Inovasi Camilan Sehat Malika: Strategi Jitu Tembus Ritel Modern Hingga Menjelajah Pasar Papua

Sarah Amalia | RADAR LOKAL
28 Jun 2026, 00:10 WIB
Inovasi Camilan Sehat Malika: Strategi Jitu Tembus Ritel Modern Hingga Menjelajah Pasar Papua

RadarLokal — Di tengah riuhnya dinamika ekonomi kreatif di Jakarta, sebuah kisah inspiratif lahir dari ketekunan seorang perempuan bernama Tetti. Hujan deras yang mengguyur ibu kota beberapa waktu lalu seolah tidak menjadi penghalang bagi para pelaku UMKM untuk berkumpul di Rumah BUMN BRI Jakarta. Di ruangan yang hangat oleh semangat inovasi itulah, Tetti memperkenalkan ‘Malika’, sebuah lini usaha kuliner yang kini mulai menjadi buah bibir berkat keberhasilannya menembus pasar ritel modern hingga apotek ternama.

Kisah di Balik Dapur Malika: Dari Hobi Menjadi Bisnis Berkelanjutan

Tetti, perempuan berusia 48 tahun yang memiliki aura optimisme tinggi, menceritakan awal mula perjalanannya merintis Malika pada tahun 2023. Berbekal pengalaman bertahun-tahun di industri ritel, ia tidak hanya sekadar ingin berdagang, tetapi ingin menghadirkan sesuatu yang berbeda di kategori camilan sehat. Kecintaannya pada produk egg roll yang ada di pasar memicunya untuk menciptakan versi yang lebih inklusif dan bergizi.

Baca Juga Anggaran Makan Bergizi Gratis Kembali Dipangkas: Strategi Efisiensi atau Sinyal Pengetatan Fiskal?
Anggaran Makan Bergizi Gratis Kembali Dipangkas: Strategi Efisiensi atau Sinyal Pengetatan Fiskal?

“Semuanya dimulai pada 2023. Saya memiliki latar belakang di dunia ritel, dan secara pribadi saya memang sangat menyukai egg roll. Namun, saya melihat ada peluang untuk membuat produk ini lebih sehat dan menggunakan bahan-bahan lokal yang selama ini sering diabaikan,” ujar Tetti saat ditemui dalam sebuah pelatihan strategi konten visual di Jakarta. Baginya, bisnis bukan sekadar soal angka, melainkan bagaimana produk tersebut memberikan nilai tambah bagi konsumen.

Inovasi Diversifikasi Pangan: Mengolah Sorghum dan Ubi Ungu

Salah satu keunggulan utama Malika terletak pada pemilihan bahan bakunya. Di saat pasar dibanjiri oleh produk berbahan dasar terigu, Tetti memilih jalur yang lebih menantang namun prospektif: diversifikasi pangan lokal. Sejalan dengan kampanye pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada gandum impor, Malika menghadirkan inovasi berupa egg roll dari sorghum.

Baca Juga Skandal Tambang Emas Sangihe: Menelusuri Jejak TKA China di Tengah Pusaran Tambang Ilegal Senilai Rp 200 Miliar
Skandal Tambang Emas Sangihe: Menelusuri Jejak TKA China di Tengah Pusaran Tambang Ilegal Senilai Rp 200 Miliar

“Produk kami menggunakan bahan-bahan natural. Fokus utamanya adalah produk gluten free karena kami tidak menggunakan terigu sama sekali. Selain sorghum, kami juga mengeksplorasi rasa melalui pisang ambon, ubi ungu, hingga kopi,” jelas Tetti dengan penuh antusias. Tidak hanya egg roll, Malika juga memproduksi kapit yang terbuat dari kelapa murni dan cheese stick premium yang menggunakan keju edam asli.

Penggunaan keju edam pada produk cheese stick-nya adalah strategi rahasia Tetti untuk memenangkan hati konsumen kelas atas. Walaupun ia tidak secara eksplisit mencantumkan jenis keju tersebut di kemasan depan, ia membiarkan kualitas rasa yang berbicara. “Saya ingin orang-orang langsung mencobanya dan merasakan sendiri perbedaannya. Kualitas premium tidak perlu banyak bicara, lidah konsumen tidak bisa berbohong,” tambahnya.

Baca Juga Gebrakan Transmart Full Day Sale 2026: Rak Besi Serbaguna Turun Harga Drastis Jadi Rp 800 Ribuan!
Gebrakan Transmart Full Day Sale 2026: Rak Besi Serbaguna Turun Harga Drastis Jadi Rp 800 Ribuan!

Menembus Sekat Pasar: Dari Toko Buah Hingga Jaringan Apotek

Langkah pemasaran yang diambil Tetti tergolong unik dan visioner. Alih-alih hanya mengandalkan kantin atau toko kelontong, ia justru membidik pangsa pasar yang lebih spesifik dan terpercaya. Pada tahun 2024, Malika mulai memasuki toko buah di kawasan Cibubur sebagai langkah awal distribusi ritelnya.

Namun, kejutan sesungguhnya terjadi saat produk Malika berhasil masuk ke jaringan apotek besar seperti Apotek Roxy dan Apotek Welling. Strategi ini didasari oleh pengamatan cerdas terhadap perilaku konsumen. Di apotek modern, pelanggan sering kali harus menunggu waktu racikan obat yang cukup lama. Di saat itulah, keberadaan makanan ringan berkualitas menjadi pilihan menarik bagi mereka yang ingin sekadar mengganjal perut atau mencari buah tangan yang sehat.

Baca Juga Masa Depan Outsourcing di Indonesia: Said Iqbal Dorong Pembatasan Ketat Hanya pada 4 Bidang Pekerjaan
Masa Depan Outsourcing di Indonesia: Said Iqbal Dorong Pembatasan Ketat Hanya pada 4 Bidang Pekerjaan

“Apotek sekarang sudah bertransformasi menjadi ritel modern yang lengkap. Sambil menunggu obat, konsumen bisa belanja camilan yang terjamin kesehatannya. Ini adalah peluang emas yang berhasil kami optimalkan,” kata Tetti.

Ekspansi Nasional: Kepercayaan Ritel Gelael dan Pengiriman ke Timika

Keberhasilan Malika tidak berhenti di apotek saja. Produk ini telah resmi dipasarkan di lebih dari lima jaringan ritel modern besar, termasuk Gelael. Kerjasama dengan Gelael membawa produk Malika melanglang buana hingga ke luar pulau Jawa. Melalui pusat distribusi di Ciracas, egg roll buatan Tetti dikirim ke Semarang, Lampung, hingga Makassar.

Prestasi yang paling membanggakan adalah saat Malika menerima pesanan untuk dikirim ke Timika, Papua. “Sudah dua kali kami melakukan repeat order untuk wilayah Lampung dan Makassar. Dan yang terbaru, kami mendapatkan pesanan untuk Gelael di Timika. Melihat produk kami sampai ke ujung timur Indonesia adalah kebahagiaan yang luar biasa,” ungkap Tetti dengan bangga.

Baca Juga Misi Diplomatik BEI: Strategi Agresif Pulihkan Kepercayaan Investor Global di Pasar Modal Indonesia
Misi Diplomatik BEI: Strategi Agresif Pulihkan Kepercayaan Investor Global di Pasar Modal Indonesia

Untuk memenuhi permintaan yang terus melonjak, dapur produksi Malika kini beroperasi secara rutin setiap hari. Rata-rata produksi mencapai 10 hingga 12 karton per minggu, namun Tetti menyatakan kesiapannya untuk memacu produksi hingga 100 karton per bulan jika terjadi lonjakan pesanan yang signifikan.

Dukungan Rumah BUMN BRI dan Era Digitalisasi

Memasuki tahun 2026, tantangan ekonomi memang terasa lebih berat dengan adanya fluktuasi daya beli masyarakat. Namun, Tetti enggan menyerah pada keadaan. Ia memilih untuk bergabung menjadi UMKM binaan Rumah BUMN BRI guna memperkuat fondasi bisnisnya, terutama di sektor digital.

Melalui pendampingan dari BRI, Tetti mendapatkan banyak ilmu baru mengenai cara membangun ekosistem digital yang kokoh. Ia mulai membenahi tampilan media sosialnya agar lebih profesional dan estetik. “Pelatihan visual ini sangat membantu saya dalam mengevaluasi akun Instagram resmi Malika. Konten yang bagus akan menarik kepercayaan calon pembeli baru di dunia maya,” ujarnya.

Selain pemasaran, sisi transaksi juga tidak luput dari sentuhan digital. Malika kini telah mengadopsi pembayaran QRIS BRI yang memberikan kemudahan luar biasa saat mengikuti berbagai acara bazar. Transaksi menjadi lebih cepat, aman, dan tercatat secara otomatis. Tetti menceritakan bahwa perkenalannya dengan pihak BRI terjadi di sebuah acara Kementerian Perindustrian, yang kemudian membukakan pintu akses ke berbagai fasilitas perbankan digital.

Visi Masa Depan: Brand Malika Menuju Pasar Global

Nama ‘Malika’ dipilih bukan tanpa alasan. Tetti menginginkan sebuah nama yang universal dan mudah diingat oleh berbagai bangsa. Di wilayah Asia, India, hingga Timur Tengah, nama Malika terasa akrab di telinga dan memiliki konotasi yang positif. Ini adalah bagian dari visi besarnya untuk membawa produk Indonesia ke kancah internasional melalui ekspor.

“Saya bermimpi suatu saat nanti bisa menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia punya egg roll berkualitas internasional yang sehat. Logo kami yang menggunakan karakter anak kecil juga melambangkan inklusivitas, bahwa produk ini aman dikonsumsi oleh siapa saja, dari anak-anak hingga lansia,” tutur Tetti menutup pembicaraan.

Dalam pelatihan tersebut, para pakar pemasaran juga mengingatkan pentingnya strategi visual dalam menarik minat konsumen. Yoga C Harman, seorang ahli kemitraan digital, menekankan bahwa di era media sosial, 3 detik pertama dalam sebuah konten video sangat menentukan. Konsistensi warna dan kejernihan gambar adalah kunci agar sebuah brand UMKM seperti Malika dapat terus bersaing di pasar yang semakin kompetitif.

Dengan semangat inovasi yang tiada henti, Malika membuktikan bahwa produk lokal dengan kualitas premium dan strategi pemasaran yang tepat mampu bersaing di panggung nasional bahkan internasional. Bagi Tetti, setiap bungkus egg roll yang terjual adalah langkah kecil menuju impian besar mengangkat martabat pangan lokal Indonesia.

Sarah Amalia

Sarah Amalia

Analis ekonomi muda yang hobi membedah tren pasar dan strategi UMKM. Pengisi utama kolom Radar Finance.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *