Skandal Riset Fiktif di Kopenhagen: BRIN Tegaskan Peneliti Dimas Fajar Prasetyo Tidak Terlibat

Kevin Wijaya | RADAR LOKAL
30 Mei 2026, 14:13 WIB
Skandal Riset Fiktif di Kopenhagen: BRIN Tegaskan Peneliti Dimas Fajar Prasetyo Tidak Terlibat

RadarLokal — Jagat akademik Indonesia baru-baru ini dikejutkan oleh isu miring yang mencoreng integritas penelitian di kancah internasional. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) secara resmi memberikan klarifikasi tegas terkait dugaan keterlibatan salah satu penelitinya, Dimas Fajar Prasetyo, dalam sebuah presentasi riset yang dianggap janggal dan palsu pada ajang bergengsi International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Disease (ISPPD) 2026 di Copenhagen, Denmark.

Klarifikasi Tegas: Bukan Bagian dari Penelitian Tersebut

Pihak BRIN melalui keterangan resminya menyatakan bahwa Dimas Fajar Prasetyo, yang sehari-hari bertugas sebagai peneliti di Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika, sama sekali tidak memiliki kaitan dengan publikasi atau presentasi yang kini tengah menjadi buah bibir di media sosial. Langkah ini diambil guna memulihkan nama baik sang peneliti dan institusi dari serangan spekulasi publik yang liar.

Baca Juga Momen Haru Perpisahan Casemiro: Kisah Sang Jenderal yang Mencintai Manchester United Sampai Akhir
Momen Haru Perpisahan Casemiro: Kisah Sang Jenderal yang Mencintai Manchester United Sampai Akhir

Dimas sendiri telah menyampaikan pernyataan tertulis yang menegaskan bahwa namanya telah dicatut oleh oknum tidak bertanggung jawab. Ia merasa perlu meluruskan simpang siur informasi ini karena menyangkut kredibilitas profesionalnya di dunia riset. “Terkait dengan pemberitaan yang beredar akhir-akhir ini menyangkut kemunculan beberapa publikasi yang mencantumkan nama serta afiliasi yang menyerupai identitas saya, dengan ini saya mengklarifikasi dan menegaskan bahwa itu bukan saya,” tulis Dimas dalam pernyataan resminya.

Lebih lanjut, Dimas menyatakan bahwa dirinya tidak pernah sekalipun menjalin kolaborasi, mengikuti kegiatan, apalagi mengirimkan abstrak penelitian ke forum ISPPD 2026. Ia merasa ada upaya pencatutan identitas yang dilakukan secara sengaja untuk memberikan kesan legitimasi pada karya ilmiah yang diduga bermasalah tersebut.

Baca Juga Dibalik Layar Boikot Nintendo Terhadap Amazon: Kisah Integritas Reggie Fils-Aimé Menghadapi Tekanan Raksasa E-Commerce
Dibalik Layar Boikot Nintendo Terhadap Amazon: Kisah Integritas Reggie Fils-Aimé Menghadapi Tekanan Raksasa E-Commerce

Perbedaan Bidang Kepakaran yang Mencolok

Salah satu bukti kuat yang memperkuat bantahan Dimas adalah perbedaan drastis antara bidang keahlian yang ia tekuni dengan topik penelitian yang dipresentasikan di Denmark. Dimas Fajar Prasetyo adalah seorang ahli di bidang Offshore and Marine Systems Engineering atau rekayasa sistem kelautan dan lepas pantai. Secara logika akademik, sangat kecil kemungkinan seorang ahli kelautan tiba-tiba mempresentasikan riset medis mengenai bakteri pneumokokus.

“Sebagaimana diberitakan bahwa nama saya tercantum dalam beberapa penelitian yang sangat berbeda di luar bidang kepakaran saya, hal tersebut jelas tidak sejalan dengan aktivitas akademik maupun profesional yang selama ini saya jalankan,” ungkap Dimas. Ia menambahkan bahwa sepanjang kariernya, ia selalu menjunjung tinggi etika penelitian dan fokus pada pengembangan teknologi maritim yang menjadi domain utamanya di BRIN.

Baca Juga Menguak Misteri dari Langit: 15 Penampakan Paling Aneh dan Menakjubkan di Google Earth
Menguak Misteri dari Langit: 15 Penampakan Paling Aneh dan Menakjubkan di Google Earth

Kronologi Terungkapnya Riset Janggal oleh Mahasiswa Oxford

Kasus ini pertama kali mencuat ke permukaan berkat kejelian Wa Ode Dwi Daningrat, seorang mahasiswa program doktoral asal Indonesia di University of Oxford. Saat menghadiri konferensi ISPPD 2026 di Copenhagen pada pertengahan Mei lalu, Dwi menemukan rentetan keanehan pada presentasi yang dibawakan oleh peserta yang mengaku berasal dari Indonesia.

Dalam laporannya yang viral di media sosial, Dwi menceritakan pengalamannya saat memantau sesi presentasi dua orang yang menggunakan nama “Dimas” dan “Riana”. Kecurigaannya bermula saat melihat klaim data primer yang diambil di wilayah Pegunungan Andes, Peru. Secara metodologi, penelitian lintas negara seperti itu memerlukan izin yang sangat ketat dan kolaborasi dengan peneliti lokal, namun dalam presentasi tersebut hal itu tidak nampak jelas.

Baca Juga Infinix Hot 70: Revolusi Baterai 6000 mAh dalam Balutan Desain Ramping, Siap Guncang Pasar Indonesia
Infinix Hot 70: Revolusi Baterai 6000 mAh dalam Balutan Desain Ramping, Siap Guncang Pasar Indonesia

Kejanggalan lain yang ditemukan adalah:

  • Penggunaan data vaksin PCV20 di Indonesia, padahal saat ini program imunisasi nasional masih menggunakan PCV13.
  • Ketidakkonsistenan data yang disajikan dalam slide presentasi dengan fakta lapangan di Indonesia.
  • Kehadiran sosok fisik yang sama namun memperkenalkan diri dengan nama yang berbeda di dua sesi yang berbeda.

Dwi mengungkapkan momen yang sangat aneh ketika seorang pemateri perempuan memperkenalkan diri sebagai “Riana Dwi Kurniawati”, namun hanya berselang sepuluh menit kemudian, orang yang sama naik ke panggung sesi lain dan mengklaim identitas sebagai “Dimas Fajar Prasetyo”. Setelah ditelusuri lebih lanjut, sosok tersebut diduga kuat bernama Prihantini, yang namanya memang terdaftar dalam beberapa abstrak di konferensi tersebut.

Baca Juga Era Baru Internet: Saat Bot dan Agen AI Resmi Melampaui Populasi Manusia di Jagat Maya
Era Baru Internet: Saat Bot dan Agen AI Resmi Melampaui Populasi Manusia di Jagat Maya

Dampak Serius Pencatutan Identitas di Dunia Akademik

Tindakan mencatut nama dan afiliasi tanpa izin bukan sekadar masalah administratif, melainkan pelanggaran berat dalam dunia sains. Dimas Fajar Prasetyo menilai tindakan ini sebagai bentuk pemalsuan karya keilmuan yang sangat merugikan. Sebagai langkah antisipasi terhadap dampak negatif yang lebih luas, Dimas bahkan sempat menonaktifkan akun media sosialnya guna mencegah penyalahgunaan informasi pribadi lebih lanjut.

Dunia riset global sangat bergantung pada integritas ilmiah. Jika seseorang bisa dengan mudah memalsukan identitas dan mempresentasikan data fiktif dalam forum internasional, maka kepercayaan publik terhadap institusi riset bisa runtuh. BRIN sendiri berharap agar kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi seluruh akademisi untuk lebih waspada terhadap perlindungan data pribadi dan profesional mereka.

Upaya BRIN dalam Menjaga Marwah Riset Nasional

Menanggapi isu ini, BRIN menegaskan komitmennya untuk selalu mengedepankan transparansi dan validitas dalam setiap karya ilmiah yang dihasilkan oleh para penelitinya. Klarifikasi ini diharapkan dapat memutus rantai disinformasi yang merugikan institusi riset plat merah tersebut. Pihak BRIN juga mendukung adanya penyelidikan lebih lanjut terhadap oknum-oknum yang sengaja mencoreng nama baik peneliti Indonesia di forum internasional.

Masyarakat juga diimbau untuk tidak mudah terprovokasi oleh potongan informasi yang beredar tanpa verifikasi. Kasus ini menunjukkan betapa pentingnya peran komunitas akademik dalam melakukan peer-review tidak hanya terhadap substansi riset, tetapi juga terhadap identitas dan kredibilitas sang peneliti. Penelusuran jejak digital dan rekam jejak publikasi melalui mesin pencari atau database jurnal ilmiah menjadi kunci penting dalam memvalidasi keaslian sebuah karya.

Hingga berita ini diturunkan, komunitas ilmiah Indonesia terus mendesak agar panitia penyelenggara ISPPD melakukan investigasi internal terkait bagaimana proses verifikasi peserta dilakukan, sehingga kejadian memalukan seperti ini tidak terulang di masa depan. Integritas adalah mata uang tertinggi dalam sains, dan tanpa itu, ilmu pengetahuan tidak akan pernah bisa memberikan solusi yang nyata bagi umat manusia.

Kevin Wijaya

Kevin Wijaya

Tech enthusiast yang selalu terdepan dalam mencoba gadget terbaru. Mengulas sisi menarik dunia digital di Radar Inet.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *