Mencekam! Baku Tembak Pecah di Gedung Senat Filipina Saat ICC Buru Jenderal Kepercayaan Duterte

Dimas Pratama | RADAR LOKAL
15 Mei 2026, 08:23 WIB
Mencekam! Baku Tembak Pecah di Gedung Senat Filipina Saat ICC Buru Jenderal Kepercayaan Duterte

RadarLokal — Suasana di jantung legislatif Filipina berubah menjadi medan pertempuran yang mencekam ketika upaya penegakan hukum internasional membentur perlawanan bersenjata. Gedung Senat Filipina yang biasanya tenang kini menjadi saksi bisu desing peluru dan kepanikan luar biasa saat Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mencoba mengeksekusi surat perintah penangkapan terhadap Ronald Dela Rosa, mantan Kepala Kepolisian Nasional yang kini menjabat sebagai Senator.

Insiden dramatis ini terjadi di tengah ketegangan politik yang memuncak, di mana bayang-bayang masa lalu dari kebijakan perang narkoba era Presiden Rodrigo Duterte kembali menghantui para aktor utamanya. Belasan tembakan dilaporkan meletus di area tangga dan koridor gedung, memaksa para jurnalis, staf, dan anggota senat lainnya merunduk mencari perlindungan di bawah meja dan ruang-ruang terkunci.

Baca Juga Drama Evakuasi Sapi Limosin di Cileungsi: Ngamuk Hingga Terperosok ke Parit Sedalam 3 Meter
Drama Evakuasi Sapi Limosin di Cileungsi: Ngamuk Hingga Terperosok ke Parit Sedalam 3 Meter

Bayang-Bayang Kejahatan Kemanusiaan dan Mandat ICC

Langkah agresif ICC ini bukanlah tanpa alasan. Berdasarkan informasi yang dihimpun tim redaksi, Mahkamah yang bermarkas di Den Haag tersebut telah merilis surat perintah penangkapan resmi terhadap Dela Rosa. Sang Senator dituduh melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan berupa pembunuhan sistematis selama masa jabatannya sebagai orang nomor satu di kepolisian pada periode 2016-2018.

Dela Rosa, yang akrab disapa “Bato” (Si Batu), adalah arsitek utama dari operasi anti-narkoba yang sangat kontroversial. Operasi tersebut dikabarkan telah menelan ribuan korban jiwa, mayoritas berasal dari kalangan ekonomi rendah yang dituduh sebagai pengguna atau pengedar level kecil. Meskipun pemerintah Filipina mengklaim tindakan tersebut adalah penegakan hukum yang sah, dunia internasional melihatnya sebagai pembersihan berdarah yang melanggar hak asasi manusia.

Baca Juga Skandal Daycare Little Aresha Jogja: Luka Mendalam di Balik Dinding ‘Guantanamo’ Versi Lokal
Skandal Daycare Little Aresha Jogja: Luka Mendalam di Balik Dinding ‘Guantanamo’ Versi Lokal

Penangkapan ini merupakan kelanjutan dari drama hukum panjang yang sebelumnya telah menyeret Rodrigo Duterte. Mantan Presiden itu sendiri telah ditangkap pada Maret tahun lalu dan kini mendekam di tahanan Den Haag menunggu proses persidangan. Sementara itu, Dela Rosa sempat menghilang dari radar publik sejak November tahun lalu sebelum akhirnya muncul secara mengejutkan di Gedung Senat beberapa hari lalu.

Kronologi Detik-Detik Baku Tembak di Gedung Legislatif

Kejadian bermula ketika sejumlah agen pemerintah yang bekerja sama dengan otoritas internasional mencoba mengepung Dela Rosa di area tangga Gedung Senat pada hari Senin. Namun, situasi berubah menjadi chaos ketika sekelompok pria bersenjata yang diduga sebagai loyalis sang jenderal memberikan perlawanan sengit. Marinir dan polisi Filipina yang dikerahkan untuk mengamankan lokasi pun terlibat dalam baku tembak yang intens.

Baca Juga Teka-Teki Kematian Tak Wajar Wanita Muda di Indekos Tanjung Priok: Penyelidikan Intensif Polisi Berlanjut
Teka-Teki Kematian Tak Wajar Wanita Muda di Indekos Tanjung Priok: Penyelidikan Intensif Polisi Berlanjut

Saksi mata menggambarkan pemandangan yang menyerupai film aksi. Pasukan keamanan dengan senapan laras panjang dan perlengkapan taktis lengkap terlihat menyerbu masuk ke area legislatif. “Sekitar 15 tembakan dilepaskan dengan cepat, menciptakan gema yang memekakkan telinga di seluruh gedung. Kami semua diperintahkan untuk segera mengevakuasi area tersebut karena situasi dianggap tidak terkendali,” lapor salah satu koresponden yang berada di lokasi kejadian.

Para senator yang tengah berada di dalam kantor mereka terpaksa membentengi pintu dengan furnitur seadanya. Ketakutan akan adanya serangan susulan atau peluru nyasar membuat aktivitas di pusat politik Filipina tersebut lumpuh total dalam sekejap.

Sumpah Dela Rosa: Menolak Menyerah ke Tangan Asing

Sebelum insiden berdarah itu pecah, Dela Rosa sempat merilis sebuah video emosional melalui platform media sosialnya. Dengan nada suara yang bergetar namun tegas, ia menegaskan penolakannya untuk dibawa ke Belanda. Ia memohon dukungan dari masyarakat Filipina agar tidak membiarkan warga negaranya diadili oleh pengadilan asing.

Baca Juga Revolusi Hijau di Jantung Niaga: Pramono Anung Targetkan Pemilahan Sampah di 153 Pasar Jakarta
Revolusi Hijau di Jantung Niaga: Pramono Anung Targetkan Pemilahan Sampah di 153 Pasar Jakarta

“Saya telah melayani negara ini dengan segenap jiwa dan raga. Saya siap menghadapi keadilan, tetapi biarlah itu terjadi di tanah air saya sendiri, di bawah hukum kita sendiri,” tegas Dela Rosa dalam pesannya. Ia juga mendesak Presiden Ferdinand Marcos Jr. untuk tidak tunduk pada tekanan ICC dan melindunginya dari upaya ekstradisi terselubung.

Posisi Dela Rosa memang sulit. Di satu sisi, ia memegang jabatan publik sebagai Senator yang seharusnya menjunjung tinggi hukum. Namun di sisi lain, dakwaan internasional yang menjeratnya terkait pelanggaran HAM berat membuatnya menjadi buronan paling dicari di dunia saat ini.

Satu Tersangka Ditangkap, Misteri Aktor Intelektual Terus Digali

Pasca baku tembak, pihak Kepolisian Nasional Filipina bergerak cepat menyisir lokasi kejadian. Menteri Dalam Negeri, Juanito Victor Remulla, mengonfirmasi bahwa satu orang tersangka berhasil diringkus di lantai dua gedung. Meski identitasnya masih dirahasiakan, tersangka tersebut diketahui membawa sejumlah amunisi dan sedang menjalani pemeriksaan residu tembakan guna memastikan keterlibatannya dalam aksi penyerangan.

Baca Juga Drama Sidang Korupsi Kemnaker: Hakim Cecar Eks Dirjen Fahrurozi yang ‘Pura-pura Lupa’ Meski 38 Tahun Mengabdi
Drama Sidang Korupsi Kemnaker: Hakim Cecar Eks Dirjen Fahrurozi yang ‘Pura-pura Lupa’ Meski 38 Tahun Mengabdi

Remulla juga memberikan klarifikasi bahwa petugas keamanan Senat sebenarnya sempat melepaskan tembakan peringatan untuk menghalau sekelompok pria misterius yang mencoba memfasilitasi pelarian Dela Rosa. Sayangnya, kelompok tersebut justru membalas dengan tembakan ke udara dan menciptakan kekacauan yang dimanfaatkan sang Senator untuk menghilang dari kepungan.

Investigasi kini difokuskan pada siapa yang memberikan perintah kepada kelompok bersenjata tersebut. Muncul spekulasi adanya keterlibatan sisa-sisa kekuatan paramiliter yang masih setia kepada rezim lama, yang bertujuan untuk menghambat proses hukum internasional terhadap para petinggi era Duterte.

Pelarian Dramatis: Di Mana Keberadaan ‘Bato’ Sekarang?

Di tengah kepulan asap dan kebingungan aparat, Ronald Dela Rosa dikabarkan berhasil meloloskan diri dari Gedung Senat. Presiden Senat Filipina, Alan Peter Cayetano, dalam konferensi pers darurat menyatakan rasa frustrasinya atas bobolnya keamanan di gedung yang ia pimpin. Ia mengonfirmasi bahwa berdasarkan laporan petugas keamanan, Dela Rosa sudah tidak lagi berada di area kompleks legislatif.

“Istri Senator Dela Rosa mengirimkan pesan singkat yang menyatakan bahwa suaminya sudah pergi. Kami tidak tahu bagaimana dia bisa keluar di tengah pengawasan ketat seperti itu,” ujar Cayetano. Ia juga membantah keras tuduhan bahwa pihak internal Senat sengaja memberikan jalan keluar rahasia bagi sang buronan ICC.

Keberadaan Dela Rosa kini menjadi teka-teki besar. Buronan internasional ini kembali masuk ke dalam persembunyian, memicu kekhawatiran akan adanya ketidakstabilan keamanan lebih lanjut di Manila. Operasi perburuan skala besar pun kembali digelar, melibatkan intelijen militer dan kepolisian pusat.

Implikasi Bagi Hubungan Internasional Filipina

Kasus ini bukan sekadar urusan domestik Filipina, melainkan ujian besar bagi kedaulatan hukum internasional. Tekanan terhadap Presiden Marcos Jr. semakin meningkat dari komunitas global. Jika pemerintah gagal mengamankan Dela Rosa, Filipina berisiko menghadapi sanksi diplomatik atau isolasi politik dari negara-negara pendukung Statuta Roma.

Di sisi lain, publik Filipina terbelah. Sebagian menganggap Dela Rosa sebagai pahlawan yang membersihkan negara dari cengkeraman narkoba, sementara sebagian lainnya menuntut keadilan bagi ribuan nyawa yang melayang tanpa proses peradilan yang sah. Drama di Gedung Senat ini hanyalah puncak gunung es dari polarisasi mendalam yang ditinggalkan oleh kepemimpinan Duterte.

Kini, dunia menunggu langkah selanjutnya. Apakah Dela Rosa akan tertangkap dan menyusul Duterte ke Den Haag, ataukah ia akan terus menjadi simbol perlawanan terhadap yurisdiksi internasional di Asia Tenggara? Satu yang pasti, insiden berdarah di Gedung Senat telah menandai babak baru yang lebih gelap dalam sejarah politik Filipina.

Dimas Pratama

Dimas Pratama

Jurnalis lapangan senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun. Fokus pada isu sosial dan kebijakan publik di Radar News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *