Operasi Economic Fury: AS Sita Aset Kripto Iran Senilai Rp 17,8 Triliun dan Lumpuhkan Finansial Teheran

Sarah Amalia | RADAR LOKAL
30 Mei 2026, 22:12 WIB
Operasi Economic Fury: AS Sita Aset Kripto Iran Senilai Rp 17,8 Triliun dan Lumpuhkan Finansial Teheran

RadarLokal — Gelombang ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran kini memasuki babak baru yang sangat krusial, bukan di medan tempur fisik, melainkan di ranah finansial digital. Pemerintah Amerika Serikat secara resmi mengumumkan keberhasilan mereka dalam melancarkan pukulan telak terhadap stabilitas ekonomi Teheran. Melalui serangkaian operasi siber dan intelijen keuangan yang terstruktur, otoritas AS berhasil menyita aset kripto milik Iran dengan nilai fantastis, yakni mencapai US$ 1 miliar atau setara dengan kurang lebih Rp 17,88 triliun.

Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, dalam pernyataan resminya mengungkapkan bahwa tindakan tegas ini merupakan bagian dari strategi besar untuk menekan sumber pendanaan negara tersebut. Langkah ini diambil di tengah laporan bahwa kondisi ekonomi Iran kini tengah berada di ambang kolaps yang sangat mengkhawatirkan. Menurut Bessent, keberhasilan penyitaan ini adalah bukti nyata dari efektivitas pengawasan aset kripto yang dilakukan oleh tim khusus kementeriannya.

Baca Juga Angin Segar Investasi: Pemerintah Resmi Batalkan Skema Bagi Hasil Migas untuk Sektor Minerba
Angin Segar Investasi: Pemerintah Resmi Batalkan Skema Bagi Hasil Migas untuk Sektor Minerba

Guncangan Hebat Melalui Operation Economic Fury

Penyitaan aset digital dalam jumlah masif ini bukanlah sebuah kebetulan semata. Ini adalah hasil dari sebuah kampanye agresif yang diberi nama “Operation Economic Fury”. Operasi ini dirancang sedemikian rupa untuk memutus urat nadi keuangan Iran yang selama ini diduga digunakan untuk membiayai berbagai aktivitas militer dan program-program yang dianggap mengancam stabilitas politik internasional. Bessent menegaskan bahwa kampanye ini telah berjalan selama lebih dari satu bulan dengan hasil yang melampaui ekspektasi awal.

“Kami telah melakukan kampanye militer yang sangat sukses selama sekitar lima hingga enam minggu, yang kemudian disusul dengan Operasi Economic Fury. Fokus utama kami adalah benar-benar memutus jalur pasokan finansial mereka. Saat ini, mereka berada di titik paling rendah dalam sejarah kemampuan finansial mereka,” ujar Bessent dalam sebuah wawancara eksklusif yang menarik perhatian para pelaku pasar ekonomi global.

Baca Juga Unilever Indonesia (UNVR) Tebar Dividen Jumbo Rp 4,32 Triliun: Bukti Komitmen Strategis bagi Pemegang Saham
Unilever Indonesia (UNVR) Tebar Dividen Jumbo Rp 4,32 Triliun: Bukti Komitmen Strategis bagi Pemegang Saham

Strategi ini tampaknya tidak hanya menyasar pada satu sektor, melainkan serangan komprehensif yang melumpuhkan berbagai lini. Dengan menyita cadangan mata uang digital, AS secara efektif menutup celah yang sering digunakan oleh negara-negara di bawah sanksi untuk bertransaksi di luar sistem perbankan konvensional atau sistem SWIFT yang ketat.

Inflasi 200 Persen: Kehancuran Daya Beli Rakyat

Dampak dari tekanan ekonomi yang dilancarkan AS ini terasa sangat nyata di lapangan. Bessent memaparkan data yang cukup mengejutkan terkait kondisi internal Iran saat ini. Angka inflasi tinggi di negara tersebut dilaporkan telah melonjak tajam hingga menyentuh angka 200 persen. Hal ini mengakibatkan harga barang-barang kebutuhan pokok melambung tinggi ke tingkat yang tidak lagi terjangkau oleh masyarakat umum.

Baca Juga Skandal Under Invoicing: 10 Raksasa Sawit Diduga Manipulasi Ekspor, Negara Rugi Triliunan Rupiah
Skandal Under Invoicing: 10 Raksasa Sawit Diduga Manipulasi Ekspor, Negara Rugi Triliunan Rupiah

Kondisi ini memaksa pemerintah Iran untuk mengambil langkah-langkah darurat, termasuk penggunaan voucher makanan untuk memastikan rakyatnya tidak kelaparan. Sistem distribusi bantuan ini menjadi bukti betapa rapuhnya kedaulatan ekonomi mereka di bawah tekanan sanksi yang bertubi-tubi. Selain masalah pangan, akses informasi pun mulai dibatasi secara drastis dengan adanya pemutusan koneksi internet di berbagai wilayah guna meredam potensi gejolak sosial akibat krisis ekonomi ini.

Ketidakstabilan Aparat Keamanan dan Pelayanan Publik

Salah satu poin paling krusial yang disampaikan oleh Menteri Keuangan AS adalah mengenai ketidakmampuan pemerintah Iran dalam membayar gaji para pegawainya, termasuk personel militer dan kepolisian. Bessent mengklaim bahwa sekitar 40 hingga 50 persen dari total pasukan militer Iran saat ini tidak menerima gaji mereka tepat waktu atau bahkan sama sekali tidak dibayar.

Baca Juga Waspada! Modus Penipuan Terbaru Berkedok Tebak Gambar Hingga Nonton Drama China Mulai Menjamur
Waspada! Modus Penipuan Terbaru Berkedok Tebak Gambar Hingga Nonton Drama China Mulai Menjamur

Dampaknya sangat sistemik; banyak petugas polisi yang dilaporkan tidak lagi melapor ke kantor polisi karena kehilangan motivasi serta kebutuhan mendesak untuk mencari penghidupan lain. Ketidakmampuan negara dalam menjamin kesejahteraan aparat keamanan adalah sinyal merah bagi stabilitas nasional sebuah negara. Jika aparat penegak hukum dan militer tidak lagi loyal karena masalah perut, maka risiko disintegrasi internal menjadi ancaman yang nyata.

Perburuan Aset Mewah di Eropa: Kolaborasi Transatlantik

Tidak berhenti pada mata uang digital, Amerika Serikat juga memperluas cakupan perburuannya ke aset-aset fisik yang dimiliki oleh entitas atau individu yang terkait dengan rezim Teheran. Dengan bekerja sama erat bersama sekutu-sekutu di Eropa, AS mulai mengidentifikasi dan menyita berbagai properti mewah, mulai dari villa, rumah mewah, hingga aset perbankan yang tersebar di benua biru tersebut.

Baca Juga Menjaga Dapur Tetap Ngebul: Strategi Bank Indonesia Mengawal Stabilitas Pangan dari Ladang Hingga Meja Makan
Menjaga Dapur Tetap Ngebul: Strategi Bank Indonesia Mengawal Stabilitas Pangan dari Ladang Hingga Meja Makan

“Kami bekerja sama dengan sekutu kami di seluruh Eropa untuk merebut villa, rumah, dan berbagai properti berharga lainnya. Kami percaya bahwa uang ini adalah aset yang dicuri dari rakyat Iran dan digunakan untuk kepentingan elit penguasa secara tidak sah,” pungkas Bessent dengan nada tegas. Langkah kolaboratif ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap Iran bersifat global dan tidak menyisakan ruang aman bagi mereka untuk menyembunyikan kekayaan di luar negeri.

Masa Depan Ekonomi Iran di Tengah Tekanan Global

Krisis yang melanda Iran saat ini menjadi cermin betapa kuatnya pengaruh instrumen finansial dalam diplomasi ekonomi modern. Dengan disitanya aset kripto senilai belasan triliun rupiah, ruang gerak Teheran dalam melakukan manuver ekonomi internasional menjadi sangat terbatas. Kripto, yang awalnya dianggap sebagai pelarian aman dari sanksi, ternyata tetap dapat dilacak dan disita oleh otoritas yang memiliki teknologi intelijen mumpuni.

Kini, tantangan terbesar bagi Iran adalah bagaimana mempertahankan stabilitas domestik di tengah badai inflasi dan hilangnya kepercayaan dari aparat keamanan sendiri. Di sisi lain, komunitas internasional terus memantau apakah langkah drastis yang diambil oleh Amerika Serikat ini akan membawa Iran ke meja perundingan atau justru memicu eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.

Penyitaan aset ini bukan sekadar soal angka, melainkan pesan politik yang kuat bahwa transparansi dalam ekosistem digital kini menjadi medan tempur baru dalam pertarungan supremasi global. RadarLokal akan terus memantau perkembangan situasi ini untuk memberikan informasi terkini mengenai dampak ekonomi yang ditimbulkannya terhadap pasar global.

Sarah Amalia

Sarah Amalia

Analis ekonomi muda yang hobi membedah tren pasar dan strategi UMKM. Pengisi utama kolom Radar Finance.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *