Curahan Hati Ruben Onsu: Saat Darah Daging Terasa Jauh dan ‘Orang Asing’ Begitu Dekat

Nadia Safira | RADAR LOKAL
01 Jun 2026, 20:11 WIB
Curahan Hati Ruben Onsu: Saat Darah Daging Terasa Jauh dan 'Orang Asing' Begitu Dekat

RadarLokal — Kabar mengejutkan datang dari dunia hiburan tanah air, di mana keretakan hubungan pasca-perceraian antara Ruben Onsu dan Sarwendah kini memasuki babak baru yang jauh lebih emosional. Bukan sekadar persoalan harta gono-gini, namun inti dari konflik ini menyentuh aspek paling fundamental dalam sebuah keluarga: hubungan antara ayah dan anak-anaknya. Ruben Onsu secara mengejutkan memutuskan untuk menghentikan aliran nafkah, sebuah langkah yang bukan diambil karena ketidakmampuan finansial, melainkan sebagai bentuk protes keras atas sulitnya akses untuk bertemu dengan buah hatinya sendiri.

Protes Diam Melalui Penghentian Nafkah

Langkah Ruben Onsu menghentikan nafkah bagi mantan istrinya, Sarwendah, memicu diskursus publik yang cukup luas. Melalui kuasa hukumnya, Minola Sebayang, terungkap bahwa keputusan ini adalah sebuah pesan simbolis. Ruben merasa ada ketidakadilan yang nyata dalam pembagian waktu dan akses terhadap anak-anak. Bagi Ruben, memberikan dukungan finansial adalah kewajiban, namun mendapatkan waktu berkualitas dengan anak adalah hak asasi yang tak boleh dinegosiasikan.

Baca Juga Buntut Foto Hijab Editan, Tessa Kaunang Layangkan Somasi Tegas Terhadap Sandy Tumiwa
Buntut Foto Hijab Editan, Tessa Kaunang Layangkan Somasi Tegas Terhadap Sandy Tumiwa

Dalam banyak kasus perceraian selebriti, masalah uang sering kali menjadi tameng untuk menutupi isu yang lebih dalam. Namun, bagi presenter berusia 42 tahun ini, masalah utamanya adalah aksesibilitas. Minola menegaskan bahwa kliennya merasa hak-haknya sebagai ayah kandung seperti dikebiri oleh berbagai alasan teknis dan argumentasi yang seolah sengaja diciptakan untuk menjaga jarak antara Ruben dan anak-anaknya.

Kesenjangan Akses: Ayah Kandung vs Orang Luar

Salah satu poin paling sensitif yang diangkat oleh pihak Ruben Onsu adalah kehadiran sosok Giorgio Antonio di lingkaran terdekat Sarwendah. Ruben mencermati adanya disparitas atau ketimpangan perlakuan. Di satu sisi, dirinya sebagai ayah kandung yang memiliki ikatan darah sah harus berjuang ekstra keras hanya untuk sekadar bertemu sesuai jadwal. Di sisi lain, ia melihat pihak luar yang tidak memiliki hubungan darah justru diberikan keleluasaan luar biasa dalam berinteraksi dengan anak-anaknya.

Baca Juga Kisah Pilu Dede Sunandar: Di Balik Keretakan Rumah Tangga 12 Tahun dan Perjuangan Melawan Badai Ekonomi
Kisah Pilu Dede Sunandar: Di Balik Keretakan Rumah Tangga 12 Tahun dan Perjuangan Melawan Badai Ekonomi

“Porsi ayah kandung yang sudah diatur dalam perjanjian tidak dilaksanakan dengan berbagai macam alasan, tapi orang yang tidak memiliki hubungan darah justru diberikan keleluasaan,” ujar Minola Sebayang dengan nada tegas. Narasi ini menggambarkan betapa Ruben merasa posisinya sebagai figur pelindung utama mulai tergeser oleh dinamika baru di lingkungan mantan istrinya tersebut. Meskipun Ruben menegaskan ini bukan soal cemburu buta, namun ini adalah soal menjaga hak asuh anak dan martabat seorang ayah.

Ketakutan Terbesar: Menjadi Asing bagi Anak Sendiri

Secara psikologis, apa yang dialami Ruben Onsu adalah ketakutan akan fenomena ‘alienasi orang tua’. Ini adalah kondisi di mana salah satu orang tua merasa sengaja dijauhkan dari anak-anaknya hingga anak-anak tersebut merasa asing atau bahkan memusuhi orang tua kandungnya sendiri. Ruben khawatir jika interaksi yang terus menerus dibatasi dan adanya potensi penyampaian informasi yang bias, akan membuat anak-anaknya memiliki persepsi buruk tentang dirinya.

Baca Juga Visi Bisnis Masa Depan Betrand Peto: Ingin Berkolaborasi dengan Ruben Onsu dan Rahasia Kedekatan di Balik Dapur
Visi Bisnis Masa Depan Betrand Peto: Ingin Berkolaborasi dengan Ruben Onsu dan Rahasia Kedekatan di Balik Dapur

“Yang menjadi masalah kan kalau kemudian orang tua kandung dibenci karena adanya suatu interaksi yang salah, informasi yang salah, dan tidak diberikan waktu untuk saling mendekat akhirnya menjauh. Makanya ayah terasa orang asing, orang asing terasa ayah. Ini yang harusnya dicegah,” tutur Minola lagi. Kekhawatiran ini sangat beralasan mengingat anak-anak masih dalam masa pertumbuhan di mana figur ayah sangat krusial bagi pembentukan karakter mereka. Jika ruang untuk komunikasi keluarga ditutup, maka luka psikologis pada anak bisa menjadi permanen.

Janji Pengadilan yang Terabaikan

Berdasarkan kesepakatan pasca-perceraian yang telah disahkan secara hukum, Ruben Onsu seharusnya memiliki waktu kunjungan sekitar tiga hingga empat hari dalam seminggu. Namun, kenyataan di lapangan berkata lain. Ruben mengaku telah melampirkan bukti-bukti komunikasinya yang menunjukkan betapa sulitnya merealisasikan jadwal tersebut. Upaya diplomasi secara mandiri tampaknya menemui jalan buntu, sehingga Ruben terpaksa menyerahkan persoalan ini kembali ke meja hukum.

Baca Juga Kabar Terbaru Calvin Dores: Perjuangan Putra Sang Legenda Melawan Serangan Jantung di Meja Perawatan
Kabar Terbaru Calvin Dores: Perjuangan Putra Sang Legenda Melawan Serangan Jantung di Meja Perawatan

Ruben menekankan bahwa ia hanya menuntut apa yang sudah menjadi haknya sesuai keputusan pengadilan. Ketidakhadirannya di sisi anak-anak bukan karena kesibukan pekerjaan semata, melainkan karena hambatan-hambatan yang ia temui di lapangan. Situasi ini menunjukkan betapa peliknya urusan hukum keluarga di Indonesia ketika salah satu pihak tidak menunjukkan itikad baik untuk bekerja sama demi kepentingan terbaik anak.

Persoalan Nafkah: Enam Bulan vs Belasan Tahun Dedikasi

Menanggapi tudingan bahwa dirinya lalai dalam memberikan nafkah, Ruben Onsu angkat bicara dengan nada yang cukup getir. Ia merasa tidak adil jika kontribusinya selama bertahun-tahun dalam membangun kesejahteraan keluarga hanya dinilai buruk berdasarkan enam bulan terakhir. Selama ini, Ruben dikenal sebagai pekerja keras yang mendedikasikan seluruh keringatnya untuk istri dan anak-anaknya.

Baca Juga Kisah Pilu Hera: Trauma Mendalam ART di Tengah Pusaran Konflik Hukum dengan Erin Taulany
Kisah Pilu Hera: Trauma Mendalam ART di Tengah Pusaran Konflik Hukum dengan Erin Taulany

“Hanya dinilai dari 6 bulan terakhir, sementara keringat saya selama bertahun-tahun sebelumnya ke mana?” tanya Ruben retoris. Ia merasa seolah-olah seluruh pengabdiannya sebagai kepala rumah tangga selama ini dihapus begitu saja hanya karena ia menggunakan hak ‘protes’ finansialnya demi mendapatkan perhatian atas masalah yang lebih besar, yakni pertemuan dengan anak-anak. Bagi Ruben, narasi yang berkembang di publik seolah menyudutkannya sebagai pihak yang tidak bertanggung jawab, padahal kenyataannya jauh lebih kompleks.

Ultimatum Ruben: Siap Ambil Alih Tanggung Jawab Penuh

Puncak dari kekecewaan Ruben Onsu meledak melalui sebuah pernyataan tegas yang terdengar seperti ultimatum. Jika memang pihak Sarwendah merasa terbebani atau tidak sanggup lagi mengelola dinamika yang ada, termasuk urusan pembiayaan dan pengasuhan anak tanpa menghalangi hak ayah, maka Ruben menyatakan kesiapannya untuk mengambil alih segalanya secara total.

“Ya sudah, kalau memang tidak sanggup, serahkan saja ke saya. Saya yang membesarkan,” tegas Ruben Onsu. Pernyataan ini bukan sekadar gertakan, melainkan manifestasi dari rasa cinta dan tanggung jawab seorang ayah yang merasa terdesak. Ruben ingin memastikan bahwa anak-anaknya tumbuh dalam lingkungan yang sehat, di mana mereka tidak perlu kehilangan kasih sayang dari salah satu orang tua kandung hanya karena ego orang dewasa di sekeliling mereka.

Dinamika Sosial dan Dampaknya bagi Anak

Kasus Ruben Onsu ini menjadi pengingat bagi banyak orang tentang pentingnya menjaga stabilitas emosional anak di tengah perceraian artis yang sering kali menjadi konsumsi publik. Anak-anak seharusnya tidak dijadikan alat tawar-menawar atau senjata untuk menyakiti pihak lain. Kedewasaan dalam berkomunikasi sangat diperlukan agar transisi dari keluarga utuh menjadi keluarga yang terpisah tidak menghancurkan mentalitas anak.

Masyarakat kini menantikan bagaimana jalan tengah yang akan diambil oleh kedua belah pihak. Apakah Sarwendah akan melunakkan posisinya dan memberikan ruang yang lebih luas bagi Ruben, ataukah perseteruan ini akan berujung kembali di pengadilan untuk memperebutkan hak asuh secara penuh? Yang pasti, publik berharap agar kepentingan terbaik anak-anak selalu menjadi prioritas utama di atas segala konflik yang terjadi di antara orang tuanya.

Drama Ruben Onsu dan Sarwendah ini memberikan pelajaran berharga bahwa dalam perceraian, yang berpisah hanyalah status suami-istri, namun status sebagai ayah dan ibu adalah abadi. Mengabaikan peran salah satu pihak hanya akan meninggalkan celah kosong dalam pertumbuhan jiwa sang anak, sebuah celah yang tidak akan pernah bisa diisi oleh siapapun, termasuk oleh mereka yang tidak memiliki ikatan darah.

Nadia Safira

Nadia Safira

Content creator yang memiliki radar tajam terhadap isu viral dan gaya hidup. Menjaga konten Radar Hot tetap segar dan menghibur.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *