Diplomasi Senjata dan Bayang-Bayang Moskow: Mengapa Taliban Kini Berpaling ke Rusia?

Dimas Pratama | RADAR LOKAL
05 Jun 2026, 12:10 WIB
Diplomasi Senjata dan Bayang-Bayang Moskow: Mengapa Taliban Kini Berpaling ke Rusia?

RadarLokal — Langkah diplomasi yang diambil oleh jajaran elit Kabul belakangan ini mengejutkan banyak pihak. Menteri Pertahanan sementara pemerintahan Taliban, Mullah Muhammad Yaqoob, baru saja kembali dari kunjungan strategis ke Moskow dengan membawa sebuah pesan yang cukup provokatif bagi tetangganya, Pakistan. Dalam keterangannya setelah mendarat di Kabul, Yaqoob memberikan sinyal kuat bahwa dinamika keamanan di perbatasan tidak akan lagi sama seperti sebelumnya.

Yaqoob dengan percaya diri menyatakan bahwa Pakistan “tidak akan lagi berani” meluncurkan serangan udara atau melakukan provokasi militer ke wilayah Afganistan dalam waktu dekat. Keberanian ini bukan tanpa alasan; Taliban baru saja menandatangani perjanjian kerja sama militer-teknis yang signifikan dengan Rusia. Meski detail teknisnya masih tertutup rapat, pengumuman ini menandai babak baru dalam hubungan antara kelompok yang dulu dimusuhi Moskow dengan pemerintahan Vladimir Putin.

Baca Juga Langkah Nyata di Beranda Utara: Presiden Prabowo Instruksikan Renovasi Total Puskesmas Miangas yang Terlantar Sejak Era Soeharto
Langkah Nyata di Beranda Utara: Presiden Prabowo Instruksikan Renovasi Total Puskesmas Miangas yang Terlantar Sejak Era Soeharto

Lampu Hijau dari Kremlin: Bukan Sekadar Pakta Pertahanan

Di balik narasi keras yang ditujukan kepada Islamabad, Yaqoob berupaya meredam spekulasi panas di komunitas internasional. Ia menegaskan bahwa kesepakatan ini bukanlah sebuah pakta pertahanan kolektif atau aliansi keamanan yang mengikat secara ideologis. Fokus utamanya, menurut Kabul, adalah pragmatisme teknis mengenai pemeliharaan senjata militer yang sudah ada di tanah Afganistan.

Afganistan saat ini memang berada dalam posisi unik sekaligus sulit. Mereka mewarisi gudang senjata dari dua kutub yang berbeda. Di satu sisi, ada tumpukan alutsista buatan Uni Soviet yang tersisa sejak invasi tahun 1979. Di sisi lain, terdapat peralatan canggih milik Amerika Serikat dan NATO yang tertinggal setelah penarikan pasukan secara tergesa-gesa pada Agustus 2021 lalu.

Baca Juga Zelensky Ajak Putin Bertemu Langsung: Upaya Diplomasi Terakhir di Tengah Hujan Rudal Hipersonik
Zelensky Ajak Putin Bertemu Langsung: Upaya Diplomasi Terakhir di Tengah Hujan Rudal Hipersonik

Rusia, sebagai pemilik teknologi asli dari banyak helikopter Mi-17 yang kini dioperasikan Taliban, memiliki kapasitas teknis yang tidak dimiliki negara lain untuk melakukan perbaikan. Yaqoob bahkan melontarkan tawaran menarik—bahwa mereka juga terbuka untuk bekerja sama dengan Amerika Serikat dalam hal perawatan sisa-sisa alutsista Barat jika Washington bersedia. Namun, untuk saat ini, Moskow adalah satu-satunya pihak yang bersedia mengulurkan tangan secara nyata di bidang ini.

Menakar Ketegangan Kabul dan Islamabad

Waktu penandatanganan kesepakatan ini dianggap sangat krusial oleh para analis geopolitik Asia Tengah. Hubungan antara Taliban dan Pakistan sedang berada di titik nadir. Pakistan berulang kali meluncurkan serangan udara ke wilayah Afganistan dengan dalih menargetkan militan Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP) yang dianggap bersembunyi di sana. Sebaliknya, Taliban menuduh Pakistan melakukan pelanggaran kedaulatan yang tidak bisa ditoleransi.

Baca Juga Keadilan Bagi M. Ilham Pradipta: Tiga Oknum TNI Pembunuh Kepala Cabang Bank Divonis Penjara dan Dipecat
Keadilan Bagi M. Ilham Pradipta: Tiga Oknum TNI Pembunuh Kepala Cabang Bank Divonis Penjara dan Dipecat

Dengan merangkul Rusia, Taliban seolah ingin menunjukkan bahwa mereka tidak lagi terisolasi dan memiliki pendukung besar yang bisa mengimbangi pengaruh Pakistan di kawasan. Di sisi lain, Rusia juga memiliki agenda tersendiri. Moskow secara konsisten menentang kehadiran pangkalan militer Amerika Serikat atau NATO di negara-negara sekitar Afganistan. Sekretaris Dewan Keamanan Rusia, Sergei Shoigu, telah menegaskan posisi Rusia yang ingin menjaga kawasan tersebut bersih dari pengaruh militer Barat pasca-konflik.

Pragmatisme di Atas Luka Lama Sejarah

Menarik untuk melihat bagaimana sejarah berputar. Beberapa dekade lalu, pejuang Afganistan berperang habis-habisan melawan pendudukan Uni Soviet. Kini, kedua pihak justru duduk di meja yang sama demi kepentingan masing-masing. Menurut Abas Basir, seorang mantan menteri dalam pemerintahan Afganistan sebelum jatuhnya Kabul, hubungan ini murni didasari atas asas manfaat, bukan keselarasan visi politik.

Baca Juga Terobosan Baru Penanggulangan Terorisme: Menakar Signifikansi Perpres RAN PE 2026-2029 dan Catatan Kritis Legislator PDIP
Terobosan Baru Penanggulangan Terorisme: Menakar Signifikansi Perpres RAN PE 2026-2029 dan Catatan Kritis Legislator PDIP

Ada beberapa alasan mengapa Rusia bersedia berurusan dengan Taliban:

  • Bendungan Terhadap ISKP: Rusia sangat khawatir dengan ekspansi kelompok Islamic State Khorasan (ISKP) yang berpotensi menyusup ke negara-negara bekas Uni Soviet di Asia Tengah dan akhirnya mengancam keamanan domestik Rusia.
  • Pengendalian Narkotika: Afganistan tetap menjadi salah satu sumber utama aliran narkotika ke utara, dan Moskow berharap kerja sama dengan Taliban bisa menekan angka penyelundupan ini.
  • Legitimasi Regional: Dengan menjadi mediator atau mitra bagi Taliban, Rusia memperkuat perannya sebagai “polisi keamanan” di kawasan Eurasia, mengisi kekosongan yang ditinggalkan Amerika Serikat.

Bagi Taliban, kerja sama ini memberikan napas segar berupa legitimasi politik tingkat regional serta akses ekonomi. Di tengah sanksi internasional yang mencekik, impor energi dan gandum dari Rusia menjadi sangat vital untuk menjaga stabilitas domestik Afganistan yang sedang dilanda krisis pangan parah.

Baca Juga Drama Evakuasi Sapi Limosin di Cileungsi: Ngamuk Hingga Terperosok ke Parit Sedalam 3 Meter
Drama Evakuasi Sapi Limosin di Cileungsi: Ngamuk Hingga Terperosok ke Parit Sedalam 3 Meter

Tantangan dan Pesan Diplomasi yang Ambigu

Meski Yaqoob sangat vokal mengenai kesepakatan ini, analis keamanan Besmillah Taban memperingatkan agar publik tidak terlalu cepat menarik kesimpulan. Ada kecenderungan dari pihak Taliban untuk membesar-besarkan hasil kunjungan luar negeri demi konsumsi domestik. Tujuannya jelas: meningkatkan moral para pejuang mereka dan memberikan efek jera kepada lawan-lawan politik di dalam maupun luar negeri.

Rusia sendiri tampak lebih berhati-hati dalam memberikan pernyataan resmi. Mereka berulang kali menegaskan bahwa bantuan militer yang diberikan bersifat terbatas pada perbaikan alutsista lama. Hal ini menunjukkan bahwa Moskow masih menimbang risiko politik jika terlalu dekat dengan rezim yang belum diakui secara penuh oleh PBB tersebut.

Namun, bagi mantan diplomat Afganistan Ghaus Janbaz, dimensi politik dari kesepakatan ini jauh lebih kuat daripada sekadar masalah teknis sekrup dan baut helikopter. Rusia adalah salah satu dari sedikit negara yang tetap membuka kedutaan besarnya di Kabul dan menerima diplomat dari Taliban di Moskow. Ini adalah pengakuan de facto yang sangat berharga bagi pemerintahan Taliban.

Masa Depan Poros Baru di Asia Tengah

Seiring dengan semakin dalamnya keterlibatan Rusia dalam konflik Rusia-Ukraina, Moskow membutuhkan stabilitas di halaman belakangnya, yaitu Asia Tengah. Afganistan yang stabil di bawah kendali Taliban—selama mereka bisa menekan kelompok teroris internasional—adalah pilihan yang lebih baik bagi Kremlin daripada Afganistan yang kacau balau dan menjadi ladang subur bagi ekstremisme yang tidak terkontrol.

Pada akhirnya, kemesraan antara Taliban dan Rusia mencerminkan pergeseran besar dalam keamanan regional. Di tengah persaingan kekuatan global antara Cina, Rusia, dan Barat, Afganistan kembali menjadi bidak catur yang diperebutkan. Tanpa ekonomi domestik yang kuat, Taliban tidak punya pilihan selain mencari pelindung di antara kekuatan-kekuatan besar tersebut, meski harus menelan pahitnya kenyataan sejarah masa lalu.

Kesepakatan ini mungkin baru langkah awal. Jika implementasinya berjalan lancar, kita mungkin akan melihat keterlibatan Rusia yang lebih luas dalam proyek infrastruktur atau eksploitasi sumber daya alam di Afganistan. Bagi dunia internasional, fenomena ini adalah pengingat bahwa dalam dunia diplomasi, tidak ada kawan atau lawan yang abadi, yang ada hanyalah kepentingan yang saling bersinggungan.

Dimas Pratama

Dimas Pratama

Jurnalis lapangan senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun. Fokus pada isu sosial dan kebijakan publik di Radar News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *