Revolusi Hijau di Jantung Niaga: Pramono Anung Targetkan Pemilahan Sampah di 153 Pasar Jakarta

Dimas Pratama | RADAR LOKAL
11 Mei 2026, 10:32 WIB
Revolusi Hijau di Jantung Niaga: Pramono Anung Targetkan Pemilahan Sampah di 153 Pasar Jakarta

RadarLokal — Suasana riuh rendah khas pasar tradisional di Jakarta kini tidak hanya dipenuhi oleh tawar-menawar harga kebutuhan pokok, tetapi juga menjadi saksi bisu dimulainya sebuah langkah besar bagi kelestarian lingkungan ibu kota. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, secara resmi mengumumkan komitmen ambisiusnya untuk melakukan perombakan total dalam tata kelola limbah di sektor perdagangan. Langkah ini ditandai dengan penerapan program pemilahan sampah secara menyeluruh di 153 pasar yang berada di bawah naungan Perumda Pasar Jaya.

Kebijakan strategis ini bukanlah sekadar wacana di atas kertas. Ini merupakan pengejawantahan dari Instruksi Gubernur (Ingub) Nomor 5 Tahun 2026 mengenai gerakan pemilahan sampah yang masif di wilayah Jakarta. Dalam sebuah kunjungan lapangan yang penuh antusiasme di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur, pada Senin (11/5/2026), Pramono menegaskan bahwa wajah pasar tradisional Jakarta harus bertransformasi menjadi lebih bersih dan mandiri dalam mengelola sisa produksinya.

Baca Juga Inovasi Ketahanan Pangan di Lapas Garut: Saat Warga Binaan Menjadi Pahlawan Pangan Mandiri
Inovasi Ketahanan Pangan di Lapas Garut: Saat Warga Binaan Menjadi Pahlawan Pangan Mandiri

Misi Besar Mengurangi Beban Bantargebang

Selama puluhan tahun, Jakarta terjebak dalam ketergantungan akut terhadap Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang. Menyadari kapasitas lahan pembuangan yang kian kritis, Pramono Anung melihat pasar sebagai titik krusial yang harus segera dibenahi. Berdasarkan data yang dihimpun, pasar-pasar yang dikelola oleh Pasar Jaya saja menyumbangkan beban sampah yang sangat besar, mencapai angka sekitar 500 ton setiap harinya.

“Pasar Jaya memiliki 153 pasar dan hampir seluruh denyut ekonomi mikro di Jakarta berpusat di sana. Kami akan memperlakukan seluruh pasar ini dengan standar yang sama dalam hal pengelolaan sampah,” ujar Pramono dengan nada optimis saat meninjau proses pengolahan limbah. Dengan menerapkan pemilahan di sumbernya, diharapkan volume sampah yang harus menempuh perjalanan panjang menuju Bekasi dapat terpangkas secara drastis.

Baca Juga Duka Mendalam di Garis Depan: Empat Prajurit Terbaik TNI Gugur dalam Misi Perdamaian UNIFIL di Lebanon
Duka Mendalam di Garis Depan: Empat Prajurit Terbaik TNI Gugur dalam Misi Perdamaian UNIFIL di Lebanon

Sebagai contoh nyata, Pasar Kramat Jati sendiri menghasilkan sekitar 5 ton sampah per hari. Bayangkan jika volume sebesar itu tidak lagi sekadar ditumpuk, melainkan diproses menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis. Inilah yang menjadi inti dari strategi lingkungan hidup yang tengah digelorakan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Transformasi Limbah Organik Menjadi Emas Hitam

Fokus utama dari program ini adalah pengelolaan sampah organik yang mendominasi limbah pasar, seperti sisa sayuran, buah-buahan, dan bahan pangan lainnya. Pramono menjelaskan bahwa Pemerintah DKI tidak akan berjalan sendirian. Mereka menggandeng pihak swasta serta Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang memiliki kompetensi dan kepedulian tinggi terhadap isu keberlanjutan.

Baca Juga Prahara di Menara Indomaret PIK: Gelombang Protes Buruh Menuntut Hak Lembur yang Tak Kunjung Tunai
Prahara di Menara Indomaret PIK: Gelombang Protes Buruh Menuntut Hak Lembur yang Tak Kunjung Tunai

Produk akhir dari pengolahan sampah organik ini nantinya akan diproyeksikan sebagai sumber daya baru. “Hari ini adalah langkah nyata dari program pemilahan sampah yang telah kita canangkan. Kami bekerja sama dengan masyarakat dan pihak-pihak yang memiliki concern pada penanganan sampah, baik organik maupun anorganik,” tambahnya.

Hasil dari proses teknologi pengolahan ini akan melahirkan dua produk utama yang sangat dibutuhkan bagi ekosistem perkotaan:

  • Pupuk Cair Organik: Yang dapat digunakan untuk perawatan taman-taman kota dan penghijauan di sepanjang jalan protokol.
  • Kompos (Fertilizer): Pupuk padat berkualitas tinggi yang siap dimanfaatkan oleh sektor pertanian perkotaan (urban farming) maupun kebutuhan pertamanan masyarakat umum.

Pramono menyebutkan bahwa keberadaan fertilizer ini akan sangat membantu Dinas Pertamanan dalam menjaga keasrian Jakarta tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pupuk kimia yang mahal.

Baca Juga Sinyal Kuat Said Iqbal Jadi Penasihat Presiden: Manuver Politik atau Kemenangan Gerakan Buruh?
Sinyal Kuat Said Iqbal Jadi Penasihat Presiden: Manuver Politik atau Kemenangan Gerakan Buruh?

Sinkronisasi Pasar Jaya dan Pasar Swasta

Meskipun Perumda Pasar Jaya menjadi motor utama, Pramono Anung menegaskan bahwa aturan ini tidak akan tebang pilih. Pasar-pasar yang tidak dikelola oleh Pasar Jaya atau pihak swasta tetap memiliki kewajiban moral dan hukum yang sama. Koordinasi ini nantinya akan berada di bawah pengawasan ketat Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta.

“Baik itu pasar di bawah naungan Pasar Jaya maupun pasar non-Pasar Jaya, semuanya tetap bertanggung jawab untuk memastikan pemilahan sampah dilakukan secara disiplin di area masing-masing,” tegasnya. Hal ini dilakukan untuk menciptakan ekosistem pengelolaan limbah yang terintegrasi di seluruh pelosok Jakarta, sehingga tidak ada lagi celah bagi penumpukan sampah liar.

Baca Juga Jakarta Tak Tidur: Arus Lalu Lintas Tol Dalam Kota dan Jagorawi Mengular Jelang Libur Panjang
Jakarta Tak Tidur: Arus Lalu Lintas Tol Dalam Kota dan Jagorawi Mengular Jelang Libur Panjang

Implementasi Segera: Tanpa Menunggu Hari Esok

Pertanyaan besar yang muncul di tengah publik adalah kapan program ini akan benar-benar dirasakan dampaknya secara luas. Dengan gaya bicaranya yang lugas, Pramono memastikan bahwa mesin birokrasi dan operasional sudah mulai bergerak saat ini juga. Ia tidak ingin terjebak dalam birokrasi yang lamban dalam menangani masalah darurat sampah.

“Mulai sekarang ini. Kalau menunggu sampai tahun depan, itu kelamaan. Kita harus bergerak cepat karena masalah sampah tidak pernah menunggu kita siap,” imbuhnya. Pernyataan ini memberikan sinyal kuat bahwa Pemerintah DKI tengah dalam mode siaga penuh untuk mewujudkan Jakarta yang lebih bersih.

Membangun Budaya Baru di Tengah Transaksi Ekonomi

Langkah Pramono Anung ini tentu menuntut perubahan perilaku dari ribuan pedagang dan pengunjung pasar. Mengubah kebiasaan membuang sampah sembarangan menjadi budaya memilah adalah tantangan sosiologis yang tidak ringan. Namun, dengan adanya infrastruktur pengolahan yang memadai di lokasi pasar, para pedagang diharapkan lebih termotivasi untuk memilah sampah mereka.

Dukungan terhadap gerakan ini juga datang dari berbagai instansi terkait, termasuk aparat keamanan dan komunitas lingkungan. Gerakan pemilahan sampah ini diharapkan bukan hanya menjadi kebijakan administratif, melainkan sebuah gerakan sosial yang membuat Jakarta semakin nyaman untuk ditinggali oleh generasi mendatang.

Dengan target 153 pasar yang tersebar di lima wilayah kota administrasi, Jakarta kini sedang meniti jalan menuju kota global yang tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga cerdas dalam mengelola sisa konsumsinya. Perjalanan menuju Jakarta yang bebas sampah dimulai dari keranjang-keranjang pedagang sayur di pasar tradisional kita.

Dimas Pratama

Dimas Pratama

Jurnalis lapangan senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun. Fokus pada isu sosial dan kebijakan publik di Radar News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *