Heboh Rekrutmen Manajer KDMP Mirip Latihan Militer, Dirut Agrinas Ungkap Misi Besar di Baliknya
RadarLokal — Jagat maya baru-baru ini dihebohkan oleh potongan video dan foto yang memperlihatkan proses diklat calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Bukan tanpa alasan, sorotan publik tertuju pada gaya pelatihan yang dinilai sangat maskulin dan disiplin, layaknya pendidikan militer. Para peserta terlihat mengenakan seragam loreng dan menempati barak-barak pelatihan, sebuah pemandangan yang tak lazim untuk posisi manajerial di sektor ekonomi kerakyatan seperti koperasi.
Menanggapi gelombang diskusi yang kian memanas di media sosial, Direktur Utama Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota, akhirnya angkat bicara. Dalam sebuah kesempatan wawancara, Joao memberikan perspektif mendalam mengenai mengapa pola pelatihan militer tersebut diadopsi dan apa sebenarnya tujuan jangka panjang yang ingin dicapai oleh pemerintah melalui program ambisius ini.
Potret ‘Loreng’ di Balik Rekrutmen Koperasi: Mengapa Begitu Disiplin?
Pemandangan para calon manajer KDMP yang menjalani latihan fisik berat dan disiplin ketat di barak militer memicu beragam komentar dari netizen. Sebagian mempertanyakan relevansi antara kemampuan mengelola koperasi dengan ketangkasan fisik ala prajurit. Namun, bagi Joao Angelo De Sousa Mota, apa yang terlihat di permukaan hanyalah instrumen dari sebuah visi yang lebih besar: pembangunan karakter bangsa atau nation character building.
“Kalau saya kan penerima ya, pengguna ya. Jadi saya itu kan end-user-nya. Secara struktur, kita nanti yang akan menerima hasil dari proses panjang ini,” ungkap Joao dengan nada tenang saat memberikan klarifikasi kepada awak media pada Kamis (18/6/2026). Ia menekankan bahwa meskipun pihaknya bukan penyelenggara teknis rekrutmen, ia sangat mendukung nilai-nilai yang ditanamkan dalam proses tersebut.
Menurut Joao, tantangan mengelola koperasi desa di era modern memerlukan mentalitas yang tangguh. Manajer koperasi bukan sekadar administrator, melainkan pemimpin lapangan yang harus memiliki integritas tinggi, kedisiplinan tanpa kompromi, dan rasa cinta tanah air yang mendalam. Pelatihan di barak dianggap sebagai kawah candradimuka untuk mengikis mentalitas lembek dan menumbuhkan daya juang dalam memajukan ekonomi desa.
Misi Besar Mengembalikan Marwah Ekonomi Konstitusi
Lebih lanjut, Joao membedah filosofi di balik ketatnya seleksi ini. Ia menyoroti kondisi ekonomi nasional yang menurutnya telah terlalu jauh melenceng dari mandat konstitusi. Selama hampir delapan dekade Indonesia merdeka, arus ekonomi pasar bebas dinilai telah mendominasi, sehingga peran koperasi sebagai soko guru ekonomi bangsa perlahan meredup.
“Saya pikir ini sangat relevan dengan kegiatan ini mengingat bahwa koperasi ini kan perintah konstitusi. Tetapi selama 80 tahun Indonesia berdiri, arah ekonomi kita ini kan sudah berjalan di arah pasar bebas,” ujar Joao. Ia menyayangkan fakta bahwa kurikulum mengenai koperasi yang murni sesuai amanat Pasal 33 UUD 1945 kian langka ditemukan di lembaga pendidikan tinggi saat ini.
Dengan adanya pelatihan berbasis nation character building, pemerintah berupaya menciptakan kader-kader ekonomi yang memiliki kompas moral sesuai ideologi bangsa. “Artinya kita kan mencoba mengembalikan arah ekonomi Indonesia kepada arah konstitusional gitu, sehingga pembangunan karakter menjadi sangat penting. Tidak ada satu pun perguruan tinggi di Indonesia yang mengajarkan secara mendalam terkait dengan roh koperasi yang sebenarnya di lapangan,” tambahnya dengan tegas.
Sinergi Lintas Lembaga: Kolaborasi BKN, PAN-RB, dan Kemhan
Proses rekrutmen manajer KDMP ini ternyata melibatkan kolaborasi besar antar-instansi pemerintah. Joao menjelaskan bahwa penyelenggara utama rekrutmen adalah pemerintah pusat melalui Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) serta Badan Kepegawaian Negara (BKN).
Keterlibatan Kementerian Pertahanan (Kemhan) dalam proses diklat bukanlah tanpa alasan. Kemhan bertindak sebagai mitra teknis yang menyediakan fasilitas dan kurikulum kedisiplinan. Model ini bukanlah hal baru di Indonesia. Joao menyamakannya dengan program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang pernah sukses dilaksanakan pada masa lalu.
“Setahu saya yang menyelenggarakan ini kan BKN, kemudian BKN bersama dengan PAN-RB yang melakukan proses perekrutannya. Kemudian dalam proses pelatihannya mereka minta tolong pada Kemhan untuk pembentukan karakternya,” jelas Joao. Kerja sama ini menunjukkan betapa seriusnya pemerintah dalam menyiapkan sumber daya manusia yang akan mengawal program Koperasi Desa Merah Putih di seluruh pelosok negeri.
Nasib Para Calon Manajer: Kontrak Profesional di Ujung Pelatihan
Bagi mereka yang berhasil melewati serangkaian ujian fisik, mental, dan intelektual tersebut, masa depan profesional telah menanti. Joao mengonfirmasi bahwa para lulusan terbaik akan langsung diserap sebagai pegawai kontrak di bawah naungan Agrinas Pangan Nusantara.
Sebagai entitas yang akan mengelola distribusi dan manajemen pangan, Agrinas membutuhkan manajer-manajer handal yang sudah ‘teruji’ oleh sistem. Status kontrak ini diharapkan menjadi jembatan bagi para pemuda terpilih untuk menunjukkan dedikasi mereka dalam membangun ekosistem pangan dan ekonomi dari tingkat desa. Pelatihan semi-militer ini hanyalah gerbang awal dari pengabdian panjang mereka untuk kedaulatan pangan nasional.
“Nantinya setelah mereka sudah selesai mengikuti seluruh rangkaian rekrutmen dan dinyatakan lulus, mereka akan menjadi pegawai kontrak di Agrinas,” pungkas Joao. Dengan langkah berani ini, pemerintah berharap wajah koperasi Indonesia tidak lagi dipandang sebelah mata, melainkan menjadi kekuatan ekonomi yang disiplin, profesional, dan tetap berakar pada nilai-nilai luhur Pancasila.
Fenomena viralnya pelatihan calon manajer KDMP ini menjadi pengingat bagi publik bahwa transformasi ekonomi tidak hanya membutuhkan angka dan data, tetapi juga manusia-manusia dengan karakter baja yang siap menjaga amanah konstitusi di tengah gempuran pasar global. Agrinas Pangan Nusantara optimistis bahwa melalui disiplin tinggi, impian swasembada dan kemakmuran desa bukanlah hal yang mustahil untuk dicapai dalam waktu dekat.