Ketegangan Selat Hormuz: GCC Tolak Mentah-Mentah ‘Pajak Perang’ Iran di Jalur Energi Dunia

Dimas Pratama | RADAR LOKAL
30 Apr 2026, 06:13 WIB
Ketegangan Selat Hormuz: GCC Tolak Mentah-Mentah 'Pajak Perang' Iran di Jalur Energi Dunia

RadarLokal — Ketegangan di kawasan Teluk kini memasuki babak baru yang semakin mengkhawatirkan stabilitas geopolitik dan ekonomi global. Gejolak ini dipicu oleh keputusan kontroversial Teheran yang mulai memberlakukan pungutan tarif atau ‘pajak perlintasan’ bagi kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz. Langkah sepihak ini pun segera mendapatkan reaksi keras dari negara-negara yang tergabung dalam Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), yang secara tegas menyatakan penolakan mereka terhadap segala bentuk biaya yang dipaksakan di jalur perairan strategis tersebut.

Dalam sebuah pertemuan konsultatif tingkat tinggi yang digelar di Jeddah, Arab Saudi, para pemimpin negara Teluk mengeluarkan pernyataan bersama yang menekankan pentingnya navigasi yang aman, bebas, dan tanpa hambatan. Selat Hormuz, yang selama berabad-abad menjadi urat nadi perdagangan energi dunia, kini berada di bawah bayang-bayang konflik yang mengancam pasokan minyak dunia secara masif. Penolakan GCC ini bukan sekadar keberatan administratif, melainkan sebuah sinyal perlawanan terhadap upaya Iran yang mencoba mengendalikan jalur maritim internasional untuk kepentingan perang.

Baca Juga Skandal Joki UTBK 2026: Cermin Retak Amoralitas dan Tekanan Struktural Pendidikan Kita
Skandal Joki UTBK 2026: Cermin Retak Amoralitas dan Tekanan Struktural Pendidikan Kita

Pungutan Ilegal di Jalur Vital Internasional

Laporan yang dihimpun tim RadarLokal menunjukkan bahwa Iran, melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), telah mulai menghentikan kapal-kapal kargo dan tanker yang melintas. Mereka menuntut pembayaran di muka sebelum kapal-kapal tersebut diizinkan melanjutkan perjalanan. Yang menarik perhatian dunia adalah metode pembayarannya yang tidak lazim dalam transaksi antarnegara tradisional. Teheran dilaporkan hanya menerima pembayaran dalam bentuk mata uang kripto atau mata uang China, Yuan, sebuah langkah yang diyakini sebagai upaya untuk menghindari sanksi keuangan internasional yang dipelopori oleh Barat.

Sekretaris Jenderal GCC, Jasem Mohamed Albudaiwi, dengan nada tegas menyatakan bahwa tindakan Iran tersebut adalah ilegal dan melanggar konvensi laut internasional. Selat Hormuz dianggap sebagai perairan internasional yang seharusnya tidak boleh diklaim secara sepihak untuk keuntungan ekonomi oleh negara mana pun. “Negara-negara Teluk sepakat bahwa penutupan selat atau pengenaan tarif adalah tindakan provokatif yang merusak hukum internasional,” ungkap Albudaiwi di sela-sela pertemuan tersebut.

Baca Juga Komitmen Besar KPK Sapu Bersih Tunggakan Kasus: Target 2026 Bebas Perkara Lama
Komitmen Besar KPK Sapu Bersih Tunggakan Kasus: Target 2026 Bebas Perkara Lama

Ambisi Iran dan Klaim Pendapatan Pertama

Meskipun mendapatkan kecaman global, pihak Teheran nampaknya tidak bergeming. Hamidreza Hajibabaei, Wakil Ketua Parlemen Iran, mengklaim bahwa pemerintahan mereka telah menerima setoran pertama dari hasil pungutan ‘tol’ tersebut. Pendapatan ini, menurutnya, telah dialirkan langsung ke rekening Bank Sentral Iran. Walaupun besaran nominalnya tidak diungkapkan secara rinci, klaim ini menunjukkan bahwa Iran benar-benar serius dalam menerapkan kebijakan kontrol ketat atas Selat Hormuz.

Konflik ini merupakan kelanjutan dari eskalasi bersenjata yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel sejak akhir Februari 2026. Perang yang berlarut-larut telah memaksa Iran mencari cara-cara ekstrem untuk membiayai kebutuhan militer dan ekonominya. Dengan menguasai titik sempit di Selat Hormuz, Iran memegang kendali atas sekitar seperlima pasokan minyak mentah dunia, sebuah posisi tawar yang luar biasa kuat di tengah goyangnya pasar energi global.

Baca Juga Skandal Wedding Organizer Marwah: Siasat Subsidi Gedung dan Kambing Guling yang Berujung Penipuan Miliaran Rupiah
Skandal Wedding Organizer Marwah: Siasat Subsidi Gedung dan Kambing Guling yang Berujung Penipuan Miliaran Rupiah

Respons Strategis GCC: Pipa Gas dan Perisai Rudal

Menanggapi situasi yang kian tidak menentu, negara-negara Teluk tidak tinggal diam hanya dengan mengeluarkan pernyataan tertulis. Para pemimpin GCC telah memerintahkan percepatan proyek pembangunan jalur pipa minyak dan gas bersama yang melintasi daratan. Tujuannya sangat jelas: menciptakan rute alternatif yang tidak melewati Selat Hormuz agar ekspor energi mereka tidak terpengaruh oleh blokade Iran.

Selain infrastruktur energi, aspek pertahanan juga menjadi prioritas utama. GCC sepakat untuk memperkuat sistem peringatan dini guna menangkal ancaman rudal balistik di kawasan. Langkah ini diambil mengingat posisi geografis negara-negara Teluk yang sangat dekat dengan jangkauan militer Iran. Kesiagaan ini menunjukkan bahwa kawasan Teluk sedang bersiap untuk skenario terburuk jika konflik bersenjata terus meluas dan mengancam kedaulatan wilayah mereka.

Baca Juga Gus Ipul Dorong Ekspansi Penerima Bansos: Strategi Jitu Menjaga Daya Beli dan Akselerasi Ekonomi Nasional
Gus Ipul Dorong Ekspansi Penerima Bansos: Strategi Jitu Menjaga Daya Beli dan Akselerasi Ekonomi Nasional

Strategi Blokade Laut Donald Trump

Di sisi lain, posisi Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump menambah kompleksitas drama di Selat Hormuz. Trump dilaporkan lebih memilih untuk memperpanjang blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran daripada melanjutkan kampanye pengeboman udara secara masif. Menurut pejabat senior di Washington, blokade dianggap sebagai opsi yang memiliki risiko lebih rendah bagi pasukan AS namun tetap memberikan tekanan ekonomi yang menghancurkan bagi Teheran.

Upaya diplomasi sejauh ini belum membuahkan hasil yang manis. Pembicaraan yang sempat diupayakan di Pakistan antara perwakilan AS dan Iran berakhir buntu tanpa ada satu pun poin kesepakatan yang tercapai. Militer Washington tetap bersiaga di perairan sekitar, siap memberikan balasan jika Iran melakukan tindakan yang lebih agresif terhadap kapal-kapal sekutu atau kapal komersial yang mengangkut komoditas vital.

Baca Juga InJourney Group Ukir Prestasi Global di Shanghai: Transformasi Pariwisata Indonesia yang Diakui Dunia
InJourney Group Ukir Prestasi Global di Shanghai: Transformasi Pariwisata Indonesia yang Diakui Dunia

Dampak Luas Bagi Ekonomi Dunia

Ketidakpastian di Selat Hormuz telah mengirimkan gelombang kejutan ke pusat-pusat keuangan dunia. Harga minyak dunia terus berfluktuasi liar, memicu kekhawatiran akan inflasi global yang berkepanjangan. Jika pasokan energi terputus total melalui selat tersebut, banyak negara di Asia dan Eropa yang sangat bergantung pada minyak Teluk akan menghadapi krisis energi yang parah.

Kondisi ini juga memicu persaingan di pasar mata uang. Penggunaan Yuan dan kripto oleh Iran dalam pungutan tersebut dipandang oleh beberapa analis sebagai ancaman terhadap dominasi dolar AS dalam perdagangan minyak internasional. Jika sistem ini terus berjalan dan diikuti oleh negara lain, maka peta kekuatan ekonomi dunia bisa mengalami pergeseran yang sangat signifikan dalam waktu singkat.

Masa Depan Navigasi di Selat Hormuz

Saat ini, dunia hanya bisa menunggu dan memperhatikan sejauh mana Iran akan mempertahankan kebijakan pungutan tersebut, dan seberapa kuat tekanan dari Dewan Kerja Sama Teluk dan sekutu Baratnya dapat memaksa Teheran untuk mundur. Sejarah telah mencatat bahwa gangguan sekecil apa pun di Selat Hormuz akan selalu berdampak besar bagi penduduk bumi, baik mereka yang berada di pesisir Teluk maupun mereka yang tinggal ribuan mil jauhnya.

Para analis keamanan maritim memperingatkan bahwa tanpa adanya solusi diplomatik yang konkret, Selat Hormuz akan terus menjadi zona abu-abu yang berbahaya. Kebebasan navigasi yang selama ini dianggap sebagai hak dasar dalam perdagangan internasional kini berada di persimpangan jalan, antara tetap menjadi jalur bebas bagi semua atau berubah menjadi alat politik yang dimonopoli oleh kekuatan regional tertentu.

Dimas Pratama

Dimas Pratama

Jurnalis lapangan senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun. Fokus pada isu sosial dan kebijakan publik di Radar News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *