Investigasi Menyeluruh Blackout Sumatera: Ahmad Sahroni Desak Transparansi dan Pertanggungjawaban Total
RadarLokal — Kegelapan yang menyelimuti sebagian besar wilayah Pulau Sumatera pada penghujung Mei 2026 lalu menyisakan luka mendalam bagi sektor ekonomi dan sosial. Insiden mati listrik massal atau blackout yang melumpuhkan aktivitas jutaan warga tersebut kini tengah menjadi sorotan tajam di gedung parlemen. Meski pihak kepolisian telah memberikan pernyataan awal terkait penyebab kejadian, desakan untuk melakukan investigasi menyeluruh dan transparan terus mengalir deras.
Ahmad Sahroni: Jangan Ada yang Ditutup-tutupi
Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Ahmad Sahroni, secara tegas meminta agar ada audit dan investigasi total terhadap akar permasalahan yang memicu lumpuhnya sistem kelistrikan di Sumatera. Pria yang akrab disapa “Crazy Rich Tanjung Priok” ini menekankan bahwa penjelasan yang setengah-setengah hanya akan memicu kegaduhan di tengah masyarakat yang sudah terlanjur merugi.
“Saya mendorong Polri, PLN, bersama pihak-pihak terkait, untuk menguliti habis apa yang sebenarnya menjadi akar masalah dari pemadaman di Sumatera ini. Masyarakat membutuhkan penjelasan yang clear, transparan, dan jujur. Kejadian ini bukan sekadar lampu mati biasa, ini menyangkut hajat hidup jutaan orang,” ujar Sahroni dalam keterangannya yang diterima redaksi RadarLokal.
Menurut Sahroni, kerugian yang dialami masyarakat tidak bisa dianggap enteng. Mulai dari pelaku UMKM yang harus kehilangan pendapatan harian, hingga industri besar yang proses produksinya terhenti total. Ia menilai, dampak domino dari insiden ini mencapai angka yang sangat fantastis dan menyentuh angka miliaran rupiah.
Dugaan Sabotase Mentah di Tangan Bareskrim
Di sisi lain, Mabes Polri melalui Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) telah bergerak cepat memantau situasi di lapangan. Wakil Kepala Badan Reserse Kriminal (Wakabareskrim), Irjen Nunung Syaifuddin, memberikan pernyataan resmi untuk meredam spekulasi liar yang berkembang di media sosial mengenai adanya unsur kesengajaan atau sabotase oleh pihak tertentu.
“Hingga saat ini, berdasarkan pemantauan tim di lapangan, kami bisa memastikan bahwa tidak ditemukan indikasi sabotase ataupun unsur kesengajaan dalam peristiwa blackout tersebut,” tegas Irjen Nunung dalam konferensi pers yang digelar di Mabes Polri, Jakarta.
Meski unsur kriminalitas sementara ini dikesampingkan, pihak kepolisian tetap akan mengawal proses pencarian penyebab teknis agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan. Fokus utama tim saat ini adalah memastikan stabilitas keamanan pasca-pemadaman dan mendukung PLN dalam melakukan pemulihan sistem sepenuhnya.
Faktor Teknis dan Amukan Cuaca Ekstrem
Berdasarkan laporan awal yang dihimpun oleh RadarLokal, gangguan pada sistem kelistrikan Sumatera diduga kuat berawal dari titik transmisi penting di wilayah Jambi. Manager Komunikasi dan TJSL PLN UID Sumatera Utara, Darma Saputra, mengungkapkan bahwa gangguan terdeteksi pada jalur transmisi 275 kV yang menghubungkan Muara Bungo dan Sungai Rumbai.
“Hasil penelusuran tim teknis menunjukkan adanya gangguan pada transmisi di Kabupaten Bungo, Jambi. Cuaca buruk yang melanda wilayah tersebut menjadi pemicu utama kegagalan sistem yang akhirnya berdampak berantai ke wilayah lain,” jelas Darma. Ia juga menambahkan bahwa fenomena power swing sempat terjadi sebelum akhirnya sistem perlindungan otomatis mematikan aliran listrik untuk mencegah kerusakan peralatan yang lebih parah.
Lumpuhnya Denyut Nadi Kota Medan
Dampak paling nyata terlihat jelas di Kota Medan. Pada malam kejadian, ibu kota Sumatera Utara itu berubah menjadi kota mati. Jalan-jalan protokol yang biasanya padat dengan cahaya lampu dan kendaraan, seketika berubah menjadi lorong gelap yang mencekam. Lampu Penerangan Jalan Umum (LPJU) dan lampu lalu lintas di simpang-simpang krusial padam total, memicu kemacetan dan risiko kecelakaan bagi pengendara.
Beberapa titik yang terdampak parah antara lain:
- Jalan Balai Kota dan kawasan titik nol Medan
- Jalan Guru Patimpus yang menjadi akses utama bisnis
- Jalan Gatot Subroto dan Jalan Gajah Mada
- Kawasan padat penduduk di sepanjang Jalan S. Parman
Kondisi ini sempat menimbulkan kekhawatiran akan meningkatnya angka kriminalitas jalanan, namun kesiapsiagaan aparat keamanan di lapangan berhasil menjaga situasi tetap kondusif meski dalam kegelapan total.
Mendorong Pertanggungjawaban dan Langkah Hukum
Meskipun PLN telah menyampaikan permohonan maaf secara resmi, Ahmad Sahroni menilai permohonan maaf saja tidak cukup. Ia menuntut adanya evaluasi terhadap jajaran direksi dan manajemen teknis yang bertanggung jawab atas pemeliharaan jaringan transmisi tersebut. Baginya, jika ditemukan unsur kelalaian (negligence), maka proses hukum harus tetap berjalan.
“Usut juga kalau ada indikasi unsur pidana di sana, misalnya kelalaian dalam pemeliharaan rutin yang berujung fatal. Ini kejadian luar biasa. Harus ada yang bertanggung jawab agar menjadi pelajaran bagi pengelola infrastruktur vital lainnya,” tegas Bendahara Umum DPP NasDem tersebut.
Sahroni menggarisbawahi bahwa di era digital saat ini, masyarakat sangat mudah terpapar informasi yang tidak valid. Oleh karena itu, fakta riil di lapangan harus segera dibuka ke publik untuk membendung narasi-narasi negatif yang dapat mengganggu stabilitas nasional.
Menatap Masa Depan Ketahanan Energi Sumatera
Tragedi blackout Sumatera 2026 ini menjadi alarm keras bagi pemerintah untuk mempercepat penguatan infrastruktur energi di luar Pulau Jawa. Ketergantungan pada satu jalur transmisi utama dinilai sangat berisiko jika terjadi gangguan alam atau teknis. Ketahanan energi nasional harus menjadi prioritas utama untuk menjamin pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di seluruh pelosok negeri.
RadarLokal akan terus memantau perkembangan hasil investigasi dari tim gabungan Polri dan PLN. Masyarakat berharap agar langkah-langkah mitigasi yang lebih canggih segera diterapkan, sehingga istilah ‘Sumatera Gelap Gulita’ tidak akan pernah terdengar lagi di masa-masa mendatang.