Jeritan Hati Aditya Zoni: Kekhawatiran Mendalam Atas Kondisi Mental Ammar Zoni di ‘Neraka’ Nusakambangan

Nadia Safira | RADAR LOKAL
12 Mei 2026, 20:12 WIB
Jeritan Hati Aditya Zoni: Kekhawatiran Mendalam Atas Kondisi Mental Ammar Zoni di 'Neraka' Nusakambangan

RadarLokal Kabar mengejutkan datang dari panggung hukum tanah air yang melibatkan pesohor Ammar Zoni. Setelah melalui serangkaian proses persidangan yang melelahkan di Jakarta, keputusan otoritas untuk memindahkan sang aktor ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Nusakambangan telah memicu gelombang kekhawatiran yang mendalam bagi pihak keluarga. Sang adik, Aditya Zoni, secara terbuka mengungkapkan rasa terkejut dan kecemasan yang menghantui pikirannya terkait kondisi fisik serta mental sang kakak di pulau yang dikenal sebagai ‘Alcatraz-nya Indonesia’ tersebut.

Sinyal Darurat dari Balik Jeruji: Pemindahan yang Mendadak

Pemindahan Ammar Zoni ke Nusakambangan bukanlah sebuah rencana yang telah diantisipasi sebelumnya oleh pihak keluarga. Menurut penuturan Aditya, proses eksekusi pemindahan tersebut terjadi begitu cepat dan terkesan mendadak, sesaat setelah vonis tujuh tahun penjara dijatuhkan. Ketidaksiapan mental keluarga menghadapi kenyataan ini membuat suasana duka semakin menyelimuti mereka.

Baca Juga Dramaturgi Perceraian Ruben Onsu dan Sarwendah: Aksi Protes Berhenti Kirim Nafkah Rp225 Juta Demi Hak Bertemu Sang Buah Hati
Dramaturgi Perceraian Ruben Onsu dan Sarwendah: Aksi Protes Berhenti Kirim Nafkah Rp225 Juta Demi Hak Bertemu Sang Buah Hati

“Ya kagetlah, kaget sekali. Apalagi prosesnya kan mendadak ya. Mendadak jadinya kita semua terkejut saat tahu Bang Ammar dipindahkan ke Nusakambangan. Fokus saya saat ini adalah mendoakan supaya Bang Ammar kuat menghadapi hari-hari di sana,” ungkap Aditya Zoni saat ditemui oleh tim RadarLokal di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Ia menegaskan bahwa pihak keluarga tidak akan tinggal diam dan akan terus mengupayakan segala jalur yang memungkinkan secara hukum agar sang kakak bisa dikembalikan ke Jakarta.

Kondisi Sel yang Menyesakkan: Tidur dengan Kaki Tertekuk

Salah satu poin paling krusial yang menjadi sorotan Aditya adalah testimoni langsung dari Ammar mengenai kondisi ruang tahanannya. Berada di lingkungan lapas dengan pengamanan super ketat (high security) tentu memberikan tekanan yang berbeda dibandingkan rumah tahanan biasa. Ammar mengeluhkan keterbatasan ruang gerak yang sangat ekstrem.

Baca Juga Anji Resmi Persunting Dena Desy: Janji Suci di Balik Maskawin Simbolis dan Air Mata Haru
Anji Resmi Persunting Dena Desy: Janji Suci di Balik Maskawin Simbolis dan Air Mata Haru

Berdasarkan cerita yang diterima Aditya, Ammar Zoni harus berjuang dengan ruang sel yang sangat sempit hingga untuk sekadar meluruskan kaki saat tidur pun menjadi sebuah kemewahan yang mustahil didapat. “Kalau sesuai cerita Bang Ammar ke saya, kondisinya benar-benar tidak nyaman. Bayangkan, tidurnya itu harus menekuk kaki karena ruangan yang terbatas. Belum lagi selnya yang sangat tertutup, hampir tidak ada sinar matahari yang masuk ke dalam,” papar Aditya dengan nada suara yang bergetar menahan emosi.

Kondisi ini tentu sangat kontras dengan kehidupan sang aktor sebelumnya. Kurangnya paparan sinar matahari dan sirkulasi udara yang minim di dalam sel Nusakambangan dikhawatirkan akan menurunkan sistem imun dan memperburuk kesehatan fisik Ammar secara drastis dalam jangka waktu lama.

Baca Juga Aksi Mulia Ruben Onsu Bangun Masjid di Bogor: Bentuk Persahabatan Sejati dan Dukungan Penuh Ivan Gunawan
Aksi Mulia Ruben Onsu Bangun Masjid di Bogor: Bentuk Persahabatan Sejati dan Dukungan Penuh Ivan Gunawan

Kesehatan Mental di Titik Nadir: Bahaya Isolasi dan Depresi

Selain masalah fisik, ancaman terhadap kesehatan mental Ammar Zoni menjadi momok paling menakutkan bagi Aditya. Nusakambangan didesain untuk memberikan efek jera yang maksimal dengan akses interaksi sosial yang sangat terbatas. Aditya membeberkan bahwa kakaknya hanya diberikan waktu keluar sel selama 10 menit saja, itu pun frekuensinya sangat jarang.

“Keluar sel itu cuma dikasih waktu 10 menit, dan itu pun cuma boleh satu atau dua kali seminggu. Bayangkan tekanan psikis yang dirasakan. Saya sangat takut Bang Ammar kenapa-napa, mentalnya goyang atau psikisnya terganggu. Sebagai adik, saya tahu betul karakter kakak saya,” jelasnya. Isolasi yang berkepanjangan tanpa dukungan emosional yang cukup dari dunia luar dapat memicu depresi berat, terutama bagi seseorang yang sedang berjuang melawan ketergantungan zat.

Baca Juga Raffi Ahmad Terseret Pusara Dugaan Suap Bea Cukai: Klarifikasi Menohok Sang ‘Sultan Andara’ dan Penjelasan KPK
Raffi Ahmad Terseret Pusara Dugaan Suap Bea Cukai: Klarifikasi Menohok Sang ‘Sultan Andara’ dan Penjelasan KPK

Perdebatan Antara Hukuman dan Rehabilitasi

Aditya Zoni juga menyuarakan pendapatnya mengenai ketidakadilan posisi sang kakak dalam kasus narkoba yang menjeratnya. Ia tetap teguh pada pendirian bahwa Ammar Zoni hanyalah seorang korban penyalahgunaan zat, bukan bagian dari jaringan pengedar narkotika yang berbahaya. Oleh karena itu, menempatkan Ammar di lapas high security dianggap sebagai langkah yang kurang tepat.

“Bang Ammar itu bukan pengedar. Dia hanya salah jalan, dia adalah pengguna. Seharusnya tempatnya adalah di pusat rehabilitasi untuk mendapatkan kesembuhan, bukan justru dibawa ke sana (Nusakambangan). Saya merasa sangat kecewa dengan keputusan ini karena ini menyangkut masa depan dan pemulihan jiwa seseorang,” tegas Aditya. Argumentasi ini merujuk pada undang-undang narkotika yang sebenarnya mengedepankan aspek rehabilitasi bagi para pecandu.

Baca Juga Drama Dugaan Penganiayaan ART Hera: Kenzy Taulany Jadi Saksi Bisu Tangisan Sang Asisten di Balik Pintu
Drama Dugaan Penganiayaan ART Hera: Kenzy Taulany Jadi Saksi Bisu Tangisan Sang Asisten di Balik Pintu

Harapan Keluarga dan Akses Kunjungan yang Terbatas

Meskipun situasi saat ini tampak kelam, keluarga besar Ammar Zoni tetap memelihara secercah harapan. Mereka terus berkomunikasi dengan tim hukum untuk mencari celah agar Ammar bisa dipindahkan kembali ke lapas di wilayah Jakarta atau sekitarnya guna mempermudah pengawasan dan dukungan moral. Aditya berharap ada kemudahan akses dari pemerintah maupun kementerian terkait agar ia bisa menjenguk dan melihat langsung kondisi kakaknya.

“Mudah-mudahan kami diizinkan untuk melihat kondisi langsung di sana. Saya butuh tahu bagaimana keadaan abang saya secara rill. Saya memohon kepada teman-teman di pemerintahan atau pihak berwenang agar akses untuk menjenguk bisa dipermudah,” harapnya. Dukungan dari para netizen dan penggemar juga menjadi penguat bagi keluarga di masa-masa sulit ini.

Penempatan narapidana di lapas high security memang memiliki prosedur yang ketat, namun Aditya menegaskan bahwa sisi kemanusiaan tetap harus dikedepankan. Hingga saat ini, pihak keluarga masih menunggu kabar lebih lanjut mengenai jadwal kunjungan resmi yang diizinkan oleh pihak Lapas Nusakambangan.

Kesimpulan: Perjuangan Belum Berakhir

Kasus Ammar Zoni menjadi pengingat pahit tentang bagaimana jeratan narkotika bisa mengubah garis hidup seseorang secara drastis. Dari gemerlap panggung hiburan hingga dinginnya sel sempit di pulau terpencil. Namun, bagi Aditya Zoni, Ammar tetaplah seorang kakak yang membutuhkan pertolongan, bukan sekadar angka dalam statistik narapidana. Perjuangan keluarga untuk membawa Ammar kembali ke jalur rehabilitasi dan mendapatkan hak-hak dasarnya sebagai manusia akan terus berlanjut di tengah ketatnya sistem penjara Indonesia.

Keprihatinan ini bukan hanya tentang kenyamanan fisik, melainkan tentang menjaga sisa-sisa harapan dan kesehatan mental seseorang agar tidak hancur ditelan sunyinya Nusakambangan. Publik kini menanti, apakah upaya keluarga dan tim hukum akan membuahkan hasil, ataukah Ammar Zoni harus menghabiskan masa hukumannya dalam keterbatasan yang menyesakkan di pulau tersebut.

Nadia Safira

Nadia Safira

Content creator yang memiliki radar tajam terhadap isu viral dan gaya hidup. Menjaga konten Radar Hot tetap segar dan menghibur.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *