Fuji Tak Beri Ampun, Tutup Pintu Mediasi dalam Kasus Penggelapan Rp1 Miliar oleh Eks Admin

Nadia Safira | RADAR LOKAL
26 Mei 2026, 16:12 WIB
Fuji Tak Beri Ampun, Tutup Pintu Mediasi dalam Kasus Penggelapan Rp1 Miliar oleh Eks Admin

RadarLokal — Langkah hukum yang ditempuh oleh selebgram ternama, Fujianti Utami Putri, atau yang akrab disapa Fuji, kini memasuki babak baru yang penuh ketegasan. Di tengah hiruk-pikuk pemberitaan mengenai pengkhianatan orang kepercayaan, Fuji menunjukkan sikap yang tak tergoyahkan saat mendatangi Polres Metro Jakarta Selatan baru-baru ini. Ia memilih untuk menutup rapat pintu komunikasi dengan mantan asisten atau admin media sosialnya yang kini telah resmi ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan penggelapan dana senilai miliaran rupiah.

Ketegasan Fuji di Polres Metro Jakarta Selatan

Kehadiran Fuji di kantor polisi sebenarnya memberikan kesempatan bagi kedua belah pihak untuk bertemu dalam ruang mediasi. Namun, suasana di Polres Metro Jakarta Selatan terasa dingin ketika anak bungsu dari keluarga H. Faisal tersebut memilih untuk tidak bertatap muka langsung dengan sang mantan admin. Padahal, secara fisik, keduanya berada di gedung yang sama, hanya terpisah oleh beberapa dinding ruangan penyidikan.

Baca Juga Kisah Heroik Heru Gundul: Taruhan Nyawa di Balik 18 Jam Kegelapan Akibat Semburan Bisa Kobra
Kisah Heroik Heru Gundul: Taruhan Nyawa di Balik 18 Jam Kegelapan Akibat Semburan Bisa Kobra

Keputusan ini diambil bukan tanpa alasan yang kuat. Fuji merasa bahwa waktu yang diberikan untuk menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan telah habis. Berbulan-bulan ia menunggu adanya iktikad baik, namun yang ia dapatkan hanyalah kekecewaan yang bertumpuk. Sikap tertutup sang mantan admin selama proses awal penyelidikan membuat Fuji merasa bahwa jalur hukum adalah satu-satunya jalan untuk mendapatkan keadilan yang hakiki.

Lampu Hijau Mediasi yang Tak Pernah Disambut

Kuasa hukum Fuji, Sandy Arifin, memberikan penjelasan mendalam mengenai keputusan kliennya. Menurut Sandy, pihak kepolisian sebenarnya telah memberikan ruang dan waktu yang sangat luas agar perkara ini bisa diselesaikan tanpa harus berujung di meja hijau. Namun, pihak lawan seolah-olah mengabaikan uluran tangan tersebut dan tidak menunjukkan rasa penyesalan yang tulus.

Baca Juga Ammar Zoni Kembali ke Nusakambangan: Menguak Fakta di Balik Pemindahan dan Status ‘High Risk’ Sang Aktor
Ammar Zoni Kembali ke Nusakambangan: Menguak Fakta di Balik Pemindahan dan Status ‘High Risk’ Sang Aktor

“Kebetulan tadi terlapor juga ada di dalam, tapi klien kami karena memang sudah diberikan waktu beberapa kali untuk upaya mediasi penyelesaian tapi tidak ada iktikad baik, jadi tadi tidak ditemui oleh Kak Uti,” ujar Sandy Arifin dengan nada bicara yang tenang namun tegas. Sandy menekankan bahwa kliennya sudah cukup bersabar menghadapi drama yang berkepanjangan ini.

Penyidik pun sempat menanyakan kembali pendirian Fuji sebelum ia menandatangani Berita Acara Penyitaan (BAP) barang bukti. Tanpa ragu, Fuji menyatakan bahwa ia tetap pada komitmen awalnya: memproses kasus ini hingga tuntas. Ia ingin memberikan efek jera agar kejadian serupa tidak menimpa publik figur lain atau pengusaha di industri kreatif Indonesia.

Baca Juga Chemistry Manis Ardhito Pramono dan Davina Karamoy: Pujian, Dukungan, dan Rahasia Hubungan yang ‘Fun’
Chemistry Manis Ardhito Pramono dan Davina Karamoy: Pujian, Dukungan, dan Rahasia Hubungan yang ‘Fun’

Trauma dan Kekecewaan yang Mendalam

Bagi Fuji, kasus ini bukan sekadar kehilangan materi, melainkan soal pengkhianatan kepercayaan. Mantan admin tersebut adalah orang yang selama ini melihat jatuh bangunnya Fuji di industri hiburan. Mengetahui bahwa orang yang ia percaya justru menjadi duri dalam daging menimbulkan luka emosional yang cukup dalam. Fuji sempat melihat sosok tersangka dari kejauhan saat berada di kantor polisi, namun ia memilih untuk membuang muka.

“Sempat ngelihat dari jauh, kayaknya dia nunduk aja. Aku kayak mau ngobrol juga nggak mau,” ungkap Fuji kepada awak media. Raut wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa kesal yang masih membara. Baginya, melihat sang mantan karyawan dalam balutan status tersangka memberikan perasaan campur aduk antara lega dan juga rasa tidak ikhlas atas perlakuan tidak menyenangkan yang ia terima selama ini.

Baca Juga Sujud dan Air Mata Denada: Kisah Bangkit dari Titik Terendah dan Kekuatan Support System
Sujud dan Air Mata Denada: Kisah Bangkit dari Titik Terendah dan Kekuatan Support System

Fuji menceritakan bagaimana ia merasa diperlakukan dengan sangat tidak adil. Ia bekerja keras siang dan malam, membangun karier dari nol, namun hasil jerih payahnya justru dinikmati oleh orang lain dengan cara yang melanggar hukum. Perjuangan mencari keadilan ini ia dedikasikan untuk harga dirinya yang telah diinjak-injak oleh oknum yang tidak bertanggung jawab tersebut.

Detail Kerugian: Uang, Aset, dan Data Digital

Kasus yang menjerat mantan admin Fuji ini memang tergolong serius. Total kerugian yang dialami Fuji ditaksir mencapai Rp1 miliar. Dana tersebut berasal dari berbagai kerja sama iklan atau endorsement yang seharusnya masuk ke kantong Fuji, namun diduga dialihkan oleh tersangka ke rekening pribadinya. Hal ini tentu saja mengganggu stabilitas finansial dan profesionalitas Fuji di mata para klien.

Baca Juga Dugaan Penipuan Hanania Travel: Thariq Halilintar dan Aaliyah Massaid Penuhi Panggilan Polda Metro Jaya
Dugaan Penipuan Hanania Travel: Thariq Halilintar dan Aaliyah Massaid Penuhi Panggilan Polda Metro Jaya

Namun, kerugian tidak berhenti pada angka nominal uang saja. Berdasarkan penyidikan, tersangka juga diduga menggelapkan aset perusahaan berupa laptop yang berisi data-data penting. Bahkan, tindakan sabotase dilakukan dengan menghapus ribuan riwayat obrolan atau chat history dengan pihak klien di media sosial. Tindakan ini dianggap sangat fatal karena merusak jejak digital dan profesionalitas kerja sama yang sudah dibangun lama.

  • Penggelapan dana kerja sama iklan senilai lebih dari Rp1 miliar.
  • Penggelapan aset fisik berupa perangkat elektronik (laptop).
  • Perusakan data kerja dengan menghapus riwayat komunikasi dengan mitra bisnis.
  • Penyalahgunaan akses media sosial untuk kepentingan pribadi.

Harapan untuk Proses Persidangan yang Transparan

Kini, dengan ditetapkannya sang mantan admin sebagai tersangka, Fuji dan tim hukumnya bersiap untuk melangkah ke tahap persidangan. Fuji menegaskan bahwa dirinya siap mengikuti seluruh rangkaian proses hukum, mulai dari pemeriksaan tambahan hingga memberikan kesaksian di hadapan hakim nantinya.

Kasus penggelapan dana ini menjadi pengingat bagi para konten kreator dan selebriti lainnya untuk lebih waspada dalam mengelola manajemen internal mereka. Fuji berharap transparansi dalam proses hukum ini bisa membuka tabir kebenaran seutuhnya. Ia tidak ingin ada lagi ruang bagi mediasi yang terlambat, karena baginya, keadilan harus ditegakkan tanpa kompromi jika sudah menyangkut integritas dan kejujuran.

Di sisi lain, publik juga terus memberikan dukungan moral kepada Fuji. Banyak yang memuji keberaniannya untuk bersuara dan tidak memilih jalan damai di bawah tangan. Dengan dukungan keluarga dan tim hukum yang solid, Fuji optimistis bahwa kebenaran akan segera terungkap dan ia bisa kembali fokus berkarya tanpa bayang-bayang pengkhianatan masa lalu.

Kesimpulan dari Babak Baru Kasus Fuji

Perjalanan panjang menuju keadilan bagi Fuji masih terus berlanjut. Sikap tegas yang ia tunjukkan di Polres Metro Jakarta Selatan adalah simbol bahwa ia tidak lagi bisa dipermainkan. Pengkhianatan seorang admin yang mengelola aspek vital kariernya telah dibayar dengan proses hukum yang serius. Kini, publik menantikan jalannya persidangan untuk melihat bagaimana akhir dari drama kriminal yang merugikan salah satu bintang media sosial paling bersinar di tanah air ini.

Fuji menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa dirinya sudah lebih tenang, meskipun rasa kesal itu belum sepenuhnya hilang. Baginya, status tersangka yang disandang oleh mantan karyawannya adalah bukti awal bahwa kebenaran mulai menemukan jalannya. “Aku nggak terima diperlakukan seperti itu, dan sekarang biarkan hukum yang berbicara,” pungkasnya mengakhiri sesi wawancara.

Nadia Safira

Nadia Safira

Content creator yang memiliki radar tajam terhadap isu viral dan gaya hidup. Menjaga konten Radar Hot tetap segar dan menghibur.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *