Badai di Bursa Jakarta: IHSG Terperosok 2,73%, Saham Konglomerat Bertumbangan di Zona Merah

Sarah Amalia | RADAR LOKAL
26 Jun 2026, 12:14 WIB
Badai di Bursa Jakarta: IHSG Terperosok 2,73%, Saham Konglomerat Bertumbangan di Zona Merah

RadarLokal — Lantai bursa Jakarta mendadak diselimuti awan mendung pada perdagangan menjelang akhir pekan ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang awalnya sempat memberikan harapan tipis di pagi hari, justru harus terjun bebas dan ditutup merosot tajam pada akhir sesi pertama, Jumat (26/6/2026). Pergerakan pasar yang fluktuatif ini menciptakan ketegangan di kalangan pelaku pasar modal tanah air.

Berdasarkan pantauan tim redaksi dari data real-time RTI Business, IHSG mencatatkan pelemahan yang cukup signifikan sebesar 2,73% atau merosot ke level 5.835,11 hingga penutupan sesi I. Padahal, pada pembukaan perdagangan pagi tadi, indeks saham kebanggaan Garuda ini sempat menunjukkan taringnya dengan merangkak naik ke posisi 6.045,25. Namun, euforia tersebut hanya bertahan sekejap sebelum gelombang aksi jual mulai menekan indeks ke zona merah.

Baca Juga Pajak E-Commerce Berlaku Juli: Skema Pemungutan PPh Pasal 22 dan Nasib Seller UMKM
Pajak E-Commerce Berlaku Juli: Skema Pemungutan PPh Pasal 22 dan Nasib Seller UMKM

Dinamika Perdagangan yang Agresif

Sepanjang paruh pertama hari ini, intensitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia terasa begitu tinggi. Tercatat volume perdagangan mencapai angka 11,70 miliar lembar saham yang berpindah tangan. Aktivitas yang masif ini menghasilkan nilai transaksi total sebesar Rp 6,39 triliun. Frekuensi perdagangan pun tidak main-main, di mana para trader dan investor melakukan transaksi sebanyak 933.351 kali hanya dalam waktu beberapa jam saja.

Kondisi ini mencerminkan adanya kepanikan atau setidaknya penyesuaian portofolio besar-besaran oleh para pemodal. Tekanan jual yang merata di berbagai sektor membuat indeks sulit untuk bertahan di level psikologis 6.000. Fenomena ini menarik perhatian banyak analis yang mulai mempertanyakan faktor fundamental maupun teknikal yang memicu pembalikan arah sedemikian tajam dalam waktu singkat di pasar modal kita.

Baca Juga Beban Utang Pemerintah Indonesia Mendekati Rp 10.000 Triliun: Analisis Mendalam dan Dampaknya Terhadap Ekonomi
Beban Utang Pemerintah Indonesia Mendekati Rp 10.000 Triliun: Analisis Mendalam dan Dampaknya Terhadap Ekonomi

Indeks LQ45 dan Dominasi Zona Merah

Nasib serupa juga menimpa indeks elit LQ45, yang menjadi barometer saham-saham dengan likuiditas tinggi dan kapitalisasi pasar besar. Indeks ini tercatat melemah 2,07% dan mendarat di level 575.559 pada jeda siang ini. Pelemahan pada saham-saham blue chip ini memberikan dampak domino yang cukup kuat terhadap keseluruhan gerak IHSG, mengingat bobotnya yang besar terhadap indeks.

Jika kita menelisik lebih dalam mengenai kedalaman pasar (market breath), dominasi warna merah terlihat sangat jelas di papan perdagangan. Hanya ada sekitar 91 saham yang berhasil bertahan dan menguat di tengah gempuran aksi jual. Sebaliknya, sebanyak 593 saham terpaksa menyerah dan mendekam di zona merah, sementara 123 saham lainnya memilih untuk bergerak stagnan atau tidak mengalami perubahan harga sama sekali.

Baca Juga Indonesia Gebrak Industri Dirgantara: Tak Lagi Sekadar Pembeli, Gandeng Airbus Masuk Rantai Pasok Global
Indonesia Gebrak Industri Dirgantara: Tak Lagi Sekadar Pembeli, Gandeng Airbus Masuk Rantai Pasok Global

Saham Para Konglomerat Turut Tumbang

Salah satu sorotan utama pada perdagangan hari ini adalah rontoknya harga saham-saham yang terafiliasi dengan nama-nama besar atau konglomerat di Indonesia. Fenomena ini menunjukkan bahwa sentimen negatif yang beredar di pasar saham bersifat menyeluruh dan tidak pandu bulu. Para investor tampaknya cenderung mengambil langkah aman dengan melepas kepemilikan mereka pada emiten-emiten besar.

PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), perusahaan yang merupakan hasil kongsi strategis antara Grup Bakrie dan Grup Salim, menjadi salah satu yang terdampak paling parah. Harga saham BRMS merosot tajam hingga 9,72% dan parkir di level Rp 492 per lembar saham. Penurunan ini cukup mengejutkan mengingat profil kedua grup besar di belakangnya yang biasanya memberikan stabilitas tertentu.

Baca Juga Shell Kembali Melantai di Pasar BBM Indonesia: V-Power Diesel Resmi Mengaspal Lagi, Cek Daftar Lokasi dan Harganya
Shell Kembali Melantai di Pasar BBM Indonesia: V-Power Diesel Resmi Mengaspal Lagi, Cek Daftar Lokasi dan Harganya

Tidak berhenti di situ, saham milik pengusaha Hapsoro, yakni PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA), juga mengalami nasib sial. Emiten yang bergerak di sektor pariwisata dan properti ini mencatatkan pelemahan sebesar 9,15%, membawanya ke harga Rp 745 per saham. Sektor pariwisata yang sangat sensitif terhadap isu ekonomi tampaknya menjadi alasan para investor untuk lebih berhati-hati terhadap saham BUVA.

Selanjutnya, emiten milik taipan Prajogo Pangestu, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), juga tidak luput dari koreksi tajam. Saham CUAN tergelincir 8,80% ke level harga Rp 570 per saham. Padahal, emiten ini seringkali menjadi primadona bagi para pemburu cuan karena pergerakannya yang biasanya agresif ke arah positif. Namun, hari ini keberuntungan tampaknya belum berpihak pada para pemegang sahamnya.

Baca Juga DJP Bidik Aset Tak Terlapor: Mengapa Peserta Program Pengungkapan Sukarela Kembali Diperiksa?
DJP Bidik Aset Tak Terlapor: Mengapa Peserta Program Pengungkapan Sukarela Kembali Diperiksa?

Menganalisis Penyebab Penurunan Signifikan

Melihat penurunan IHSG yang mencapai lebih dari 2,7% dalam satu sesi saja tentu mengundang pertanyaan besar mengenai apa yang sebenarnya terjadi di balik layar. Para analis investasi saham menduga adanya kombinasi antara sentimen global yang memburuk serta rilis data ekonomi domestik yang mungkin tidak sesuai ekspektasi. Selain itu, aksi ambil untung (profit taking) setelah penguatan beberapa waktu lalu juga bisa menjadi pemicu teknikal.

Ada juga kemungkinan bahwa investor asing mulai melakukan arus keluar modal (capital outflow) untuk beralih ke pasar yang dianggap lebih aman atau memiliki imbal hasil yang lebih kompetitif di tengah ketidakpastian ekonomi global. Ketegangan geopolitik atau fluktuasi harga komoditas dunia seringkali menjadi katalisator bagi investor institusi untuk mengurangi eksposur mereka di pasar berkembang seperti Indonesia.

Strategi Investor Menghadapi Volatilitas

Bagi para investor ritel, situasi seperti ini tentu sangat mendebarkan. Namun, para ahli menyarankan agar tetap tenang dan tidak terjebak dalam kepanikan (panic selling). Memerhatikan fundamental perusahaan tetap menjadi kunci utama. Jika penurunan harga saham tidak disertai dengan penurunan kinerja fundamental emiten, maka ini bisa menjadi peluang untuk melakukan strategi buy on weakness.

Di sisi lain, diversifikasi portofolio menjadi sangat penting dalam kondisi pasar yang bergejolak. Membagi aset ke dalam berbagai sektor atau instrumen investasi lainnya dapat meminimalisir risiko kerugian total saat IHSG sedang dalam tekanan berat seperti saat ini. Mengamati pergerakan sesi kedua nanti sore akan menjadi sangat krusial untuk menentukan langkah investasi di pekan depan.

RadarLokal akan terus memantau perkembangan pergerakan bursa hingga penutupan pasar sore nanti. Apakah IHSG mampu melakukan rebound tipis atau justru semakin terbenam di zona merah? Mari kita nantikan bersama dinamika yang akan terjadi di lantai bursa Jakarta.

Sarah Amalia

Sarah Amalia

Analis ekonomi muda yang hobi membedah tren pasar dan strategi UMKM. Pengisi utama kolom Radar Finance.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *