Skandal Besar di Jantung Militer China: Dua Mantan Menteri Pertahanan Divonis Mati Akibat Korupsi

Dimas Pratama | RADAR LOKAL
08 Mei 2026, 22:12 WIB
Skandal Besar di Jantung Militer China: Dua Mantan Menteri Pertahanan Divonis Mati Akibat Korupsi

RadarLokal — Guncangan hebat kembali melanda struktur kekuasaan tertinggi di China, ketika hukum besi di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping menunjukkan taringnya tanpa pandang bulu. Dalam sebuah keputusan yang menggetarkan panggung politik internasional, Pengadilan Militer China secara resmi menjatuhkan vonis mati terhadap dua mantan Menteri Pertahanan negara tersebut, Wei Fenghe dan Li Shangfu. Keduanya dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi yang masif di dalam tubuh militer yang seharusnya menjadi benteng pertahanan negara.

Keputusan yang diumumkan pada Kamis (07/05) ini menjadi sebuah pesan kuat bagi seluruh pejabat di Negeri Tirai Bambu bahwa tidak ada yang kebal hukum, bahkan mereka yang pernah memegang tongkat komando tertinggi di angkatan bersenjata sekalipun. Kasus korupsi ini bukan sekadar tentang penggelapan uang, melainkan juga tentang pengkhianatan terhadap integritas nasional yang sedang diperjuangkan oleh Beijing.

Baca Juga Hoaks Begal Sadis di Tambora Viral di Medsos, RadarLokal Ungkap Fakta Sebenarnya: Kecelakaan Tunggal Akibat Miras
Hoaks Begal Sadis di Tambora Viral di Medsos, RadarLokal Ungkap Fakta Sebenarnya: Kecelakaan Tunggal Akibat Miras

Mekanisme Hukum: Vonis Mati dengan Masa Penangguhan

Meskipun dijatuhi hukuman mati, terdapat detail hukum yang perlu dipahami dalam sistem peradilan China. Pengadilan militer menetapkan bahwa eksekusi terhadap Wei Fenghe dan Li Shangfu akan diberikan masa penangguhan selama dua tahun. Dalam praktik hukum di sana, hukuman ini secara otomatis akan diubah menjadi penjara seumur hidup setelah masa dua tahun terlampaui, asalkan terpidana menunjukkan perilaku baik dan tidak melakukan pelanggaran hukum lainnya selama di tahanan.

Namun, keringanan ini memiliki catatan yang sangat berat. Wei dan Li dipastikan tidak akan pernah mendapatkan remisi atau pengurangan hukuman lebih lanjut, serta tidak memiliki peluang untuk mendapatkan pembebasan bersyarat. Selain itu, sebagai bagian dari hukuman tambahan, pengadilan juga memerintahkan penyitaan seluruh aset pribadi mereka tanpa terkecuali. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa keuntungan ilegal yang mereka kumpulkan selama menjabat dikembalikan sepenuhnya kepada negara.

Baca Juga Ketegangan di Ujung Tanduk: Donald Trump Beri Isyarat Tolak Proposal Damai 14 Poin dari Iran
Ketegangan di Ujung Tanduk: Donald Trump Beri Isyarat Tolak Proposal Damai 14 Poin dari Iran

Profil Wei Fenghe dan Li Shangfu: Dari Puncak Kekuasaan ke Sel Tahanan

Kejatuhan kedua tokoh ini terasa begitu dramatis mengingat posisi mereka yang sangat krusial. Wei Fenghe merupakan sosok yang menjabat sebagai Menteri Pertahanan China pada periode 2018 hingga 2023. Selama masa jabatannya, ia dikenal sebagai tokoh yang vokal dalam memperkuat posisi militer China di kancah global. Namun, penyelidikan mendalam yang dimulai pada tahun 2023 mengungkapkan sisi gelap dari pengabdiannya.

Penggantinya, Li Shangfu, memiliki nasib yang bahkan lebih tragis secara politis. Baru menjabat pada Maret 2023, masa keemasannya hanya bertahan seumur jagung. Pada Oktober 2023, ia diberhentikan secara mendadak setelah sebelumnya menghilang dari ruang publik selama dua bulan tanpa penjelasan resmi. Spekulasi liar yang berkembang saat itu akhirnya terjawab melalui vonis pengadilan ini. Li diduga kuat menerima suap dalam jumlah fantastis serta terlibat dalam praktik pengaturan personel militer yang menyimpang demi keuntungan pribadi.

Baca Juga Baleg DPR Godok Omnibus Law Ketenagakerjaan Baru: Transformasi Aturan Kontrak, Outsourcing, hingga Skema PHK
Baleg DPR Godok Omnibus Law Ketenagakerjaan Baru: Transformasi Aturan Kontrak, Outsourcing, hingga Skema PHK

Anatomi Pelanggaran: Suap dan Pengkhianatan Tanggung Jawab Politik

Berdasarkan laporan resmi dari kantor berita Xinhua, penyelidikan terhadap Li Shangfu mengungkapkan bahwa ia telah menerima “sejumlah besar uang” sebagai suap. Tidak hanya menerima, ia juga dilaporkan aktif menyuap pihak lain untuk mengamankan posisi dan kepentingannya. Pengadilan menyoroti bahwa tindakan Li bukan hanya sekadar kriminalitas ekonomi, melainkan juga kegagalan total dalam memenuhi “tanggung jawab politik” yang diembannya sebagai pejabat tinggi negara.

Sementara itu, Wei Fenghe terseret dalam pusaran kasus serupa. Penyelidikan menemukan bukti kuat bahwa ia menerima barang berharga dan uang tunai dalam jumlah besar sebagai imbalan atas bantuan yang ia berikan kepada pihak tertentu, termasuk dalam pengaturan promosi jabatan di lingkungan militer. Praktik nepotisme dan jual-beli jabatan ini dianggap telah merusak moral dan profesionalisme Tentara Pembebasan Rakyat (PLA).

Baca Juga Panduan Lengkap Jadwal One Way Puncak Bogor: Strategi Antisipasi Macet Parah Selama Long Weekend Idul Adha 2026
Panduan Lengkap Jadwal One Way Puncak Bogor: Strategi Antisipasi Macet Parah Selama Long Weekend Idul Adha 2026

Ambisi Xi Jinping: Membersihkan ‘Harimau’ di Tubuh Militer

Sejak pertama kali naik ke puncak kepemimpinan pada tahun 2012, Presiden Xi Jinping telah menjadikan pemberantasan korupsi sebagai agenda utamanya. Ia memperkenalkan kebijakan yang dikenal dengan istilah memburu “harimau dan lalat”—menindak pejabat tinggi yang korup sekaligus pegawai rendah yang nakal. Kampanye ini sering disebut oleh para analis sebagai langkah “penempaan revolusioner” untuk memastikan loyalitas mutlak militer kepada partai.

Dalam beberapa bulan terakhir, pembersihan ini semakin intensif. Selain dua mantan Menhan tersebut, beberapa jenderal senior lainnya, termasuk Zhang Youxia, dikabarkan telah dicopot dari posisi strategis mereka. Xi menekankan bahwa militer harus bersih dari pengaruh buruk uang agar siap menghadapi tantangan geopolitik yang semakin kompleks. Meski begitu, para kritikus internasional sering kali melihat kampanye ini sebagai cara elegan bagi Xi untuk menyingkirkan lawan politik dan memperkuat cengkeraman kekuasaannya.

Baca Juga Skandal Narkotika Lintas Negara: Kronologi Penangkapan 10 WNI dari Bangkok di Bandara Soetta
Skandal Narkotika Lintas Negara: Kronologi Penangkapan 10 WNI dari Bangkok di Bandara Soetta

Pola Penegakan Hukum yang Konsisten dan Tanpa Ampun

Vonis mati terhadap menteri bukanlah hal pertama yang terjadi di China. Belum lama ini, pada September 2024, Tang Renjian, mantan Menteri Pertanian dan Urusan Pedesaan, juga menerima hukuman serupa. Tang terbukti menerima suap senilai lebih dari 268 juta yuan atau sekitar Rp627 miliar dalam rentang waktu hampir dua dekade pengabdiannya di berbagai posisi pemerintahan.

Sejarah kelam korupsi di China juga mencatat kisah tragis Jenderal Zhang Yang pada tahun 2017. Jenderal senior tersebut memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri di rumahnya setelah diselidiki atas hubungannya dengan perwira korup lainnya. Kasus-kasus ini menggambarkan betapa tingginya tekanan hukum bagi mereka yang berani bermain-main dengan integritas negara di bawah rezim saat ini.

Implikasi Bagi Masa Depan Pertahanan China

Kejatuhan berturut-turut para pemimpin pertahanan China menimbulkan pertanyaan besar mengenai stabilitas di internal militer mereka. Dengan lebih dari 1,5 juta pejabat partai yang telah diseret ke pengadilan sejak 2012, proses regenerasi di tubuh PLA kini menghadapi tantangan besar. Di satu sisi, langkah ini dinilai positif untuk menciptakan birokrasi yang lebih bersih dan efisien. Namun di sisi lain, ketakutan akan pembersihan politik dapat menghambat inovasi dan keberanian pengambilan keputusan di tingkat strategis.

Bagi dunia internasional, vonis mati Wei Fenghe dan Li Shangfu adalah sinyal bahwa China sedang melakukan konsolidasi internal yang sangat serius. Ketegasan Beijing dalam menghukum para mantan menterinya menunjukkan bahwa bagi kepemimpinan Xi Jinping, stabilitas ideologi dan kebersihan institusi jauh lebih berharga daripada reputasi individu, setinggi apa pun pangkat yang mereka sandang.

Kini, publik menunggu apakah langkah ekstrem ini benar-benar akan melahirkan kekuatan militer yang lebih solid, atau justru menyisakan kekosongan kepemimpinan di tengah ambisi besar China untuk menjadi kekuatan dominan di dunia. Satu hal yang pasti, keadilan ala Beijing telah menunjukkan bahwa di bawah bayang-bayang kekuasaan, tidak ada tempat bagi mereka yang berkhianat pada sumpah jabatannya.

Dimas Pratama

Dimas Pratama

Jurnalis lapangan senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun. Fokus pada isu sosial dan kebijakan publik di Radar News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *