Jejak Historis dan Sentimen Emosional: Mengapa Prabowo Subianto Begitu Lengket dengan Petani dan Nelayan?

Dimas Pratama | RADAR LOKAL
24 Jun 2026, 12:11 WIB
Jejak Historis dan Sentimen Emosional: Mengapa Prabowo Subianto Begitu Lengket dengan Petani dan Nelayan?

**RadarLokal** — Pertanyaan besar sering kali muncul di benak publik ketika melihat sosok Prabowo Subianto yang seolah memiliki ikatan batin yang sangat kuat dengan komunitas petani dan nelayan. Di berbagai kesempatan, mulai dari kampanye hingga kini menjabat sebagai orang nomor satu di Indonesia, keberpihakan dan kedekatannya dengan para pahlawan pangan ini tidak pernah luntur. Ternyata, di balik konsistensi tersebut, tersimpan sebuah narasi sejarah dan nilai-nilai emosional yang mendalam bagi sang Presiden.

Dalam sebuah momen penuh kehangatan di acara Puncak Pekan Nasional (Penas) Petani dan Nelayan ke-XVII yang digelar di Gorontalo pada Rabu (24/6/2026), Presiden Prabowo akhirnya mengurai tabir di balik kedekatannya tersebut. Baginya, hubungan ini bukan sekadar urusan politik praktis atau pencitraan belaka, melainkan sebuah bentuk penghormatan kepada mereka yang ia sebut sebagai pilar penyangga kedaulatan negara sejak zaman revolusi.

Baca Juga Skandal Korupsi Makan Bergizi Gratis: Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Jadi Tersangka, Diduga Terima Aliran Dana Miliaran Per Hari
Skandal Korupsi Makan Bergizi Gratis: Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Jadi Tersangka, Diduga Terima Aliran Dana Miliaran Per Hari

Sebuah Jawaban Atas Tanya Publik

Banyak pengamat dan masyarakat luas sering bertanya-tanya, apa yang sebenarnya dicari oleh seorang mantan jenderal bintang tiga dengan latar belakang elit militer di tengah sawah dan hamparan pesisir? Menjawab hal tersebut, Prabowo menyatakan bahwa keterlibatannya dengan kaum tani dan nelayan adalah sebuah kehormatan sekaligus kebanggaan yang telah ia pupuk dalam waktu yang sangat lama.

“Orang bertanya, ada apa Prabowo Subianto selalu bersama petani dan nelayan? Saya jelaskan sangat sederhana, karena saya adalah mantan prajurit, mantan tentara Indonesia,” ungkap Prabowo dengan nada yang tegas namun penuh haru di hadapan ribuan peserta Penas. Penjelasan ini seolah menegaskan bahwa identitas dirinya sebagai prajurit tidak bisa dipisahkan dari peran masyarakat akar rumput.

Baca Juga Tragedi di Lembah Petulu: Wisatawan Swedia Ditemukan Tak Bernyawa di Dasar Jurang Ubud
Tragedi di Lembah Petulu: Wisatawan Swedia Ditemukan Tak Bernyawa di Dasar Jurang Ubud

Filosofi Prajurit: Tak Ada Kemenangan Tanpa Logistik

Sebagai sosok yang dibesarkan di lingkungan militer, Prabowo memahami betul sebuah aksioma klasik dalam dunia peperangan: tentara tidak bisa berperang dengan perut kosong. Dalam perspektif strategi militer, logistik adalah kunci. Dan dalam konteks Indonesia, penyedia logistik utama bagi para pejuang kemerdekaan di masa lalu bukanlah pabrik besar atau sistem impor, melainkan keringat para petani dan nelayan.

Prabowo bercerita bahwa sejak lahirnya Tentara Nasional Indonesia (TNI), hubungan antara prajurit dan rakyat kecil sudah bersifat simbiosis mutualisme yang sangat erat. Petani di desa-desa dan nelayan di pesisir adalah mereka yang secara sukarela menyokong kebutuhan dasar para tentara yang bergerilya di hutan-hutan dan perairan nusantara demi mempertahankan kemerdekaan yang baru saja diproklamasikan.

Baca Juga Skandal Pencurian Rp 1,2 Miliar: Ahli Ungkap Taktik ‘Social Engineering’ Terapis di Surabaya Kuras Rekening Pasien
Skandal Pencurian Rp 1,2 Miliar: Ahli Ungkap Taktik ‘Social Engineering’ Terapis di Surabaya Kuras Rekening Pasien

Masa Sulit 1945: Kemerdekaan Tanpa Anggaran

Satu poin menarik yang ditekankan oleh Presiden adalah kondisi faktual Indonesia saat menyatakan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Kala itu, Indonesia adalah negara bayi yang belum memiliki sistem birokrasi yang mapan, apalagi anggaran negara yang kuat. Prabowo mengingatkan audiens bahwa pada masa-masa krusial tersebut, negara belum memiliki APBN maupun sistem penggajian bagi para pejuangnya.

“Waktu kita memproklamasikan kemerdekaan kita, belum ada anggaran, belum ada gaji. Para pejuang itu memilih Indonesia bukan karena imbalan materi, tetapi karena cinta kepada bangsa,” jelasnya. Di sinilah peran krusial petani dan nelayan muncul sebagai juru selamat. Mereka adalah pihak yang menyediakan makanan, tempat beralindung, dan informasi bagi para prajurit yang tengah bertaruh nyawa.

Baca Juga Kisah Inspiratif Nenek Kusriyati: Juru Parkir Brebes yang Gagalkan Pencurian Rp 3,6 Miliar Kini Berangkat Umrah
Kisah Inspiratif Nenek Kusriyati: Juru Parkir Brebes yang Gagalkan Pencurian Rp 3,6 Miliar Kini Berangkat Umrah

Cinta yang Tak Terbeli oleh Gaji

Narasi yang dibangun Prabowo menggambarkan betapa besarnya pengorbanan rakyat kecil. Petani yang hidup pas-pasan bersedia membagi hasil panennya untuk dikirim ke dapur-dapur umum perjuangan. Nelayan yang bertaruh nyawa di laut memastikan protein tetap terjaga bagi para gerilyawan. Semua itu dilakukan tanpa mengharap pengembalian dari kas negara yang saat itu memang masih kosong.

Prabowo menekankan bahwa loyalitas petani dan nelayan lahir dari hati yang tulus. Nilai-nilai patriotisme inilah yang kemudian tertanam kuat di benak Prabowo. Ia melihat bahwa dedikasi tanpa pamrih tersebut merupakan karakter bangsa yang harus terus dijaga dan diapresiasi oleh pemerintah di masa kini dan masa depan.

Baca Juga Gema Demokrasi yang Dibungkam: Maxim Kruglov dan Vonis 7 Tahun Penjara di Jantung Rusia
Gema Demokrasi yang Dibungkam: Maxim Kruglov dan Vonis 7 Tahun Penjara di Jantung Rusia

Sinergi TNI, Polri, dan Rakyat

Lebih lanjut, Presiden menegaskan bahwa keberhasilan seluruh pasukan Indonesia, termasuk aparat kepolisian, dalam menjalankan tugas-tugas beratnya tidak lepas dari dukungan rakyat jelata. Konsep kemanunggalan TNI dengan rakyat bukanlah sekadar slogan bagi Prabowo, melainkan kenyataan sejarah yang ia saksikan dan pelajari selama puluhan tahun berkarier di militer.

“TNI, semua pasukan Indonesia, para pejuang termasuk kepolisian, didukung oleh rakyat, didukung oleh petani dan nelayan,” tegasnya lagi. Hal ini mengisyaratkan bahwa stabilitas keamanan nasional sangat bergantung pada kesejahteraan rakyat di sektor agraris dan maritim. Jika petani dan nelayan sejahtera, maka fondasi negara pun akan semakin kokoh.

Kedaulatan Pangan sebagai Bentuk Balas Budi

Kedekatan Prabowo dengan sektor ini juga dapat dibaca sebagai visi besar pemerintahannya dalam mewujudkan kedaulatan pangan. Dengan memosisikan petani dan nelayan sebagai subjek utama pembangunan, Prabowo seolah ingin membayar hutang budi sejarah yang telah berlangsung sejak era revolusi. Ia menyadari bahwa di tengah tantangan global dan krisis pangan dunia, Indonesia harus kembali pada kekuatan aslinya, yaitu tanah yang subur dan laut yang kaya.

Melalui acara seperti Penas ke-XVII di Gorontalo ini, Presiden berharap adanya inovasi dan penguatan kolaborasi antara pemerintah dan para pelaku sektor pangan. Ia menginginkan agar profesi petani dan nelayan kembali menjadi profesi yang membanggakan dan menjanjikan kesejahteraan, bukan lagi profesi yang identik dengan kemiskinan dan ketertinggalan.

Kesimpulan: Ikatan yang Takkan Putus

Pada akhirnya, komitmen Prabowo Subianto terhadap petani dan nelayan adalah sebuah manifestasi dari rasa syukur seorang mantan prajurit terhadap rakyatnya. Sejarah telah membuktikan bahwa saat negara dalam keadaan paling sulit, petani dan nelayanlah yang berdiri tegak menjadi benteng pertahanan terakhir melalui pasokan pangan.

Dengan gaya kepemimpinannya yang lugas namun penuh empati, Prabowo ingin memastikan bahwa di masa kepemimpinannya, para petani dan nelayan tidak lagi hanya menjadi penonton dalam pembangunan, tetapi menjadi aktor utama yang menikmati manisnya kemerdekaan yang dulu pernah mereka bantu perjuangkan dengan peluh dan air mata.

Dimas Pratama

Dimas Pratama

Jurnalis lapangan senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun. Fokus pada isu sosial dan kebijakan publik di Radar News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *