Rupiah Melemah Bukan Berarti 1998 Terulang: Membedah Fundamental Ekonomi Indonesia di Tengah Gejolak Global

Sarah Amalia | RADAR LOKAL
23 Mei 2026, 12:12 WIB
Rupiah Melemah Bukan Berarti 1998 Terulang: Membedah Fundamental Ekonomi Indonesia di Tengah Gejolak Global

RadarLokal — Isu mengenai fluktuasi mata uang seringkali memicu trauma kolektif bagi masyarakat Indonesia, terutama jika dikaitkan dengan memori kelam krisis moneter masa lalu. Namun, di tengah riuh rendahnya spekulasi publik, Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, memberikan penegasan kuat untuk meredam kekhawatiran tersebut. Ia menyatakan dengan tegas bahwa kondisi nilai tukar rupiah saat ini sama sekali tidak bisa disetarakan dengan krisis hebat yang melanda tanah air pada tahun 1998.

Menurut pandangan Misbakhun, kegelisahan yang menyelimuti publik saat ini sebagian besar merupakan hasil dari distorsi informasi dan cara kerja algoritma media sosial yang cenderung memperbesar narasi negatif. Meski angka di papan kurs menunjukkan tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), ia mengajak masyarakat untuk melihat konteks yang lebih luas dan fundamental ekonomi yang jauh lebih solid dibandingkan dua dekade silam.

Baca Juga Kisah Inspiratif Amilludin Affan: Transformasi Mantan Kuli Panggul Jadi Juragan Agen BRILink Beromzet Miliaran
Kisah Inspiratif Amilludin Affan: Transformasi Mantan Kuli Panggul Jadi Juragan Agen BRILink Beromzet Miliaran

Memahami Angka: Perbandingan Relatif vs Nominal

Dalam diskursus ekonomi, angka seringkali bersifat relatif jika tidak disandingkan dengan titik berangkatnya. Misbakhun memaparkan data yang cukup mencengangkan untuk memberikan perspektif objektif. Saat ini, posisi rupiah memang bergerak di kisaran level Rp 17.717 per dolar AS, sebuah angka yang secara psikologis memang terlihat tinggi. Namun, ia mengingatkan bahwa pergerakan ini berawal dari level Rp 16.000-an.

“Kita harus memberikan keyakinan kepada masyarakat bahwa fenomena Rp 17.800 saat ini memang sebuah tantangan, namun sangat berbeda dengan sejarah krisis 98,” ujar Misbakhun dalam sebuah forum diskusi di Jogja Financial Festival. Ia membandingkan bahwa pada tahun 1998, rupiah terhempas dari level Rp 2.400 ke angka Rp 17.600. Secara matematis, itu adalah kejatuhan yang ekstrem dan merusak tatanan ekonomi secara instan karena depresiasi yang terjadi mencapai berkali-kali lipat dari nilai asalnya.

Baca Juga Berburu Kemewahan di Balik Palu Lelang: Kemenkeu Obral McLaren hingga Tas Chanel Hasil Rampasan
Berburu Kemewahan di Balik Palu Lelang: Kemenkeu Obral McLaren hingga Tas Chanel Hasil Rampasan

Sebaliknya, pelemahan yang terjadi belakangan ini dipandang sebagai dinamika pasar yang lebih terkendali. Persentase pelemahan dari Rp 16.000 ke Rp 17.000-an jauh lebih kecil dibandingkan lompatan raksasa dari Rp 2.400 pada masa lalu. Hal ini menunjukkan adanya daya tahan atau resiliensi dalam sistem keuangan kita saat ini terhadap sentimen pasar global.

Struktur Ekonomi yang Jauh Lebih Kokoh

Selain soal angka, Misbakhun menyoroti perbedaan fundamental dalam struktur ekonomi nasional. Pada tahun 1998, Indonesia mengalami apa yang disebut sebagai bubble economy atau gelembung ekonomi. Kala itu, banyak lembaga keuangan yang rapuh dan mengalami gagal bayar secara massal, yang kemudian memicu kepanikan sistemik di seluruh sektor industri.

Baca Juga Evolusi Transaksi Digital: Pemerintah Siapkan Skenario Baru Uji Coba Tol Tanpa Setop MLFF
Evolusi Transaksi Digital: Pemerintah Siapkan Skenario Baru Uji Coba Tol Tanpa Setop MLFF

Kini, situasinya telah berbalik 180 derajat. Sektor perbankan dan jasa keuangan Indonesia saat ini memiliki permodalan yang sangat kuat dan regulasi yang ketat di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia. Meskipun ada sektor-sektor tertentu yang terdampak oleh selisih kurs, hal itu tidak bersifat merata dan tidak mengancam stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan.

“Secara fundamental ekonomi kita sangat kuat. Mari kita ingat kembali, pada krisis 98, pertumbuhan ekonomi kita hancur hingga minus 13 persen dengan tingkat inflasi yang tidak terkendali. Bandingkan dengan sekarang, di mana kita menghadapi situasi ekonomi yang justru terus tumbuh positif,” tambahnya dengan nada optimis.

Prestasi Global dan Pertumbuhan yang Konsisten

Indikator lain yang menunjukkan kesehatan ekonomi Indonesia adalah posisi kita dalam jajaran negara G20. Indonesia secara konsisten mampu menjaga pertumbuhan ekonomi di atas level 5 persen, sebuah prestasi yang bahkan sulit dicapai oleh banyak negara maju di tengah ketidakpastian geopolitik dunia. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa kebijakan fiskal dan moneter yang dijalankan sudah berada di jalur yang benar.

Baca Juga Efek Kejut BI Rate: Menko Airlangga Tegaskan Stabilitas Ekonomi Jadi Kunci Penguatan Rupiah dan IHSG
Efek Kejut BI Rate: Menko Airlangga Tegaskan Stabilitas Ekonomi Jadi Kunci Penguatan Rupiah dan IHSG

Lebih lanjut, Misbakhun menunjuk pada performa sektor perdagangan luar negeri kita yang impresif. Neraca perdagangan Indonesia tercatat positif dengan surplus yang bertahan selama 71 bulan berturut-turut. Ini adalah pencapaian luar biasa yang memberikan bantalan devisa yang cukup kuat untuk menahan gejolak nilai tukar. Surplus perdagangan ini menunjukkan bahwa produk ekspor Indonesia tetap memiliki daya saing tinggi di pasar internasional, yang secara otomatis menyuplai pasokan dolar ke dalam negeri.

Perang Melawan Sentimen dan Algoritma Media Sosial

Salah satu poin menarik yang ditekankan oleh Misbakhun adalah peran media sosial dalam membentuk persepsi publik. Ia menilai bahwa ketakutan akan terulangnya krisis 98 lebih banyak dipicu oleh konten-konten di media sosial yang seringkali kehilangan konteks atau sengaja dibuat untuk memancing reaksi emosional masyarakat.

Baca Juga Menhub Tolak Usulan Geser Gerbong Wanita KRL ke Tengah: Alasan Keamanan dan Efektivitas Jadi Kunci
Menhub Tolak Usulan Geser Gerbong Wanita KRL ke Tengah: Alasan Keamanan dan Efektivitas Jadi Kunci

“Kita saat ini berhadapan dengan situasi antara fundamental versus sentimen, antara realitas ekonomi yang nyata melawan kebisingan di media sosial,” tegasnya. Algoritma media sosial sering kali menyajikan informasi yang searah dan berulang, sehingga jika seseorang mulai mencari informasi tentang pelemahan rupiah, maka ia akan terus disuguhi konten serupa yang dapat memperkeruh suasana kebatinan publik.

Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk melakukan verifikasi informasi dan melihat data resmi pemerintah serta lembaga internasional. Jangan sampai sentimen negatif yang tidak berdasar justru mengganggu kepercayaan investor yang pada akhirnya bisa berdampak pada arus investasi asing ke Indonesia.

Menatap Masa Depan dengan Optimisme Terukur

Meskipun kondisi ekonomi saat ini jauh lebih baik dari tahun 1998, pemerintah dan otoritas terkait tidak boleh lengah. Dinamika ekonomi global yang dipengaruhi oleh kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed) serta ketegangan di berbagai belahan dunia tetap memerlukan kewaspadaan tinggi. Namun, dengan modal fundamental yang kuat, cadangan devisa yang cukup, dan pertumbuhan yang stabil, Indonesia memiliki bekal yang lebih dari cukup untuk melewati tantangan ini.

Sebagai penutup, pesan Misbakhun dalam Jogja Financial Festival tersebut adalah sebuah ajakan untuk tetap tenang namun waspada. Melemahnya rupiah adalah sebuah fenomena ekonomi yang perlu disikapi dengan kebijakan strategis, bukan dengan kepanikan yang berlebihan. Indonesia telah bertransformasi dari negara yang rapuh di tahun 1998 menjadi salah satu kekuatan ekonomi besar dunia saat ini.

Dengan sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat yang cerdas dalam memilah informasi, stabilitas ekonomi nasional diharapkan akan terus terjaga. Gejolak kurs adalah bagian dari dinamika global, namun kekuatan sejati bangsa ini terletak pada fundamental ekonomi yang dibangun dengan kerja keras selama dua dekade terakhir.

Sarah Amalia

Sarah Amalia

Analis ekonomi muda yang hobi membedah tren pasar dan strategi UMKM. Pengisi utama kolom Radar Finance.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *