Ketakutan Terhadap AI Meningkat: 76 Persen Masyarakat Indonesia Khawatir Kehilangan Pekerjaan

Dimas Pratama | RADAR LOKAL
01 Jun 2026, 20:10 WIB
Ketakutan Terhadap AI Meningkat: 76 Persen Masyarakat Indonesia Khawatir Kehilangan Pekerjaan

RadarLokal — Laju teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini bukan lagi sekadar bumbu cerita dalam film fiksi ilmiah. Ia telah bertransformasi menjadi realitas yang menyentuh berbagai sendi kehidupan, termasuk ruang-ruang kantor dan lini produksi pabrik. Namun, di balik efisiensi yang ditawarkan, tersimpan kegelisahan kolektif yang kian menebal. Sebuah laporan terbaru mengungkapkan fenomena menarik mengenai bagaimana masyarakat dunia, khususnya Indonesia, memandang masa depan profesi mereka di tengah kepungan algoritma pintar.

Bayang-Bayang AI di Dunia Kerja: Masa Depan atau Ancaman?

Kehadiran AI memang menjanjikan revolusi produktivitas yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mulai dari pengolahan data raksasa dalam hitungan detik hingga kemampuan menciptakan karya seni dan tulisan yang kompleks. Namun, bagi sebagian besar tenaga kerja, kemajuan ini ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi membantu pekerjaan, namun di sisi lain mengancam eksistensi peran manusia itu sendiri. Ketakutan akan otomatisasi yang berujung pada pemutusan hubungan kerja (PHK) massal kini menjadi narasi yang mendominasi diskusi di dunia digital.

Baca Juga Tragedi Malam di Tanah Sareal: Seorang Pemulung Tewas Mengenaskan Tersambar KRL di Bogor
Tragedi Malam di Tanah Sareal: Seorang Pemulung Tewas Mengenaskan Tersambar KRL di Bogor

Sentimen ini bukan sekadar asusmsi belaka. Berdasarkan riset mendalam yang dilakukan oleh lembaga survei kenamaan asal Prancis, Ipsos, tercatat ada pergeseran paradigma yang cukup signifikan di kalangan pekerja global. Ketidakpastian ekonomi yang dipadukan dengan percepatan adopsi teknologi membuat banyak orang merasa berada di posisi yang rentan.

Menelisik Laporan Ipsos: Sebuah Peta Kecemasan Global

Ipsos baru-baru ini merilis Predictions Report 2026, sebuah laporan komprehensif yang memotret pandangan masyarakat global terhadap berbagai isu krusial, termasuk perkembangan kecerdasan buatan. Survei berskala internasional ini melibatkan total 23.642 responden dewasa dari 30 negara berbeda. Periode pengambilan data dilakukan cukup ketat, yakni mulai dari 24 Oktober hingga 7 November 2025.

Metodologi yang digunakan mencakup berbagai rentang usia untuk mendapatkan gambaran yang representatif. Di India, responden yang terlibat adalah mereka yang berusia 18 tahun ke atas. Sementara di negara-negara seperti Kanada, Malaysia, Afrika Selatan, Turki, hingga Amerika Serikat, sampel diambil dari kelompok usia 18-74 tahun. Indonesia sendiri, bersama Singapura, fokus pada responden di rentang usia 21-74 tahun, yang merupakan usia produktif utama dalam struktur ekonomi nasional.

Baca Juga Drama Penggeledahan Rumah Silmy Karim: KPK Sisir Kawasan Elit Brawijaya Usai Penetapan Tersangka
Drama Penggeledahan Rumah Silmy Karim: KPK Sisir Kawasan Elit Brawijaya Usai Penetapan Tersangka

Setiap negara besar seperti Australia, Brasil, Jerman, Inggris, hingga Indonesia menyumbang sekitar 1.000 responden. Sedangkan untuk negara dengan skala populasi yang berbeda seperti Argentina, Singapura, dan Korea Selatan, diambil sampel sekitar 500 individu. Khusus untuk India, Ipsos melakukan pendekatan hibrida dengan mewawancarai 2.200 orang secara tatap muka dan daring guna memastikan validitas data di wilayah yang memiliki keragaman akses teknologi tinggi.

Indonesia dan Singapura: Berada di Puncak Kegelisahan

Hasil dari survei tersebut cukup mengejutkan sekaligus menjadi alarm bagi pemangku kebijakan di tanah air. Ditemukan bahwa secara global, sebanyak 67% responden merasa cemas bahwa AI akan melenyapkan banyak lapangan kerja di masa depan. Angka ini menunjukkan tren peningkatan jika dibandingkan dengan data tahun 2025 yang berada di angka 64%.

Baca Juga Wajah Baru Lapas Indonesia: Mensos Gus Ipul Beri Apresiasi Tinggi Terhadap Strategi Transformasi Menteri Imipas
Wajah Baru Lapas Indonesia: Mensos Gus Ipul Beri Apresiasi Tinggi Terhadap Strategi Transformasi Menteri Imipas

Yang menjadi catatan khusus adalah posisi Indonesia. Masyarakat Indonesia menempati urutan teratas sebagai warga negara yang paling khawatir pekerjaannya akan digantikan oleh mesin pintar. Tidak sendirian, Indonesia berbagi posisi puncak dengan Singapura, di mana keduanya mencatatkan angka sentimen sebesar 76%. Hal ini menunjukkan bahwa baik di negara berkembang maupun negara maju di kawasan Asia Tenggara, ancaman disrupsi teknologi dirasakan dengan intensitas yang sama kuatnya.

Daftar Negara Paling Khawatir Terhadap Ekspansi AI

Kecemasan ini tidak merata di seluruh dunia, namun daftar sepuluh besar didominasi oleh negara-negara yang tengah mengalami transformasi digital yang pesat. Berikut adalah daftar negara dengan persentase masyarakat tertinggi yang merasa terancam oleh kehadiran AI dalam dunia kerja:

Baca Juga Terobosan Jember dalam Verifikasi Data Miskin Ekstrem: Strategi ‘Ground Check’ yang Mendapat Apresiasi Kemensos
Terobosan Jember dalam Verifikasi Data Miskin Ekstrem: Strategi ‘Ground Check’ yang Mendapat Apresiasi Kemensos
  • Indonesia: 76%
  • Singapura: 76%
  • Kolombia: 73%
  • Turki: 73%
  • Prancis: 73%
  • Malaysia: 72%
  • Afrika Selatan: 72%
  • Australia: 72%
  • Peru: 70%
  • Britania Raya: 69%

Munculnya negara-negara seperti Kolombia, Turki, dan Peru dalam daftar ini mengindikasikan bahwa isu AI bukan lagi monopoli negara-negara industri barat. Negara-negara dengan ekonomi berkembang mulai menyadari bahwa ketergantungan pada tenaga kerja manual atau administratif konvensional kini berada di ujung tanduk akibat efisiensi teknologi baru.

Pergeseran Tren: Mengapa Ketakutan Ini Meningkat di 2026?

Ada beberapa faktor yang menyebabkan mengapa tingkat kecemasan ini terus merangkak naik dari tahun ke tahun. Pertama, kemampuan AI generatif yang semakin natural. Jika beberapa tahun lalu AI hanya dianggap mampu mengerjakan tugas rutin yang berulang, kini AI sudah mulai merambah sektor kreatif, penulisan kode pemrograman, hingga analisis hukum yang mendalam. Hal ini membuat pekerja kerah putih (white-collar) yang sebelumnya merasa aman, kini mulai merasakan hembusan napas kompetisi dari mesin.

Baca Juga Dilema Aktivis di Panggung Politik: Mengapa Ade Armando Memilih Mundur dari PSI?
Dilema Aktivis di Panggung Politik: Mengapa Ade Armando Memilih Mundur dari PSI?

Kedua, penetrasi AI yang semakin mudah diakses melalui perangkat seluler dan platform berbasis cloud membuat disrupsi terjadi jauh lebih cepat daripada kemampuan pasar tenaga kerja untuk melakukan adaptasi. Ketakutan akan kehilangan mata pencaharian ini seringkali berkaitan dengan kurangnya program reskilling atau pelatihan ulang yang memadai untuk menghadapi transisi ekonomi global yang baru.

Menghadapi Dilema: Adaptasi atau Tereliminasi?

Bagi Indonesia, angka 76% ini adalah sebuah pesan kuat bahwa ada kebutuhan mendesak untuk merumuskan strategi nasional dalam menghadapi era kecerdasan buatan. Pemerintah dan sektor swasta perlu bekerja sama dalam menciptakan ekosistem di mana AI dipandang sebagai alat bantu (augmentasi), bukan sebagai pengganti total peran manusia. Pendidikan vokasi dan kurikulum perguruan tinggi harus segera disesuaikan untuk mengajarkan keterampilan yang tidak bisa direplikasi oleh AI, seperti empati, pemikiran kritis yang kompleks, serta manajemen strategis.

Di sisi lain, masyarakat juga didorong untuk mulai melek teknologi. Ketakutan yang berlebihan seringkali lahir dari ketidaktahuan. Dengan memahami cara kerja AI, pekerja justru bisa memanfaatkan teknologi tersebut untuk meningkatkan nilai tawar mereka di pasar kerja. Transformasi memang menyakitkan bagi mereka yang diam, namun memberikan peluang tak terbatas bagi mereka yang bersedia terus belajar.

Kesimpulan dari RadarLokal

Kecemasan yang terekam dalam laporan Ipsos ini adalah cerminan dari transisi zaman yang penuh ketidakpastian. Indonesia, dengan populasi usia produktif yang besar, berada di persimpangan jalan yang krusial. Apakah kita akan membiarkan teknologi menjadi ancaman yang melumpuhkan, atau justru menjadikannya batu loncatan untuk melompat lebih tinggi dalam kancah ekonomi dunia?

Data ini sejatinya tidak bertujuan untuk menakut-nakuti, melainkan sebagai bahan refleksi bagi kita semua. Bahwa di masa depan, tantangan terbesar bukanlah melawan mesin, melainkan bagaimana kita tetap mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan sambil berdampingan dengan kecerdasan buatan. Tetap pantau perkembangan tren teknologi terbaru hanya di RadarLokal untuk navigasi masa depan Anda yang lebih baik.

Dimas Pratama

Dimas Pratama

Jurnalis lapangan senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun. Fokus pada isu sosial dan kebijakan publik di Radar News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *