Buntut Kontroversi Sindiran terhadap Pandawara, Bigmo Resmi Berpisah dengan Team RRQ: Pelajaran Mahal di Balik Profesi Brand Ambassador
RadarLokal — Jagat media sosial tanah air kembali diguncang oleh kabar mengejutkan yang datang dari ranah industri kreatif dan esports. Kreator konten yang dikenal dengan nama Muhammad Jannah, atau yang lebih akrab disapa Bigmo, kini tengah menjadi sorotan tajam publik. Bukan karena prestasi terbaru, melainkan karena pengumuman pemutusan hubungan kerja yang cukup mendadak antara dirinya dengan salah satu organisasi esports raksasa di Indonesia, Team RRQ.
Keputusan pahit ini diduga kuat merupakan imbas langsung dari aksi Bigmo yang melontarkan sindiran kontroversial terhadap kelompok aktivis lingkungan Pandawara Group dan kolektif AAA Clan. Dalam sebuah video yang sempat viral di berbagai platform, pernyataan Bigmo dianggap melampaui batas dan mencederai integritas pihak-pihak yang telah mengharumkan nama bangsa di kancah internasional. Langkah tegas yang diambil oleh manajemen RRQ ini seolah menegaskan bahwa etika dan sikap di ruang publik adalah harga mati bagi siapa pun yang menyandang status sebagai representasi merek.
Guncangan di Tubuh Sang Raja: Akhir Kerja Sama RRQ dan Bigmo
Kabar mengenai didepaknya Bigmo dari posisi brand ambassador Team RRQ pertama kali mencuat melalui pengumuman resmi yang diunggah di akun Instagram organisasi tersebut. Pada Jumat, 29 Mei 2026, pihak manajemen RRQ memberikan pernyataan yang cukup lugas namun sarat makna mengenai berakhirnya hubungan profesional mereka dengan sang kreator.
“Hi Kingdom. Di kesempatan ini minQ menginformasikan bahwa per hari ini, kerja sama RRQ dan Bigmo sebagai brand ambassador sudah mencapai titik akhir,” tulis pernyataan resmi tersebut. Istilah “titik akhir” ini langsung menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan penggemar setia RRQ yang dikenal dengan sebutan Kingdom. Meskipun dalam unggahan tersebut tidak dirinci secara eksplisit alasan di balik perpisahan tersebut, publik sudah bisa mencium adanya keterkaitan erat dengan kontroversi media sosial yang melibatkan Bigmo beberapa hari sebelumnya.
Sebelum pengumuman resmi ini dirilis, rumor mengenai hengkangnya Bigmo sebenarnya sudah berembus kencang di forum-forum diskusi netizen. Banyak yang berspekulasi bahwa manajemen RRQ, yang dikenal sangat menjaga citra positif sebagai “Raja dari Segala Raja”, tidak ingin terseret dalam pusaran opini negatif yang ditimbulkan oleh perilaku salah satu personelnya.
Pemicu Konflik: Tuduhan Terhadap Penghargaan Guinness World Record
Akar dari permasalahan ini bermula ketika Bigmo mengunggah konten yang diduga menyindir keberhasilan Pandawara Group dan AAA Clan. Sebagaimana diketahui, Pandawara Group baru-baru ini mendapatkan apresiasi luar biasa melalui penghargaan Guinness World Record atas aksi konsisten mereka dalam membersihkan sampah di berbagai wilayah di Indonesia. Prestasi ini bukan hanya membanggakan, tetapi juga dianggap sebagai simbol harapan bagi gerakan lingkungan di tanah air.
Namun, dalam sebuah video yang kemudian tersebar luas, Bigmo justru melontarkan pernyataan yang bernada meremehkan. Ia secara berani menyebut bahwa penghargaan bergengsi sekelas Guinness World Records bisa didapatkan melalui jalur transaksional alias bisa dibeli. Pernyataan ini sontak memicu amarah publik, mengingat dedikasi Pandawara Group yang selama ini terjun langsung ke selokan dan sungai-sungai kotor demi perubahan lingkungan.
Narasi yang dibangun oleh Bigmo dianggap sebagai penghinaan terhadap kerja keras dan ketulusan para kreator konten yang fokus pada isu sosial. Bagi banyak orang, menuduh sebuah lembaga rekor dunia bisa disuap tanpa bukti yang kuat adalah tindakan yang sangat tidak bertanggung jawab, terutama bagi seseorang yang memiliki pengikut dalam jumlah besar.
Respons Menohok dari Pandawara Group dan Reza Arap
Tidak butuh waktu lama bagi pihak-pihak yang merasa tersinggung untuk memberikan reaksi. Pandawara Group, yang biasanya dikenal kalem dan fokus pada aksi nyata, akhirnya buka suara melalui unggahan yang merespons tuduhan Bigmo. Mereka secara tegas membela integritas penghargaan yang mereka terima.
“Jangan mengotori pihak tertentu dengan menuduh penghargaan dunia ini dengan istilah ‘bisa dibeli ya’,” tulis perwakilan Pandawara Group dalam pernyataan resminya. Respons ini mendapat dukungan masif dari netizen yang merasa bahwa aksi Pandawara memang layak mendapatkan apresiasi tertinggi, bukan malah difitnah.
Tak hanya Pandawara, salah satu pentolan AAA Clan yang juga merupakan sosok berpengaruh di industri hiburan dan gaming Indonesia, Reza Arap, ikut memberikan komentar pedas. Dengan gaya khasnya yang sarkastik, Reza Arap menuliskan komentar di unggahan Pandawara. “Beli ya Bang? Congrats btw Pandawara,” tulisnya, yang seolah mengejek balik pernyataan Bigmo yang tidak berdasar tersebut.
Rentetan Kontroversi: Bukan Kali Pertama bagi Bigmo
Menarik untuk dicatat bahwa insiden dengan Pandawara dan AAA Clan ini bukanlah satu-satunya masalah hukum atau kontroversi yang pernah membelit Bigmo. Sebelumnya, ia juga sempat berurusan dengan hukum setelah dilaporkan oleh Azizah Salsha terkait konten yang dianggap merugikan. Meskipun pada akhirnya ia sempat meminta maaf dan berjanji untuk tidak lagi memproduksi konten negatif, tampaknya kebiasaan tersebut sulit untuk dihilangkan sepenuhnya.
Kasus-kasus sebelumnya sebenarnya sudah menjadi lampu kuning bagi karier Bigmo. Namun, keterlibatannya dalam menyindir figur publik yang memiliki reputasi bersih seperti Pandawara Group tampaknya menjadi titik nadir yang membuat manajemen RRQ tidak punya pilihan lain selain mengambil tindakan pemutusan kerja sama. Dalam dunia branding, menjaga asosiasi dengan sosok yang kerap memicu sentimen negatif publik adalah risiko besar bagi pertumbuhan sponsor dan loyalitas penggemar.
Pelajaran Berharga bagi Ekosistem Kreator Konten Indonesia
Kasus perpisahan Bigmo dan Team RRQ ini menjadi cermin bagi seluruh influencer Indonesia. Menjadi seorang Brand Ambassador bukan sekadar soal popularitas atau jumlah followers, melainkan juga soal integritas dan kemampuan menjaga etika berkomunikasi. Sebuah brand besar menginvestasikan reputasi mereka pada sosok BA, sehingga setiap kata yang keluar dari mulut sang BA akan dianggap mencerminkan nilai-nilai brand tersebut.
Di sisi lain, apresiasi terhadap konten-konten yang bersifat edukatif dan berdampak sosial, seperti yang dilakukan oleh Pandawara Group, harus terus dijaga dari upaya degradasi oleh pihak-pihak yang hanya mengejar engagement lewat jalur kontroversi. Komunitas digital saat ini sudah jauh lebih cerdas dalam memilah mana konten yang berkualitas dan mana yang hanya sekadar mencari sensasi dengan cara menjatuhkan orang lain.
Hingga artikel ini diturunkan, belum ada pernyataan lebih lanjut dari Bigmo mengenai rencana kariernya ke depan setelah tidak lagi menjadi bagian dari RRQ. Namun yang pasti, industri esports dan kreatif Indonesia akan terus bergerak maju dengan standar etika yang semakin ketat, di mana sikap saling menghormati antar kreator menjadi kunci utama dalam menjaga ekosistem yang sehat.
Ke depannya, para penggemar berharap agar kejadian serupa tidak terulang kembali. Pihak RRQ sendiri kemungkinan besar akan melakukan seleksi yang lebih ketat dalam memilih sosok baru yang akan mengisi posisi yang ditinggalkan Bigmo, memastikan bahwa calon BA berikutnya benar-benar sejalan dengan visi dan misi tim dalam membawa pengaruh positif bagi masyarakat luas.