Berantas Mentalitas ‘Mempersulit’, Dukungan Mengalir untuk Satgas Deregulasi Prabowo demi Iklim Investasi Sehat

Dimas Pratama | RADAR LOKAL
16 Mei 2026, 08:15 WIB
Berantas Mentalitas 'Mempersulit', Dukungan Mengalir untuk Satgas Deregulasi Prabowo demi Iklim Investasi Sehat

RadarLokal — Angin segar bertiup di tengah kerumitan birokrasi perizinan Indonesia yang selama ini kerap dikeluhkan oleh para pelaku usaha. Langkah berani Presiden Prabowo Subianto yang berencana membentuk Satuan Tugas (Satgas) khusus untuk mempercepat deregulasi dan menyederhanakan perizinan mendapat sambutan hangat dari berbagai pihak. Salah satu dukungan paling lantang datang dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, yang memandang inisiatif ini sebagai titik balik penting dalam memperbaiki ekosistem ekonomi nasional.

Keberanian Mengungkap Realita Pahit Birokrasi

Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Eko Hendro Purnomo, atau yang akrab disapa Eko Patrio, secara tegas menyatakan dukungannya terhadap instruksi Presiden tersebut. Bagi Eko, apa yang disampaikan Prabowo bukan sekadar janji politik biasa, melainkan sebuah kejujuran yang pahit namun perlu didengar oleh seluruh pemangku kepentingan di negeri ini. Ia menilai, pengakuan Presiden mengenai adanya oknum birokrat yang sengaja memperlambat proses demi keuntungan pribadi adalah langkah awal menuju perbaikan yang fundamental.

Baca Juga Kapolda Metro Jaya Naik Kasta ke Bintang Tiga: Era Baru Pelayanan Publik di Jantung Metropolitan
Kapolda Metro Jaya Naik Kasta ke Bintang Tiga: Era Baru Pelayanan Publik di Jantung Metropolitan

“Presiden Prabowo bicara jujur mengenai ada oknum birokrat yang sengaja mempersulit izin untuk cari keuntungan pribadi. Semua pengusaha tahu, semua investor tahu hal ini. Namun, yang belum ada selama ini adalah sosok pemimpin yang berani mengatakannya secara terbuka dan langsung mengambil tindakan nyata. Presiden Prabowo melakukan keduanya sekaligus,” ujar Eko dalam keterangannya kepada tim redaksi RadarLokal.

Menurut Eko, masalah perizinan di Indonesia bukan hanya soal sistem digitalisasi atau aplikasi yang belum terintegrasi, melainkan persoalan mendalam terkait mentalitas birokrasi. Budaya yang menganggap bahwa ‘jika bisa dipersulit, mengapa harus dipermudah’ telah mendarah daging terlalu lama. Oleh karena itu, kehadiran Satgas ini diharapkan mampu memangkas bukan hanya tahapan administratif, tetapi juga memutus rantai budaya koruptif yang telah menghambat kemajuan ekonomi selama bertahun-tahun.

Baca Juga Mimpi Suci Terjegal Tipu Daya: Polda Metro Jaya Buka Posko Aduan Korban Hanania Travel
Mimpi Suci Terjegal Tipu Daya: Polda Metro Jaya Buka Posko Aduan Korban Hanania Travel

Komparasi Global: Mengapa Kita Tertinggal?

Dalam arahannya, Presiden Prabowo menyoroti kesenjangan yang sangat mencolok antara Indonesia dengan negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara dalam hal kemudahan berbisnis. Indonesia kerap kali tertatih-tatih dalam memberikan kepastian waktu bagi para investor. Bayangkan saja, untuk mendapatkan sebuah izin usaha yang krusial, investor terkadang harus menunggu hingga satu atau dua tahun. Kontras dengan hal tersebut, negara tetangga mampu menyelesaikan proses yang sama hanya dalam waktu dua minggu.

“Permudah perizinan, jangan dipersulit. Para pengusaha itu mau bekerja, mereka mau membawa modal dan investasi ke negara kita, tapi seringkali mereka justru terhambat oleh tembok birokrasi yang lamban. Kita harus mengacu pada standar global dan regional. Jika tetangga kita bisa mengeluarkan izin dalam dua minggu, tidak ada alasan bagi kita untuk memakan waktu hingga dua tahun,” tegas Prabowo dalam sebuah pertemuan strategis baru-baru ini.

Baca Juga Aksi Meresahkan di Stasiun Kebayoran: Menyingkap Horor Penumpang KRL yang Diintip dari Bawah Peron
Aksi Meresahkan di Stasiun Kebayoran: Menyingkap Horor Penumpang KRL yang Diintip dari Bawah Peron

Kesenjangan waktu ini bukan sekadar angka di atas kertas. Durasi perizinan yang panjang berarti biaya peluang (opportunity cost) yang hilang, tertundanya penyerapan tenaga kerja, dan menurunnya kepercayaan pasar internasional terhadap Indonesia. Melalui Satgas Deregulasi ini, diharapkan terjadi transformasi besar-besaran agar Indonesia menjadi destinasi investasi yang lebih kompetitif di mata dunia.

Mandat Khusus untuk Mensesneg dan Para Pakar

Guna mewujudkan visi besar tersebut, Presiden telah menginstruksikan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi untuk segera bergerak cepat. Tugas utama Mensesneg adalah menghimpun para pakar, ahli hukum, praktisi bisnis, dan akademisi untuk merumuskan struktur serta kerangka kerja Satgas Deregulasi. Satgas ini tidak akan bekerja di atas menara gading, melainkan harus turun ke lapangan untuk mengidentifikasi aturan-aturan mana saja yang saling tumpang tindih.

Baca Juga Wajah Baru Jakarta: Menilik Penurunan Drastis RW Kumuh yang Kini Mencapai 52 Persen
Wajah Baru Jakarta: Menilik Penurunan Drastis RW Kumuh yang Kini Mencapai 52 Persen

Penyederhanaan regulasi menjadi kunci utama. Selama ini, banyak pengusaha terjebak dalam labirin regulasi yang dikeluarkan oleh berbagai kementerian dan lembaga yang seringkali tidak sinkron satu sama lain. Satgas ini diharapkan mampu menjadi jembatan penghubung (enabler) yang menyatukan seluruh kepentingan sektoral demi satu tujuan besar: kemudahan berusaha.

“Saya minta Mensesneg kumpulkan pakar-pakar. Bentuk Satgas khusus untuk mempercepat deregulasi. Sederhanakan aturannya, jangan dipersulit. Kita ingin negara ini bergerak lebih lincah dan transparan,” ucap Prabowo memberikan instruksi yang sangat lugas.

Tolok Ukur Keberhasilan: Kemenangan bagi Indonesia

Eko Patrio menekankan bahwa keberhasilan Satgas ini nantinya tidak boleh hanya diukur dari banyaknya aturan yang dihapus, melainkan dari dampak nyata yang dirasakan oleh para pelaku usaha di lapangan. Ia mendorong agar Satgas memiliki indikator kinerja utama (KPI) yang transparan dan dapat dipantau oleh publik.

Baca Juga Dorong Inovasi dan Kesejahteraan, Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi 2026 Siap Digelar: Inilah 4 Kategori Utamanya
Dorong Inovasi dan Kesejahteraan, Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi 2026 Siap Digelar: Inilah 4 Kategori Utamanya

“Sederhana saja tolok ukurnya: apakah pengusaha jujur kini semakin mudah berbisnis di Indonesia atau tidak? Apakah hambatan-hambatan yang selama ini dikeluhkan sudah hilang? Kalau jawabannya ya, maka Indonesia yang menang,” tutur politisi yang juga aktif dalam mengamati isu perizinan usaha ini.

Lebih lanjut, dukungan dari Komisi VI DPR RI ini juga mencakup fungsi pengawasan. Sebagai mitra kerja pemerintah dalam bidang industri, investasi, dan persaingan usaha, DPR akan memastikan bahwa Satgas ini tidak hanya menjadi badan seremonial belaka. DPR berkomitmen untuk terus mengawal setiap langkah deregulasi agar tetap berada di jalur yang benar dan benar-benar memberikan manfaat bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

Langkah Strategis Menuju Transformasi Ekonomi

Pembentukan Satgas Deregulasi ini dipandang sebagai langkah awal dari rangkaian panjang transformasi ekonomi di era kepemimpinan Prabowo. Selain memangkas birokrasi, pemerintah juga tengah fokus pada perbaikan kualitas sumber daya manusia dan penguatan infrastruktur digital. Sinergi antara kemudahan izin dan kesiapan infrastruktur diyakini akan menjadi katalisator bagi pertumbuhan PDB Indonesia di masa depan.

Berikut adalah beberapa fokus utama yang diharapkan menjadi prioritas Satgas Deregulasi:

  • Mengidentifikasi regulasi yang tumpang tindih antara pemerintah pusat dan daerah.
  • Menerapkan sistem perizinan berbasis risiko yang lebih efisien dan transparan.
  • Menghapuskan biaya-biaya ‘siluman’ yang sering muncul dalam proses birokrasi.
  • Mempercepat digitalisasi penuh pada seluruh layanan publik terkait bisnis.
  • Memberikan perlindungan hukum yang pasti bagi investor dan pelaku UMKM.

Langkah ini memberikan sinyal kuat kepada dunia internasional bahwa Indonesia sedang berbenah secara serius. Dengan adanya dukungan penuh dari legislatif dan komitmen kuat dari eksekutif, harapan agar iklim usaha di Indonesia menjadi yang terbaik di Asia Tenggara bukan lagi sekadar impian. Transformasi mentalitas birokrasi dari penguasa menjadi pelayan publik adalah pondasi utama bagi kemajuan bangsa yang berkelanjutan.

Mari kita nantikan bagaimana Satgas ini bekerja. Tantangan di depan memang besar, mengingat budaya ‘persulit’ sudah mengakar kuat. Namun, dengan kepemimpinan yang berani dan dukungan dari seluruh elemen masyarakat, perubahan besar bukan tidak mungkin terjadi. Seperti yang dikatakan oleh Eko Patrio, jika pengusaha jujur dipermudah, maka kemenangan ada di tangan seluruh rakyat Indonesia.

Dimas Pratama

Dimas Pratama

Jurnalis lapangan senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun. Fokus pada isu sosial dan kebijakan publik di Radar News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *