Lonceng Kematian Dominasi Manusia? Masayoshi Son Ungkap AI Mulai Merancang Kecerdasan Super Secara Mandiri
RadarLokal — Dunia teknologi saat ini tengah berada di ambang revolusi yang mungkin menjadi titik balik paling krusial dalam sejarah peradaban manusia. Bayangan tentang mesin yang mampu memperbaiki dan mengembangkan dirinya sendiri—sebuah konsep yang dulu hanya menjadi konsumsi film fiksi ilmiah—kini mulai menampakkan wujudnya di dunia nyata. Kabar mengejutkan datang dari jajaran petinggi industri teknologi global yang menyebutkan bahwa model kecerdasan buatan masa depan kini bukan lagi murni hasil buah pikir manusia, melainkan dirancang oleh model AI itu sendiri.
Masayoshi Son, CEO SoftBank sekaligus salah satu tokoh paling berpengaruh di dunia investasi teknologi, baru-baru ini melontarkan pernyataan yang membuat banyak pihak terperangah. Dalam sebuah diskusi mendalam, ia mengungkapkan sebuah fakta yang menggetarkan: OpenAI kini tengah mengembangkan model generasi terbarunya dengan bantuan aktif dari model kecerdasan buatan yang sudah ada. Fenomena ini dipandang sebagai tanda awal bahwa dunia sedang bergerak menuju apa yang disebut sebagai Artificial Superintelligence (ASI) atau kecerdasan super buatan.
Era Baru: Ketika AI Menjadi Arsitek bagi Dirinya Sendiri
Laporan yang dihimpun oleh tim RadarLokal menunjukkan bahwa keterlibatan AI dalam merancang penerusnya bukan lagi sekadar eksperimen laboratorium. Masayoshi Son, yang memiliki akses eksklusif terhadap dapur pengembangan OpenAI melalui posisi SoftBank sebagai investor besar, mengaku telah berdiskusi langsung dengan Sam Altman dan para insinyur di garis depan pengembangan teknologi ini. Mereka mengonfirmasi bahwa pola kerja pengembangan teknologi AI telah berubah secara fundamental.
Jika sebelumnya ribuan insinyur manusia harus memeras otak untuk menyusun algoritma yang lebih efisien, kini peran tersebut perlahan mulai digantikan. Model AI saat ini dianggap memiliki kapasitas untuk memetakan arsitektur data dan logika yang jauh lebih kompleks daripada yang bisa dibayangkan oleh otak manusia. Son menegaskan bahwa ke depannya, kemampuan kognitif manusia tidak akan lagi mencukupi untuk merancang lompatan besar dalam kecerdasan buatan generasi berikutnya.
“Begitu proses ini dimulai, model AI akan menciptakan model AI berikutnya, dan proses ini akan menghasilkan kecerdasan yang jauh lebih cerdas secara eksponensial dibandingkan kita semua. Inilah yang kita sebut sebagai kecerdasan super,” jelas Son dalam sebuah wawancara yang menjadi sorotan global. Hal ini menandakan bahwa kita sedang memasuki fase self-evolving technology, di mana evolusi teknologi tidak lagi bergantung pada kecepatan biologis manusia.
Akselerasi Menuju Kecerdasan Super: Lebih Cepat dari Dugaan
Salah satu poin paling menarik sekaligus mencemaskan dari pernyataan Son adalah pergeseran lini masa kehadirannya kecerdasan super. Sebelumnya, banyak ahli memprediksi bahwa ASI mungkin baru akan terwujud dalam dekade mendatang. Pada awal 2024, Son sendiri sempat bersikap konservatif dengan menyebutkan rentang waktu sepuluh tahun agar publik tidak terlalu terkejut dengan perubahan drastis yang akan terjadi.
Namun, dalam perkembangan terbaru, bos SoftBank ini merevisi prediksinya secara radikal. Ia kini meyakini bahwa era di mana AI memiliki kecerdasan 10.000 kali lipat dari rata-rata manusia bisa hadir hanya dalam waktu dua hingga empat tahun ke depan. Kecepatan akselerasi ini didorong oleh kemampuan AI dalam memproses informasi dan melakukan iterasi tanpa henti selama 24 jam sehari, tanpa mengenal rasa lelah seperti manusia.
Son sendiri mengaku telah merasakan dampak dari kemajuan ini secara personal. Sebagai salah satu orang terkaya di Jepang, ia menghabiskan waktu dua hingga tiga jam setiap harinya untuk berinteraksi dengan ChatGPT. Ia mengakui bahwa dalam banyak aspek dan topik bahasan, AI tersebut sudah jauh lebih pintar dan memiliki wawasan yang lebih luas daripada dirinya sendiri. Hal ini memberikan gambaran bahwa dalam waktu dekat, AI akan menguasai sekitar 70% hingga 80% bidang ilmu pengetahuan manusia dengan tingkat akurasi yang melampaui pakar sekalipun.
Konfirmasi Tersirat dan Langkah GPT-5.3-Codex
Meski pihak OpenAI cenderung berhati-hati dalam memberikan komentar resmi terkait model yang belum dirilis, mereka tidak menampik adanya penggunaan AI dalam proses pengembangan internal. Sebagai catatan penting, pada Februari lalu, perusahaan telah memberikan sinyal melalui pengenalan GPT‑5.3‑Codex. Model ini disebut-sebut sebagai tonggak sejarah pertama di mana sebuah kecerdasan buatan memiliki peran vital dalam “menciptakan dirinya sendiri” atau melakukan penyempurnaan pada kode-kode dasarnya secara mandiri.
Pendekatan ini menciptakan sebuah siklus umpan balik positif (positive feedback loop). Semakin cerdas sebuah AI, semakin efisien pula ia dalam merancang AI yang lebih hebat. Dinamika inilah yang memicu kekhawatiran mengenai “ledakan kecerdasan” yang sulit untuk dikontrol oleh regulasi konvensional manusia.
Risiko Kehilangan Kendali: Peringatan dari Anthropic
Fenomena AI yang menciptakan AI ini tidak hanya menjadi perbincangan di lingkungan OpenAI dan SoftBank. Anthropic, salah satu pesaing terberat OpenAI yang mengembangkan chatbot Claude, juga merilis analisis mendalam mengenai risiko sistem AI yang mampu merancang penerusnya secara otonom. Meskipun mereka mengakui potensi manfaat yang luar biasa bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan medis, ada peringatan keras yang menyertainya.
Beberapa poin risiko yang menjadi perhatian para ahli antara lain:
- Hilangnya Kendali Manusia: Jika AI mampu berevolusi secara mandiri tanpa campur tangan manusia, mekanisme keamanan yang telah ditanamkan mungkin akan terlampaui atau bahkan dihapus oleh AI yang lebih cerdas.
- Ketidakpastian Logika: Keputusan-keputusan yang diambil oleh kecerdasan super mungkin didasarkan pada logika yang tidak lagi dapat dipahami oleh penalaran manusia (black box problem).
- Persaingan yang Tak Terkendali: Perlombaan antar laboratorium AI global dapat memaksa perusahaan untuk mengabaikan protokol keamanan demi menjadi yang pertama mencapai ASI.
Anthropic menyarankan perlunya upaya terkoordinasi di tingkat internasional untuk memperlambat laju pengembangan jika risiko mulai terlihat tidak terkendali. Mereka menekankan bahwa keselamatan umat manusia harus menjadi prioritas di atas keuntungan komersial semata.
Masa Depan yang Penuh Tanda Tanya
Kita kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, kehadiran AI yang mampu merancang dirinya sendiri menjanjikan solusi bagi masalah-masalah paling rumit di dunia, mulai dari perubahan iklim hingga penyembuhan penyakit langka. Namun di sisi lain, kita juga dihadapkan pada ancaman eksistensial tentang posisi manusia dalam hierarki kecerdasan di planet ini.
Pernyataan Masayoshi Son adalah sebuah alarm bagi dunia pendidikan, industri, dan pemerintahan. Jika prediksi ini benar, maka dalam waktu kurang dari lima tahun, dunia yang kita kenal akan berubah secara permanen. Pertanyaannya bukan lagi “apakah AI bisa melampaui manusia?”, melainkan “bagaimana manusia akan beradaptasi ketika mereka bukan lagi makhluk paling cerdas di bumi?”
RadarLokal akan terus memantau perkembangan inovasi teknologi ini. Seiring dengan semakin kaburnya batasan antara kreativitas manusia dan algoritma mesin, satu hal yang pasti: masa depan yang kita bayangkan sudah berada tepat di depan mata, lebih cepat dan lebih kuat dari yang pernah kita duga sebelumnya.