Tragedi Makan Bergizi Gratis di Jaktim: Irma NasDem Desak Evaluasi Total BGN dan Suspend SPPG Bermasalah

Dimas Pratama | RADAR LOKAL
10 Mei 2026, 06:10 WIB
Tragedi Makan Bergizi Gratis di Jaktim: Irma NasDem Desak Evaluasi Total BGN dan Suspend SPPG Bermasalah

RadarLokal — Program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi angin segar bagi peningkatan nutrisi anak bangsa, kini tengah berada di bawah sorotan tajam. Insiden memilukan menimpa ratusan siswa di wilayah Jakarta Timur yang diduga mengalami keracunan makanan massal setelah mengonsumsi menu yang disajikan dalam program tersebut. Peristiwa ini memicu reaksi keras dari berbagai pihak, terutama dari kalangan legislatif yang mengawal ketat implementasi kebijakan nasional ini.

Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi NasDem, Irma Suryani Chaniago, menyatakan kegeramannya atas lemahnya pengawasan yang berujung pada jatuhnya korban sebanyak 252 siswa. Baginya, insiden ini bukan sekadar kecelakaan teknis, melainkan cerminan dari kelalaian sistematis dalam rantai pasok dan pengawasan gizi yang dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN). Irma menegaskan bahwa integritas program nasional ini sedang dipertaruhkan jika standar keamanan pangan tidak segera dibenahi secara radikal.

Baca Juga Sinergi Strategis BPS dan PT Pos Indonesia: Peluncuran Sampul Peringatan SE2026 Menuju Transformasi Data Nasional
Sinergi Strategis BPS dan PT Pos Indonesia: Peluncuran Sampul Peringatan SE2026 Menuju Transformasi Data Nasional

Kronologi Petaka Pangsit Tahu di Pulogebang

Kejadian yang menggegerkan publik Jakarta ini bermula di kawasan Pulogebang, Jakarta Timur. Sebanyak 252 siswa dilaporkan mengeluhkan gejala mual, muntah, hingga pusing sesaat setelah menyantap menu makan siang yang disediakan. Berdasarkan laporan awal, kecurigaan mengarah pada salah satu komponen menu, yakni pangsit isi tahu, yang menurut kesaksian beberapa pihak memiliki aroma dan rasa yang cenderung masam.

Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta bergerak cepat menangani situasi ini. Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, mengonfirmasi bahwa pihaknya bersama Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur telah melakukan langkah-langkah mitigasi dan investigasi lapangan. Penyelidikan difokuskan pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pulogebang yang menjadi pemasok utama menu tersebut ke sekolah-sekolah terdampak.

Baca Juga Pangandaran Diguncang Gempa Magnitudo 4 Dini Hari: Analisis Dampak dan Daftar Wilayah yang Merasakan Guncangan
Pangandaran Diguncang Gempa Magnitudo 4 Dini Hari: Analisis Dampak dan Daftar Wilayah yang Merasakan Guncangan

“Kami telah melakukan pembinaan dan pengawasan langsung terhadap SPPG Pulogebang. Langkah-langkah seperti inspeksi kesehatan lingkungan (IKL) dan pelatihan bagi para penjamah makanan terus diperketat guna memastikan standar keamanan pangan terpenuhi,” ujar Ani dalam keterangan resminya. Meskipun demikian, hasil laboratorium final untuk memastikan penyebab pasti keracunan ini baru akan keluar dalam waktu dekat.

Irma NasDem: BGN Jangan Sekadar Percaya Begitu Saja

Merespons situasi ini, Irma Suryani Chaniago tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Ia menyoroti keberadaan tiga tenaga kerja dari Badan Gizi Nasional yang ditempatkan di setiap SPPG. Menurutnya, kehadiran SDM tersebut seharusnya menjadi benteng pertahanan terakhir untuk memastikan kualitas makanan, namun kenyataannya fungsi check and recheck tampaknya tidak berjalan maksimal.

Baca Juga Misi Strategis Presiden Prabowo di KTT ke-48 ASEAN Filipina: Menavigasi Geopolitik dan Ekonomi Kawasan
Misi Strategis Presiden Prabowo di KTT ke-48 ASEAN Filipina: Menavigasi Geopolitik dan Ekonomi Kawasan

“BGN seharusnya melakukan kontrol ketat, jangan hanya percaya begitu saja pada laporan di atas kertas. Saya mendesak agar tiga personil BGN yang ditempatkan di SPPG dievaluasi secara menyeluruh. Profesionalisme SPPG sangat bergantung pada sejauh mana tenaga pengawas ini menjalankan fungsinya dengan penuh tanggung jawab,” tegas Irma dengan nada bicara yang lugas kepada media.

Lebih jauh, Irma juga mempertanyakan peran ahli gizi yang seharusnya menjadi pilar utama dalam operasional SPPG. Ia meragukan proses pengadaan bahan baku, terutama pangsit tahu yang menjadi pemicu masalah. Apakah makanan tersebut diolah secara mandiri dengan standar higienis yang ketat atau justru dibeli dari pihak ketiga tanpa melalui proses audit kualitas yang jelas? Pertanyaan ini menuntut investigasi transparan dari pihak berwenang.

Baca Juga Skandal Penipuan WO Marwah di Jakarta Timur: 58 Calon Pengantin Gigit Jari, Kerugian Tembus Rp 2,6 Miliar
Skandal Penipuan WO Marwah di Jakarta Timur: 58 Calon Pengantin Gigit Jari, Kerugian Tembus Rp 2,6 Miliar

Desakan Suspend Bagi SPPG yang Lalai

Sebagai bentuk sanksi tegas, Irma Suryani meminta agar SPPG yang terlibat dalam insiden di Jakarta Timur segera di-suspend atau dihentikan operasionalnya untuk sementara waktu. Ia membandingkan kondisi di beberapa daerah luar Jakarta yang menurutnya justru mulai menunjukkan tren perbaikan setelah adanya tindakan tegas berupa suspend massal terhadap unit-unit penyedia gizi yang tidak memenuhi standar.

“Di daerah-daerah lain, kualitas layanan mulai membaik karena BGN berani mengambil tindakan tegas dengan melakukan suspend pada SPPG yang nakal atau tidak sesuai prosedur. Hal yang sama harus dilakukan di Jakarta Timur. Tidak boleh ada toleransi untuk urusan nyawa dan kesehatan anak-anak kita,” tambahnya. Langkah ini dinilai penting sebagai efek jera sekaligus memberikan ruang bagi audit menyeluruh terhadap infrastruktur penyedia makanan dalam program Makan Bergizi Gratis.

Baca Juga Jejak WNA dalam Isu Prostitusi Anak di Jakarta-Bekasi: Polda Metro Jaya Ungkap Fakta Mengejutkan
Jejak WNA dalam Isu Prostitusi Anak di Jakarta-Bekasi: Polda Metro Jaya Ungkap Fakta Mengejutkan

Polemik Sertifikat Laik Higienis dan Kerja Sama dengan BPOM

Salah satu poin krusial yang diangkat oleh politisi NasDem ini adalah masalah legalitas dan standarisasi pangan. Irma mengungkapkan adanya dugaan praktik menyimpang dalam penerbitan Sertifikat Laik Higienis (SLHS). Ia mensinyalir bahwa pengecekan ke lokasi pengolahan makanan seringkali tidak dilakukan, dan sertifikat tersebut diduga hanya menjadi komoditas jual-beli tanpa verifikasi faktual di lapangan.

Selain itu, Irma menyoroti realisasi kerja sama antara Badan Gizi Nasional (BGN) dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Sejak awal bergulirnya program ini, sinergi antara kedua lembaga tersebut dianggap sangat vital untuk menjamin keamanan pangan secara nasional. Namun, Irma menyayangkan bahwa nota kesepahaman (MoU) yang informasinya sudah ditandatangani ternyata belum terealisasi secara konkret di tingkat operasional.

  • Minimnya pengawasan lapangan oleh petugas BGN di unit SPPG.
  • Lemahnya integritas sertifikasi kesehatan lingkungan.
  • Lambatnya koordinasi antara lembaga pengawas (BPOM) dengan pelaksana program (BGN).
  • Ketidakpastian standar bahan baku dari vendor atau pihak ketiga.

Pentingnya Investigasi Menyeluruh dan Transparansi

Kasus di Jakarta Timur ini menjadi alarm bagi pemerintah bahwa pengelolaan program berskala besar seperti MBG membutuhkan manajemen risiko yang luar biasa ketat. Kesehatan masyarakat, khususnya siswa sekolah, tidak boleh dijadikan eksperimen dalam implementasi kebijakan yang masih prematur secara pengawasan.

Publik kini menanti transparansi hasil uji laboratorium yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan. Investigasi ini diharapkan tidak hanya berhenti pada penemuan bakteri atau zat berbahaya dalam pangsit tahu tersebut, tetapi juga menyentuh akar permasalahan pada aspek manajemen dan pengawasan di internal BGN serta SPPG Pulogebang.

Ke depannya, evaluasi besar-besaran terhadap seluruh rantai produksi makanan bergizi ini harus menjadi prioritas. Mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan di dapur SPPG, hingga distribusi ke tangan siswa, semuanya harus melalui protokol keamanan pangan yang tersertifikasi secara jujur dan kompeten. Tanpa perbaikan sistemik, program mulia ini dikhawatirkan akan terus dihantui oleh insiden serupa di masa mendatang.

Insiden keracunan siswa di Jakarta Timur ini harus menjadi pelajaran berharga. Program Makan Bergizi Gratis memiliki potensi besar untuk mengubah masa depan kesehatan Indonesia, namun ia membutuhkan kejujuran dalam pelaksanaan dan ketegasan dalam pengawasan agar nutrisi yang sampai ke piring anak-anak adalah nutrisi yang benar-benar aman dan menyehatkan, bukan justru membawa petaka.

Dimas Pratama

Dimas Pratama

Jurnalis lapangan senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun. Fokus pada isu sosial dan kebijakan publik di Radar News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *