Inspirasi Desa Sukamantri Bogor: Menembus Pasar Ekspor Tanaman Hias Lewat Program Desa BRILian

Sarah Amalia | RADAR LOKAL
23 Mei 2026, 08:11 WIB
Inspirasi Desa Sukamantri Bogor: Menembus Pasar Ekspor Tanaman Hias Lewat Program Desa BRILian

RadarLokal — Menapakkan kaki di lereng perbukitan kaki Gunung Salak, udara sejuk menyambut setiap pengunjung yang datang ke Desa Sukamantri. Namun, di balik ketenangan suasananya, tersimpan geliat ekonomi yang luar biasa. Desa yang terletak di Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat ini bukan sekadar pemukiman biasa; ia adalah pusat inovasi hijau yang berhasil membawa komoditas lokal ke panggung internasional.

Potensi Hijau di Kaki Gunung Salak

Desa Sukamantri memiliki luas wilayah sekitar 638 hektare. Jaraknya hanya sekitar 30 menit berkendara dari Stasiun Bogor jika lalu lintas sedang bersahabat. Sejak didirikan pada tahun 1978, desa ini terus bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi baru di wilayah Kabupaten Bogor. Fokus utamanya? Tanaman hias yang tumbuh subur berkat kondisi geografis yang mendukung.

Baca Juga Jakarta Kian Hijau: Pemprov DKI Pastikan Pajak Kendaraan Listrik Tetap Nol Persen dan Bebas Ganjil Genap
Jakarta Kian Hijau: Pemprov DKI Pastikan Pajak Kendaraan Listrik Tetap Nol Persen dan Bebas Ganjil Genap

Dipimpin oleh Kepala Desa Hendi Haerudin, Sukamantri kini menjadi magnet bagi para kolektor dan eksportir flora. Saat RadarLokal berkunjung ke kantor desa, suasana sibuk sangat terasa. Meski cuaca sedang terik, pelayanan publik tetap berjalan dinamis, mencerminkan semangat warga yang tak pernah padam untuk terus maju. Sekitar satu kilometer dari pusat administrasi desa, terdapat sentra tanaman hias yang menjadi tulang punggung ekonomi warga.

Kisah Transformasi: Dari Hobi Menjadi Komoditas Dunia

Perjalanan Desa Sukamantri menjadi desa mandiri tidaklah instan. Sejak lama, masyarakat setempat memang sudah akrab dengan budidaya tanaman hias. Namun, momentum besar terjadi pada tahun 2020, tepat saat pandemi COVID-19 melanda dunia. Di saat banyak sektor ekonomi lesu, permintaan akan tanaman hias justru meledak tajam. Orang-orang yang terkurung di rumah mulai mencari hobi baru, dan ekspor tanaman pun menjadi peluang emas yang ditangkap oleh warga Sukamantri.

Baca Juga Tragedi di Jalur Rel Bekasi: Menelisik Investigasi Mendalam Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line
Tragedi di Jalur Rel Bekasi: Menelisik Investigasi Mendalam Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line

Di sepanjang jalan desa yang tertata rapi, kita bisa melihat hamparan Anthurium Kuping Gajah yang eksotis, Philodendron yang elegan, hingga Aglaonema dengan corak daun yang memukau. Tanaman-tanaman ini bukan sekadar hiasan teras, melainkan aset bernilai tinggi yang siap dikirim ke berbagai penjuru dunia.

Peran Strategis BUMDes Bersama Muda Sejahtera

Kesuksesan ini tidak lepas dari peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Bersama Muda Sejahtera. Lembaga inilah yang menjadi motor penggerak dan wadah bagi para petani untuk meningkatkan kapasitas mereka. Sudrajat, Kaur Keuangan Desa Sukamantri, menjelaskan bahwa BUMDes secara rutin menyelenggarakan program pelatihan budidaya.

“Kami tidak membiarkan petani berjalan sendiri. BUMDes mendatangkan narasumber ahli untuk memberikan pelatihan teknis, mulai dari pembibitan hingga perawatan intensif. Alhamdulillah, sekarang para petani kami sudah mandiri dan mampu menghasilkan kualitas tanaman standar ekspor,” ujar Sudrajat saat berbincang di lokasi pembibitan. Dukungan ini menciptakan ekosistem ekonomi pedesaan yang tangguh dan berkelanjutan.

Baca Juga Misteri Dolar Lecek di Kwitang: Menelusuri Jejak Pedagang Valas Kaki Lima yang Menantang Arus Modernitas
Misteri Dolar Lecek di Kwitang: Menelusuri Jejak Pedagang Valas Kaki Lima yang Menantang Arus Modernitas

Melompat Lebih Tinggi Melalui Program Desa BRILian

Keberhasilan Desa Sukamantri dalam menembus pasar ekspor menarik perhatian Bank Rakyat Indonesia (BRI). Desa ini kemudian terpilih untuk mengikuti program Desa BRILian, sebuah inisiatif pemberdayaan yang ditujukan untuk menjadikan desa-desa unggulan sebagai percontohan nasional dalam pengembangan ekonomi. Program ini memberikan nilai tambah yang signifikan bagi branding dan operasional desa.

Nur Amalia, Kaur TU dan Umum Desa Sukamantri, mengakui bahwa sebelum mengikuti program ini, desa mereka memang sudah melakukan ekspor. Namun, sentuhan dari BRI membuat jangkauan mereka semakin luas. “Program Desa BRILian ini adalah katalisator. Kami yang tadinya mungkin hanya dikenal oleh komunitas tanaman hias atau wilayah sekitar, kini mulai dikenal di level nasional,” tutur Nur Amalia dengan nada bangga.

Baca Juga Strategi Cerdas Kelola Keuangan: Manfaatkan Fasilitas Dana Tunai KKB BCA Refinancing untuk Berbagai Kebutuhan
Strategi Cerdas Kelola Keuangan: Manfaatkan Fasilitas Dana Tunai KKB BCA Refinancing untuk Berbagai Kebutuhan

Dengan masuknya Sukamantri dalam jajaran Desa BRILian, ada standar baru yang diterapkan. BRI melakukan penilaian mendalam untuk mengeksplorasi potensi tersembunyi yang bisa didorong lebih maksimal. Di sini, fokus utamanya tetap pada penguatan jalur pemberdayaan masyarakat agar produk lokal bisa lebih bersaing di pasar global.

Diversifikasi Ekonomi dan Ketahanan Desa

Meskipun tanaman hias menjadi primadona, Desa Sukamantri tidak ingin hanya bergantung pada satu sektor saja. Diversifikasi ekonomi dilakukan untuk memastikan ketahanan finansial warga di masa depan. Selain sentra flora, desa ini juga memiliki pabrik tahu yang aktif berproduksi, peternakan kambing yang terkelola dengan baik, agen gas, hingga usaha ayam petelur yang baru saja dirintis.

Baca Juga Ketegasan Purbaya Yudhi Sadewa: Sanksi Nonjob Menanti Pejabat Kemenkeu yang Tak Serius Amankan Kas Negara
Ketegasan Purbaya Yudhi Sadewa: Sanksi Nonjob Menanti Pejabat Kemenkeu yang Tak Serius Amankan Kas Negara

Layanan perbankan mikro melalui agen BRILink juga tersebar di berbagai sudut desa, memudahkan transaksi keuangan warga tanpa harus menempuh perjalanan jauh ke pusat kota. Sinergi antara berbagai sektor usaha ini menciptakan perputaran uang yang sehat di dalam desa itu sendiri.

Manfaat Nyata bagi Para Petani di Lapangan

Prestasi membanggakan diraih Desa Sukamantri pada tahun 2024, di mana desa ini berhasil masuk peringkat 15 dalam batch ketiga program Desa BRILian. Reward atau penghargaan yang diterima dari program tersebut tidak dikonsumsi begitu saja, melainkan diputar kembali menjadi modal pengembangan usaha melalui BUMDes.

Dampak bantuan ini dirasakan langsung oleh orang-orang seperti Jaelani, salah satu pekerja di sentra tanaman hias. Ia menunjukkan jaring paranet baru yang terpasang kokoh di atas kebun pembibitan. “BUMDes sangat membantu kami di lapangan. Bantuan perlengkapan seperti jaring ini sangat krusial untuk menjaga suhu dan intensitas cahaya tanaman agar kualitasnya terjaga,” ungkap Jaelani. Hal-hal teknis seperti inilah yang seringkali luput dari perhatian, namun sangat vital bagi keberhasilan budidaya.

Masa Depan Desa Sukamantri: Menjadi Inspirasi Nasional

Kini, Desa Sukamantri bukan lagi sekadar nama di peta Kecamatan Tamansari. Ia telah bertransformasi menjadi simbol kemandirian desa di era modern. Keberhasilan mereka memadukan potensi alam, kerja keras masyarakat, dan dukungan strategis dari lembaga perbankan seperti BRI melalui Desa BRILian adalah contoh nyata bagaimana sebuah desa bisa ‘naik kelas’.

Dengan visi yang jelas dan pengelolaan yang profesional, Desa Sukamantri membuktikan bahwa produk lokal dari kaki gunung pun bisa berbicara banyak di panggung dunia. Kisah ini diharapkan mampu menginspirasi ribuan desa lainnya di Indonesia untuk berani bermimpi dan mulai mengeksplorasi potensi unik yang mereka miliki demi kesejahteraan bersama.

Sarah Amalia

Sarah Amalia

Analis ekonomi muda yang hobi membedah tren pasar dan strategi UMKM. Pengisi utama kolom Radar Finance.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *