Kisah Inspiratif DoAr Dimsum: Dari Dapur Sempit Palmerah Hingga Jadi Menu Langganan Gedung DPR RI

Sarah Amalia | RADAR LOKAL
21 Jun 2026, 20:11 WIB
Kisah Inspiratif DoAr Dimsum: Dari Dapur Sempit Palmerah Hingga Jadi Menu Langganan Gedung DPR RI

RadarLokal — Di balik deretan gang sempit di kawasan Palmerah, Jakarta Barat, aroma gurih daging ayam dan udang yang dikukus menyelinap di antara hembusan angin. Aroma tersebut berasal dari dapur rumah Ariwiyanti, seorang ibu rumah tangga yang berhasil mengubah keresahan kecil menjadi bisnis kuliner berskala nasional. Di sinilah DoAr Dimsum lahir, sebuah merek yang kini namanya telah melanglang buana hingga ke meja makan para wakil rakyat di Gedung DPR/MPR RI, Senayan.

Siapa sangka, berawal dari ruang produksi yang sangat terbatas, produk olahan tangan Ari kini menjadi salah satu menu favorit untuk katering makan siang di kompleks parlemen tersebut. Tidak hanya menyasar lidah para pejabat, DoAr Dimsum juga telah merambah berbagai kafe, hotel, hingga lapangan golf dalam bentuk produk beku (frozen food). Transformasi ini bukanlah perjalanan yang instan, melainkan sebuah narasi panjang tentang kegigihan, adaptasi teknologi, dan dukungan dari ekosistem UMKM yang tepat.

Baca Juga Respons Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa Terkait Pelemahan Rupiah: Fokus pada Fondasi Ekonomi, Urusan Kurs Ada di BI
Respons Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa Terkait Pelemahan Rupiah: Fokus pada Fondasi Ekonomi, Urusan Kurs Ada di BI

Berawal dari Keresahan Seorang Ibu

Kisah ini bermula pada tahun 2018. Layaknya banyak orang tua lainnya, Ariwiyanti sering kali dipusingkan dengan kegemaran anak-anaknya mengonsumsi kudapan tertentu. Kedua buah hatinya sangat menyukai dimsum. Namun, Ari menghadapi dilema: dimsum yang dijual di pinggir jalan dengan harga murah sering kali memiliki rasa yang kurang memuaskan dan kualitas bahan yang diragukan. Di sisi lain, dimsum kualitas restoran berbintang memiliki harga yang terlalu tinggi untuk konsumsi harian keluarga.

Beruntung, Ari memiliki pendamping hidup yang juga seorang ahli di bidang kuliner. Sang suami, yang berprofesi sebagai seorang chef profesional, mulai turun tangan membantu Ari melakukan riset dan pengembangan resep. Misinya jelas: menciptakan dimsum dengan standar rasa restoran namun dengan harga yang lebih terjangkau bagi kantong masyarakat menengah.

Baca Juga Horor di Perbatasan: Kala Sistem Imigrasi Malaysia Lumpuh dan Ribuan Pekerja Terjebak dalam Ketidakpastian
Horor di Perbatasan: Kala Sistem Imigrasi Malaysia Lumpuh dan Ribuan Pekerja Terjebak dalam Ketidakpastian

“Awalnya benar-benar hanya untuk konsumsi pribadi di rumah. Kami ingin anak-anak makan makanan yang enak dan sehat,” kenang Ari. Namun, pintu rezeki terbuka saat seorang teman mencicipi hidangannya dan langsung terpikat. Tanpa diduga, teman tersebut memesan dimsum dalam jumlah besar untuk acara peluncuran sebuah apartemen di Bekasi. Momen inilah yang menjadi titik balik bagi Ari untuk serius menekuni dunia wirausaha.

Pahit Getir Menghadapi Pandemi dan Penutupan Kios

Setelah melihat respon positif pasar, Ari dan suaminya memberanikan diri untuk melakukan ekspansi. Dengan modal awal sebesar Rp 6 juta, mereka membuka dua gerai fisik di dekat kampus BINUS University. Lokasi yang strategis tersebut awalnya membawa angin segar dengan banyaknya mahasiswa yang menjadi pelanggan setia. DoAr Dimsum pun mulai mempekerjakan tiga orang pegawai untuk membantu operasional.

Baca Juga Strategi Besar Prabowo Hadapi Krisis Energi Global: Mengupas Ambisi 100 GW dan Masa Depan ASEAN
Strategi Besar Prabowo Hadapi Krisis Energi Global: Mengupas Ambisi 100 GW dan Masa Depan ASEAN

Namun, badai besar datang setahun kemudian. Pandemi COVID-19 melanda dunia, dan kebijakan pembatasan sosial membuat aktivitas kampus berhenti total. “Mahasiswa pulang kampung, kampus sepi, otomatis pendapatan kami anjlok. Dengan berat hati, kedua kios tersebut terpaksa kami tutup,” ujar Ari dengan nada getir mengenang masa sulit itu.

Meski secara fisik kiosnya tutup, semangat Ari tidak lantas padam. Ia melihat peluang baru di tengah krisis. Ketika orang-orang terpaksa tinggal di rumah, permintaan akan makanan beku atau makanan frozen meningkat tajam. Ari kemudian memindahkan seluruh alat produksinya kembali ke dapur rumah dan mengubah model bisnisnya dari ready to eat (siap makan) menjadi made to order dalam bentuk frozen.

Baca Juga Update Harga Pangan 2026: Minyak Goreng dan Bawang Merah Merangkak Naik, Cabai Rawit Masih Bertahan di Level Tinggi
Update Harga Pangan 2026: Minyak Goreng dan Bawang Merah Merangkak Naik, Cabai Rawit Masih Bertahan di Level Tinggi

Strategi Digital dan Lonjakan Omzet dari Rumah

Langkah Ari beralih ke platform digital terbukti tepat sasaran. Dengan sistem made to order, ia bisa memastikan setiap dimsum yang dikirim ke pelanggan dalam kondisi segar. Ia menawarkan berbagai varian topping populer seperti jamur, wortel, smoke beef, hingga crab stick. Tak hanya itu, ia juga memperluas lini produknya ke varian dimsum goreng seperti lumpia kulit tahu, pangsit ayam, dan spicy chicken curry samosa.

Harga yang ditawarkan sangat kompetitif, yakni Rp 25.000 untuk isi lima dan Rp 35.000 untuk isi sepuluh. Strategi ini membuat DoAr Dimsum kebanjiran pesanan lewat media sosial dan marketplace. Menariknya, Ari justru merasakan efisiensi yang luar biasa saat menjalankan bisnis dari rumah tanpa beban biaya sewa kios dan gaji pegawai tetap yang besar.

Baca Juga Strategi Danantara Memperkuat BUMN Hijau: Menakar Peluang IPO Denera dan Masa Depan Waste to Energy Indonesia
Strategi Danantara Memperkuat BUMN Hijau: Menakar Peluang IPO Denera dan Masa Depan Waste to Energy Indonesia

“Lucunya, saat pandemi justru omzet kami naik drastis. Sehari bisa tembus Rp 2 juta, atau kalau dihitung-hitung sekitar Rp 25-30 juta per bulan,” ungkapnya. Keuntungan yang didapat tidak ia hamburkan. Dengan visi yang jauh ke depan, Ari mulai menginvestasikan profitnya untuk membeli peralatan standar industri berbahan stainless steel agar produksi lebih higienis, freezer kapasitas besar, hingga sebuah mobil operasional untuk menunjang distribusi ke hotel-hotel mitra.

Naik Kelas Bersama Rumah BUMN BRI

Haus akan ilmu pengembangan bisnis, pada tahun 2021 Ari memutuskan bergabung dengan Rumah BUMN BRI. Ini adalah langkah strategis yang ia ambil untuk membawa usahanya benar-benar “naik kelas”. Melalui pendampingan ini, Ari mendapatkan banyak wawasan baru mengenai literasi keuangan dan manajemen usaha profesional.

Satu hal yang paling berkesan bagi Ari adalah pelajaran tentang pemisahan uang pribadi dan uang usaha. “Dulu semuanya campur aduk. Sekarang saya belajar bagaimana menjaga cashflow agar tetap sehat. Jadi kalau harga bahan baku naik seperti sekarang, kas usaha kami masih aman karena dikelola dengan benar,” jelasnya.

Selain finansial, Ari juga dibekali kemampuan pemasaran modern. Ia diajarkan teknik melakukan live streaming di media sosial untuk membangun branding. Puncaknya adalah ketika ia terpilih mengikuti program BRIncubator selama tiga bulan pada tahun 2023. Dari sekian banyak peserta, Ari berhasil menembus posisi lima besar, sebuah prestasi yang memberinya tiket emas untuk mengikuti berbagai bazar bergengsi secara gratis.

Filosofi di Balik Nama “DoAr” dan Kepercayaan dari Senayan

Nama DoAr sendiri memiliki makna yang mendalam. Secara harfiah, itu adalah singkatan dari nama Dodi (suami) dan Ari (istri). Namun secara filosofis, Ari mengartikannya sebagai “Doa dan Ikhtiar”. Selain itu, ia juga menyelipkan harapan agar penjualan bisnisnya selalu berbunyi “Doar” alias meledak di pasaran.

Harapan itu kini menjadi kenyataan. Kualitas rasa yang konsisten membuat DoAr Dimsum dipercaya oleh jaringan katering yang melayani Gedung DPR/MPR RI. “Pihak katering di sana sudah cocok rasanya. Setiap kali jadwal makan siang para anggota dewan menyertakan menu dimsum, mereka pasti langsung menelepon saya untuk memesan minimal 500 pcs sekali kirim,” kata Ari dengan bangga.

Tak hanya di Senayan, DoAr Dimsum juga menjadi pemasok tetap di beberapa lapangan golf ternama seperti di Rawamangun dan berbagai kafe di area Depok. Sistem yang digunakan pun beragam, mulai dari pesanan matang hingga sistem maklon atau jual putus untuk kebutuhan industri hotel.

Konsistensi Menjaga Kualitas Tanpa Franchise

Meski permintaannya terus melonjak, Ari tetap menjaga sentuhan personal dalam setiap produknya. Ia belum tertarik membuka sistem kemitraan atau franchise karena ingin memastikan kendali mutu tetap di tangannya. Saat ini, ia mampu memproduksi sekitar 2.000 pieces dimsum dari 16 kilogram bahan baku dalam sekali proses produksi mingguan.

Ariwiyanti adalah potret nyata bagaimana UMKM Indonesia bisa bertahan dan berkembang di tengah keterbatasan. Dengan memanfaatkan ekosistem digital, bimbingan perbankan yang tepat, dan menjaga kualitas rasa yang otentik, sebuah dapur kecil di Palmerah kini mampu menyajikan hidangan untuk meja-meja paling berpengaruh di negeri ini. Bagi Ari, kunci suksesnya sederhana: jangan pernah berhenti belajar dan pastikan setiap gigitan dimsum yang dibuat membawa kebahagiaan bagi penikmatnya.

Sarah Amalia

Sarah Amalia

Analis ekonomi muda yang hobi membedah tren pasar dan strategi UMKM. Pengisi utama kolom Radar Finance.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *