Kisah Inspiratif Sutarna: Dari Kemudi Angkot hingga Sukses Kelola Warung Madura Berkat Modal Rp 50 Juta

Sarah Amalia | RADAR LOKAL
25 Mei 2026, 08:14 WIB
Kisah Inspiratif Sutarna: Dari Kemudi Angkot hingga Sukses Kelola Warung Madura Berkat Modal Rp 50 Juta

RadarLokal — Suasana riuh rendah menyelimuti sebuah gang sempit di kawasan Jakarta Barat saat matahari mulai condong ke arah barat. Di balik etalase kaca yang tertata rapi dengan jajaran rokok, beras, hingga tabung gas, seorang pria paruh baya tampak cekatan melayani pembeli. Pria itu adalah Sutarna, sosok di balik keberhasilan sebuah Warung Madura yang kini menjadi tulang punggung ekonominya.

Terletak di Gang Nurul Huda II, Palmerah Barat, warung milik Sutarna dan istrinya, Suharni, seolah tak pernah sepi. Teriakan bocah-bocah yang ingin membeli camilan hingga orang dewasa yang mencari kebutuhan pokok silih berganti mengisi atmosfer sore itu. Namun, di balik keramaian tersebut, tersimpan sebuah narasi perjuangan panjang yang bermula dari keputusasaan di masa pandemi.

Baca Juga Pesta Diskon Transmart Full Day Sale 2026: Strategi Belanja Cerdas dengan Potongan Harga Fantastis
Pesta Diskon Transmart Full Day Sale 2026: Strategi Belanja Cerdas dengan Potongan Harga Fantastis

Titik Balik dari Aspal Panas ke Etalase Warung

Sebelum dikenal sebagai juragan warung, Sutarna menghabiskan sebagian besar hidupnya di balik kemudi angkutan kota (angkot). Menelusuri jalanan Palmerah yang macet dan panas adalah rutinitas hariannya. Namun, badai COVID-19 yang melanda pada tahun 2021 mengubah segalanya. Penumpang sepi, setoran tak tertutupi, dan kebutuhan dapur tak bisa kompromi.

“Dulu narik angkot itu susahnya luar biasa, apalagi pas pandemi. Saya berpikir keras, kalau begini terus, hidup tidak akan ada perubahan,” kenang Sutarna saat berbincang hangat dengan tim kami. Keinginan untuk mengubah nasib membawanya pada sebuah diskusi kecil dengan rekan sejawat sesama sopir angkot yang ternyata sudah lebih dulu mencicipi manfaat bantuan modal usaha.

Baca Juga Diplomasi Lesehan Menteri Purbaya: Bedah Tuntas Kondisi APBN dan Menepis Keraguan Pengamat Ekonomi
Diplomasi Lesehan Menteri Purbaya: Bedah Tuntas Kondisi APBN dan Menepis Keraguan Pengamat Ekonomi

Informasi mengenai Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) menjadi secercah harapan bagi Sutarna. Dengan tekad bulat, ia memberanikan diri untuk beralih profesi. Berbekal surat kendaraan dan sertifikat rumah sebagai agunan, ia melangkah pasti menuju kantor bank untuk mengajukan pinjaman sebesar Rp 50 juta.

Keberanian Mengambil Langkah Besar dengan KUR BRI

Proses pencairan dana tersebut menjadi momen yang tak terlupakan bagi keluarga ini. Dana sebesar Rp 50 juta langsung ia alokasikan sepenuhnya untuk membangun pondasi warung madura tepat di depan kediamannya. Langkah ini tergolong berani, mengingat saat itu kondisi ekonomi nasional masih dalam tahap pemulihan yang sangat rapuh.

“Begitu cair 50 juta, langsung saya belanjakan semua untuk isi warung. Saya ingin serius di sini, tidak mau setengah-setengah lagi di jalanan,” tutur Sutarna. Usahanya membuahkan hasil. Warung yang awalnya hanya memiliki sedikit varian barang, kini berkembang pesat dengan stok yang melimpah dan tertata rapi, ciri khas warung madura yang selalu siap sedia 24 jam.

Baca Juga Prabowo Subianto Berang: Sengkarut Izin Impor Gas Medis yang Tak Masuk Akal Jadi Sorotan Tajam
Prabowo Subianto Berang: Sengkarut Izin Impor Gas Medis yang Tak Masuk Akal Jadi Sorotan Tajam

Suharni, sang istri, menambahkan bahwa kehadiran BRI sangat krusial dalam menyelamatkan dapur mereka. “Sangat menolong, apalagi pas masa sulit kemarin. Sekarang cicilan yang pertama sudah lunas, dan kami sudah masuk ke pinjaman berikutnya untuk pengembangan,” jelasnya sambil menunjukkan bukti transaksi KUR yang selama ini menjadi saksi bisu perjuangan mereka.

Konsistensi di Balik Etalase Kaca yang Terang Benderang

Menjalankan bisnis retail di lingkungan padat penduduk seperti Palmerah bukanlah tanpa tantangan. Di radius beberapa meter saja, terdapat beberapa warung serupa yang juga bersaing memperebutkan pelanggan. Namun, bagi Sutarna dan Suharni, persaingan bukanlah hambatan, melainkan motivasi untuk memberikan pelayanan terbaik.

“Rezeki itu sudah ada yang mengatur. Yang penting kita jujur, ramah sama orang, dan barang selalu ada kalau dicari,” ujar Suharni bijak. Prinsip inilah yang membuat pelanggan setianya tetap kembali meski banyak pilihan lain di sekitar. Strategi bisnis sederhana namun konsisten ini terbukti efektif menjaga loyalitas konsumen di tingkat akar rumput.

Baca Juga Revolusi Jalur Hijau: Strategi Masif KAI Atasi Lonjakan Penumpang KRL Tanah Abang-Rangkasbitung
Revolusi Jalur Hijau: Strategi Masif KAI Atasi Lonjakan Penumpang KRL Tanah Abang-Rangkasbitung

Keunikan warung madura yang dikenal tidak pernah tutup juga menjadi nilai tambah tersendiri. Kehadiran mereka mengisi celah yang tidak bisa dipenuhi oleh minimarket modern, terutama dalam hal fleksibilitas waktu dan kedekatan emosional dengan warga sekitar.

Menembus Batas: Omzet yang Melampaui Ekspektasi

Siapa sangka, dari warung di gang sempit tersebut, Sutarna mampu meraup omzet harian yang cukup fantastis. Dalam kondisi normal, ia bisa mengantongi pendapatan kotor sekitar Rp 1,5 juta hingga Rp 3 juta per hari. Angka ini jauh melampaui apa yang pernah ia dapatkan saat masih menjadi sopir angkot.

Bahkan, ada masa-masa keemasan di mana omzetnya melonjak drastis. “Pernah dalam satu hari tembus Rp 12 juta. Waktu itu industri konveksi di sekitar sini masih sangat ramai, jadi banyak karyawan yang belanja borongan ke sini,” ungkap Suharni dengan binar mata penuh syukur. Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa usaha mikro jika dikelola dengan serius dapat menghasilkan dampak ekonomi yang signifikan.

Baca Juga Badai Merah di Bursa: IHSG Terperosok 2,16% ke Level 7.378, Bagaimana Nasib Portofolio Anda?
Badai Merah di Bursa: IHSG Terperosok 2,16% ke Level 7.378, Bagaimana Nasib Portofolio Anda?

Keuntungan yang didapat tidak hanya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi juga diputar kembali sebagai modal kerja dan tabungan masa depan. Perubahan nasib keluarga Sutarna menjadi potret nyata keberhasilan program pemberdayaan ekonomi masyarakat yang tepat sasaran.

Peran Perbankan dalam Menopang Ekonomi Arus Bawah

Keberhasilan Sutarna bukan sekadar cerita keberuntungan individu, melainkan representasi dari efektivitas penyaluran Kredit Usaha Rakyat secara nasional. BRI sebagai salah satu pilar utama penyalur KUR terus berupaya menjangkau pelaku UMKM di pelosok nusantara demi mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Berdasarkan data kinerja tahun 2025, BRI telah menyalurkan KUR sebesar Rp 178,08 triliun kepada sekitar 3,8 juta debitur. Angka yang fantastis ini menunjukkan betapa besarnya potensi ekonomi rakyat jika diberikan akses permodalan yang mudah dan transparan. Fokus penyaluran ke sektor produksi pun mencapai lebih dari 64%, menegaskan komitmen perbankan dalam memperkuat struktur ekonomi nasional.

Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, dalam berbagai kesempatan menekankan bahwa peran bank tidak hanya sebatas meminjamkan uang. “Kami mendorong peningkatan kapasitas usaha agar pelaku UMKM dapat tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan. Kami ingin mereka naik kelas, dari usaha kecil menjadi menengah, dan seterusnya,” tuturnya dalam keterangan resmi.

Masa Depan dan Harapan di Balik Rak Dagangan

Kini, Sutarna dan Suharni dapat bernapas lebih lega. Bayang-bayang kesulitan ekonomi akibat pandemi telah sirna, berganti dengan optimisme tinggi untuk masa depan. Mereka berencana untuk terus memperluas jaringan usahanya dan mungkin membuka cabang baru di lokasi lain jika modal sudah mencukupi.

Kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa perubahan nasib seringkali bermula dari keberanian untuk mencoba sesuatu yang baru dan dukungan dari sistem pendukung yang tepat. Dengan modal Rp 50 juta dan kerja keras tanpa henti, seorang sopir angkot mampu bertransformasi menjadi pengusaha lokal yang sukses dan inspiratif.

Bagi Anda yang sedang merintis usaha atau berencana melakukan ekspansi, kisah Sutarna adalah bukti bahwa peluang bisnis selalu ada di sekitar kita. Kuncinya adalah kejelian melihat pasar, manajemen keuangan yang sehat, dan tidak ragu untuk mencari dukungan permodalan yang kredibel demi kemajuan usaha di masa depan.

Sarah Amalia

Sarah Amalia

Analis ekonomi muda yang hobi membedah tren pasar dan strategi UMKM. Pengisi utama kolom Radar Finance.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *