Tragedi Longsor di TPU Galunggung Ambon: Talud Ambruk, Belasan Kerangka Jenazah Terlempar ke Halaman Masjid
RadarLokal — Suasana sunyi di kawasan Galunggung, Desa Batu Merah, Kecamatan Sirimau, Ambon, mendadak berubah menjadi kepanikan luar biasa pada Selasa malam. Hujan deras yang mengguyur tanpa henti sejak petang memicu bencana hidrometeorologi yang tak terduga. Sebuah talud penahan tanah di Tempat Pemakaman Umum (TPU) setempat ambruk, mengakibatkan material tanah beserta belasan kerangka jenazah meluncur jatuh hingga ke area rumah ibadah.
Peristiwa memilukan ini bukan sekadar bencana fisik, melainkan juga menyisakan duka mendalam bagi warga sekitar. Longsoran tanah yang membawa material beton talud tersebut merusak barisan makam yang berada di sisi tebing. Akibatnya, pemandangan memilukan tersaji pada Rabu pagi, di mana kerangka-kerangka manusia berserakan di antara tumpukan tanah dan puing bangunan tepat di halaman Masjid Muhajirin.
Penyebab Utama: Cuaca Ekstrem dan Saturasi Tanah
Ambon belakangan ini memang sedang dikepung oleh cuaca ekstrem. Intensitas curah hujan yang sangat tinggi membuat beban air di dalam tanah meningkat drastis. Fenomena cuaca ekstrem ini menjadi pemicu utama rapuhnya struktur tanah di kawasan perbukitan Galunggung. Tanah yang sudah jenuh air kehilangan daya ikatnya, sehingga memberikan tekanan yang teramat besar pada talud penahan TPU.
Pengurus Masjid Muhajirin, Natsir Rumra, menjelaskan bahwa hujan yang turun pada malam Rabu tersebut seolah tidak memberikan jeda bagi tanah untuk menyerap air secara normal. Kondisi geografis lokasi pemakaman yang berada di kemiringan cukup curam membuat risiko tanah longsor selalu menghantui, terutama saat musim penghujan tiba dengan intensitas yang tidak wajar.
Detik-Detik Mencekam Saat Talud Ambruk
Menurut saksi mata, suara gemuruh sempat terdengar saat dinding penahan atau talud tersebut mulai retak dan akhirnya menyerah pada tekanan tanah. Kejadian yang berlangsung pada Selasa malam itu terjadi begitu cepat. Tidak ada warga yang berani mendekat saat kejadian karena kondisi gelap gulita dan hujan masih turun dengan sangat lebat. Ketakutan akan adanya longsor susulan membuat warga hanya bisa menunggu hingga pagi hari untuk melihat kerusakan yang terjadi.
Begitu fajar menyingsing, warga dikejutkan dengan pemandangan yang tidak biasa. Halaman Masjid Muhajirin yang biasanya bersih, kini tertutup lumpur pekat dan material beton. Di tengah-tengah material tersebut, ditemukan kerangka jenazah yang terlempar keluar dari liang lahatnya. Hal ini memicu aksi spontan dari pengurus masjid dan warga setempat untuk segera melakukan penanganan darurat di lokasi bencana alam tersebut.
Proses Evakuasi Jenazah yang Penuh Haru
Natsir Rumra mengungkapkan bahwa proses evakuasi dilakukan dengan penuh kehati-hatian sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada jenazah. Warga bahu-membahu menyisir setiap gundukan tanah untuk mencari bagian-bagian kerangka yang mungkin masih tertimbun. Hingga berita ini diturunkan, tercatat sebanyak 10 kerangka jenazah telah berhasil dikumpulkan dari material longsoran.
“Kami bekerja cepat bersama warga setelah melihat ada kerangka yang berserakan. Ada yang ditemukan di permukaan, namun ada pula yang tertimbun cukup dalam di bawah material talud yang hancur,” ujar Natsir saat memberikan keterangan kepada tim media. Kondisi ini menuntut ketelitian tinggi agar tidak ada bagian kerangka yang tertinggal atau tercampur dengan material sampah lainnya.
Identifikasi dan Penyerahan ke Pihak Keluarga
Dari total 10 kerangka jenazah yang berhasil dievakuasi, tim di lapangan bekerja keras untuk melakukan identifikasi awal melalui sisa-sisa kain kafan, nisan yang ikut terbawa, atau catatan posisi makam sebelum longsor terjadi. Upaya ini membuahkan hasil, di mana 5 kerangka telah berhasil diidentifikasi identitasnya. Pihak pengurus masjid segera menghubungi ahli waris untuk proses tindak lanjut.
Kelima kerangka yang telah teridentifikasi tersebut kini telah diserahkan kembali kepada pihak keluarga untuk dimakamkan secara layak di lokasi yang lebih aman. Penyerahan ini berlangsung penuh haru, mengingat keluarga harus kembali berhadapan dengan duka kehilangan meski sang mendiang sudah lama berpulang. Sementara itu, 5 kerangka lainnya yang belum teridentifikasi masih disimpan dengan baik sambil menunggu informasi lebih lanjut dari warga yang merasa anggota keluarganya dimakamkan di area terdampak TPU Ambon tersebut.
Urgensi Perbaikan Infrastruktur TPU di Ambon
Kejadian ini menjadi pengingat keras bagi Pemerintah Kota Ambon mengenai pentingnya kualitas infrastruktur penahan tanah di area-area krusial seperti pemakaman umum. Banyak TPU di Ambon yang terletak di daerah lereng, sehingga pembangunan talud yang sesuai standar teknik sipil menjadi harga mati untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali.
Warga berharap ada langkah konkret dari dinas terkait untuk memperkuat kembali dinding penahan yang tersisa. Jika tidak segera ditangani, dikhawatirkan sisa lahan pemakaman yang masih utuh akan ikut tergerus jika hujan deras kembali mengguyur. Mitigasi bencana berbasis infrastruktur harus menjadi prioritas, mengingat topografi Ambon yang didominasi oleh perbukitan dan lereng tajam yang rawan terhadap pergerakan tanah.
Imbauan untuk Masyarakat dan Kewaspadaan Dini
Pemerintah daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus mengimbau masyarakat yang tinggal di dekat lereng atau area rawan untuk tetap waspada. Bencana seperti ini seringkali tidak memberikan tanda-tanda awal yang jelas sebelum akhirnya terjadi. Pengawasan terhadap retakan tanah di sekitar pemukiman atau fasilitas umum harus ditingkatkan secara mandiri oleh masyarakat.
Tragedi di TPU Galunggung ini diharapkan menjadi titik balik bagi semua pihak untuk lebih peduli terhadap tata ruang dan ketahanan bangunan di zona merah bencana. Kehilangan harta benda mungkin bisa diganti, namun menjaga martabat jenazah dan ketenangan area pemakaman adalah kewajiban moral yang harus dijaga bersama oleh masyarakat dan pemerintah melalui penyediaan fasilitas yang aman dan kokoh.