Menjaga Dapur Tetap Ngebul: Strategi Bank Indonesia Mengawal Stabilitas Pangan dari Ladang Hingga Meja Makan
RadarLokal — Stabilitas harga pangan bukan sekadar angka dingin di atas kertas laporan inflasi bulanan. Di balik naik-turunnya harga cabai atau bawang merah di pasar, terdapat mata rantai panjang yang melibatkan keringat petani di ladang, inovasi peternak di kandang, hingga kebijakan strategis otoritas moneter. Bank Indonesia (BI) memahami betul bahwa menjaga daya beli masyarakat harus dimulai dari titik nol produksi: tanah dan tangan para petani.
Melalui pantauan langsung di lapangan, strategi pengendalian harga kini tak lagi hanya berkutat pada operasi pasar saat harga melonjak. Pendekatan yang dilakukan jauh lebih fundamental, yakni menyentuh aspek hulu hingga hilir. Inilah potret nyata perjuangan menjaga kedaulatan pangan yang dirangkum dalam gerakan transformatif untuk memastikan ketersediaan pasokan di seluruh pelosok negeri.
Filosofi Organik: Menghidupkan Kembali ‘Relawan’ Tanah di Mojokerto
Di lereng Gunung Penanggungan, Mojokerto, seorang pria bernama Slamet telah menempuh jalan sunyi sejak tahun 2007. Di saat mayoritas petani terbuai dengan instanitas pupuk kimia, Slamet justru memilih kembali ke alam melalui pertanian organik. Bagi Slamet, tanah bukan sekadar media tanam, melainkan ekosistem hidup yang harus dirawat.
“Pertanian konvensional selama puluhan tahun telah mendegradasi mikroba tanah secara perlahan. Dengan sistem organik, kita memperkaya kembali biota tanah. Cacing-cacing kembali bermunculan, mereka adalah relawan alam yang bekerja 24 jam tanpa perlu digaji,” ungkap Slamet, inisiator Komunitas Organik Brenjonk saat berbincang dengan tim kami.
Upaya Slamet bukan sekadar idealisme lingkungan. Dalam konteks ekonomi berkelanjutan, kemandirian pupuk organik membuat petani tidak lagi bergantung pada gejolak harga pupuk kimia yang seringkali langka dan mahal. Inilah fondasi pertama dalam menekan biaya produksi di tingkat hulu agar harga pangan di pasar tetap stabil.
Inovasi ‘Bank Limbah’ di Lamongan: Mengubah Kotoran Jadi Cuan
Bergeser ke Kabupaten Lamongan, tepatnya di Desa Sumbersari, Tomi Distianto menunjukkan bahwa peternakan modern bukan hanya soal seberapa banyak sapi yang dimiliki. Melalui Koperasi Tani Ternak Literasi Sumbersari, ia mendirikan apa yang disebut sebagai Bank LITERASI (Limbah Ternak Koperasi Sumbersari).
Konsepnya revolusioner: warga tidak menabung uang, melainkan menyetorkan kotoran ternak. Limbah yang dulunya menjadi sumber bau dan polusi, kini dikonversi menjadi aset ekonomi. Kotoran tersebut diolah menjadi pupuk organik bermerek yang telah merambah pasar di tujuh kabupaten di Jawa Timur.
“Kami ingin menciptakan ekosistem. Dari kotoran jadi pupuk, dari sapi lahir unit usaha warung sate, hingga layanan aqiqah. Omzet koperasi kini sudah menembus lebih dari Rp 50 juta per bulan,” jelas Tomi. Keberhasilan koperasi ini menjadi bukti bahwa penguatan kelembagaan petani dan peternak adalah kunci untuk meningkatkan kesejahteraan sekaligus menjaga stabilitas pasokan daging dan pupuk di tingkat lokal.
Nganjuk: Benteng Pertahanan Benih Bawang Merah Nasional
Jika kita berbicara tentang harga bawang merah, maka mata nasional harus tertuju pada Kabupaten Nganjuk. Daerah ini adalah produsen utama yang menentukan apakah bumbu dapur tersebut akan memicu inflasi atau tidak. Di Desa Mojorembun, Bambang Soeparno bersama Gapoktan Karya Abadi memegang peran vital sebagai penjaga varietas unggul ‘Tajuk’.
Nganjuk memasok hampir 50 persen kebutuhan benih bawang merah nasional. Varietas Tajuk dikenal karena ketahanannya yang luar biasa terhadap berbagai iklim, sehingga bisa ditanam dari Sabang sampai Merauke. Sejak menjadi binaan Bank Indonesia pada 2015, Gapoktan ini mengalami lompatan teknologi yang signifikan.
Salah satu bantuan krusial adalah peralihan dari pompa diesel ke pompa listrik submersible (sibel). “Dulu, satu pompa diesel hanya mampu mengairi setengah hektare. Sekarang, satu unit sibel bertenaga listrik bisa melayani lima hektare lahan. Ini efisiensi luar biasa yang langsung memotong biaya operasional petani,” kata Bambang.
Hilirisasi: Solusi Saat Harga Panen Anjlok
Masalah klasik petani adalah harga yang jatuh saat panen raya. Untuk mengatasi hal ini, Bank Indonesia mendorong program hilirisasi. Di Nganjuk, Kelompok Wanita Tani (KWT) yang dipimpin Artika Widyastuti mulai memproduksi olahan bawang merah seperti bawang krispi, sambal bawang, hingga pasta bawang merah.
“Pasta bawang merah kami kini sudah tersedia di marketplace. Dengan diolah menjadi produk turunan, bawang merah yang harganya jatuh di pasar tetap memiliki nilai jual tinggi. Ini adalah penyelamat pendapatan petani saat pasokan melimpah,” ujar Artika. Langkah ini merupakan bagian dari penguatan ketahanan pangan agar komoditas tidak terbuang sia-sia saat oversupply.
GPIPS 2026: Visi Baru Pengendalian Inflasi Pangan
Cerita dari Mojokerto, Lamongan, dan Nganjuk adalah kepingan puzzle dari program besar bernama Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) 2026. Diluncurkan resmi pada Mei 2026, program ini merupakan evolusi dari Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aida S. Budiman, menekankan bahwa GPIPS memiliki fokus yang lebih luas. Program ini bertumpu pada tujuh pilar utama, di antaranya:
- Peningkatan produktivitas melalui Good Agricultural Practices (GAP).
- Penguatan hilirisasi dan peran kelembagaan petani.
- Optimalisasi Kerja Sama Antar Daerah (KAD) untuk mendistribusikan surplus pangan ke daerah defisit.
- Fasilitasi distribusi dan operasi pasar yang tepat sasaran.
- Penguatan neraca pangan dan komunikasi ekspektasi inflasi.
“Fokus kita bukan lagi sekadar memadamkan api saat harga melonjak, melainkan membangun sistem produksi yang tangguh dan rantai distribusi yang efisien secara berkelanjutan,” tegas Aida.
Sinergi Menuju Masa Depan Pangan yang Stabil
Bank Indonesia menyadari bahwa mereka tidak bisa berjalan sendiri. Sinergi dengan Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP-TPID) menjadi kunci. Dengan mengawal komoditas prioritas seperti beras, cabai, dan bawang merah, pemerintah berusaha memastikan bahwa gejolak harga di tingkat global tidak langsung menghantam daya beli masyarakat di tingkat akar rumput.
Langkah-langkah taktis seperti penyediaan sarana prasarana pertanian, pendampingan UMKM pangan, hingga pemanfaatan teknologi digital dalam pemasaran, diharapkan mampu menciptakan kestabilan harga jangka panjang. Keberhasilan petani di Jawa Timur dalam mengelola lahan dan ternak mereka secara modern adalah cermin harapan bagi kedaulatan pangan Indonesia.
Pada akhirnya, setiap butir beras dan setiap siung bawang yang sampai di meja makan kita adalah hasil dari kolaborasi panjang. Dari kebijakan moneter di Jakarta hingga keringat petani di pelosok desa, semuanya bermuara pada satu tujuan: memastikan seluruh rakyat Indonesia bisa makan dengan tenang tanpa dihantui kenaikan harga yang tak terkendali.