Tragedi di Lembah Petulu: Wisatawan Swedia Ditemukan Tak Bernyawa di Dasar Jurang Ubud

Dimas Pratama | RADAR LOKAL
29 Apr 2026, 03:14 WIB
Tragedi di Lembah Petulu: Wisatawan Swedia Ditemukan Tak Bernyawa di Dasar Jurang Ubud

RadarLokal — Keheningan di kawasan Banjar Kutuh Kaja, Desa Petulu, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali, mendadak pecah oleh kabar duka yang menyelimuti dunia pariwisata Pulau Dewata. Seorang wisatawan lansia asal Swedia, Kenneth Juan Fujita (60), ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di dasar sebuah jurang yang cukup dalam pada Selasa malam, 28 April 2026. Penemuan ini sontak menggegerkan warga setempat dan para pelancong yang tengah menikmati suasana syahdu di daerah yang dikenal dengan pemandangan alamnya yang eksotis tersebut.

Penemuan Jasad di Kedalaman Terjal

Peristiwa memilukan ini bermula ketika laporan mengenai adanya sesosok tubuh manusia yang tergeletak di area jurang mulai tersiar. Pihak berwenang segera bergerak cepat menuju lokasi kejadian untuk melakukan verifikasi. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gianyar, I Gusti Ngurah Dibya, mengonfirmasi bahwa penemuan jasad pria tersebut terjadi sekitar pukul 19.00 WITA.

Baca Juga Ketua KPK Setyo Budiyanto Ungkap Ironi Biaya Mahal Penjara Koruptor: Negara Harus Menanggung Makan dan Pakaian Mereka
Ketua KPK Setyo Budiyanto Ungkap Ironi Biaya Mahal Penjara Koruptor: Negara Harus Menanggung Makan dan Pakaian Mereka

Kondisi medan yang curam dan hari yang sudah gelap menjadi tantangan tersendiri bagi tim evakuasi. Jasad Kenneth ditemukan berada di kedalaman sekitar 30 meter dari bibir jurang. Lokasi jatuhnya korban memang dikenal memiliki kontur tanah yang miring dan dipenuhi vegetasi liar, yang sering kali menjadi jebakan tak kasat mata bagi mereka yang kurang waspada terhadap batas aman wisatawan mancanegara saat menjelajahi alam terbuka di Bali.

Kronologi Evakuasi yang Menegangkan

Proses evakuasi tidak dapat dilakukan secara sembarangan mengingat kedalaman dan risiko longsoran tanah di area tersebut. Tim gabungan yang terdiri dari personel BPBD Gianyar dan Polsek Ubud baru bisa memulai langkah evakuasi satu jam setelah lokasi pasti korban teridentifikasi. Dengan menggunakan peralatan tali-temali (rescue rope) dan tandu khusus, petugas perlahan menuruni jurang yang gelap gulita tersebut.

Baca Juga Hujan Drone di Langit Rusia: Pertahanan Udara Moskow Tembak Jatuh 376 Pesawat Nirawak Ukraina dalam Semalam
Hujan Drone di Langit Rusia: Pertahanan Udara Moskow Tembak Jatuh 376 Pesawat Nirawak Ukraina dalam Semalam

“Setelah memastikan lokasi dan kondisi korban, tim kami langsung bergerak melakukan pengangkatan. Prosesnya memakan waktu sekitar tiga puluh menit hingga jasad berhasil dibawa ke permukaan,” jelas I Gusti Ngurah Dibya dalam keterangannya. Kerja keras tim di lapangan akhirnya membuahkan hasil, meskipun harapan untuk menemukan Kenneth dalam keadaan selamat telah pupus.

Dugaan Waktu Kematian: Tiga Hari Tergeletak

Setelah berhasil dievakuasi ke atas jurang, petugas medis dan pihak kepolisian segera melakukan pemeriksaan awal terhadap jenazah korban. Berdasarkan kondisi fisik dan tanda-tanda dekomposisi yang ditemukan di lokasi, muncul dugaan kuat bahwa Kenneth telah meninggal dunia beberapa hari sebelum ditemukan.

Pihak BPBD menyebutkan bahwa korban diduga sudah mengembuskan napas terakhirnya sejak hari Minggu, 26 April 2026. Hal ini berarti tubuh lansia tersebut telah berada di dasar jurang selama kurang lebih tiga hari tanpa ada yang mengetahui. Penjelasan ini memperkuat asumsi bahwa korban kemungkinan besar terpeleset saat sedang beraktivitas sendirian di sekitar area tersebut, jauh dari pemukiman warga atau keramaian jalur Ubud Bali yang biasanya dipadati turis.

Baca Juga Skandal Korupsi Nikel Sultra: Mantan Ketua Ombudsman Hery Susanto Segera Duduk di Kursi Pesakitan
Skandal Korupsi Nikel Sultra: Mantan Ketua Ombudsman Hery Susanto Segera Duduk di Kursi Pesakitan

Langkah Investigasi dan Tindak Lanjut Kepolisian

Guna kepentingan penyelidikan lebih lanjut, jenazah Kenneth Juan Fujita langsung dibawa menggunakan ambulans menuju Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Prof. Ngoerah di Denpasar. Di sana, pemeriksaan forensik yang lebih mendalam akan dilakukan untuk memastikan penyebab pasti kematian, apakah murni karena kecelakaan terjatuh atau ada faktor medis lain yang mendahuluinya.

Selain mengevakuasi korban, pihak Polsek Ubud juga telah melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan mengumpulkan keterangan dari sejumlah saksi di sekitar lokasi penemuan. Beberapa saksi yang dimintai keterangan termasuk warga yang pertama kali mencium aroma tidak sedap atau melihat tanda-tanda keberadaan korban. Investigasi ini penting dilakukan untuk memberikan laporan resmi kepada pihak konsulat Swedia mengenai nasib warga negaranya di Bali.

Baca Juga Trump Ambil Langkah Berani di Selat Hormuz: Operasi Pembebasan Kapal Dimulai Senin Pagi demi Misi Kemanusiaan
Trump Ambil Langkah Berani di Selat Hormuz: Operasi Pembebasan Kapal Dimulai Senin Pagi demi Misi Kemanusiaan

Tantangan Keselamatan di Destinasi Wisata Alam

Kejadian tragis yang menimpa Kenneth Juan Fujita kembali membuka diskusi mengenai aspek keamanan bagi wisatawan, terutama kaum lansia, saat berada di kawasan wisata yang memiliki risiko geografis tinggi. Ubud, dengan segala keindahan lembah dan jurangnya, memang menawarkan pesona yang luar biasa, namun juga menyimpan potensi bahaya jika protokol keselamatan diabaikan.

Pihak otoritas setempat mengimbau agar setiap pengelola penginapan atau pemandu wisata lebih memperhatikan pergerakan tamu mereka, terutama jika sang tamu memutuskan untuk mengeksplorasi wilayah pedesaan atau hutan secara mandiri. Program keamanan wisata harus terus ditingkatkan, termasuk pemasangan pagar pembatas atau papan peringatan di area-area yang rawan terjadi kecelakaan.

Baca Juga Momen Bersejarah di Washington: Pesan Mendalam Raja Charles III untuk Amerika Serikat di Tengah Gejolak Global
Momen Bersejarah di Washington: Pesan Mendalam Raja Charles III untuk Amerika Serikat di Tengah Gejolak Global

Duka Mendalam bagi Komunitas Pariwisata

Meninggalnya Kenneth bukan hanya duka bagi keluarganya di Swedia, tetapi juga menjadi catatan kelam bagi komunitas pariwisata di Gianyar. Kejadian ini mengingatkan semua pihak bahwa koordinasi antara BPBD Gianyar, kepolisian, dan masyarakat sangat krusial dalam merespons situasi darurat di medan yang sulit.

RadarLokal memantau bahwa kawasan Desa Petulu sendiri sebenarnya cukup populer di kalangan turis karena fenomena burung bangau atau burung kokokan yang bersarang di sana. Namun, di balik keramaian itu, ada sudut-sudut curam yang memerlukan kewaspadaan tinggi. Kejadian ini diharapkan menjadi pelajaran berharga bagi para pelancong agar selalu mengutamakan keselamatan dan memberitahukan posisi atau tujuan mereka kepada rekan atau pihak hotel saat hendak bepergian.

Prosedur Pemulangan Jenazah

Saat ini, koordinasi dengan pihak Kedutaan Swedia terus diupayakan untuk mengurus proses pemulangan jenazah Kenneth ke negara asalnya. Proses ini biasanya melibatkan birokrasi yang cukup panjang, mulai dari penerbitan sertifikat kematian hingga pengaturan transportasi udara internasional. Pihak kepolisian Bali berkomitmen untuk membantu segala kelengkapan dokumen yang dibutuhkan agar proses evakuasi jenazah lintas negara ini berjalan lancar tanpa hambatan berarti.

Seiring dengan berakhirnya proses evakuasi ini, suasana di Banjar Kutuh Kaja mulai berangsur normal, meski sisa-sisa ketegangan masih terasa di wajah para warga. Ubud tetap berdiri dengan pesonanya, namun kali ini ia menyisakan sebuah kisah sedih tentang seorang penjelajah lansia yang menutup usia di tengah dekapan alam Bali yang indah namun tak terduga.

Dimas Pratama

Dimas Pratama

Jurnalis lapangan senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun. Fokus pada isu sosial dan kebijakan publik di Radar News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *