Tragedi Idul Adha di Gaza: Ketika Harga Hewan Kurban Melambung Hingga Rp 124 Juta Per Ekor
RadarLokal — Gema takbir yang seharusnya membawa kedamaian kini terasa getir di sepanjang garis pantai Jalur Gaza. Menjelang perayaan Idul Adha, wilayah yang telah luluh lantak oleh konflik berkepanjangan ini harus menghadapi kenyataan pahit di sektor ekonomi. Harga hewan kurban, yang merupakan elemen sentral dalam perayaan besar umat Islam, kini melonjak ke angka yang hampir mustahil dijangkau oleh warga sipil yang tengah berjuang bertahan hidup.
Lonjakan Harga yang Tidak Masuk Akal
Direktur Kamar Dagang Gaza, Maher al-Tabbaa, memberikan data yang cukup mengejutkan terkait kondisi pasar ternak saat ini. Dalam laporan terbarunya, ia mengungkapkan bahwa harga seekor hewan kurban di Gaza telah menembus angka US$ 6.000 hingga US$ 7.000. Jika dikonversikan dengan kurs saat ini yang menyentuh Rp 17.800 per dolar AS, maka warga Gaza harus merogoh kocek antara Rp 106 juta hingga Rp 124 juta untuk satu ekor hewan kurban saja.
Angka ini merupakan anomali yang luar biasa jika dibandingkan dengan masa sebelum perang. Sebelum konflik memanas, harga rata-rata hewan kurban di wilayah tersebut hanya berkisar di angka US$ 500 atau sekitar Rp 8,9 juta. Kenaikan yang mencapai lebih dari sepuluh kali lipat ini bukan sekadar angka statistik, melainkan cerminan dari lumpuhnya sendi-sendi ekonomi perang yang mematikan daya beli masyarakat.
Runtuhnya Rantai Pasokan dan Infrastruktur Ternak
Kelangkaan ekstrem ini bukan tanpa alasan. Juru Bicara Kementerian Pertanian yang dikelola Hamas, Raafat Asaliya, menjelaskan bahwa kehancuran total pada sektor logistik menjadi pemicu utama. Sebelum perang pecah, kawasan Gaza Timur merupakan pusat transit ternak yang sangat aktif. Setiap tahunnya, menjelang Idul Adha, wilayah ini biasanya mengimpor sekitar 10.000 hingga 20.000 anak sapi serta 30.000 hingga 40.000 domba untuk memenuhi kebutuhan ritual kurban.
“Namun, realita saat ini berbanding terbalik. Dengan adanya perang yang tak kunjung usai dan penutupan total pintu-pintu perlintasan, aktivitas impor berhenti sepenuhnya,” ungkap Asaliya. Ia menambahkan bahwa selama hampir tiga tahun terakhir, kegembiraan Idul Adha telah hilang dari wajah-wajah warga Gaza. Banyak peternakan, kandang komunal, hingga gudang penyimpanan pakan telah rata dengan tanah akibat serangan udara, menyisakan puing-puing di tempat yang dulunya menjadi sumber kehidupan bagi para peternak lokal.
Pasar Ternak yang Sepi dan Tak Lagi Bergairah
Di sudut lain Jalur Gaza, Salah Afana, seorang pedagang ternak yang telah berpengalaman selama puluhan tahun, menatap nanar ke arah kandang-kandangnya yang mulai kosong. Ia membenarkan bahwa harga ternak telah meroket ke level yang tak terbayangkan sebelumnya. Ironisnya, di tengah kenaikan harga tersebut, permintaan justru terjun bebas hingga hampir tidak ada sama sekali.
“Kemiskinan telah meluas ke seluruh lapisan masyarakat. Siapa yang sanggup membeli hewan dengan harga setara mobil di tengah situasi seperti ini?” ujar Afana. Ia juga menyoroti masalah krisis pangan yang menimpa hewan ternak yang masih tersisa. Banyak hewan kurban yang mati bukan hanya karena serangan senjata, melainkan karena kelaparan ekstrem akibat ketiadaan pakan dan kolapsnya layanan veteriner atau kesehatan hewan di seluruh wilayah Gaza.
Hilangnya Tradisi dan Kenangan Manis Idul Adha
Bagi Ahmed Nashwan, seorang warga asli Jalur Gaza, momen Idul Adha kini tak lebih dari pengingat akan rasa kehilangan yang mendalam. Selama tiga tahun berturut-turut, tradisi turun-temurun keluarganya untuk pergi ke pasar ternak harus terhenti. Dahulu, momen memilih hewan kurban bersama saudara dan anak-anaknya adalah ritual yang paling dinanti.
“Kami biasanya berkumpul, berdiskusi memilih sapi atau domba terbaik, lalu mempersiapkan segala sesuatunya untuk membagikan daging kepada kerabat dan keluarga miskin. Itu adalah bentuk solidaritas kami. Sekarang, jangankan berbagi daging kurban, untuk memberi makan keluarga sendiri setiap hari saja sudah merupakan mukjizat,” tutur Nashwan dengan nada suara yang berat.
Kemanusiaan di Titik Terendah
Mohammed al-Hissi, seorang ayah dari empat anak yang tinggal di pusat Kota Gaza, menggambarkan bagaimana perayaan Idul Adha telah berubah menjadi masa yang paling menyedihkan. Dulu, anak-anaknya akan bangun pagi dengan semangat, mengenakan pakaian baru yang bersih, dan menemani sang ayah membagikan daging kurban ke rumah-rumah tetangga. Tradisi ini adalah sarana edukasi tentang kepedulian sosial bagi anak-anak di Gaza.
“Sekarang semuanya telah berubah. Kondisi kemanusiaan di Gaza berada pada titik terendah. Sebagian besar keluarga bahkan sudah kehilangan rumah mereka, apalagi memikirkan untuk membeli hewan kurban. Idul Adha tahun ini terasa sangat sunyi tanpa kurban, tanpa perayaan, hanya ada doa agar penderitaan ini segera berakhir,” kata Al-Hissi.
Masa Depan yang Penuh Ketidakpastian
Krisis hewan kurban di Gaza hanyalah puncak gunung es dari masalah yang lebih besar: isolasi total dan kehancuran ekonomi. Tanpa adanya akses yang dibuka untuk bantuan kemanusiaan dan barang-barang komersial, harga kebutuhan pokok termasuk ternak akan terus berada di luar jangkauan masyarakat umum.
Pemerintah setempat dan berbagai lembaga internasional terus menyuarakan kekhawatiran bahwa hilangnya tradisi kurban ini akan berdampak pada kesehatan gizi masyarakat. Selama ini, daging kurban menjadi salah satu sumber protein penting bagi warga miskin di Gaza yang jarang mengonsumsi daging di hari-hari biasa. Dengan tiadanya pemotongan hewan kurban, maka jaringan pengaman pangan bagi kaum dhuafa di wilayah tersebut praktis ikut terputus.
Gaza kini hanya bisa menunggu dan berharap bahwa Idul Adha di tahun-tahun mendatang tidak lagi diwarnai dengan angka-angka harga yang fantastis, melainkan kembali menjadi perayaan yang penuh berkah dan kebersamaan, tanpa bayang-bayang dentuman bom dan blokade yang mencekik leher.