Histeris di Balik Hijab: Kontroversi Guru BK Garut Gunting Paksa Rambut Siswi Berujung Laporan Hukum

Dimas Pratama | RADAR LOKAL
08 Mei 2026, 10:10 WIB
Histeris di Balik Hijab: Kontroversi Guru BK Garut Gunting Paksa Rambut Siswi Berujung Laporan Hukum

RadarLokal — Dunia pendidikan di Jawa Barat kembali diguncang oleh sebuah insiden yang memicu perdebatan panas di ruang publik. Sebuah peristiwa memilukan terjadi di lingkungan salah satu sekolah menengah kejuruan (SMK) di Garut, di mana sejumlah siswi mengalami guncangan psikologis hebat setelah rambut mereka dipangkas paksa oleh seorang guru Bimbingan Konseling (BK). Kejadian yang terekam dalam sebuah video amatir ini mendadak viral, memperlihatkan sisi gelap dari penegakan disiplin yang dianggap melampaui batas kewajaran.

Isak tangis yang menyayat hati pecah di sebuah sudut kelas saat para siswi, yang mengenakan hijab rapi, harus menerima kenyataan rambut mereka digunting secara acak oleh pihak sekolah. Video yang menyebar luas di media sosial tersebut memperlihatkan betapa hancurnya perasaan para siswi yang merasa diperlakukan tidak adil. Narasi yang berkembang menyebutkan bahwa tindakan tersebut diambil karena rambut mereka kedapatan berwarna pirang, meskipun selama ini tertutup rapat di balik kain kerudung mereka.

Baca Juga Skandal ‘Upeti’ Sertifikat K3 Kemnaker: Drama Kesaksian ‘Tidak Tahu’ hingga Misteri Ducati Sang Sultan
Skandal ‘Upeti’ Sertifikat K3 Kemnaker: Drama Kesaksian ‘Tidak Tahu’ hingga Misteri Ducati Sang Sultan

Kronologi Kejadian di SMKN 2 Garut

Berdasarkan penelusuran mendalam tim redaksi, peristiwa ini terjadi pada hari Kamis, 30 April 2026 yang lalu. Suasana belajar mengajar di SMKN 2 Garut yang awalnya tenang mendadak berubah menjadi tegang. Berdasarkan penuturan saksi mata, aksi tersebut dilakukan tepat setelah sekelompok siswi selesai mengikuti mata pelajaran olahraga. Saat itu, kondisi fisik mereka masih lelah, namun alih-alih diberikan waktu istirahat, mereka justru dihadapkan pada razia rambut yang bersifat mendadak.

Seorang guru BK masuk ke dalam ruangan dengan membawa gunting, instrumen yang kemudian digunakan untuk mengeksekusi rambut para siswi tersebut. Di bawah tekanan dan suasana yang intimidatif, para siswi tidak berdaya saat mahkota mereka dipangkas tanpa ada dialog terlebih dahulu. Kejadian ini mencerminkan betapa kaku dan kerasnya pola disiplin sekolah yang masih diterapkan di beberapa institusi pendidikan, yang seringkali mengabaikan aspek psikologis anak didik.

Baca Juga Terobosan KPK: Dorong Pembentukan PTSP Pusat Demi Pangkas Birokrasi dan Celah Korupsi
Terobosan KPK: Dorong Pembentukan PTSP Pusat Demi Pangkas Birokrasi dan Celah Korupsi

Pembelaan Hukum dan Kejanggalan Prosedur

Asep Muhidin, seorang kuasa hukum yang kini mendampingi para siswi yang menjadi korban, mengungkapkan rasa keprihatinannya yang mendalam. Ia pertama kali menerima laporan ini dari para siswi yang mengadu kepada Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Agama Islam Nusantara (Stainus) Garut. Menurut Asep, tindakan guru BK tersebut sangat berlebihan dan tidak memiliki dasar hukum yang kuat dalam konteks pendidikan karakter yang modern.

“Kami mempertanyakan dasar laporan yang dijadikan alasan oleh pihak sekolah. Jika benar ada laporan dari masyarakat atau pihak lain mengenai warna rambut, mengapa sekolah tidak melibatkan orang tua terlebih dahulu? Mengundang orang tua untuk berdiskusi jauh lebih etis dan profesional daripada langsung melakukan tindakan fisik yang merugikan mental anak,” tegas Asep saat memberikan keterangan kepada media.

Baca Juga Kisah Heroik Pemilik Warteg di Gandamekar Bekasi: Bubarkan Pelanggan Demi Keselamatan Saat Kebakaran Melanda
Kisah Heroik Pemilik Warteg di Gandamekar Bekasi: Bubarkan Pelanggan Demi Keselamatan Saat Kebakaran Melanda

Lebih lanjut, Asep menyoroti fakta bahwa para siswi tersebut selalu menggunakan hijab selama berada di lingkungan sekolah. Hal ini menimbulkan tanda tanya besar: bagaimana mungkin warna rambut dianggap mengganggu proses kegiatan belajar mengajar jika selama ini rambut tersebut tidak terlihat oleh publik? Bagi pihak kuasa hukum, ini bukan lagi sekadar masalah kedisiplinan, melainkan sudah mengarah pada dugaan tindakan sewenang-wenang terhadap hak-hak individu siswi.

Respon Kepala Sekolah dan Alasan di Balik Razia

Menanggapi kegaduhan yang terjadi, Kepala SMKN 2 Garut, Nur Al Purqon, memberikan klarifikasi. Ia membenarkan bahwa aksi pemotongan rambut tersebut memang terjadi di bawah otoritas sekolahnya. Purqon berkilah bahwa tindakan itu merupakan bentuk respon cepat terhadap keluhan yang masuk ke meja kerjanya. Menurutnya, sekolah merasa tertekan oleh laporan-laporan dari wali kelas dan masyarakat sekitar yang menyoroti perilaku siswa SMK yang dianggap mulai tidak beraturan dalam hal penampilan.

Baca Juga Tragedi Berdarah di Kafe Panhead: Kodam II Sriwijaya Investigasi Kasus Penembakan Antar Prajurit
Tragedi Berdarah di Kafe Panhead: Kodam II Sriwijaya Investigasi Kasus Penembakan Antar Prajurit

“Ini adalah akumulasi dari laporan berbagai pihak. Katanya anak SMK sekarang rambutnya berwarna bebas, seolah tidak ada aturan. Guru BK bertindak berdasarkan laporan tersebut demi menjaga nama baik institusi,” jelas Purqon. Namun, pembelaan ini justru semakin memicu polemik di kalangan praktisi pendidikan di Indonesia, karena dianggap menggunakan metode usang yang tidak lagi relevan dengan prinsip perlindungan anak.

Dampak Psikologis dan Trauma bagi Siswi

Tidak bisa dipungkiri bahwa bagi seorang remaja perempuan, rambut adalah bagian dari identitas diri. Tindakan pemotongan paksa, apalagi dilakukan di depan rekan sejawat, meninggalkan luka batin yang tidak mudah sembuh. Histerisnya para siswi dalam video tersebut adalah bentuk trauma nyata. Mereka merasa dipermalukan dan hak atas tubuh mereka telah dirampas secara paksa di tempat yang seharusnya menjadi ruang aman untuk menuntut ilmu.

Baca Juga Tragedi Berdarah di Blok M: Selebgram Woodyrman Resmi Ditahan Usai Penganiayaan Maut Terhadap Rekan Senegara
Tragedi Berdarah di Blok M: Selebgram Woodyrman Resmi Ditahan Usai Penganiayaan Maut Terhadap Rekan Senegara

Beberapa psikolog pendidikan berpendapat bahwa tindakan represif seperti ini justru bisa memicu rasa benci siswa terhadap sekolah dan figur otoritas. Alih-alih mendidik untuk patuh, sekolah justru berisiko menciptakan generasi yang memendam amarah dan merasa hak asasi manusia mereka tidak dihargai sejak dini. Pendidikan seharusnya mengedepankan pendekatan persuasif dan edukatif, bukan konfrontatif yang merusak martabat.

Etika Disiplin di Era Modern: Sebuah Refleksi

Kasus di Garut ini menjadi pengingat keras bagi seluruh institusi pendidikan untuk meninjau kembali peraturan sekolah mereka. Apakah aturan tersebut dibuat untuk mendidik atau sekadar untuk mengontrol secara fisik? Di era di mana keterbukaan informasi begitu cepat, setiap tindakan guru akan selalu berada di bawah pengawasan publik. Penegakan tata tertib haruslah sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan hukum yang berlaku.

Pihak-pihak terkait, termasuk Dinas Pendidikan Jawa Barat, diharapkan segera turun tangan untuk melakukan investigasi menyeluruh. Jika terbukti ada pelanggaran prosedur atau tindakan kekerasan simbolis, maka sanksi tegas harus diberikan agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa depan. Kita semua menginginkan lingkungan sekolah yang disiplin, namun disiplin tersebut harus lahir dari kesadaran, bukan dari rasa takut dan pemaksaan.

Langkah Selanjutnya bagi Para Korban

Saat ini, pendampingan hukum terus berjalan untuk memastikan para siswi mendapatkan keadilan dan pemulihan mental. Dukungan dari masyarakat terus mengalir, meminta agar sekolah lebih bijak dalam menangani masalah-masalah sepele seperti warna rambut, apalagi bagi siswa yang sudah menjalankan kewajibannya menutup aurat. Masalah ini telah menjadi sorotan nasional dan diharapkan menjadi momentum perubahan bagi kebijakan pendidikan di tingkat lokal maupun nasional.

Hingga berita ini diturunkan, suasana di SMKN 2 Garut dilaporkan mulai kondusif, namun luka emosional para siswi tetap menjadi perhatian utama. Media dan masyarakat akan terus memantau perkembangan kasus ini, memastikan bahwa suara anak didik tidak tenggelam di balik dinding-dinding kelas yang kaku. Pendidikan adalah tentang memanusiakan manusia, dan itu harus dimulai dari rasa saling menghormati antara guru dan murid.

Dimas Pratama

Dimas Pratama

Jurnalis lapangan senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun. Fokus pada isu sosial dan kebijakan publik di Radar News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *