Badai di Bursa Efek: Saham Konglomerat Rontok Saat IHSG Melemah, Investor Mulai Panik?

Sarah Amalia | RADAR LOKAL
28 Apr 2026, 06:10 WIB
Badai di Bursa Efek: Saham Konglomerat Rontok Saat IHSG Melemah, Investor Mulai Panik?

RadarLokal — Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan hari ini tampaknya sedang tidak bersahabat dengan para pemegang aset kelas kakap. Sempat memberikan harapan palsu dengan menguat signifikan di awal sesi, indeks kebanggaan tanah air ini justru berakhir dengan kondisi yang cukup memprihatinkan. Fenomena “kebakaran” di lantai bursa ini turut menyeret sejumlah saham milik konglomerat ternama yang selama ini dikenal sebagai pilar kekuatan pasar modal Indonesia.

Padahal, jika kita menengok ke belakang pada pembukaan perdagangan pagi tadi, atmosfer optimisme begitu terasa. IHSG dan deretan saham saham konglomerat sempat melesat lebih dari 1%, memberikan sinyal hijau yang menyegarkan mata para investor. Namun, apa daya, tekanan jual yang masif di akhir sesi justru membalikkan keadaan secara drastis, membuat banyak portofolio investasi berubah warna menjadi merah membara.

Baca Juga Nama Dirjen Bea Cukai Terseret Dugaan Suap Impor: Purbaya Yudhi Sadewa Angkat Bicara
Nama Dirjen Bea Cukai Terseret Dugaan Suap Impor: Purbaya Yudhi Sadewa Angkat Bicara

Guncangan di Puncak: Kerajaan Bisnis Sinar Mas dan Prajogo Pangestu Tergerus

Mengacu pada data RTI Business pada Senin (27/4/2026), salah satu yang paling merasakan hantaman keras adalah emiten dari Grup Sinar Mas. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) harus rela terkoreksi cukup dalam, yakni sebesar 8,66%. Harga sahamnya meluncur bebas ke level Rp 1.845 per lembar dari posisi sebelumnya yang berada di angka Rp 2.110. Tak hanya penurunan harga, DSSA juga mencatat aksi jual bersih oleh investor asing (net foreign sell) yang mencapai Rp 12,78 miliar, sebuah angka yang cukup untuk menunjukkan adanya mosi tidak percaya sesaat dari pemodal global.

Kondisi serupa dialami oleh imperium bisnis milik orang terkaya di Indonesia, Prajogo Pangestu. Saham PT Petrosea Tbk (PTRO) terpantau melemah 5,36%, mendarat di level Rp 5.300 per saham. Tak berhenti di situ, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang juga berada di bawah naungan Prajogo ikut terperosok 4,17% ke harga Rp 5.750. Investasi saham di sektor petrokimia dan infrastruktur energi ini tampaknya sedang mengalami tekanan profit taking yang cukup intens, ditambah dengan catatan net foreign sell sebesar Rp 4,16 miliar pada TPIA.

Baca Juga Diplomasi Selat Hormuz: Donald Trump dan Sinyal Berakhirnya Konflik Energi Global dengan Iran
Diplomasi Selat Hormuz: Donald Trump dan Sinyal Berakhirnya Konflik Energi Global dengan Iran

Bahkan, emiten yang dikelola oleh maestro properti Aguan pun tak luput dari tren negatif ini. PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) tercatat terkoreksi tipis 0,59% ke posisi Rp 8.450 per saham. Meski penurunannya tidak sedalam rekan-rekannya yang lain, pergerakan PANI mencerminkan betapa rapuhnya sentimen pasar pada hari ini.

Sektor Perbankan: Himbara dan BCA Tak Kuasa Menahan Beban

Jika saham konglomerat rontok, bagaimana dengan sektor perbankan yang menjadi tulang punggung IHSG? Ternyata kondisinya setali tiga uang. Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) kompak bergerak di zona merah. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) memimpin pelemahan di sektor ini dengan koreksi 2,22% ke level Rp 4.400 per saham. Langkah lesu ini diikuti oleh PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) yang turun 1,43% ke posisi Rp 1.380.

Baca Juga Transformasi Digital Dunia Audit: Pendaftaran SMART-AUDIT ATLAS Batch 6 Resmi Dibuka, Siapkan Diri Menjadi Auditor Profesional Berbasis Data
Transformasi Digital Dunia Audit: Pendaftaran SMART-AUDIT ATLAS Batch 6 Resmi Dibuka, Siapkan Diri Menjadi Auditor Profesional Berbasis Data

Dua raksasa lainnya, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), juga ikut loyo. BBNI melemah 1,33% ke Rp 3.720, sementara BBRI terkikis 0,65% menuju Rp 3.050. Tak ketinggalan, bank syariah terbesar di Indonesia, PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BRIS), mencatat koreksi 2,13% ke level Rp 1.840. Fenomena sektor perbankan yang kompak memerah ini menjadi sinyal kuat bahwa likuiditas di pasar modal sedang mengalami guncangan yang cukup serius.

Bahkan, saham sejuta umat yang dikenal paling defensif, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), pun harus menyerah pada keadaan. Saham milik Grup Djarum ini terkoreksi 1,24% ke harga Rp 5.975 dari posisi sebelumnya Rp 6.050. Ketika BBCA yang dikenal sebagai “safe haven” di bursa lokal ikut memerah, ini menandakan bahwa tekanan pasar memang sedang sangat masif.

Baca Juga Respons Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa Terkait Pelemahan Rupiah: Fokus pada Fondasi Ekonomi, Urusan Kurs Ada di BI
Respons Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa Terkait Pelemahan Rupiah: Fokus pada Fondasi Ekonomi, Urusan Kurs Ada di BI

IHSG Kebakaran: Menelisik Angka dan Arus Modal Asing

Secara keseluruhan, IHSG harus menutup hari dengan pelemahan 0,32% di level 7.106,52. Padahal, jika ditarik ke jam-jam awal perdagangan, indeks sempat menyentuh level tertingginya di 7.230,03. Perubahan drastis ini menunjukkan betapa tingginya volatilitas pasar saat ini. Berdasarkan data statistik, volume perdagangan hari ini mencapai 33,17 miliar saham dengan total nilai transaksi sebesar Rp 16,57 triliun.

Menariknya, meskipun indeks melemah, masih terdapat 408 saham yang menguat, sementara 264 saham melemah, dan 147 saham lainnya stagnan. Hal ini menunjukkan bahwa pelemahan IHSG lebih banyak dipicu oleh rontoknya saham-saham dengan kapitalisasi pasar besar (Big Caps) yang memiliki bobot signifikan terhadap indeks.

Namun, yang perlu diwaspadai adalah tren jangka menengah. Indeks saham hari ini memperpanjang tren koreksinya yang sudah berlangsung selama sepekan terakhir dengan total penurunan sebesar 6,42%. Lebih mengkhawatirkan lagi, sepanjang tahun 2026 ini, pasar saham Indonesia telah mencatat capital outflow atau arus modal asing keluar (net foreign sell) yang sangat besar, yakni mencapai Rp 42,81 triliun.

Baca Juga Misi Penyelamatan Pasar Modal: Di Balik Pertemuan Strategis Dasco, OJK, dan Bos Danantara di Gedung Bursa
Misi Penyelamatan Pasar Modal: Di Balik Pertemuan Strategis Dasco, OJK, dan Bos Danantara di Gedung Bursa

Mengapa Pasar Begitu Volatil? Analisis dan Prediksi

Banyak pengamat menilai bahwa kombinasi antara ketidakpastian ekonomi global dan kondisi geopolitik menjadi pemicu utama asing untuk terus menarik dana mereka dari pasar berkembang (emerging markets) seperti Indonesia. Selain itu, laporan keuangan kuartalan dari beberapa emiten besar yang mungkin tidak sesuai ekspektasi pasar turut memperkeruh suasana.

Para investor disarankan untuk tetap tenang namun waspada dalam menghadapi kondisi analisis ekonomi yang fluktuatif ini. Strategi diversifikasi aset dan tetap memegang saham-saham dengan fundamental kuat (value investing) bisa menjadi pilihan bijak di tengah badai. Aksi “wait and see” mungkin lebih baik dilakukan hingga IHSG menunjukkan tanda-tanda rebound yang solid dan arus modal asing mulai kembali masuk ke pasar domestik.

Ke depannya, perhatian pasar akan tertuju pada kebijakan suku bunga bank sentral serta rilis data makroekonomi terbaru. Apakah IHSG mampu bangkit dari level 7.100 atau justru terus merosot ke level psikologis di bawahnya? Hanya waktu dan dinamika pasar yang bisa menjawabnya. Namun yang pasti, bagi para trader dan investor, hari-hari ini menuntut kedisiplinan tinggi dalam menjaga manajemen risiko.

Sarah Amalia

Sarah Amalia

Analis ekonomi muda yang hobi membedah tren pasar dan strategi UMKM. Pengisi utama kolom Radar Finance.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *