Misi Menyelamatkan Bumi: Menyelami Makna Hari Dunia untuk Memerangi Penggurusan dan Kekeringan 2026

Dimas Pratama | RADAR LOKAL
14 Jun 2026, 14:12 WIB
Misi Menyelamatkan Bumi: Menyelami Makna Hari Dunia untuk Memerangi Penggurusan dan Kekeringan 2026

RadarLokal — Mengamati fenomena perubahan lanskap bumi yang kian mengkhawatirkan, peringatan Hari Dunia untuk Memerangi Penggurusan dan Kekeringan atau World Day to Combat Desertification and Drought tahun 2026 menjadi momentum krusial bagi peradaban modern untuk kembali menoleh pada kesehatan tanah kita. Setiap tanggal 17 Juni, mata dunia tertuju pada satu isu yang sering kali luput dari pemberitaan utama, namun memiliki dampak sistemik terhadap kelangsungan hidup manusia: hilangnya produktivitas lahan.

Penggurusan lahan bukanlah sekadar cerita tentang bertambah luasnya gurun pasir di peta dunia. Ini adalah narasi tentang degradasi ekosistem yang perlahan mematikan sumber kehidupan. Isu ini membawa implikasi serius yang merambat ke berbagai sektor, mulai dari penurunan keanekaragaman hayati, ancaman terhadap keamanan ekologi, hingga hambatan besar dalam upaya pemberantasan kemiskinan global. Tanpa tanah yang sehat, stabilitas sosial-ekonomi dan cita-cita pembangunan berkelanjutan hanyalah sekadar angan-angan di atas kertas.

Baca Juga Bongkar Jaringan Besar! Polisi Tangerang Sita 135 Ribu Butir Obat Terlarang, Dua Pemuda Diringkus
Bongkar Jaringan Besar! Polisi Tangerang Sita 135 Ribu Butir Obat Terlarang, Dua Pemuda Diringkus

Akar Masalah: Mengapa Tanah Kita Menjadi ‘Mati’?

Secara ilmiah, penggurusan didefinisikan sebagai degradasi ekosistem lahan kering yang terjadi secara terus-menerus. Fenomena ini bukanlah proses alami yang tidak bisa dihindari, melainkan hasil dari interaksi kompleks antara perubahan iklim ekstrem dan aktivitas manusia yang eksploitatif. Pertanian yang tidak berkelanjutan menjadi salah satu faktor utama; penggunaan bahan kimia berlebihan dan pola tanam monokultur menguras nutrisi tanah hingga titik nadir.

Selain itu, sektor pertambangan yang tidak teregulasi dengan baik serta praktik penggembalaan berlebihan turut memperparah keadaan. Bayangkan jutaan ternak yang memakan rumput hingga ke akarnya, sementara kuku-kuku mereka terus mengikis lapisan tanah atas yang subur. Kondisi ini diperburuk dengan penebangan hutan secara masif untuk memenuhi kebutuhan kayu bakar atau pembukaan lahan baru. Ketika pepohonan dan vegetasi penutup tanah hilang, tidak ada lagi jangkar yang mengikat tanah saat hujan datang atau penghalang saat angin kencang berhembus, memicu erosi yang tak terkendali.

Baca Juga Diplomasi Kilat Trump: Rusia dan Ukraina Sepakat Gencatan Senjata Tiga Hari dan Pertukaran Ribuan Tahanan
Diplomasi Kilat Trump: Rusia dan Ukraina Sepakat Gencatan Senjata Tiga Hari dan Pertukaran Ribuan Tahanan

Napas Sejarah: Perjalanan UNCCD dan Komitmen Global

Kesadaran akan bahaya degradasi lahan sebenarnya telah mencapai puncaknya pada KTT Bumi di Rio de Janeiro tahun 1992. Kala itu, para pemimpin dunia menyepakati bahwa penggurusan lahan, bersama dengan perubahan iklim dan hilangnya biodiversitas, adalah tiga tantangan terbesar bagi pembangunan berkelanjutan. Sebagai tindak lanjut nyata, pada tahun 1994, Majelis Umum PBB membentuk Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Memerangi Penggurusan (UNCCD).

UNCCD bukan sekadar organisasi administratif, melainkan satu-satunya perjanjian internasional yang mengikat secara hukum yang menghubungkan lingkungan dan pembangunan dengan pengelolaan lahan berkelanjutan. Melalui resolusi A/RES/49/115, tanggal 17 Juni pun ditetapkan sebagai hari peringatan global. Komitmen ini tidak berhenti di sana; pada tahun 2007, PBB bahkan mencanangkan dekade 2010-2020 sebagai Dekade untuk Gurun dan Perjuangan Melawan Penggurusan guna memobilisasi aksi nyata di seluruh penjuru dunia.

Baca Juga Nadiem Makarim Ungkap Alasan Rekrut ‘Tim Bayangan’: Akui Kemendikbud Tak Berpengalaman Bangun Aplikasi Raksasa
Nadiem Makarim Ungkap Alasan Rekrut ‘Tim Bayangan’: Akui Kemendikbud Tak Berpengalaman Bangun Aplikasi Raksasa

Saat ini, sebanyak 197 negara anggota UNCCD, termasuk Indonesia, bekerja sama bahu-membahu. Faktanya, 169 dari negara tersebut sudah merasakan dampak langsung dari penggurusan lahan. Fokus mereka sangat jelas: memelihara produktivitas tanah dan mengurangi dampak kekeringan di wilayah-wilayah yang rentan, seperti daerah semi-kering dan sub-lembap yang menjadi rumah bagi komunitas paling terpinggirkan di dunia.

Fokus 2026: Mengembalikan Kejayaan Padang Rumput (Rangelands)

Setiap tahun, peringatan ini membawa tema yang berbeda untuk menyoroti aspek spesifik dari pelestarian lahan. Untuk tahun 2026, perhatian dunia dialihkan ke satu ekosistem yang sering terabaikan namun sangat vital: padang rumput atau rangelands. Padang rumput mencakup lebih dari separuh permukaan daratan Bumi dan memainkan peran tak tergantikan dalam siklus air serta konservasi konservasi lingkungan.

Baca Juga Skandal Kelab Malam Karawang: Satpol PP Segel Helen’s Night Mart Usai Viral Dugaan Pesta Gay dan Pelanggaran Izin
Skandal Kelab Malam Karawang: Satpol PP Segel Helen’s Night Mart Usai Viral Dugaan Pesta Gay dan Pelanggaran Izin

Tema yang diusung tahun ini adalah “Rangelands: Recognize. Respect. Restore.” Tema ini bukan sekadar slogan, melainkan sebuah seruan untuk:

  • Recognize (Mengakui): Memberikan pengakuan terhadap nilai ekonomi, ekologi, dan budaya yang terkandung dalam lahan penggembalaan.
  • Respect (Menghormati): Menaruh rasa hormat kepada para penjaga tradisional, seperti masyarakat adat dan peternak lokal, yang telah menjaga lanskap ini selama berabad-abad dengan kearifan lokal mereka.
  • Restore (Memulihkan): Mengambil langkah berani untuk melakukan investasi besar dalam memulihkan lahan penggembalaan yang telah terdegradasi.

Padang rumput adalah tulang punggung kehidupan bagi sekitar dua miliar orang di planet ini. Namun, kenyataan pahit menunjukkan bahwa hingga separuh dari total lahan penggembalaan di dunia saat ini berada dalam kondisi kritis atau berisiko mengalami degradasi. Jika kita gagal bertindak, dampaknya akan langsung terasa pada ketahanan pangan dan ketersediaan air bersih secara global.

Baca Juga Iran Beri Ultimatum Keras ke Trump: Amerika Serikat Akan Merasakan Kehancuran Jika Perang Kembali Meletus
Iran Beri Ultimatum Keras ke Trump: Amerika Serikat Akan Merasakan Kehancuran Jika Perang Kembali Meletus

Ancaman Nyata di Balik Degradasi Lahan

Mungkin banyak dari kita yang merasa isu kekeringan dan penggurusan adalah masalah yang jauh di sana. Namun, efek domino dari kerusakan lahan dapat dirasakan hingga ke pusat kota. Ketika lahan pertanian di pedesaan gagal berproduksi akibat tanah yang ‘mati’, migrasi besar-besaran ke kota tak terelakkan, menciptakan tekanan sosial-ekonomi yang baru. Kelangkaan pangan akan memicu lonjakan harga, sementara hilangnya vegetasi akan mempercepat pemanasan global.

Investasi dalam pengelolaan lahan dan air yang berkelanjutan bukanlah beban biaya, melainkan asuransi untuk masa depan. Kesiapan menghadapi kekeringan harus dibangun sejak dini, bukan hanya saat bencana datang melanda. Restorasi yang dipimpin oleh masyarakat lokal terbukti menjadi metode yang paling efektif, karena mereka adalah pihak yang paling memahami karakteristik lahan yang mereka tinggali.

Langkah Nyata: Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Meskipun tantangan ini berskala global, aksi individu tetap memiliki tempat. Memahami dari mana pangan kita berasal dan mendukung praktik pertanian yang ramah lingkungan adalah langkah awal. Di tingkat kebijakan, pemerintah diharapkan lebih serius dalam melindungi kawasan hijau dan membatasi ekspansi industri yang merusak struktur tanah.

Melalui momentum Hari Dunia untuk Memerangi Penggurusan dan Kekeringan 2026, RadarLokal mengajak pembaca untuk lebih peduli pada apa yang ada di bawah kaki kita. Tanah adalah fondasi dari segala kehidupan. Sudah saatnya kita berhenti memperlakukannya seolah-olah ia adalah sumber daya yang tak terbatas. Sekaranglah waktunya untuk bertindak—mengakui nilai padang rumput, menghormati para penjaganya, dan memulihkan lanskap indah ini demi generasi yang akan datang.

Mari kita jadikan peringatan tahun ini sebagai titik balik untuk memastikan bahwa bumi yang kita wariskan nanti tetaplah bumi yang hijau, subur, dan mampu menopang kehidupan seluruh makhluk di dalamnya. Kesadaran kolektif adalah kunci utama dalam menghadapi ancaman penggurusan yang kian nyata di depan mata.

Dimas Pratama

Dimas Pratama

Jurnalis lapangan senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun. Fokus pada isu sosial dan kebijakan publik di Radar News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *