Arumi Bachsin dan Refleksi Menjadi Orang Tua: Kisah Kelulusan Lakeisha Dardak Menuju Jenjang SMP
RadarLokal — Waktu seolah berlari tanpa permisi bagi Arumi Bachsin. Mantan aktris yang kini menjadi istri dari Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak, baru saja melewati sebuah tonggak sejarah emosional dalam perannya sebagai seorang ibu. Putri sulungnya, Lakeisha Ariestia Dardak, atau yang akrab disapa Keisha, telah resmi menyelesaikan pendidikan di bangku Sekolah Dasar (SD) dan bersiap melangkah ke jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Momen kelulusan ini bukan sekadar seremoni akademik biasa bagi Arumi. Di balik senyum bangganya, terselip sebuah kesadaran mendalam tentang betapa cepatnya fase kehidupan berganti. Melihat sang buah hati yang kini tumbuh semampai dan mulai menunjukkan jati diri, Arumi tak kuasa menahan rasa haru sekaligus keterkejutan yang menggelitik hatinya sebagai seorang wanita yang kini memasuki fase parenting yang lebih kompleks.
Kesadaran Akan Waktu yang Berjalan Cepat
Saat ditemui dalam sebuah kesempatan di Jakarta Selatan baru-baru ini, Arumi mengungkapkan perasaannya dengan gaya bicaranya yang khas—hangat dan penuh kejujuran. Baginya, memiliki anak yang sudah duduk di bangku SMP adalah sebuah “alarm” alami yang mengingatkannya pada usia sendiri. Ia seolah tersadar bahwa masa-masa menimang bayi Keisha kini telah berganti menjadi diskusi-diskusi remaja yang lebih serius.
“Punya anak yang sudah mau masuk SMP itu membuat aku merasa, ‘Oh, ternyata aku sudah tua ya, anak sudah besar.’ Rasanya benar-benar berbeda,” ungkap Arumi Bachsin dengan nada reflektif. Kalimat tersebut mencerminkan perasaan kolektif banyak orang tua di luar sana yang kerap merasa terkejut melihat pertumbuhan anak yang begitu pesat, seakan hanya dalam satu kedipan mata.
Perasaan ini semakin diperkuat ketika ia mencoba memutar kembali memori melalui dokumentasi foto. Arumi bercerita bagaimana ia sering memperhatikan perubahan fisik dan karakter Keisha dari tahun ke tahun. Dari sosok anak kecil yang menggemaskan di kelas 1 SD, hingga menjadi sosok yang mulai matang saat duduk di kelas 5 dan 6. Ada transformasi karakter yang signifikan yang ia saksikan sendiri secara intim.
Metamorfosis Karakter dan Kemandirian Keisha
Salah satu hal yang paling disyukuri oleh Arumi dan Emil Dardak adalah perkembangan karakter Keisha yang tumbuh menjadi sosok yang mandiri dan teratur. Dalam pola asuh modern yang mereka terapkan, Arumi mengaku tidak perlu memberikan tekanan berlebih atau perlakuan khusus agar putrinya disiplin dalam belajar.
Menurut Arumi, Keisha memiliki dorongan internal yang kuat. Tanpa perlu diingatkan berulang kali, sang putri sudah memahami tanggung jawabnya sebagai siswa. “Anaknya cukup rajin dan punya usaha sendiri. Jadi bukan tipe yang sekolah hanya sekadar formalitas, lalu pulang. Kalau ada tes atau ujian, dia memang benar-benar belajar atas inisiatif sendiri,” jelas Arumi dengan nada bangga.
Kemandirian ini juga terlihat dari bagaimana Keisha mengatur jadwal harian. Di tengah kesibukan kedua orang tuanya, memiliki anak yang hafal dengan schedule sendiri tanpa harus selalu diingatkan atau diomeli adalah sebuah anugerah tersendiri dalam dunia parenting anak remaja. Struktur kedisiplinan ini menjadi modal penting bagi Keisha saat ia memasuki lingkungan SMP yang dipastikan akan lebih kompetitif dan menuntut tanggung jawab lebih besar.
Dinamika Selera dan Ego Remaja yang Mulai Muncul
Namun, transisi menuju masa remaja tidak selalu tentang kemudahan. Arumi mulai merasakan tantangan baru ketika sang anak mulai memiliki opini dan selera pribadi yang kuat. Fase ini menandai berakhirnya masa di mana orang tua memiliki kontrol penuh atas pilihan estetika sang anak. Jika dulu ia bisa dengan bebas memilihkan pakaian untuk Keisha, kini situasinya telah berubah total.
“Sekarang aku harus lebih hati-hati. Dulu dipakaikan apa saja mau, tapi sekarang sudah punya selera sendiri. Kadang aku masih lupa, aku bilang ‘Kak, pakai yang ini saja,’ tapi dia langsung jawab, ‘Enggak, aku lebih suka yang ini.’ Dan setelah diperhatikan, ternyata pilihannya memang bagus juga,” ceritanya sambil tersenyum lebar. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya bagi orang tua untuk mulai memberikan ruang bagi anak dalam mengambil keputusan kecil sebagai bentuk penghargaan atas identitas mereka yang sedang berkembang.
Tantangan Parenting di Era Digital dan Media Sosial
Sebagai orang tua di era digital, Arumi Bachsin juga tak lepas dari rasa khawatir. Ia menyadari sepenuhnya bahwa tantangan yang dihadapi generasi Keisha jauh lebih berat dibandingkan zamannya dulu. Kehadiran gawai dan akses informasi yang tak terbatas menjadi pedang bermata dua bagi perkembangan psikologis anak. Pendidikan anak di masa kini menuntut pengawasan yang lebih ekstra namun tetap halus agar anak tidak merasa terkekang.
“Zaman sekarang tantangannya beda, pergaulannya beda. Anak-anak sekarang sudah pegang HP sendiri, meski tetap kita awasi. Ada kekhawatiran karena di usia segini, suara teman seringkali terdengar lebih nyaring dan lebih dipercaya daripada nasihat orang tua,” tutur Arumi. Ini adalah fenomena psikologis yang wajar terjadi pada remaja awal, di mana mereka mulai mencari validasi dari lingkungan sebayanya.
Menyikapi hal tersebut, Arumi dan Emil berupaya membangun pondasi kepercayaan yang kuat. Mereka tidak ingin menjadi sosok otoriter yang menakutkan, melainkan figur pelindung yang nyaman untuk dijadikan tempat bercerita. Bagi Arumi, selama Keisha masih mau terbuka dan berbagi cerita tentang kesehariannya, itu sudah menjadi kemenangan besar baginya sebagai orang tua.
Membangun Kedekatan Sebagai Sahabat
Menghadapi masa remaja Keisha, Arumi memilih pendekatan yang lebih persuasif. Ia menyadari bahwa fase dandan, eksplorasi gaya, dan interaksi sosial yang intens adalah hal yang normal. Kuncinya adalah menjaga agar rutinitas positif tetap berjalan beriringan dengan hobi atau ketertarikan baru tersebut. Tips mendidik anak yang ia pegang teguh adalah tetap memantau tanpa harus mematikan kreativitas sang anak.
“Selama dia masih mau cerita, itu sudah yang paling benar buat kita. Kita jadi bisa bantu awasi, mana yang benar dan mana yang kurang pas. Sejauh ini pengalamannya masih remaja awal, jadi belum ada yang membuat kami terlalu khawatir. Harapannya, semoga Keisha tetap mau terbuka sama orang tuanya,” pungkas Arumi menutup pembicaraan.
Kisah Arumi Bachsin dan kelulusan putrinya ini menjadi pengingat bagi setiap orang tua bahwa tugas utama kita bukan hanya mendidik anak agar pintar secara akademis, melainkan juga menyiapkan mental mereka untuk menghadapi dunia yang terus berubah, sembari tetap menjaga ikatan emosional yang hangat sebagai keluarga.