Fenomena ‘Makan Utang’: Krisis Tabungan dan Jeratan Pinjol yang Menghantui Masyarakat Indonesia

Sarah Amalia | RADAR LOKAL
12 Mei 2026, 06:12 WIB
Fenomena 'Makan Utang': Krisis Tabungan dan Jeratan Pinjol yang Menghantui Masyarakat Indonesia

RadarLokal — Fenomena ekonomi di Indonesia kini tengah memasuki babak baru yang cukup mengkhawatirkan. Pergeseran pola bertahan hidup masyarakat, terutama di lapisan menengah ke bawah, menunjukkan sinyal merah yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Jika beberapa tahun lalu kita sering mendengar istilah ‘makan tabungan’ untuk menyiasati kenaikan harga kebutuhan, kini kondisinya telah bermutasi menjadi fase yang lebih berisiko: krisis ‘makan utang’ melalui skema gali lubang tutup lubang.

Transformasi Bertahan Hidup: Dari Tabungan ke Pinjaman Digital

Laporan terbaru yang dihimpun tim redaksi menunjukkan adanya perubahan drastis dalam cara masyarakat mengelola ketidakseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran. Ketidakmampuan untuk menabung bukan lagi sekadar hambatan finansial, melainkan telah menjadi pemicu ketergantungan pada layanan pinjaman online (pinjol) dan fitur bayar tunda atau buy now pay later (BNPL).

Baca Juga Harga Emas Antam Terjun Bebas: Analisis Mendalam Penurunan Signifikan dan Strategi Investasi Hari Ini
Harga Emas Antam Terjun Bebas: Analisis Mendalam Penurunan Signifikan dan Strategi Investasi Hari Ini

Ketergantungan ini bukan tanpa alasan. Sulitnya mengakses kredit perbankan konvensional bagi masyarakat dengan profil risiko menengah ke bawah membuat platform digital menjadi oase instan, meski di balik itu tersimpan bunga yang mencekik. Kondisi ekonomi masyarakat yang semakin terjepit membuat instrumen utang ini tidak lagi digunakan untuk kebutuhan mendesak, melainkan sebagai alat penyambung hidup sehari-hari.

Lonjakan Utang Pinjol dan Paylater yang Fantastis

Berdasarkan data resmi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), angka outstanding utang pada layanan peer-to-peer (P2P) lending atau pinjol mencatat rekor baru. Hingga Februari 2026, total utang masyarakat yang masih berjalan mencapai angka Rp 100,69 triliun. Angka ini mencerminkan kenaikan sebesar 25,75% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).

Baca Juga Waspada! Modus Penipuan Terbaru Berkedok Tebak Gambar Hingga Nonton Drama China Mulai Menjamur
Waspada! Modus Penipuan Terbaru Berkedok Tebak Gambar Hingga Nonton Drama China Mulai Menjamur

Namun, lonjakan yang lebih mengejutkan justru datang dari sektor paylater. PT Pefindo Biro Kredit (IdScore) melaporkan bahwa transaksi BNPL tumbuh luar biasa sebesar 86,7% secara tahunan. Nilainya menyentuh Rp 56,3 triliun pada akhir Februari 2026. Pertumbuhan yang hampir mencapai dua kali lipat ini mengindikasikan bahwa gaya hidup ‘beli sekarang bayar nanti’ telah merasuk hingga ke kebutuhan primer masyarakat.

Analisis Pakar: Mengapa Ini Menjadi Sinyal Bahaya?

Menanggapi tren ini, Tauhid Ahmad, Ekonom Senior dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), memberikan pandangan yang tajam. Menurutnya, pertumbuhan utang yang masif ini adalah indikator nyata bahwa masyarakat sedang dalam kondisi terdesak. Pertumbuhan utang yang tinggi tanpa dibarengi peningkatan pendapatan adalah bom waktu finansial.

Baca Juga Misteri Dolar Lecek di Kwitang: Menelusuri Jejak Pedagang Valas Kaki Lima yang Menantang Arus Modernitas
Misteri Dolar Lecek di Kwitang: Menelusuri Jejak Pedagang Valas Kaki Lima yang Menantang Arus Modernitas

“Pertumbuhan utang yang terus mendaki ini mencerminkan bahwa beban finansial masyarakat semakin berat. Masalah utamanya adalah sebagian besar pinjaman ini bersifat konsumtif, bukan produktif. Masyarakat meminjam bukan untuk modal usaha yang bisa menghasilkan perputaran uang, melainkan untuk menambal lubang konsumsi harian,” ungkap Tauhid saat berbincang dengan RadarLokal.

Lingkaran Setan Gali Lubang Tutup Lubang

Salah satu poin krusial yang disoroti adalah skema ‘gali lubang tutup lubang’. Karena bunga pinjaman digital relatif tinggi dibandingkan kredit bank, masyarakat seringkali terjebak dalam siklus utang yang tidak berujung. Ketika satu pinjaman jatuh tempo dan dana tidak tersedia, solusi tercepat yang diambil adalah membuka pinjaman baru di platform lain untuk melunasi utang sebelumnya.

Baca Juga Menyelami Cuan di Balik Akuarium: Kisah Rizki Fauzi Besarkan Pesona Aquarium Lewat Dukungan KUR BRI
Menyelami Cuan di Balik Akuarium: Kisah Rizki Fauzi Besarkan Pesona Aquarium Lewat Dukungan KUR BRI

“Secara statistik, NPL (Non-Performing Loan) atau tingkat kredit macet mungkin masih terlihat terkendali di mata regulator. Namun, di balik itu, beban bunga yang harus dipikul sangatlah berat. Kondisi ini membuat kesehatan finansial keluarga menjadi rapuh. Mereka tidak pernah benar-benar lepas dari utang, hanya sekadar berpindah dari satu tagihan ke tagihan lainnya,” tambah Tauhid menekankan buruknya manajemen keuangan yang dipaksakan oleh keadaan.

Stagnasi Tabungan Kelas Menengah ke Bawah

Data pendukung lainnya yang memperkuat tesis ‘makan utang’ ini adalah stagnasi jumlah tabungan masyarakat di bawah nominal Rp 100 juta. Hal ini mencerminkan bahwa simpanan masyarakat kecil tidak mengalami pertumbuhan signifikan, atau bahkan cenderung tergerus habis. Kelompok ini adalah kelompok yang paling rentan terhadap guncangan ekonomi sekecil apa pun.

Baca Juga Strategi Bapanas Stabilkan Harga Pangan: 242 Ribu Ton Jagung Siap Diguyur ke Peternak
Strategi Bapanas Stabilkan Harga Pangan: 242 Ribu Ton Jagung Siap Diguyur ke Peternak

Menurut Tauhid, mereka yang memiliki dana cadangan atau tabungan yang cukup pasti akan memilih membayar secara tunai daripada harus menanggung bunga pinjol atau paylater. “Logikanya sederhana, orang yang punya uang tidak akan mau dibebani bunga tambahan jika bisa membayar langsung. Jadi, lonjakan penggunaan paylater ini adalah bukti otentik bahwa mereka memang tidak memiliki uang tunai yang cukup,” jelasnya.

Daya Beli yang Terengah-engah

Menurunnya daya beli masyarakat menjadi akar masalah yang harus segera dicarikan solusinya. Kenaikan harga barang pokok yang tidak sebanding dengan kenaikan upah riil memaksa warga melakukan langkah-langkah ekstrem. Fenomena ini bukan lagi sekadar gaya hidup mewah atau keinginan untuk tampil trendi di media sosial, melainkan upaya murni untuk bisa bertahan hidup hingga akhir bulan.

Jika tren ini dibiarkan terus berlanjut tanpa ada intervensi kebijakan yang tepat, dikhawatirkan akan terjadi kelesuan ekonomi jangka panjang. Konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional bisa goyah karena sebagian besar pendapatan masyarakat tersedot hanya untuk membayar cicilan dan bunga utang.

Membangun Literasi dan Perlindungan Konsumen

Pemerintah dan otoritas terkait diharapkan tidak hanya fokus pada pertumbuhan industri keuangan digital, tetapi juga pada aspek perlindungan dan literasi keuangan. Edukasi mengenai bahaya utang konsumtif perlu terus digalakkan agar masyarakat tidak terjebak dalam janji kemudahan instan yang ditawarkan aplikasi.

Di sisi lain, pengawasan terhadap praktik penagihan dan transparansi bunga juga harus diperketat. RadarLokal memandang bahwa krisis ini adalah peringatan keras bagi semua pihak. Mengandalkan utang sebagai ‘bantalan’ ekonomi bukanlah solusi berkelanjutan, melainkan sekadar menunda masalah yang suatu saat akan meledak jika tidak segera ditangani secara struktural melalui perbaikan pendapatan masyarakat dan stabilitas harga kebutuhan pokok.

Sebagai penutup, kondisi ‘makan utang’ ini adalah refleksi dari perjuangan rakyat kecil yang kian terhimpit. Di tengah gemerlap digitalisasi keuangan, ada jeritan sunyi dari mereka yang setiap harinya harus menghitung sisa limit pinjaman untuk sekadar membeli beras atau membayar tagihan listrik.

Sarah Amalia

Sarah Amalia

Analis ekonomi muda yang hobi membedah tren pasar dan strategi UMKM. Pengisi utama kolom Radar Finance.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *