Menakar Strategi Pertamina: Menjaga Kedaulatan Energi Nasional di Tengah Pusaran Geopolitik Global

Sarah Amalia | RADAR LOKAL
22 Mei 2026, 14:13 WIB
Menakar Strategi Pertamina: Menjaga Kedaulatan Energi Nasional di Tengah Pusaran Geopolitik Global

RadarLokal — Di tengah gejolak pasar energi dunia yang kian fluktuatif, peran perusahaan minyak negara atau National Oil Company (NOC) kini tidak lagi sekadar entitas pencari laba. PT Pertamina (Persero) secara tegas memosisikan diri sebagai benteng pertahanan terakhir dalam menjaga ketahanan energi nasional sekaligus menjadi motor utama penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia. Langkah strategis ini menjadi krusial mengingat dinamika geopolitik global yang sering kali memberikan tekanan mendadak pada stabilitas pasokan energi domestik.

Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Oki Muraza, memberikan pandangan mendalam mengenai peran vital NOC dalam forum bergengsi IPA Convex ke-50. Dalam diskusi bertajuk Global Challenges: NOCs at the Heart of Energy Resilience, Oki menekankan bahwa tanggung jawab yang dipikul Pertamina jauh melampaui kepentingan bisnis semata. NOC memiliki mandat ganda: memberikan kontribusi nyata bagi penerimaan negara dan memastikan setiap sudut negeri mendapatkan akses energi yang berkelanjutan.

Baca Juga Transformasi Strategis Badan Gizi Nasional: 4 Gebrakan Nanik Sudarti Deyang Demi Efisiensi dan Kualitas
Transformasi Strategis Badan Gizi Nasional: 4 Gebrakan Nanik Sudarti Deyang Demi Efisiensi dan Kualitas

NOC sebagai Pilar Ekonomi dan Ketahanan Nasional

Menurut Oki, keberadaan NOC di jantung ekonomi nasional adalah sebuah keniscayaan. Pertamina tidak hanya berfungsi mengelola sumber daya alam, tetapi juga bertransformasi menjadi katalisator bagi berbagai sektor industri lainnya. Dengan menjaga stabilitas energi, Pertamina secara tidak langsung memberikan kepastian bagi iklim investasi di Indonesia.

“Selain memberikan kontribusi bagi penerimaan negara, NOC juga memikul tanggung jawab moral dan operasional untuk menjaga ketahanan energi. Oleh karena itu, strategi pengembangan kami tidak lagi hanya terpaku pada minyak mentah konvensional. Kami mulai memperkuat peran gas bumi sebagai energi transisi yang lebih bersih, terjangkau, dan berkelanjutan,” jelas Oki dalam keterangannya secara tertulis.

Baca Juga GOTO Pecahkan Rekor: Torehan Laba Bersih Perdana Rp 171 Miliar di Kuartal I-2026 Jadi Tonggak Baru Ekonomi Digital
GOTO Pecahkan Rekor: Torehan Laba Bersih Perdana Rp 171 Miliar di Kuartal I-2026 Jadi Tonggak Baru Ekonomi Digital

Gas Bumi: Jembatan Menuju Transisi Energi yang Berkeadilan

Isu perubahan iklim menuntut perubahan paradigma dalam industri migas. Pertamina menyadari bahwa transisi energi tidak bisa dilakukan secara terburu-buru tanpa mempertimbangkan kemandirian nasional. Di sinilah gas bumi mengambil peran sentral. Sebagai bahan bakar dengan emisi yang lebih rendah dibandingkan minyak bumi, gas menjadi solusi jangka menengah yang paling rasional untuk mendukung target Net Zero Emission.

Pemanfaatan gas bumi juga dinilai mampu menekan biaya energi bagi masyarakat dan industri. Dengan cadangan gas yang masih cukup melimpah di tanah air, penguatan infrastruktur gas menjadi prioritas utama guna memastikan distribusi yang merata dari ujung barat hingga timur Indonesia. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam menciptakan kemandirian energi yang tidak bergantung pada impor.

Baca Juga Menjaga ‘Benteng’ APBN: Mengapa Disiplin Defisit di Bawah 3 Persen Jadi Kunci Resiliensi Ekonomi Indonesia?
Menjaga ‘Benteng’ APBN: Mengapa Disiplin Defisit di Bawah 3 Persen Jadi Kunci Resiliensi Ekonomi Indonesia?

Belajar dari Model Global: Sinergi Negara dan Korporasi

Dalam menjalankan proyek-proyek energi berskala raksasa, Oki Muraza menyoroti pentingnya dukungan lintas sektor. Ia mengambil contoh sukses pengembangan proyek LNG di Mozambique yang didukung penuh oleh Pemerintah Jepang. Kesuksesan proyek tersebut bukan hanya karena kecanggihan teknologi, melainkan adanya arsitektur dukungan yang kokoh dari negara.

Dukungan tersebut mencakup berbagai instrumen strategis seperti partisipasi ekuitas melalui JOGMEC, pembiayaan dari JBIC, hingga proteksi asuransi dari NEXI. Belum lagi jaminan pasar jangka panjang dari perusahaan-perusahaan besar seperti JERA. Model sinergi seperti inilah yang menurut Oki perlu diadaptasi dalam konteks lokal.

“Proyek energi strategis membutuhkan kepastian hukum dan ekonomi agar bersifat bankable. Jika pemerintah hadir melalui kebijakan yang mendukung pembiayaan dan kepastian pasar, maka NOC dapat menjalankan mandatnya dengan jauh lebih efektif tanpa harus mengorbankan disiplin investasi,” tambahnya.

Baca Juga Update Harga Pangan 2026: Minyak Goreng dan Bawang Merah Merangkak Naik, Cabai Rawit Masih Bertahan di Level Tinggi
Update Harga Pangan 2026: Minyak Goreng dan Bawang Merah Merangkak Naik, Cabai Rawit Masih Bertahan di Level Tinggi

Tantangan Produksi Domestik dan Kapasitas Kilang

Salah satu tantangan nyata yang dihadapi Pertamina saat ini adalah kesenjangan antara kapasitas pengolahan kilang dengan produksi migas domestik. Saat ini, kapasitas pengolahan kilang Pertamina telah menyentuh angka sekitar 1 juta barel per hari. Namun, produksi minyak mentah nasional masih berada di kisaran 600 ribu barel per hari.

Untuk menutup celah tersebut, Pertamina gencar melakukan berbagai inisiatif untuk meningkatkan produksi migas melalui optimalisasi sumur-sumur tua serta eksplorasi di wilayah-wilayah kerja baru. Tak hanya di dalam negeri, Pertamina juga mulai melebarkan sayap secara selektif ke kancah internasional. Ekspansi ini dilakukan untuk mendapatkan akses sumber daya yang lebih luas demi mengamankan pasokan energi nasional di masa depan.

Baca Juga Fenomena ‘Makan Utang’: Krisis Tabungan dan Jeratan Pinjol yang Menghantui Masyarakat Indonesia
Fenomena ‘Makan Utang’: Krisis Tabungan dan Jeratan Pinjol yang Menghantui Masyarakat Indonesia

Hilirisasi dan Penciptaan Lapangan Kerja

Peran NOC juga sangat kental dalam agenda hilirisasi yang dicanangkan pemerintah. Dengan mengolah sumber daya alam di dalam negeri, Pertamina menciptakan nilai tambah yang signifikan. Program hilirisasi ini terbukti mampu memberikan efek berantai (multiplier effect), mulai dari pembukaan lapangan kerja baru hingga tumbuhnya industri-industri pendukung di sekitar area operasional.

Oki menegaskan bahwa melalui kolaborasi dengan berbagai mitra strategis, risiko investasi dapat ditekan seminimal mungkin. Sinergi dengan sesama NOC global maupun International Oil Company (IOC) memungkinkan terjadinya transfer teknologi dan pengetahuan yang mempercepat akselerasi proyek-proyek strategis nasional.

ASEAN: Magnet Baru Investasi Energi Dunia

Menutup pemaparannya, Oki Muraza menyoroti posisi strategis kawasan ASEAN. Kawasan ini diprediksi akan menyumbang sekitar 50 persen dari total pertumbuhan permintaan energi global. Pasar yang besar, pertumbuhan ekonomi yang stabil, serta kondisi keamanan yang relatif kondusif menjadikan ASEAN sebagai primadona bagi investasi energi.

“ASEAN memiliki daya tarik yang luar biasa bagi investor. Pertumbuhan permintaan energinya sangat kuat. Dengan dukungan regulator yang pro-investasi, kami optimis kawasan ini akan terus menjadi pilar stabilitas ekonomi global,” pungkas Oki.

Melalui kepemimpinan strategis dan kolaborasi yang solid, Pertamina optimistis dapat menghadapi tantangan global. Kuncinya terletak pada keseimbangan antara menjaga disiplin investasi, melakukan inovasi teknologi, dan tetap setia pada mandat utama: memberikan kedaulatan energi bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sarah Amalia

Sarah Amalia

Analis ekonomi muda yang hobi membedah tren pasar dan strategi UMKM. Pengisi utama kolom Radar Finance.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *