Transformasi Hidup Rigen Rakelna: Belajar dari Meja Operasi Menuju Gaya Hidup Sehat yang Konsisten
RadarLokal — Dunia hiburan Tanah Air seringkali menuntut para pelakunya untuk bekerja dengan jam terbang tinggi, yang terkadang membuat aspek kesehatan terabaikan. Hal ini pulalah yang sempat dirasakan oleh komedian ternama, Rigen Rakelna. Namun, sebuah peristiwa medis yang cukup serius baru-baru ini mengubah total perspektif sang juara Stand Up Comedy Indonesia tersebut terhadap makna tubuh yang sehat.
Pasca menjalani operasi batu ginjal yang sempat menghentikan aktivitasnya sejenak, Rigen kini muncul dengan semangat baru. Kesadaran untuk lebih menyayangi diri sendiri bukan lagi sekadar wacana, melainkan komitmen nyata yang ia jalankan setiap hari. Baginya, kesehatan adalah investasi jangka panjang yang tidak bisa ditawar lagi, terutama setelah ia merasakan sendiri dinginnya meja operasi.
Pesan dari Ruang Operasi: Titik Balik Rigen Rakelna
Ditemui di kawasan Warung Buncit, Jakarta Selatan, pria bernama asli Muhammad Rizki Rakelna ini berbagi kisah tentang bagaimana penyakit tersebut menjadi alarm keras bagi hidupnya. Menurutnya, pengalaman sakit tersebut memberikan perspektif yang sangat berbeda tentang bagaimana ia seharusnya memperlakukan tubuhnya. Ia menyadari bahwa selama ini ia terlalu abai terhadap tanda-tanda kelelahan dan pola hidup yang berantakan.
“Iya pastilah, sekarang harus lebih care sama diri sendiri. Karena kan kemarin juga baru banget selesai operasi batu ginjal,” ujar Rigen dengan nada serius yang jarang diperlihatkannya di layar kaca. Operasi tersebut bukan hanya sekadar prosedur medis, melainkan sebuah teguran dari Tuhan dan juga para tenaga medis yang menanganinya agar ia segera melakukan reformasi total pada gaya hidup sehat yang dijalaninya.
Rigen menceritakan bahwa dokter yang menanganinya memberikan pesan yang sangat menohok. Ia diingatkan bahwa jika pola hidupnya tidak segera diperbaiki, maka masalah kesehatan yang lebih serius akan terus mengintai di masa depan. Teguran dokter tersebut menjadi katalisator utama bagi Rigen untuk mulai bergerak dan tidak lagi membiarkan tubuhnya dalam kondisi pasif tanpa aktivitas fisik.
Perjalanan Menaklukkan Angka 116 Kilogram
Melihat sosok Rigen saat ini yang tampak lebih bugar, mungkin banyak yang lupa bahwa ia pernah berjuang melawan obesitas yang cukup mengkhawatirkan. Dalam kilas balik perjalanan fisiknya, Rigen mengakui bahwa berat badannya pernah menyentuh titik tertinggi yang membuatnya merasa sangat cepat lelah dan tidak produktif.
“Pernah dulu berat badan saya itu di atas 100 kilogram. Sekitar tahun 2020, 2021 sampai 2023, angka di timbangan itu pernah menembus 116 kilogram,” kenangnya. Angka tersebut tentu bukan jumlah yang ideal bagi pria seusianya, mengingat risiko penyakit komorbid yang bisa muncul kapan saja. Namun, usaha kerasnya mulai membuahkan hasil sejak tahun 2024. Melalui program latihan yang ia bangun perlahan, berat badannya kini sudah berada di kisaran 90-an kilogram, sebuah pencapaian yang patut diapresiasi bagi seseorang yang sebelumnya jarang menyentuh olahraga.
Meskipun telah berhasil menurunkan berat badan secara signifikan, Rigen mengaku tidak melakukan diet ekstrem yang menyiksa. Ia lebih memilih untuk mendengarkan kebutuhan tubuhnya. Menariknya, hasil pemeriksaan medis menunjukkan bahwa meski ia memiliki riwayat berat badan berlebih, kondisi organ dalamnya masih dalam batas aman.
Menjaga Keseimbangan Tanpa Pantangan Ketat
Salah satu hal yang unik dari transformasi Rigen adalah pendekatannya yang tidak kaku. Banyak orang yang setelah sakit langsung melakukan diet ketat yang justru terkadang membuat stres secara mental. Namun, Rigen memilih jalan tengah. Ia tetap menikmati makanan yang ia sukai, namun dengan frekuensi dan porsi yang lebih terkontrol, serta diimbangi dengan aktivitas fisik yang rutin.
“Sampai saat ini kalau soal makanan, dari dokter cek darah semuanya so far masih aman-aman saja. Kolesterol aman, gula juga aman. Memang ada sedikit asam urat, tapi itu tidak terlalu mengganggu aktivitas harian. Jadi saya tidak harus ngerem total atau tidak makan sama sekali. Masih bisa menikmati makanan, asal tahu batas,” jelas pria berusia 33 tahun tersebut.
Kejujuran Rigen ini menunjukkan bahwa untuk memulai hidup sehat, seseorang tidak harus langsung menjadi sosok yang sempurna dalam hal nutrisi. Yang terpenting adalah kesadaran untuk memantau kondisi kesehatan secara berkala melalui medis dan mengetahui kapasitas diri sendiri. Ia lebih memprioritaskan konsistensi bergerak daripada pembatasan kalori yang berlebihan yang sulit dipertahankan dalam jangka panjang.
Filosofi ‘Minimal Gerak’ ala Sang Komedian
Bagi Rigen, kunci dari keberhasilannya memulai gaya hidup baru ini adalah dengan melakukan hal-hal yang ia sukai terlebih dahulu. Ia tidak ingin olahraga menjadi beban baru di tengah kesibukannya yang padat di dunia hiburan. Oleh karena itu, ia memilih bersepeda sebagai hobi sekaligus sarana pembakar kalori utamanya.
“Sekarang saya rutin sepedaan, ya keliling-keliling komplek saja yang simpel. Makanya kampanye yang saya bawa itu istilahnya ‘minimal geraklah’. Jangan diam saja di rumah. Minimal ada pergerakan, entah itu main sepeda atau melakukan hobi lain seperti main padel atau sekadar jalan kaki,” tuturnya. Pesan ini ditujukan bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk para penggemarnya yang seringkali merasa malas untuk mulai berolahraga karena membayangkan latihan yang berat.
Selain bersepeda, Rigen juga mulai memberanikan diri untuk masuk ke pusat kebugaran atau gym. Meskipun ia mengakui bahwa ia masih dalam tahap penyesuaian dan seringkali merasa canggung, ia tetap berusaha hadir dan mencoba berbagai peralatan yang ada. Baginya, datang ke gym adalah kemenangan kecil melawan rasa malas yang seringkali hinggap di pagi hari.
Motivasi Internal: Kekuatan dari Dalam Diri
Satu fakta menarik yang diungkapkan Rigen adalah bahwa seluruh perubahan ini murni berasal dari keinginannya sendiri. Biasanya, seseorang mulai berolahraga karena dorongan atau paksaan dari pasangan maupun keluarga. Namun, dalam kasus Rigen, sang istri justru memberikan kebebasan penuh kepadanya.
“Istri saya sebenarnya bukan tipe yang menuntut saya harus olahraga ini-itu. Tidak ada tekanan dari mana-mana, memang keinginan dari dalam diri sendiri karena sudah merasa tubuh ini butuh perhatian lebih pascasakit kemarin,” ungkapnya. Motivasi internal seperti inilah yang biasanya bertahan lebih lama dan lebih kuat dibandingkan jika seseorang melakukan sesuatu hanya karena merasa tertekan oleh lingkungan sosial.
Kesadaran yang muncul dari rasa takut akan kehilangan kesehatan merupakan dorongan yang sangat kuat. Rigen menyadari bahwa sebagai kepala keluarga dan figur publik, ia memiliki tanggung jawab untuk tetap sehat agar bisa terus berkarya dan menemani tumbuh kembang anak-anaknya. Berita tentang kehamilan anak ketiganya beberapa waktu lalu juga menjadi tambahan motivasi baginya untuk menjadi sosok ayah yang bugar dan sigap.
Harapan untuk Masa Depan yang Lebih Bugar
Rigen Rakelna menutup ceritanya dengan sebuah harapan sederhana namun mendalam. Ia ingin agar rutinitas yang ia bangun saat ini bisa menjadi sebuah kebiasaan permanen, bukan sekadar euforia sesaat setelah sembuh dari sakit. Konsistensi adalah musuh terbesar sekaligus sekutu terbaik dalam perjalanan menuju kesehatan yang optimal.
“Mudah-mudahan saya bisa terus konsisten, mudah-mudahan saya semakin suka dengan gaya hidup ini. Ya, harusnya bisa lah ya,” tutupnya dengan optimisme. Kisah Rigen ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa tidak ada kata terlambat untuk mulai peduli pada kesehatan tubuh. Seringkali kita baru menghargai kesehatan saat ia telah direnggut, namun Rigen membuktikan bahwa kita bisa bangkit kembali dan membangun hidup yang lebih baik setelah mendapatkan teguran dari alam.
Kini, di sela-sela candaannya yang mampu mengocok perut penonton, ada sosok Rigen yang jauh lebih tangguh dan sadar akan pentingnya menjaga raga. Sebuah perjalanan dari meja operasi menuju lintasan sepeda, yang membuktikan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil dan kemauan untuk bergerak.