Sinyal Bahaya Otomotif Nasional: Dua Raksasa Jepang Dikabarkan Hengkang ke Vietnam, Ribuan Buruh Jawa Timur Terancam PHK

Sarah Amalia | RADAR LOKAL
21 Jun 2026, 18:14 WIB
Sinyal Bahaya Otomotif Nasional: Dua Raksasa Jepang Dikabarkan Hengkang ke Vietnam, Ribuan Buruh Jawa Timur Terancam PHK

RadarLokal — Kabar kurang sedap kembali mengayunkan palu godam ke sektor industri manufaktur tanah air. Di tengah ambisi Indonesia menjadi pemain kunci dalam ekosistem kendaraan masa depan, dua raksasa komponen otomotif asal Jepang dikabarkan tengah bersiap mengangkat kaki dari bumi pertiwi. Destinasinya? Vietnam, negara tetangga yang kian agresif memoles karpet merah bagi para investor global.

Isu hengkangnya kedua perusahaan ini bukan sekadar isapan jempol belaka. Informasi ini mencuat langsung dari pernyataan Penasihat Khusus Presiden bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, Said Iqbal. Menurutnya, keputusan pahit ini dipicu oleh pergeseran fokus global industri otomotif dari kendaraan konvensional menuju mobil listrik (Electric Vehicle/EV).

Baca Juga Badai Polemik Tes CAT Manajer Kopdeskel Merah Putih: Dugaan Glitch Sistem Hingga Desakan Transparansi
Badai Polemik Tes CAT Manajer Kopdeskel Merah Putih: Dugaan Glitch Sistem Hingga Desakan Transparansi

Gejolak di Jawa Timur: Pasuruan dan Mojokerto di Ambang Krisis

Dua wilayah di Jawa Timur, yakni Pasuruan dan Mojokerto, disebut-sebut menjadi titik episentrum dari rencana relokasi ini. Selama ini, kedua daerah tersebut memang dikenal sebagai kantong industri manufaktur yang menyokong ribuan lapangan kerja. Namun, jika rencana pemindahan produksi ini terealisasi, maka PHK massal dalam skala yang mengkhawatirkan sudah berada di depan mata.

“Di daerah Pasuruan dan Mojokerto, Jawa Timur, ada dua perusahaan raksasa komponen otomotif. Saya belum bisa sebut nama perusahaannya secara terbuka, namun inisialnya adalah PT J dan PT S,” ungkap Said Iqbal dalam sebuah sesi konferensi pers virtual yang dipantau tim redaksi kami. Beliau menambahkan bahwa jumlah pekerja yang terancam kehilangan mata pencaharian bisa mencapai angka ribuan orang.

Baca Juga Shell Kembali Melantai di Pasar BBM Indonesia: V-Power Diesel Resmi Mengaspal Lagi, Cek Daftar Lokasi dan Harganya
Shell Kembali Melantai di Pasar BBM Indonesia: V-Power Diesel Resmi Mengaspal Lagi, Cek Daftar Lokasi dan Harganya

Fenomena ini tentu menjadi alarm keras bagi stabilitas ekonomi lokal. Sektor industri otomotif selama ini menjadi tulang punggung bagi pertumbuhan ekonomi di wilayah Jawa Timur. Hilangnya ribuan pekerjaan bukan hanya soal angka statistik, melainkan tentang keberlangsungan hidup ribuan keluarga dan melemahnya daya beli di daerah tersebut.

Mengapa Vietnam? Adu Efisiensi dan Kebijakan EV

Pertanyaan besar yang muncul adalah: mengapa para prinsipal di Jepang lebih memilih Vietnam ketimbang bertahan di Indonesia? Berdasarkan informasi yang dihimpun dari kalangan serikat buruh internasional, para petinggi perusahaan di Jepang menilai bahwa ekosistem investasi asing di Vietnam jauh lebih kompetitif, terutama dalam konteks pengembangan kendaraan listrik.

Baca Juga Eksklusif: Emiten Menara Grup Djarum (SUPR) Siap Go Private, Tawarkan Buyback Rp 45.000 per Saham
Eksklusif: Emiten Menara Grup Djarum (SUPR) Siap Go Private, Tawarkan Buyback Rp 45.000 per Saham

Vietnam dianggap lebih cekatan dalam merespons perubahan zaman melalui kebijakan yang progresif dan insentif yang lebih menarik bagi produsen komponen EV. Sebaliknya, meski Indonesia memiliki cadangan nikel melimpah sebagai bahan baku baterai, kebijakan turunan di level teknis dianggap masih belum cukup kuat untuk membuat produsen komponen merasa “aman” dan “untung” dalam jangka panjang.

“Prinsipalnya di Jepang ingin memindahkan produksi ke negara yang dianggap lebih produktif. Mereka sedang melakukan diversifikasi produk besar-besaran untuk fokus pada komponen mobil listrik, dan sayangnya, pengembangan tersebut dipusatkan di Vietnam, bukan di sini,” papar Said Iqbal lebih lanjut. Ketidaktertarikan investor ini menjadi tamparan bagi Indonesia yang tengah gencar mempromosikan diri sebagai pusat EV di Asia Tenggara.

Baca Juga Efisiensi Anggaran di Tengah Lonjakan Harga Minyak: Menilik Nasib WFH ASN di Tangan Purbaya Yudhi Sadewa
Efisiensi Anggaran di Tengah Lonjakan Harga Minyak: Menilik Nasib WFH ASN di Tangan Purbaya Yudhi Sadewa

Anatomi Masalah: Antara Produktivitas dan Daya Saing

Daya saing industri nasional kini tengah dipertanyakan. Persoalan upah buruh seringkali menjadi perdebatan, namun Said Iqbal menyoroti bahwa masalah utamanya bukan sekadar upah, melainkan kebijakan pemerintah pusat yang belum mampu menciptakan iklim kompetisi yang sehat bagi industri komponen. Di Vietnam, pemerintah memberikan kepastian hukum dan infrastruktur kebijakan yang memudahkan transisi dari teknologi lama ke teknologi baru.

Sementara itu, para pekerja di PT J dan PT S kini dirundung kecemasan. Meskipun ini masih dalam tahap diskusi awal dan pengumpulan informasi, bayang-bayang PHK sudah terasa nyata. Said Iqbal, yang juga menjabat sebagai Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), telah menginstruksikan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) untuk segera membuka ruang dialog dengan manajemen perusahaan.

Baca Juga Fenomena PHK Awal Tahun 2026: Menilik Data Kemnaker dan Upaya Pemerintah Menjaga Stabilitas Pasar Kerja
Fenomena PHK Awal Tahun 2026: Menilik Data Kemnaker dan Upaya Pemerintah Menjaga Stabilitas Pasar Kerja

“Kami ingin memastikan bahwa jika pemindahan ini benar-benar terjadi, hak-hak pekerja tidak boleh diabaikan. Perlindungan terhadap buruh harus menjadi prioritas utama,” tegasnya. Kesejahteraan buruh seringkali menjadi korban pertama dalam setiap langkah efisiensi korporasi global.

Laporan Khusus untuk Presiden Prabowo Subianto

Mengingat skala dampaknya yang luas, Said Iqbal berencana membawa persoalan ini langsung ke meja kerja Presiden Prabowo Subianto. Sebagai Penasihat Khusus Presiden, beliau merasa bertanggung jawab untuk memberikan gambaran objektif mengenai kondisi lapangan yang sedang tidak baik-baik saja. Laporan ini diharapkan mampu mendorong pemerintah untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan kendaraan listrik nasional.

Banyak pengamat menilai bahwa Indonesia perlu segera melakukan koreksi kebijakan agar tidak semakin tertinggal dari negara tetangga. Jika satu per satu investor raksasa memilih hengkang, maka cita-cita untuk menjadi negara maju di tahun 2045 akan semakin terjal jalannya. Kita memerlukan regulasi ekonomi yang tidak hanya pro-investasi, tetapi juga mampu mempertahankan industri yang sudah ada agar tetap kompetitif.

Harapan di Tengah Ketidakpastian

Meski situasi terlihat mendung, langkah antisipasi masih mungkin dilakukan. Pemerintah perlu segera duduk bersama dengan para pelaku industri otomotif Jepang untuk mendengarkan keluhan mereka secara mendalam. Apa yang sebenarnya membuat mereka merasa Indonesia tidak lagi kompetitif? Apakah ini soal birokrasi, biaya logistik, atau ketimpangan insentif?

Penyelamatan industri komponen di Pasuruan dan Mojokerto harus menjadi agenda mendesak. Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan serikat pekerja menjadi kunci untuk merumuskan solusi win-win. Kita tentu tidak ingin melihat Jawa Timur kehilangan taringnya sebagai motor penggerak industri nasional hanya karena kita terlambat beradaptasi dengan perubahan teknologi global.

Sebagai penutup, kasus rencana hengkangnya PT J dan PT S ini harus menjadi pelajaran berharga bagi seluruh pemangku kepentingan. Globalisasi dan transisi energi adalah keniscayaan. Namun, tanpa kesiapan kebijakan yang matang dan perlindungan tenaga kerja yang kuat, Indonesia hanya akan menjadi penonton di tengah pesatnya perkembangan ekonomi digital dan hijau di kawasan ASEAN.

Sarah Amalia

Sarah Amalia

Analis ekonomi muda yang hobi membedah tren pasar dan strategi UMKM. Pengisi utama kolom Radar Finance.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *