Ironi Harga Ayam: Peternak Menjerit Rugi di Tengah Tren Penurunan Harga Pasar, Apa Solusinya?

Sarah Amalia | RADAR LOKAL
28 Jun 2026, 08:11 WIB
Ironi Harga Ayam: Peternak Menjerit Rugi di Tengah Tren Penurunan Harga Pasar, Apa Solusinya?

RadarLokal — Fenomena penurunan harga ayam potong di berbagai pasar tradisional belakangan ini mungkin terdengar sebagai angin segar bagi para ibu rumah tangga dan pelaku usaha kuliner. Namun, di balik label harga yang kian terjangkau tersebut, tersimpan nestapa mendalam dari para peternak mandiri di tanah air. Kondisi ini bak buah simalakama; di satu sisi konsumen diuntungkan, namun di sisi lain, nafas keberlanjutan ekonomi para peternak ayam kini berada di ujung tanduk.

Berdasarkan pantauan tim lapangan, harga ayam di tingkat peternak atau yang biasa disebut dengan harga farm-gate telah terjun bebas ke titik yang sangat mengkhawatirkan. Laporan terbaru menunjukkan bahwa di beberapa wilayah, terutama di Jawa Barat, harga ayam hidup (livebird) hanya dihargai Rp 13.000 hingga Rp 14.000 per kilogram. Angka ini jauh di bawah titik impas atau biaya produksi yang harus ditanggung oleh para peternak.

Baca Juga Update Harga Emas Antam Hari Ini: Stagnasi di Level Tertinggi, Cek Peluang Investasi Anda
Update Harga Emas Antam Hari Ini: Stagnasi di Level Tertinggi, Cek Peluang Investasi Anda

Jeritan Peternak: Produksi Mahal, Jual Murah

Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Permindo) mengungkapkan bahwa tren penurunan harga ini bukanlah kejadian semalam. Penurunan ini sudah mulai terasa sejak April 2026. Kala itu, harga masih bertahan di angka Rp 18.000 per kilogram, yang sebenarnya sudah membuat para peternak kesulitan bernapas. Namun, situasi di bulan Juni ini dianggap sebagai “musibah” nyata bagi sektor ekonomi kerakyatan di bidang perunggasan.

Asep Saepudin, salah satu tokoh peternak dari Permindo, menyatakan bahwa kondisi saat ini adalah yang terburuk dalam beberapa periode terakhir. Persoalan utamanya terletak pada ketimpangan yang sangat lebar antara Harga Pokok Produksi (HPP) dengan harga jual di kandang. Saat ini, biaya produksi untuk menghasilkan satu kilogram ayam telah membengkak ke angka Rp 22.000 hingga Rp 23.000 akibat kenaikan harga pakan dan komponen input lainnya.

Baca Juga Langkah Strategis Prabowo Benahi Tata Kelola Makan Bergizi Gratis: Menkeu Purbaya Minta Publik Hentikan Polemik
Langkah Strategis Prabowo Benahi Tata Kelola Makan Bergizi Gratis: Menkeu Purbaya Minta Publik Hentikan Polemik

“Ini sudah jadi musibah bagi peternak. Bayangkan, modal kami di angka Rp 23.000, tapi hanya dibeli seharga Rp 13.000. Kerugiannya mencapai Rp 10.000 per kilogram. Jika satu peternak memiliki ribuan ekor, bisa dibayangkan berapa miliar kerugian kolektif yang dialami peternak mandiri saat ini,” tutur Asep dengan nada prihatin.

Faktor Musiman: Libur Sekolah dan Jeda Program Makan Bergizi

Mengapa harga ayam bisa anjlok begitu drastis? Para analis dan pelaku industri menunjuk pada beberapa faktor krusial yang saling berkelindan. Salah satunya adalah faktor musiman yakni libur sekolah yang cukup panjang. Selama masa liburan, permintaan dari sektor kantin sekolah dan katering harian mengalami penurunan signifikan.

Tak hanya itu, program makan bergizi gratis (MBG) yang selama ini menjadi salah satu harapan penyerap produksi peternak lokal juga sedang mengalami jeda atau penyetopan sementara. Meskipun Asep menyebutkan bahwa serapan dari program ini belum mencapai potensi maksimalnya, absennya program tersebut tetap memberikan tekanan pada sisi permintaan (demand) di saat pasokan (supply) sedang melimpah.

Baca Juga Badai di Bursa Jakarta: IHSG Terperosok 2,73%, Saham Konglomerat Bertumbangan di Zona Merah
Badai di Bursa Jakarta: IHSG Terperosok 2,73%, Saham Konglomerat Bertumbangan di Zona Merah

Kelebihan pasokan atau oversupply ini membuat posisi tawar peternak menjadi lemah di hadapan para tengkulak atau pedagang besar. Ketika pasar tidak mampu menyerap produksi yang terus keluar dari kandang, harga secara otomatis akan terkoreksi ke bawah demi memastikan stok tetap bergerak, meskipun harus mengorbankan margin keuntungan peternak.

Pantauan Harga di Tingkat Konsumen: Tren Menurun yang Konsisten

Meskipun harga di kandang hancur lebur, penurunan harga di tingkat pasar ritel tidak serta merta jatuh ke angka belasan ribu rupiah. Hal ini disebabkan oleh rantai distribusi yang panjang dan biaya operasional pedagang pasar. Berdasarkan data dari Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan, harga ayam ras nasional rata-rata berada di level Rp 35.800 per kilogram per 26 Juni 2026.

Baca Juga Strategi Himbara Perkuat Rupiah Lewat Skema LCT: Syarat Likuiditas Yuan Jadi Kunci Utama
Strategi Himbara Perkuat Rupiah Lewat Skema LCT: Syarat Likuiditas Yuan Jadi Kunci Utama

Jika ditarik garis dari satu bulan sebelumnya, terdapat koreksi harga sekitar 5,6% atau turun sekitar Rp 2.121 per kilogram dari posisi akhir Mei yang sempat menyentuh Rp 37.921 per kilogram. Sementara itu, data dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Bank Indonesia mencatatkan angka yang sedikit lebih tinggi di kisaran Rp 37.200 per kilogram secara rata-rata nasional.

Ironisnya, meski harga pasar sudah turun, angka tersebut sebenarnya masih berada di bawah Harga Acuan Penjualan (HAP) yang ditetapkan oleh pemerintah melalui Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 6 Tahun 2024, yakni sebesar Rp 40.000 per kilogram. Artinya, baik peternak maupun pengecer sebenarnya sedang menghadapi dinamika pasar yang tidak sehat bagi ekosistem bisnis mereka.

Baca Juga Fenomena PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA): Meroket 700 Persen Lalu Masuk Daftar HSC, Apa Dampaknya Bagi Investor?
Fenomena PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA): Meroket 700 Persen Lalu Masuk Daftar HSC, Apa Dampaknya Bagi Investor?

Intervensi Pemerintah: Penyerapan Livebird dan Wacana Bansos

Menanggapi situasi genting ini, Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan tidak tinggal diam. Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Kementan, Hary Suhada, mengakui adanya ketidakseimbangan antara pasokan dan kemampuan serap pasar yang memicu anjloknya harga.

Sebagai langkah konkret, Kementan telah menerbitkan instruksi agar para pelaku usaha besar (integrator) melakukan penyerapan ayam hidup (livebird) dari tingkat peternak mandiri secara maksimal. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi tekanan stok di kandang peternak rakyat dan perlahan mengerek harga kembali ke level yang wajar. Kebijakan ini tertuang dalam surat edaran resmi mengenai imbauan stabilisasi harga dan pengendalian produksi DOC (Day Old Chicken).

Di sisi lain, para peternak melalui Permindo mengusulkan agar pemerintah menghidupkan kembali program bantuan sosial (bansos) berupa daging ayam dan telur. Usulan ini merujuk pada data Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang mencatat adanya sekitar 1,5 juta Keluarga Risiko Stunting (KRS) yang pernah menerima manfaat serupa.

“Jika program bansos ayam ini diaktifkan kembali, setidaknya akan ada serapan instan sekitar 1,5 juta ekor ayam dalam satu kali penyaluran. Ini adalah solusi jangka pendek yang paling masuk akal untuk menyelamatkan peternak dari kebangkrutan massal,” tambah Asep.

Dampak Jangka Panjang bagi Ketahanan Pangan

Jika kondisi harga yang berada di bawah HPP ini terus dibiarkan berlarut-larut, dampak yang timbul bukan hanya sekadar kerugian finansial bagi peternak. Ada ancaman yang lebih besar bagi ketahanan pangan nasional. Peternak yang terus merugi pada akhirnya akan memutuskan untuk berhenti berproduksi (afkir dini) atau bahkan menutup usahanya secara permanen.

Ketika banyak peternak mandiri gulung tikar, maka pasokan ayam di masa depan akan berkurang drastis. Hukum ekonomi akan kembali bekerja; pasokan yang langka akan memicu lonjakan harga yang sangat tinggi di tingkat konsumen di masa mendatang. Oleh karena itu, stabilisasi harga saat ini bukan hanya soal membela kepentingan peternak, melainkan juga menjaga keseimbangan suplai pangan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Diperlukan sinergi yang kuat antara Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, dan Badan Pangan Nasional untuk menciptakan ekosistem perunggasan yang lebih adil. Penataan dari sisi hulu, seperti pengendalian harga pakan, hingga sisi hilir seperti kepastian serapan pasar melalui program-program pemerintah, menjadi kunci agar tragedi harga ayam Rp 13.000 ini tidak terulang kembali di masa depan.

Masyarakat pun diharapkan tetap bijak dalam menyikapi fluktuasi harga ini. Mendukung peternak lokal dengan tetap mengonsumsi produk ayam dan telur dalam negeri adalah bentuk partisipasi kecil namun berarti dalam menjaga kedaulatan pangan nasional.

Sarah Amalia

Sarah Amalia

Analis ekonomi muda yang hobi membedah tren pasar dan strategi UMKM. Pengisi utama kolom Radar Finance.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *