Rupiah Terjepit di Level Psikologis Baru: Mampukah Mata Uang Garuda Kembali ke Bawah Rp 17.000?

Sarah Amalia | RADAR LOKAL
16 Mei 2026, 06:11 WIB
Rupiah Terjepit di Level Psikologis Baru: Mampukah Mata Uang Garuda Kembali ke Bawah Rp 17.000?

RadarLokal — Awan mendung nampaknya masih enggan beranjak dari langit perekonomian nasional, khususnya terkait stabilitas nilai tukar mata uang Garuda. Tekanan demi tekanan terus menghantam rupiah hingga membuatnya tersungkur di hadapan keperkasaan dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data perdagangan terakhir di penghujung pekan ini, mata uang kebanggaan kita tersebut harus rela berada di kisaran Rp 17.600-an, sebuah angka yang cukup mengkhawatirkan bagi banyak pihak.

Kondisi ini seolah menjadi alarm bagi pemerintah dan pelaku pasar. Betapa tidak, pergerakan nilai tukar saat ini sudah jauh melampaui batas psikologis dan asumsi makro yang sebelumnya telah dipatok dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dengan target awal yang dipatok di angka Rp 16.500 untuk tahun 2026, realitas pasar saat ini menunjukkan jurang pemisah yang semakin lebar dan menantang kredibilitas perencanaan ekonomi nasional.

Baca Juga Diplomasi Selat Hormuz: Donald Trump dan Sinyal Berakhirnya Konflik Energi Global dengan Iran
Diplomasi Selat Hormuz: Donald Trump dan Sinyal Berakhirnya Konflik Energi Global dengan Iran

Keseimbangan Baru di Level Rp 17.000?

Ekonom Senior dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad, memberikan pandangan yang cukup realistis sekaligus pahit bagi para pelaku pasar. Menurut pengamatannya, upaya untuk membawa rupiah kembali ke level di bawah Rp 17.000 per dolar AS kini menjadi misi yang sangat berat. Ia melihat bahwa angka tersebut telah bergeser menjadi sebuah titik keseimbangan baru (new equilibrium) bagi nilai tukar rupiah.

“Saya melihat memang kalau di bawah Rp 17.000 rasanya sudah sulit ya. Ini ada angka keseimbangan baru di level tersebut,” ujar Tauhid dalam sebuah diskusi mendalam. Fenomena ini bukan tanpa alasan. Sejarah mencatat bahwa intervensi yang dilakukan Bank Indonesia (BI) melalui operasi moneter membutuhkan tenaga ekstra hanya untuk menggeser angka nilai tukar sebesar Rp 500 saja. Proses stabilisasi ini memakan waktu yang tidak sebentar dan memerlukan dukungan fundamental ekonomi yang sangat kokoh.

Baca Juga Strategi Lincah RI di Tengah Bara Timur Tengah: Membidik Potensi Raksasa Asia dan Afrika untuk Masa Depan Ekspor
Strategi Lincah RI di Tengah Bara Timur Tengah: Membidik Potensi Raksasa Asia dan Afrika untuk Masa Depan Ekspor

Tauhid memproyeksikan, dalam skenario terbaik sekalipun, penguatan rupiah kemungkinan besar hanya akan mentok di kisaran Rp 17.000 hingga Rp 17.200 per dolar AS. Namun, pencapaian ini pun tidak akan datang dengan sendirinya. Dibutuhkan efektivitas penuh dari tujuh langkah strategis yang dijalankan oleh bank sentral untuk memastikan rupiah tidak semakin terperosok ke dalam lubang depresiasi yang lebih dalam.

Geopolitik Global: Badai yang Belum Reda

Ketidakpastian ini diperparah oleh dinamika politik internasional yang kian memanas. Lukman Leong, seorang analis dari Doo Financial Futures, menyoroti bahwa faktor eksternal memegang peranan krusial dalam menekan ekonomi global dan mata uang negara berkembang. Konflik yang terjadi antara Amerika Serikat dan Iran menjadi pemicu utama di balik meroketnya harga minyak mentah dunia.

Baca Juga Badai Krisis Energi Menghadang: PM Narendra Modi Ajak Rakyat India Perketat Ikat Pinggang demi Selamatkan Rupee
Badai Krisis Energi Menghadang: PM Narendra Modi Ajak Rakyat India Perketat Ikat Pinggang demi Selamatkan Rupee

Sengketa di Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital pasokan energi dunia, telah menciptakan ketakutan akan gangguan pasokan yang signifikan. Selama ketegangan geopolitik ini tidak mereda dan harga minyak tetap tinggi, rupiah akan terus berada di bawah tekanan besar. Lukman berpendapat bahwa penguatan signifikan rupiah hanya mungkin terjadi jika ada resolusi perdamaian di Timur Tengah yang mampu menurunkan harga energi ke level normal.

Sentimen Domestik dan Keresahan Investor

Selain faktor eksternal, kondisi internal Indonesia juga tidak sedang dalam keadaan tenang. Ada beberapa sentimen negatif yang membuat investor cenderung bermain aman dan menarik modalnya keluar (capital outflow) dari pasar domestik. Salah satu yang paling disoroti adalah pengelolaan APBN yang dinilai mulai ekstrem, di mana defisit anggaran diproyeksikan mulai mendekati ambang batas 3%.

Baca Juga Konsentrasi Kepemilikan Tinggi: Saham TCPI dan MGRO Kini Masuk Dalam Radar Pengawasan Khusus Bursa
Konsentrasi Kepemilikan Tinggi: Saham TCPI dan MGRO Kini Masuk Dalam Radar Pengawasan Khusus Bursa

Kekhawatiran ini ditambah dengan berbagai polemik yang terjadi di pasar modal nasional. Ketidakpastian hukum dan fluktuasi yang tidak wajar membuat para pemegang modal lebih memilih untuk memarkirkan dana mereka di aset yang dianggap sebagai safe haven, seperti dolar AS atau emas. Untuk meredam hal ini, pemerintah dituntut untuk melakukan efisiensi besar-besaran, terutama dengan memangkas anggaran non-esensial, sementara BI mungkin harus mempertimbangkan kenaikan suku bunga untuk menjaga daya tarik aset rupiah.

Langkah Strategis Memulihkan Kepercayaan Pasar

Menanggapi situasi yang kian kompleks, Ronny P Sasmita, Ekonom dari Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), menegaskan bahwa pemerintah tidak boleh tinggal diam. Langkah pertama yang wajib dilakukan adalah memulihkan kredibilitas fiskal. Pasar keuangan sangat sensitif terhadap persepsi; sedikit saja pernyataan dari pejabat publik yang dianggap tidak sinkron bisa memicu kepanikan massal di pasar valas.

Baca Juga Akselerasi Ekonomi Kerakyatan: Penyaluran KUR Tembus Rp 105,8 Triliun Menyasar Jutaan Pelaku UMKM
Akselerasi Ekonomi Kerakyatan: Penyaluran KUR Tembus Rp 105,8 Triliun Menyasar Jutaan Pelaku UMKM

Pemerintah juga harus fokus pada penguatan sektor riil melalui optimalisasi Devisa Hasil Ekspor (DHE). Peningkatan suplai dolar di dalam negeri menjadi kunci untuk mengimbangi tingginya permintaan. Dalam jangka panjang, percepatan program hilirisasi dan substitusi impor harus menjadi harga mati. Dengan mengurangi ketergantungan pada bahan baku dan komponen impor, tekanan terhadap cadangan devisa Indonesia saat terjadi gejolak global dapat diminimalisir.

Pentingnya Harmonisasi Kebijakan Antarlembaga

Senada dengan hal tersebut, Yusuf Rendy Manilet dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia menekankan pentingnya komunikasi satu suara di antara anggota Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK). Sinkronisasi antara kebijakan moneter Bank Indonesia dan kebijakan fiskal Kementerian Keuangan sangat vital untuk menjaga kepercayaan investor.

“Investor ingin melihat pemerintah, BI, dan otoritas keuangan bicara dalam arah yang sama. Jika komunikasinya terlihat tidak sinkron atau kebijakannya berubah-ubah, tekanan ke rupiah biasanya akan cepat membesar,” tegas Yusuf. Selain itu, transformasi struktur ekonomi harus dilakukan secara konsisten, terutama pada sektor-sektor strategis seperti kimia dasar dan farmasi yang selama ini menyedot banyak devisa untuk impor.

Pada akhirnya, menstabilkan rupiah bukanlah sekadar urusan menaikkan suku bunga atau melakukan intervensi pasar. Ini adalah tentang bagaimana membangun fundamental ekonomi yang tangguh terhadap guncangan eksternal dan menjaga kepastian hukum bagi para pelaku usaha. Tanpa adanya kebijakan yang konsisten dan transparan, target APBN akan terus menjadi sekadar angka di atas kertas yang sulit untuk direalisasikan.

Masyarakat kini menanti langkah konkret dari otoritas terkait. Apakah rupiah akan terus tergerus, ataukah akan ada titik balik yang mampu membawa mata uang kita kembali ke jalur yang aman? Satu hal yang pasti, tantangan ekonomi di tahun 2026 ini memerlukan sinergi yang lebih kuat dari sebelumnya agar badai depresiasi ini tidak melumpuhkan sektor UMKM dan industri nasional secara keseluruhan.

Sarah Amalia

Sarah Amalia

Analis ekonomi muda yang hobi membedah tren pasar dan strategi UMKM. Pengisi utama kolom Radar Finance.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *