Kisah Inspiratif Ruskandar: Mengubah Halaman Rumah Menjadi Lumbung Rezeki Bioflok Berkat Dukungan BRI
RadarLokal — Di bawah rintik hujan yang membasahi Desa Purwasari, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, suara desis halus dari gelembung udara menjadi simfoni harian di kediaman Ruskandar. Gelembung-gelembung itu bukan sekadar hiasan, melainkan nyawa bagi ribuan ikan nila yang tengah dibesarkan dalam kolam-kolam bioflok. Di usianya yang menginjak 63 tahun, Ruskandar membuktikan bahwa masa pensiun bukanlah waktu untuk berhenti berkarya, melainkan momentum untuk melahirkan inovasi baru yang berdampak bagi ekonomi keluarga dan lingkungan sekitar.
Mengenakan pakaian santai namun tetap menunjukkan semangat muda, pria yang merupakan purnatugas dari salah satu perusahaan BUMN ini mengajak kami berkeliling. Delapan kolam bundar berjajar rapi di halaman rumahnya, sebuah pemandangan yang kontras dengan ritme kerja kantoran yang ia jalani selama puluhan tahun. Bagi Ruskandar, beralih dari meja kerja ke kolam ikan adalah sebuah perjalanan spiritual sekaligus strategi ekonomi yang matang untuk tetap produktif di masa senja melalui pemberdayaan ekonomi mandiri.
Revolusi dari Konvensional ke Teknologi Bioflok
Perjalanan Ruskandar dimulai pada tahun 2019. Kala itu, ia masih menggunakan metode budidaya konvensional. Namun, ia segera menyadari bahwa cara lama memiliki banyak keterbatasan, terutama dalam hal penggunaan lahan dan efisiensi air. Produksi yang rendah dan kendala teknis membuatnya hampir menyerah, hingga akhirnya ia mengenal sistem bioflok pada awal 2025.
“Jika menggunakan sistem konvensional, satu meter kubik air hanya mampu menampung sekitar 25 ekor ikan. Namun dengan rekayasa lingkungan bioflok, kita bisa meningkatkan kapasitasnya menjadi 150 hingga 200 ekor,” jelas Ruskandar dengan antusias. Berkat informasi yang ia gali dari internet dan diskusi intensif dengan para pakar dari Institut Pertanian Bogor (IPB), ia mulai memahami pentingnya menjaga parameter air seperti oksigen, pH, suhu, hingga pengelolaan amonia.
Metode bioflok sendiri mengandalkan aktivitas mikroorganisme yang mengubah kotoran ikan menjadi gumpalan (floc) yang dapat menjadi pakan tambahan. Hal ini tidak hanya menghemat pakan, tetapi juga menjaga kualitas air tetap optimal tanpa harus sering berganti air, sebuah solusi cerdas untuk usaha ikan nila di wilayah dengan keterbatasan sumber air.
Pahit Getir Membangun Ekosistem Mandiri
Keberhasilan yang dinikmati Ruskandar saat ini tidak datang begitu saja. Ia sempat mengalami masa-masa sulit saat baru beralih ke sistem bioflok. Kesalahan dalam penanganan bibit (handling) akibat jarak angkut yang terlalu jauh mengakibatkan angka kematian ikan yang sangat tinggi. Dari 8.000 bibit yang ia beli, hanya 1.250 ekor yang berhasil bertahan hidup.
“Itu adalah pelajaran berharga. Saya belajar bahwa detail sekecil apa pun dalam budidaya ini sangat menentukan hasil akhir,” kenangnya. Kegagalan tersebut tidak membuatnya surut, justru memaksanya untuk lebih teliti dalam memilih supplier bibit dan memperbaiki teknik transportasi hingga ikan masuk ke kolam karantina di rumahnya.
Kini, pengelolaan delapan kolam miliknya telah terbagi dengan sangat sistematis. Enam kolam difokuskan untuk pembesaran, satu kolam khusus untuk pemijahan guna menjamin keberlanjutan stok bibit, dan satu kolam lagi sebagai tempat penampungan ikan yang siap panen. Strategi tebar padat yang ia terapkan kini mulai membuahkan hasil yang manis.
Kualitas Unggul: Tanpa Bau Lumpur dan Daging Lebih Tebal
Salah satu keunggulan utama dari produk ikan nila bioflok milik Ruskandar adalah kualitas dagingnya. Banyak konsumen dan pedagang yang memberikan testimoni positif bahwa ikan produksinya tidak memiliki aroma lumpur yang seringkali menjadi keluhan pada ikan hasil kolam tanah konvensional. Tekstur dagingnya pun dinilai lebih tebal dan gurih.
Hal ini membuat pasar Ruskandar meluas dengan sendirinya melalui promosi mulut ke mulut. Meski belum merambah pasar online, pembelinya sudah mencakup wilayah Bogor, Jakarta, hingga Tangerang. Para pembeli ini terdiri dari pedagang eceran, pemilik rumah makan, hingga pengelola koperasi ikan berskala besar.
“Pembeli dari Jakarta biasanya datang membawa uang saja. Semua peralatan, mulai dari oksigen hingga plastik pengemasan, kami yang sediakan. Itulah mengapa harganya sedikit berbeda dibandingkan dengan pembeli lokal Bogor,” tambahnya. Fleksibilitas layanan inilah yang membuat budidaya ikan bioflok miliknya tetap kompetitif di pasar yang dinamis.
Sinergi Permodalan Bersama BRI Kupedes
Dalam upaya memperbesar skala usahanya, Ruskandar menyadari bahwa ia membutuhkan suntikan modal yang cepat dan terpercaya. Di sinilah peran Kredit Umum Pedesaan (Kupedes) BRI menjadi sangat krusial. Ia mengajukan pinjaman sebesar Rp 15 juta yang dialokasikan sepenuhnya untuk peningkatan sarana produksi dan ketersediaan pakan berkualitas.
Ruskandar mengaku sangat terkesan dengan kecepatan layanan BRI. “Hanya dalam hitungan hari setelah survei dilakukan, dana langsung cair. Respon yang cepat ini sangat membantu pelaku usaha kecil seperti kami yang seringkali berkejaran dengan waktu produksi,” ungkapnya penuh syukur.
Dampak ekonomi dari usaha ini pun sangat terasa. Dalam sekali siklus panen, satu kolam mampu menghasilkan sekitar enam kuintal ikan. Jika dikalkulasikan dari seluruh kolam pembesaran, total produksi bisa menembus angka tiga ton. Keuntungan bersih per kolam mencapai Rp 2 juta, memberikan tambahan penghasilan yang sangat berarti bagi seorang pensiunan untuk menjaga stabilitas finansial keluarga.
Membangun Ekosistem Ekonomi Lokal
Kehadiran usaha Ruskandar di Desa Purwasari juga memberikan multiplier effect bagi warga sekitar. Ia kini mampu mempekerjakan tenaga kerja lokal secara temporer saat masa panen atau sortir ikan. Selain itu, warga sekitar, terutama pemilik warung nasi, merasa sangat terbantu karena bisa mendapatkan ikan segar berkualitas dengan harga yang lebih miring karena memotong rantai distribusi pasar yang panjang.
Kepala Unit BRI Sindang Barang, Jexon Markus, dalam kesempatan terpisah menyatakan apresiasinya terhadap dedikasi Ruskandar. Menurutnya, pemanfaatan teknologi bioflok adalah contoh nyata penggunaan modal yang tepat guna untuk pengembangan UMKM di tingkat desa.
“Kami di BRI berkomitmen untuk tidak hanya memberikan pinjaman, tetapi juga mendorong terbentuknya ekosistem ekonomi yang berkelanjutan. Dari bibit, pakan, hingga pemasaran, semuanya harus saling terhubung. Apa yang dilakukan Pak Ruskandar adalah model ideal yang ingin kami terus dukung,” tegas Jexon.
Kisah Ruskandar menjadi bukti nyata bahwa dengan kemauan untuk terus belajar dan dukungan perbankan yang tepat, masa pensiun bisa menjadi babak baru yang penuh keberkahan. Di balik gemericik air kolam biofloknya, tersimpan optimisme besar tentang ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi dari halaman rumah sendiri.