Kisah Pilu di Balik Tawa: Karen Hertatum Bongkar Luka KDRT dan Perselingkuhan Dede Sunandar yang Mengiris Hati
RadarLokal — Tabir gelap yang menyelimuti mahligai rumah tangga komedian Dede Sunandar kini tersingkap lebar ke hadapan publik. Di balik tawa dan keceriaan yang kerap ditampilkan di layar kaca, tersimpan duka mendalam yang dipendam oleh sang istri, Karen Hertatum. Dalam sebuah pengakuan yang penuh emosi, Karen akhirnya memberanikan diri untuk bersuara mengenai badai yang menerjang pernikahannya selama ini.
Karen Hertatum secara blak-blakan mengungkapkan bahwa dirinya telah menjadi korban dugaan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dilakukan oleh suaminya sendiri. Namun, penderitaan Karen tidak berhenti di situ; ia juga mengaku harus menelan pil pahit berkali-kali akibat dikhianati oleh perselingkuhan yang dilakukan Dede. Luka yang teramat dalam ini meninggalkan bekas trauma psikologis yang begitu hebat bagi ibu tiga anak tersebut.
Bayang-bayang Trauma yang Sulit Sirna
Saat ditemui di kawasan Trans TV, Jakarta Selatan, pada Rabu (13/5/2026), raut wajah Karen tak mampu menyembunyikan kesedihan yang mendalam. Setiap kata yang keluar dari bibirnya seolah membawa beban berat dari masa lalu yang kelam. Ia mengaku bahwa bayang-bayang perlakuan buruk sang suami masih kerap menghantuinya hingga saat ini, membuatnya sulit untuk merasa tenang sepenuhnya.
“Saking trauma itu, makanya aku menahan diri. Sebenarnya dari tadi aku terus teringat perilaku-perilaku dia yang kemarin-kemarin itu,” tutur Karen dengan suara bergetar. Pernyataan ini menggambarkan betapa besarnya dampak trauma psikologis yang ia alami. Baginya, setiap sudut ingatan tentang rumah tangganya kini dipenuhi dengan fragmen kejadian yang menyakitkan, menjadikannya terjebak dalam rasa takut yang berkelanjutan.
Karen membenarkan bahwa insiden KDRT tersebut bukanlah kejadian sekali atau dua kali saja. Menurut penuturannya, tindakan kasar tersebut telah terjadi berulang kali sepanjang perjalanan pernikahan mereka. Ketika ditanya mengenai frekuensi kekerasan yang dialaminya, Karen hanya bisa memberikan jawaban lirih yang mengisyaratkan bahwa jumlahnya sudah terlalu banyak untuk diingat kembali dengan jelas.
Pemicu Sepele yang Berujung Ledakan Amarah
Salah satu hal yang paling disesalkan oleh Karen adalah alasan di balik terjadinya tindak kekerasan tersebut. Ia mengungkapkan bahwa emosi Dede Sunandar sering kali meledak hanya karena persoalan-persoalan kecil yang seharusnya bisa diselesaikan dengan kepala dingin. Hal-hal yang bersifat sepele justru menjadi pemantik konflik yang berujung pada tindakan fisik.
“Dia itu kadang karena hal-hal sepele pun suka memicu emosinya. Padahal mungkin hanya masalah salah paham atau apa, tapi jadinya emosi, dan akhirnya terjadilah kekerasan itu,” ungkap Karen. Penjelasan ini menyoroti adanya masalah serius dalam manajemen emosi dan cara berkomunikasi di dalam rumah tangga mereka. Karen merasa seolah-olah dirinya berjalan di atas kulit telur, di mana kesalahan kecil bisa berakibat fatal bagi keselamatan fisiknya.
Kondisi ini menciptakan lingkungan yang sangat tidak sehat atau sering disebut sebagai hubungan toxic. Di mana salah satu pihak merasa memiliki kuasa penuh untuk melampiaskan kemarahan tanpa memikirkan konsekuensi panjang terhadap pasangan maupun kesehatan mental anggota keluarga lainnya.
Kesaksian Sang Anak: Pelindung Kecil di Tengah Badai
Puncak dari kepedihan Karen adalah ketika tindakan kekerasan tersebut terjadi di hadapan anak-anak mereka yang masih polos. Dengan air mata yang mulai mengalir deras, Karen mengangguk pelan saat dikonfirmasi apakah anak-anaknya pernah melihat langsung perbuatan ayah mereka. Bagian yang paling menyayat hati adalah keterlibatan putra sulung mereka yang mencoba menjadi perisai bagi sang ibunda.
“Anak pertama yang paling sering bertanya sama aku. Bahkan dia yang berusaha melindungi aku di saat kejadian itu terjadi. Dia mencoba menjaga aku dari… ‘setan’ yang ada dalam diri ayahnya yang sedang memukul aku,” pungkas Karen sambil menangis tersedu-sedu. Keberanian sang anak untuk melindungi ibunya di usia yang masih sangat muda menjadi bukti betapa mengerikannya situasi yang harus mereka hadapi di dalam rumah.
Kejadian ini tentu menimbulkan kekhawatiran besar mengenai dampak jangka panjang bagi perkembangan mental anak-anak. Menyaksikan kekerasan fisik secara langsung dapat memberikan luka batin yang tidak mudah sembuh bagi seorang anak, dan hal inilah yang paling ditakuti oleh Karen sebagai seorang ibu.
Pengakuan dan Penyesalan Dede Sunandar
Di sisi lain, Dede Sunandar tidak menampik tudingan yang dilontarkan oleh istrinya. Dalam beberapa kesempatan sebelumnya, pria yang mengawali kariernya sebagai petugas kebersihan ini telah membenarkan adanya gejolak dalam rumah tangganya. Dede mengaku bersalah atas segala perbuatan kasar yang telah dilakukannya dan menyatakan telah menyampaikan permohonan maaf secara pribadi kepada Karen.
Dede Sunandar dan Karen Hertatum diketahui membangun biduk rumah tangga sejak 21 Oktober 2014. Selama hampir satu dekade bersama, pasangan ini telah dikaruniai tiga orang buah hati. Namun, popularitas dan kesuksesan yang diraih Dede di dunia hiburan ternyata tidak berjalan selaras dengan keharmonisan di dalam rumah.
Kini, publik hanya bisa berharap agar Karen mendapatkan kekuatan untuk bangkit dari traumanya. Kasus ini kembali menjadi pengingat bagi banyak orang bahwa KDRT bukanlah masalah pribadi yang harus dipendam, melainkan sebuah tindakan kriminal yang harus segera dihentikan demi keselamatan jiwa dan masa depan anak-anak. RadarLokal akan terus mengawal perkembangan kasus ini untuk memastikan keadilan bagi para korban kekerasan.