Transformasi Nurhaeda: Dari Terapis Spa Hingga Menjadi Maestro Jamu Rempah Sukses di Jakarta

Sarah Amalia | RADAR LOKAL
27 Jun 2026, 00:14 WIB
Transformasi Nurhaeda: Dari Terapis Spa Hingga Menjadi Maestro Jamu Rempah Sukses di Jakarta

RadarLokal — Di tengah hiruk-pikuk kawasan Ciracas, Jakarta Timur, sebuah aroma rempah yang menenangkan sering kali tercium dari sebuah rumah sederhana. Itulah kediaman Nurhaeda, seorang wanita berusia 51 tahun yang kini dikenal sebagai sosok inspiratif di balik merek dagang Jamu Haeda. Namun, siapa sangka bahwa kesuksesannya saat ini bermula dari sebuah keterpaksaan yang berujung pada inovasi yang cemerlang.

Sebelum terjun ke dunia ide bisnis minuman tradisional, Haeda adalah seorang terapis spa mandiri yang handal. Ia memiliki basis pelanggan setia yang kerap datang untuk mendapatkan perawatan tubuh, lulur, dan pijat relaksasi. Namun, roda kehidupan berputar cepat ketika badai pandemi COVID-19 melanda Indonesia pada tahun 2020. Bisnis jasa yang mengandalkan kontak fisik tersebut seketika mati suri akibat kebijakan pembatasan sosial.

Baca Juga Ekspansi Rute Jakarta-Jember: KA Pandalungan 2 Resmi Beroperasi 18 Juni, Manjakan Penumpang dengan Diskon Tiket 30 Persen
Ekspansi Rute Jakarta-Jember: KA Pandalungan 2 Resmi Beroperasi 18 Juni, Manjakan Penumpang dengan Diskon Tiket 30 Persen

Titik Balik: Tantangan Tetangga di Tengah Pandemi

Saat ditemui dalam sebuah sesi pelatihan di Rumah BUMN BRI, Jakarta Barat, Haeda mengenang kembali masa-masa sulit tersebut. Kawasan tempat tinggalnya di Kampung Rambutan sempat masuk dalam zona merah penyebaran virus. Hal ini membuat usaha home spa miliknya kehilangan omzet secara drastis. Namun, di tengah keputusasaan itu, sebuah peluang muncul dari tempat yang tidak terduga.

“Dulu saya sering menyuguhi pelanggan spa saya dengan jamu buatan sendiri sebagai pelengkap perawatan. Saat pandemi, pelanggan yang juga tetangga saya justru ‘menantang’ saya. Mereka minta dibuatkan jamu yang bisa menjaga imunitas tubuh agar terhindar dari virus,” kenang Haeda dengan mata yang berbinar. Tantangan itulah yang menjadi cikal bakal lahirnya jamu tradisional racikannya yang kini sangat diminati.

Baca Juga Indonesia Gebrak Industri Dirgantara: Tak Lagi Sekadar Pembeli, Gandeng Airbus Masuk Rantai Pasok Global
Indonesia Gebrak Industri Dirgantara: Tak Lagi Sekadar Pembeli, Gandeng Airbus Masuk Rantai Pasok Global

Memulai dengan Modal Rp 100 Ribu dan Strategi Door-to-Door

Keberanian Haeda patut diacungi jempol. Dengan modal awal yang sangat minim, yakni hanya sebesar Rp 100.000, ia mulai membeli empon-empon, botol kemasan, dan bahan baku lainnya. Ia meracik kunyit asam, bir pletok, hingga ramuan serai jahe dengan resep warisan yang ia sempurnakan sendiri. Karena situasi lockdown yang ketat, ia harus memutar otak agar produknya tetap bisa sampai ke tangan pembeli.

“Waktu itu zona merah, orang tidak boleh keluar rumah. Jadi saya jajakan secara door-to-door, tapi tidak bertemu langsung. Saya letakkan botol-botol jamu itu di atas pagar atau di depan pintu rumah warga. Mereka ambil sendiri, dan pembayarannya dilakukan dengan penuh kepercayaan,” tuturnya. Metode pemasaran yang unik ini ternyata sangat efektif di masa krisis, hingga produksinya meningkat dari puluhan botol menjadi ratusan botol seiring bertambahnya modal operasional.

Baca Juga Mengawal Kedaulatan Ekonomi: Mengapa Tata Kelola Ekspor Batu Bara dan CPO Lewat DSI Jadi Kunci Kemajuan Indonesia?
Mengawal Kedaulatan Ekonomi: Mengapa Tata Kelola Ekspor Batu Bara dan CPO Lewat DSI Jadi Kunci Kemajuan Indonesia?

Naik Kelas Bersama Rumah BUMN BRI

Meski produknya mulai dikenal, Haeda merasa masih ada yang kurang dalam pengelolaan bisnisnya. Ia menyadari bahwa di era modern ini, kualitas rasa saja tidak cukup untuk membesarkan sebuah merek. Pada tahun 2024, ia memutuskan untuk bergabung dengan Rumah BUMN BRI, sebuah wadah inkubasi yang dirancang untuk membantu para pelaku pelatihan UMKM agar bisa naik kelas.

Langkah ini terbukti menjadi keputusan terbaik yang pernah ia ambil. Melalui pembinaan yang intensif, Haeda mulai mengenal dunia digital marketing yang sebelumnya terasa sangat asing baginya. Ia tidak lagi hanya mengandalkan status WhatsApp yang jangkauannya terbatas. Ia mulai mempelajari cara membangun branding, estetika konten di media sosial, hingga pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) untuk promosi.

Baca Juga Angin Segar Sektor Industri: Kemen ESDM Siapkan Revisi Aturan Harga Gas Murah Demi Menjaga Daya Saing
Angin Segar Sektor Industri: Kemen ESDM Siapkan Revisi Aturan Harga Gas Murah Demi Menjaga Daya Saing

“Sangat terasa sekali perbedaannya. Dulu saya hanya asal foto produk dan posting. Sekarang saya mengerti bahwa bahasa visual itu sangat penting. Foto yang estetik dan caption yang menarik bisa membuat orang yang tadinya tidak mau beli menjadi penasaran dan akhirnya memesan,” jelas Haeda mengenai perubahan pola pikirnya setelah mengikuti berbagai workshop digital.

Efisiensi Transaksi Lewat Digitalisasi QRIS

Selain aspek pemasaran, transformasi digital yang dilakukan Haeda juga merambah ke sistem pembayaran. Mengikuti perkembangan zaman, ia kini menyediakan fasilitas pembayaran digital melalui QRIS BRI. Hal ini tidak hanya mempermudah pelanggan, tetapi juga sangat membantu Haeda dalam melakukan pencatatan keuangan secara transparan dan akurat.

Baca Juga Harga Patokan Ekspor Emas Merosot di Periode Mei 2026: Analisis Dampak Penguatan Dolar dan Sentimen Global
Harga Patokan Ekspor Emas Merosot di Periode Mei 2026: Analisis Dampak Penguatan Dolar dan Sentimen Global

“Pemanfaatan QRIS BRI ini sangat membantu. Transaksinya cepat, uang langsung masuk ke rekening, dan yang paling penting adalah tidak ada potongan biaya. Sebagai pedagang kecil, hal-hal teknis seperti ini sangat membantu dalam memantau arus kas harian tanpa harus repot mencatat manual setiap ada pembeli,” tambahnya. Kelengkapan administrasi sebagai nasabah setia BRI juga membukakan jalan baginya untuk mendapatkan akses ke berbagai pameran bergengsi.

Hasil Manis: Omzet Jutaan dari Modal Ratusan Ribu

Konsistensi dan kemauan untuk belajar akhirnya membuahkan hasil yang sangat manis. Dari modal berjalan harian yang hanya berkisar di angka Rp 300.000, kini Jamu Haeda mampu meraup omzet hingga Rp 6.000.000 per bulan. Angka ini dicapai berkat perpaduan antara kualitas produk yang konsisten dan strategi marketing yang tepat sasaran baik secara online maupun offline.

Produk andalannya seperti kunyit asam dan bir pletok kini tidak hanya dikonsumsi oleh warga Ciracas, tetapi juga telah merambah ke berbagai event besar di Jakarta, termasuk bazar di Gelora Bung Karno (GBK) dan stadion di Tangerang. Haeda merasa bangga karena jamu yang dulu hanya menjadi suguhan tambahan di tempat spa, kini telah menjadi identitas bisnis yang membanggakan.

Pesan untuk Sesama Pelaku Usaha

Mengakhiri perbincangan, Haeda menitipkan pesan bagi para pelaku UMKM lainnya yang masih ragu untuk berkembang. Menurutnya, fasilitas gratis dari pemerintah dan lembaga perbankan seperti Rumah BUMN BRI adalah kesempatan emas yang tidak boleh dilewatkan. Ia menyayangkan jika masih ada pengusaha yang enggan belajar hal baru hanya karena merasa sudah cukup dengan kondisi yang ada.

“Di sini kita diajarkan oleh narasumber hebat secara gratis. Kalau ikut pelatihan di luar sana, biayanya pasti mahal sekali. Jadi, kuncinya hanya satu: kemauan untuk maju. Jangan takut dengan teknologi, karena teknologi justru yang akan membantu kita meraih pasar yang lebih luas,” pungkasnya sambil merapikan termos jamunya.

Kisah Nurhaeda adalah bukti nyata bahwa keterbatasan modal bukanlah penghalang utama untuk sukses. Dengan semangat inovasi, adaptasi terhadap teknologi, dan bimbingan yang tepat, sebuah usaha rumahan pun bisa bertransformasi menjadi bisnis yang profesional dan menguntungkan. Jamu Haeda kini berdiri tegak sebagai simbol ketangguhan seorang wanita dalam menghadapi tantangan zaman.

Sarah Amalia

Sarah Amalia

Analis ekonomi muda yang hobi membedah tren pasar dan strategi UMKM. Pengisi utama kolom Radar Finance.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *