (44), dan sang istri, Jumiatun (34). Namun, keselamatan mereka dibayar mahal dengan luka bakar serius yang menyelimuti tubuh hampir sebagian besar dari mereka.

Baca Juga Gencatan Senjata Berdarah: Serangan Udara Israel di Lebanon Tewaskan Petugas Medis
Gencatan Senjata Berdarah: Serangan Udara Israel di Lebanon Tewaskan Petugas Medis

Hanya Padli yang dilaporkan mengalami luka ringan, sementara tiga rekan lainnya harus berjuang melawan rasa sakit akibat luka bakar yang cukup parah. Saat ini, mereka tengah menjalani perawatan intensif di RSUD Rupit, merajut kembali harapan hidup setelah sempat berada di ambang kematian. Narasi yang mereka bawa dari dalam bus yang terbakar memberikan gambaran betapa mengerikannya situasi kecelakaan maut tersebut terjadi.

Firasat Buruk yang Menjadi Nyata

Bagi Ngadiono, perjalanan kali ini terasa sangat berbeda sejak awal. Duduk di ranjang rumah sakit dengan perban yang membalut lukanya, ia mengenang kembali perasaan tidak enak yang menghantuinya sebelum bus mulai melaju meninggalkan terminal. Ada sebuah keresahan yang sulit ia jelaskan, namun sangat terasa di hatinya. Kondisi fisik bus ALS yang mereka tumpangi pun dinilai jauh dari kata prima.

Baca Juga Hoaks Begal Sadis di Tambora Viral di Medsos, RadarLokal Ungkap Fakta Sebenarnya: Kecelakaan Tunggal Akibat Miras
Hoaks Begal Sadis di Tambora Viral di Medsos, RadarLokal Ungkap Fakta Sebenarnya: Kecelakaan Tunggal Akibat Miras

“Dari awal kami sudah punya firasat tidak baik. Kondisi mobilnya sudah tidak bagus, mesin suaranya kasar dan rasanya ada yang tidak beres,” ungkap Ngadiono dengan suara yang masih terdengar bergetar saat diwawancarai oleh tim RadarLokal. Namun, desakan kebutuhan dan tiket yang sudah terlanjur dibeli tanpa opsi pembatalan (refund) membuat ia dan istrinya, Jumiatun, terpaksa menepis keraguan tersebut dan tetap naik ke dalam kabin bus yang ternyata menjadi peti mati bagi belasan penumpang lainnya.

Suara Benturan dan Ledakan yang Menggetarkan Jiwa

Keadaan tenang di dalam bus berubah menjadi neraka dalam hitungan detik. Ngadiono menceritakan bahwa saat mereka sedang melaju, tiba-tiba terdengar suara benturan logam yang sangat keras. Tak butuh waktu lama, hanya dalam hitungan detik setelah benturan dengan truk tangki BBM tersebut, percikan api muncul dan langsung berkobar dengan sangat cepat ke seluruh bagian bus. Ruang kabin yang tadinya dipenuhi aroma perjalanan, seketika berubah menjadi pengap oleh asap hitam pekat dan hawa panas yang menyengat.

Baca Juga Aksi Brutal Sopir Taksi Online di Tol JORR: Pukul Mobil Pakai Kunci Roda Hingga Berujung Jeruji Besi
Aksi Brutal Sopir Taksi Online di Tol JORR: Pukul Mobil Pakai Kunci Roda Hingga Berujung Jeruji Besi

“Saat kejadian itu saya mendengar suara benturan keras, lalu tiba-tiba ada api dan langsung membesar. Seketika bus sudah terbakar,” tambahnya dengan mata berkaca-kaca. Kepanikan pun meledak di dalam bus. Para penumpang berteriak histeris, mencari jalan keluar di tengah asap yang membutakan mata. Dalam situasi antara hidup dan mati tersebut, insting bertahan hidup Ngadiono bekerja dengan cepat.

Melompat Keluar dari Jendela Maut

Ngadiono yang duduk di posisi tengah bus menyadari bahwa pintu utama bukanlah pilihan yang memungkinkan karena api sudah menutup akses tersebut. Tanpa pikir panjang, ia menggunakan kekuatan terakhirnya untuk memecahkan kaca jendela bus. Dengan tangan yang mungkin sudah mulai terluka, ia memastikan ada celah bagi dirinya dan sang istri untuk keluar dari jebakan api. Ia memanjat keluar dan dengan sisa tenaga menarik istrinya, Jumiatun, menjauh dari bus yang kian membara.

Baca Juga Dilema Tarif Transjakarta: Setelah 21 Tahun Bertahan di Angka Rp 3.500, Kini Kenaikan Mulai Dikaji
Dilema Tarif Transjakarta: Setelah 21 Tahun Bertahan di Angka Rp 3.500, Kini Kenaikan Mulai Dikaji

Aksi penyelamatan diri ini kemudian diikuti oleh M Tahrul Hubaidi yang juga berhasil menyusul keluar tepat sebelum bus benar-benar tertutup api sepenuhnya. Namun, kelegaan karena berhasil keluar segera berganti dengan rasa pilu yang luar biasa. Dari pinggir jalan, mereka hanya bisa terpaku melihat kobaran api yang melahap habis bus beserta rekan-rekan perjalanan mereka yang masih terjebak di dalam.

Saksi Bisu Tragedi yang Menewaskan 16 Orang

Tragedi ini menjadi salah satu kecelakaan transportasi paling kelam di wilayah Musi Rawas Utara. Ngadiono mengaku hatinya hancur melihat jeritan minta tolong yang perlahan-lahan hilang ditelan suara ledakan dari dalam bus. “Kami hanya bisa melihat penumpang lain terjebak dan terbakar di dalam bus. Kami tidak bisa berbuat apa-apa, apinya sangat besar dan terus meledak,” tuturnya dengan nada penuh penyesalan dan duka mendalam.

Baca Juga Guncangan Global: Menguak Makna di Balik Latihan Nuklir Terbesar Rusia dan Ancaman Triade Strategis
Guncangan Global: Menguak Makna di Balik Latihan Nuklir Terbesar Rusia dan Ancaman Triade Strategis

Ledakan demi ledakan terdengar menyusul benturan tersebut, memperparah situasi dan membuat upaya pertolongan dari warga sekitar menjadi sangat berisiko. Bus ALS yang legendaris di jalur Sumatera itu kini hanya menyisakan kerangka besi yang menghitam, menjadi saksi bisu tewasnya 16 orang yang tak sempat menyelamatkan diri. Fakta ini menambah panjang daftar kecelakaan bus yang terjadi di jalur lintas yang memang dikenal menantang ini.

Menyoal Standar Keamanan Transportasi Publik

Kejadian tragis ini kembali memicu diskusi hangat mengenai kelayakan armada transportasi publik, khususnya bus antar-kota antar-provinsi (AKAP). Pengakuan Ngadiono mengenai kondisi bus yang sudah tidak bagus sejak awal keberangkatan seharusnya menjadi alarm keras bagi otoritas transportasi dan perusahaan otobus untuk lebih memperketat pengawasan teknis armada mereka. Keselamatan transportasi tidak boleh dikorbankan demi efisiensi biaya atau ketidaksediaan armada cadangan.

Setiap penumpang yang membayar tiket berhak atas jaminan keamanan dan kelayakan kendaraan. Ketika sebuah armada dipaksakan jalan meskipun kondisinya sudah tidak layak, maka risiko seperti yang terjadi di Muratara ini akan selalu menghantui. Masyarakat berharap adanya investigasi menyeluruh atas penyebab kecelakaan ini, apakah murni karena faktor teknis kendaraan, kelalaian manusia (human error), atau kondisi infrastruktur jalan yang memang berbahaya.

Harapan Untuk Para Penyintas

Kini, Ngadiono, Jumiatun, Tahrul, dan Padli harus menempuh perjalanan panjang menuju pemulihan. Luka fisik akibat terbakar mungkin bisa sembuh seiring waktu, namun trauma psikis melihat rekan seperjalanan meregang nyawa di depan mata akan menjadi luka yang membekas selamanya. Dukungan psikologis sangat dibutuhkan bagi para korban selamat agar mereka bisa kembali menata hidup pasca tragedi ini.

RadarLokal akan terus memantau perkembangan kondisi para korban dan hasil investigasi dari pihak kepolisian terkait kecelakaan hebat ini. Semoga tragedi di Sumatera Selatan ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak agar tidak ada lagi nyawa yang harus melayang sia-sia di atas aspal jalan raya hanya karena kelalaian dalam menjaga standar keamanan transportasi.

Dimas Pratama

Dimas Pratama

Jurnalis lapangan senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun. Fokus pada isu sosial dan kebijakan publik di Radar News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *