Melawan Badai Anxiety, Jelita Bahar Temukan Kedamaian Lewat Gurihnya Bisnis Risol
RadarLokal — Dunia hiburan seringkali tampak berkilau di bawah lampu sorot, namun di balik kemegahannya, tekanan yang luar biasa terkadang memaksa para pelakunya untuk menepi sejenak. Inilah yang dialami oleh pedangdut berbakat, Jelita Bahar. Putri dari penyanyi senior Anisa Bahar ini memutuskan untuk mengambil jeda dari hiruk-pikuk panggung pementasan demi kesehatan mentalnya. Namun, alih-alih berdiam diri, Jelita justru menemukan terapi unik yang tak terduga: merintis bisnis kuliner dengan berjualan risol.
Transformasi Jelita Bahar: Dari Mic ke Wajan Penggorengan
Bagi sebagian orang, berpindah haluan dari seorang biduan menjadi penjual kudapan mungkin dianggap sebagai sebuah penurunan. Namun bagi Jelita, ini adalah bentuk self healing yang nyata. Langkah ini diambil bukan tanpa alasan yang kuat. Selama beberapa waktu terakhir, Jelita harus berjuang melawan gangguan kecemasan atau anxiety disorder yang cukup mengganggu produktivitasnya.
Kecemasan yang berlebihan seringkali memicu gangguan fisik lainnya, seperti naiknya asam lambung atau GERD. Untuk memutus rantai pikiran negatif yang kerap menghantui saat sedang menganggur, Jelita memilih untuk menyibukkan diri di dapur. Menariknya, kegiatan ini justru memberikan efek ketenangan yang selama ini ia cari-cari di tengah gemerlapnya dunia hiburan.
Aktivitas sebagai Bentuk Coping Mechanism
Saat ditemui di Studio Rumpi No Secret, Mampang, Jakarta Selatan, Jelita berbagi kisah inspiratifnya. Ia menjelaskan bahwa berjualan risol adalah caranya untuk tetap berpijak pada realitas dan menjaga pikirannya tetap terarah. “Kenapa aku jualan risol, karena salah satunya mencari kegiatan juga. Daripada di rumah doang ngerasa laper, kalau dibikin aktivitas kan enggak,” ungkapnya dengan nada optimis.
Aktivitas fisik yang rutin, mulai dari mempersiapkan bahan hingga melayani pelanggan, ternyata efektif sebagai coping mechanism. Dengan fokus pada detail pembuatan risol, ruang bagi pikiran-pikiran cemas yang memicu anxiety disorder menjadi berkurang. Baginya, melihat orang lain menikmati masakannya memberikan kepuasan batin yang tak ternilai harganya, bahkan ia juga sering menyisihkan dagangannya untuk bersedekah kepada mereka yang membutuhkan.
Kesuksesan Tak Terduga di Balik Gurihnya Risol
Apa yang dimulai sebagai upaya pengalihan pikiran, ternyata berbuah manis secara ekonomi. Ide berjualan risol ini pertama kali muncul saat bulan Ramadan yang lalu. Jelita yang memang memiliki hobi memasak mencoba meracik resep risol yang lezat. Tak disangka, respon pasar sangat positif. Dari hanya sekadar mencoba, kini Jelita mampu memproduksi dan menjual ratusan buah risol setiap harinya.
- Produksi Harian: Mencapai 200 hingga 300 risol per hari.
- Jangkauan Pasar: Saat ini masih fokus melayani wilayah Jabodetabek.
- Kualitas Produk: Dijual dalam bentuk siap makan maupun frozen food.
Meskipun permintaan dari luar kota mulai berdatangan, Jelita tetap mengutamakan kualitas. Ia mengaku belum berani mengirim ke luar daerah karena kekhawatiran akan daya tahan produk. “Ada yang minta ke luar kota cuma aku belum berani karena ini kan frozen, takutnya nanti di jalan kelamaan malah benyek dan basi,” jelasnya dengan penuh pertimbangan bisnis yang matang.
Suka Duka Melayani Pelanggan sebagai Figur Publik
Meski kini ia lebih sering berkutat dengan tepung dan minyak goreng, status Jelita sebagai seorang selebriti Indonesia tidak lantas memudar. Justru, kehadirannya di dapur bisnisnya seringkali menciptakan momen-momen lucu dan unik. Tak jarang pelanggan yang datang justru lebih tertarik untuk berfoto daripada sekadar membeli risol.
“Dramanya kadang ada yang minta foto pas aku lagi asyik goreng. Aduh, aku aja jadi gak fokus gorengnya,” ceritanya sambil tertawa renyah. Baginya, teknik menggoreng risol bukanlah perkara sepele. Jika suhu minyak tidak pas atau durasi menggoreng meleset sedikit saja, kulit risol bisa pecah atau teksturnya menjadi tidak renyah. Profesionalisme Jelita di panggung pun kini ia terapkan di depan penggorengan demi menjaga kepuasan pelanggan setianya.
Dukungan Keluarga dan Harapan di Masa Depan
Keputusan Jelita untuk berjualan risol mendapat dukungan penuh dari keluarga besar Bahar. Sang ibunda, Anisa Bahar, dikabarkan sangat mendukung langkah positif putrinya ini selama hal tersebut memberikan dampak baik bagi kesehatan mentalnya. Saat ini, Jelita mengelola usahanya secara mandiri dengan dibantu oleh seorang rekan kerja.
Lantas, apakah ini pertanda Jelita akan meninggalkan dunia tarik suara selamanya? Rupanya tidak. Meskipun saat ini ia merasa jauh lebih tenang dengan rutinitas barunya di bisnis kuliner, kerinduan untuk kembali ke panggung tetap ada. Namun, untuk saat ini, ia memilih untuk mengambil panggung-panggung kecil yang tidak terlalu memberikan tekanan besar padanya.
Pesan untuk Pejuang Anxiety
Kisah Jelita Bahar ini memberikan pelajaran berharga bahwa kesehatan mental adalah prioritas utama. Menemukan kesibukan yang positif dan bermanfaat bagi orang lain bisa menjadi obat mujarab dalam menghadapi gangguan kecemasan. Ia membuktikan bahwa tidak ada salahnya banting stir sejenak demi memulihkan jiwa.
“Sebenarnya kalau dagangan itu ada untungnya. Tapi pinter-pinter kita aja. Kalau kita untungnya besar sih enggak mungkin besar banget lah ya. Ya pasti ada untungnya walaupun kecil,” pungkas Jelita. Fokusnya kini bukan lagi sekadar mengejar angka atau popularitas, melainkan mencari keberkahan dan ketenangan dalam setiap lipatan kulit risol yang ia buat.
Semangat Jelita Bahar dalam mengelola kesehatan mental melalui kewirausahaan ini diharapkan dapat menginspirasi banyak orang yang sedang berjuang dalam kondisi serupa. Bahwa di balik kesulitan, selalu ada celah untuk menciptakan peluang baru yang membahagiakan.