Badai di Pasar Kripto: Bitcoin Terperosok di Bawah Ambang Psikologis, Akankah Tren Berlanjut?

Sarah Amalia | RADAR LOKAL
25 Jun 2026, 22:11 WIB
Badai di Pasar Kripto: Bitcoin Terperosok di Bawah Ambang Psikologis, Akankah Tren Berlanjut?

RadarLokal — Dunia aset digital kembali diguncang oleh volatilitas ekstrem yang menjadi ciri khasnya. Pada perdagangan Kamis (25/6), raja mata uang kripto, Bitcoin (BTC), mencatatkan koreksi tajam yang membuat para investor dan spekulan menahan napas. Penurunan ini tidak hanya sekadar fluktuasi harian biasa, melainkan sebuah sinyal merah yang mengindikasikan adanya tekanan jual yang masif di pasar global.

Dalam rentang perdagangan intraday, Bitcoin sempat tergelincir hingga menyentuh titik terendahnya di level US$ 58.995. Jika dikonversikan ke mata uang Garuda dengan asumsi kurs Rp 17.947 per dolar AS, angka tersebut setara dengan Rp 1,05 miliar. Angka ini merupakan sebuah pukulan telak, mengingat Bitcoin sempat digadang-gadang akan terus melaju melampaui rekor-rekor sebelumnya di tahun ini.

Baca Juga Badai Polemik Tes CAT Manajer Kopdeskel Merah Putih: Dugaan Glitch Sistem Hingga Desakan Transparansi
Badai Polemik Tes CAT Manajer Kopdeskel Merah Putih: Dugaan Glitch Sistem Hingga Desakan Transparansi

Guncangan Hebat di Level Psikologis

Laporan dari berbagai sumber pasar modal internasional menyebutkan bahwa Bitcoin kini berada dalam posisi yang cukup sulit. Mata uang kripto tertua ini tercatat telah mengalami penyusutan nilai hingga 52% jika dibandingkan dengan titik tertinggi yang pernah dicapai pada tahun lalu. Sepanjang tahun berjalan, Bitcoin seolah-olah sedang mendaki tanjakan terjal hanya untuk sekadar bertahan di atas level psikologis US$ 60.000.

Namun, bagi para pelaku pasar kawakan, penurunan ini barulah dianggap sebagai fenomena “puncak gunung es”. Artinya, ada dinamika yang jauh lebih kompleks dan berisiko di balik angka-angka yang muncul di layar bursa. Untuk memahami lebih dalam mengenai instrumen investasi ini, Anda dapat menelusuri informasi seputar investasi kripto di halaman kami.

Baca Juga Potret Kelam Pasar Padurenan Baru Bekasi: Pusat Ekonomi yang Kini Tercekik Sampah dan Kesunyian
Potret Kelam Pasar Padurenan Baru Bekasi: Pusat Ekonomi yang Kini Tercekik Sampah dan Kesunyian

Dominasi Opsi Put: Isyarat Pesimisme Pasar

Salah satu indikator paling nyata dari kegelisahan investor terlihat pada aktivitas perdagangan di ETF iShares Bitcoin Trust (IBIT). Produk yang dikelola oleh BlackRock ini mencatatkan volume perdagangan opsi yang luar biasa, mencapai hampir 1,1 juta opsi dalam satu hari perdagangan saja. Data dari Cboe LiveVol menunjukkan betapa aktifnya para pemain besar dalam memproteksi posisi mereka atau justru bertaruh pada penurunan lebih lanjut.

Yang menarik sekaligus mengkhawatirkan adalah rasio antara opsi jual (put) dan opsi beli (call). Berdasarkan data dari ThinkOrSwim, volume opsi put tercatat dua kali lipat lebih banyak dibandingkan opsi call. Secara mendetail, para trader memborong 275.000 opsi put, sementara opsi call yang terjual tidak sampai menyentuh angka 129.000. Fenomena ini menunjukkan bahwa mayoritas pelaku pasar saat ini lebih condong pada sentimen bearish atau pesimis terhadap masa depan jangka pendek Bitcoin.

Baca Juga Efisiensi Anggaran di Tengah Lonjakan Harga Minyak: Menilik Nasib WFH ASN di Tangan Purbaya Yudhi Sadewa
Efisiensi Anggaran di Tengah Lonjakan Harga Minyak: Menilik Nasib WFH ASN di Tangan Purbaya Yudhi Sadewa

Aliran Dana dan Taruhan di Balik Layar

Lebih dalam lagi, data dari SpotGamma mengungkapkan bahwa dari total premi senilai US$ 187 juta yang diperdagangkan di instrumen IBIT, sekitar US$ 144 juta di antaranya terkonsentrasi pada opsi put. Ini bukan sekadar angka statistik, melainkan representasi dari uang nyata yang sedang dipertaruhkan untuk mengantisipasi kejatuhan harga lebih dalam. Dari 20 kontrak yang paling aktif diperdagangkan, 19 di antaranya adalah kontrak opsi put.

Kontrak yang paling menjadi primadona adalah opsi put dengan harga pelaksanaan (strike price) di level 32,5 yang akan berakhir pada akhir pekan ini. Tekanan ini telah mendorong harga Bitcoin turun tambahan sekitar 4,5%, memberikan keuntungan instan bagi para spekulan yang sudah mengambil posisi jual sebelumnya. Anda bisa memantau pergerakan harga terkini melalui fitur perdagangan bitcoin di situs kami.

Baca Juga Gema Kicau yang Terhimpit Konflik: Bagaimana Perang Timur Tengah Mengguncang Ekspor Burung Hias Indonesia
Gema Kicau yang Terhimpit Konflik: Bagaimana Perang Timur Tengah Mengguncang Ekspor Burung Hias Indonesia

Volatilitas dan Prediksi Masa Depan

Saat ini, tingkat volatilitas IBIT berada di level 53. Angka ini memberikan gambaran bagi para pelaku pasar bahwa pergerakan harga IBIT diperkirakan akan berfluktuasi sekitar 3% setiap harinya. Namun, jika kita melihat lebih jauh ke depan, tepatnya pada opsi yang jatuh tempo pada 31 Juli mendatang, gambaran masa depan Bitcoin terasa kian abu-abu.

Ada probabilitas sekitar 48% bahwa harga IBIT akan terjun bebas di bawah level US$ 30,5, yang berarti potensi pelemahan sekitar 10% dari posisi saat ini hingga akhir bulan depan. Di sisi lain, peluang untuk terjadinya pembalikan arah (rebound) sebesar 10% memang sedikit lebih tinggi, yakni sekitar 55%. Namun, angka yang hampir seimbang ini mencerminkan ketidakpastian yang sangat tinggi di pasar pasar modal digital.

Baca Juga Kabar Gembira! Rincian Lengkap Diskon Tiket Pesawat dan Kereta Api Selama Libur Sekolah Hingga Nataru
Kabar Gembira! Rincian Lengkap Diskon Tiket Pesawat dan Kereta Api Selama Libur Sekolah Hingga Nataru

Sentimen Pasar: Bitcoin vs Dominasi AI

Sentimen negatif yang menyelimuti pasar kripto tidak lepas dari pengaruh sektor teknologi lainnya. Alexander Blume, CEO dari Two Prime, memberikan analisis tajam mengenai situasi ini. Menurutnya, Bitcoin saat ini sedang menghadapi persaingan sengit dalam memperebutkan atensi investor, terutama dengan performa luar biasa dari sektor teknologi AI yang sedang naik daun.

“Di tengah kinerja saham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI) yang luar biasa, Bitcoin seolah kehilangan momentumnya untuk menarik perhatian investor,” ungkap Blume. Ia juga menambahkan bahwa perilaku strategi pasar yang mulai goyah kembali memunculkan trauma lama bagi para investor yang pernah merasakan gejolak hebat di masa lalu. Ketakutan akan terjadinya ledakan gelembung (bubble) menjadi alasan utama mengapa banyak investor memilih untuk bersikap defensif.

Strategi Investor di Tengah Ketidakpastian

Bagi para investor ritel, kondisi pasar yang sedang “berdarah” ini tentu menimbulkan kecemasan. Banyak yang mulai mempertanyakan apakah Bitcoin masih layak dijadikan sebagai aset pelindung nilai (hedging) atau justru telah berubah menjadi aset spekulatif yang sangat berisiko. Aktivitas pembelian kontrak put yang masif menunjukkan bahwa para pemain institusional pun kini lebih memilih untuk membayar biaya asuransi (dalam bentuk premi opsi put) demi mengamankan portofolio mereka.

Penting bagi setiap pelaku pasar untuk tetap melakukan riset mendalam sebelum mengambil keputusan. Dalam dunia kripto yang bergerak 24/7, informasi yang akurat dan tepat waktu adalah kunci. Jangan sampai terjebak dalam fenomena FOMO (Fear of Missing Out) atau sebaliknya, FUD (Fear, Uncertainty, and Doubt) yang seringkali dihembuskan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab.

Kesimpulannya, perjalanan Bitcoin menuju akhir tahun ini tampaknya akan dipenuhi dengan tantangan berat. Tekanan dari sisi makroekonomi, persaingan dengan sektor teknologi lainnya, serta dominasi sentimen bearish di pasar opsi menjadi faktor-faktor yang perlu diwaspadai. Tetap pantau perkembangan terbaru dan berita ekonomi global hanya di RadarLokal untuk mendapatkan perspektif yang jernih di tengah hiruk-pikuk dunia investasi digital.

Sarah Amalia

Sarah Amalia

Analis ekonomi muda yang hobi membedah tren pasar dan strategi UMKM. Pengisi utama kolom Radar Finance.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *