Tepis Tuduhan Bully Anak Ahmad Dhani, Lita Gading Beri Klarifikasi di Polda Metro Jaya: Itu Edukasi Psikologi

Nadia Safira | RADAR LOKAL
12 Mei 2026, 14:33 WIB
Tepis Tuduhan Bully Anak Ahmad Dhani, Lita Gading Beri Klarifikasi di Polda Metro Jaya: Itu Edukasi Psikologi

RadarLokal — Kasus hukum yang melibatkan tokoh publik kembali memanas di panggung hukum Tanah Air. Kali ini, sorotan tertuju pada sosok psikolog kondang, Lita Gading, yang harus memenuhi panggilan penyidik Polda Metro Jaya. Kehadirannya di markas kepolisian tersebut bukan tanpa alasan, melainkan untuk memberikan klarifikasi mendalam terkait laporan yang dilayangkan oleh musisi legendaris sekaligus anggota DPR RI, Ahmad Dhani.

Perselisihan ini bermula dari unggahan video di media sosial pribadi Lita Gading yang dinilai oleh pihak Ahmad Dhani mengandung unsur perundungan atau bully terhadap buah hatinya. Namun, dengan tenang dan penuh percaya diri, Lita Gading yang didampingi tim hukumnya membantah keras segala tuduhan tersebut. Baginya, apa yang disampaikan dalam konten tersebut murni merupakan bagian dari tugas profesinya untuk memberikan edukasi kepada masyarakat luas.

Baca Juga Aksi Tegas Maia Estianty Pasang Badan Lindungi El Rumi dari Tekanan Netizen Soal Momongan
Aksi Tegas Maia Estianty Pasang Badan Lindungi El Rumi dari Tekanan Netizen Soal Momongan

Duduk Perkara Perselisihan Lita Gading dan Ahmad Dhani

Ketegangan antara dua figur publik ini bermula ketika sebuah konten video yang diunggah Lita Gading menjadi viral. Dalam video tersebut, Lita memberikan pandangan dari sudut pandang psikologi terkait perilaku atau situasi yang melibatkan anak dari Ahmad Dhani. Sontak, unggahan tersebut memicu reaksi keras dari sang musisi yang merasa privasi dan kehormatan keluarganya terusik.

Pemeriksaan yang berlangsung di Polda Metro Jaya pada Selasa (12/5/2026) tersebut menjadi ajang bagi Lita untuk meluruskan narasi yang berkembang. Kuasa hukum Lita Gading, Noverianus Samosir, menegaskan bahwa kehadiran kliennya adalah bentuk kooperatif terhadap hukum sekaligus untuk meluruskan kesalahpahaman besar yang terjadi dalam menangkap pesan konten tersebut.

Baca Juga Rahasia Wajah Glowing Nastasya Shine: Tetap Mempesona dan Awet Muda di Tengah Kesibukan Mengasuh 3 Anak
Rahasia Wajah Glowing Nastasya Shine: Tetap Mempesona dan Awet Muda di Tengah Kesibukan Mengasuh 3 Anak

Menurut Noverianus, ada distorsi informasi yang membuat pesan edukasi Lita disalahartikan sebagai serangan pribadi. Ia menyebut bahwa kliennya justru memiliki niat baik untuk memberikan pemahaman kepada publik agar tidak terjadi kesalahan pola asuh atau penilaian terhadap perilaku anak di ruang digital.

Bantahan Tegas Terkait Tuduhan Perundungan Anak

Dalam keterangannya di hadapan media, Lita Gading dengan tegas menyatakan bahwa dirinya tidak memiliki niat sedikit pun untuk melakukan perundungan terhadap SA, anak dari Ahmad Dhani yang menjadi objek laporan tersebut. Narasi perundungan yang dituduhkan dianggapnya sangat kontradiktif dengan jati dirinya sebagai seorang psikolog yang selama ini justru fokus pada perlindungan mental individu.

Baca Juga Pesona Don Verhaag: Sosok ‘Malaikat Pelindung’ yang Menghangatkan Hati Jessica Iskandar dan Vincent Verhaag
Pesona Don Verhaag: Sosok ‘Malaikat Pelindung’ yang Menghangatkan Hati Jessica Iskandar dan Vincent Verhaag

“Lita Gading sebagai klien kita, dia hanya mengedukasi, bahkan membentengi anak tersebut. Kemudian jika ada permasalahan, diberikan pemahaman, diberikan edukasi, dan dicarikan solusi,” ungkap Noverianus Samosir saat memberikan keterangan di Gedung Ditreskrimum Polda Metro Jaya. Pernyataan ini menegaskan bahwa posisi Lita dalam konten tersebut adalah sebagai tenaga ahli yang mencoba memberikan perspektif solutif.

Lita sendiri merasa bahwa munculnya video tersebut justru dipicu oleh banyaknya komentar negatif dari netizen yang sudah terlebih dahulu menyerang anak Ahmad Dhani. Dalam hal ini, Lita merasa terpanggil untuk hadir sebagai penengah guna meredam situasi dengan kacamata keilmuan yang ia miliki.

Pendidikan Psikologi Sebagai Landasan Konten Edukasi

Sebagai seorang yang telah menempuh jenjang pendidikan S3 di bidang psikologi, Lita Gading menegaskan bahwa seluruh aktivitasnya di media sosial memiliki landasan akademik yang kuat. Ia tidak hanya sekadar berbicara tanpa dasar, melainkan menggunakan ilmu yang telah dipelajarinya bertahun-tahun untuk mengamati fenomena sosial yang terjadi di masyarakat.

Baca Juga Seni Mendidik Ala Hanung Bramantyo: Tanpa Kemewahan Instan, Prestasi Jadi Syarat Mutlak Hadiah
Seni Mendidik Ala Hanung Bramantyo: Tanpa Kemewahan Instan, Prestasi Jadi Syarat Mutlak Hadiah

“Masih dong (aktif mengedukasi), karena kan memang saya S3 psikologi itu memang ujung-ujungnya untuk mengedukasi. Kita edukasi publik, kita pro rakyat. Jadi, apapun itu ya kita harus memikirkan kepentingan rakyat yang terintimidasi,” tutur Lita dengan nada optimis. Baginya, media sosial adalah kanal yang efektif untuk menyebarkan literasi kesehatan mental kepada khalayak yang lebih luas.

Lebih lanjut, Lita menjelaskan bahwa di era digital saat ini, batasan antara opini pribadi dan edukasi profesional seringkali menjadi kabur bagi sebagian orang. Hal inilah yang ia coba luruskan, bahwa peran seorang psikolog di ruang publik adalah untuk memberikan pencerahan, bukan untuk memojokkan pihak tertentu.

Sorotan Terhadap Komentar Negatif Netizen di Dunia Maya

Salah satu poin krusial dalam pembelaan Lita Gading adalah peran netizen dalam memperkeruh suasana. Lita mengeklaim bahwa dirinya justru ingin melindungi anak tersebut dari hantaman komentar-komentar pedas para pengguna internet yang seringkali tidak terkendali. Ia merasa ironis ketika niatnya untuk memberikan pembentengan secara psikologis justru dianggap sebagai bagian dari perundungan itu sendiri.

Baca Juga Kisah di Balik Honor Pertama Nagita Slavina: Dari Model Iklan Remaja hingga Menjadi ‘Sultan’ Andara
Kisah di Balik Honor Pertama Nagita Slavina: Dari Model Iklan Remaja hingga Menjadi ‘Sultan’ Andara

“Di dalam postingan saya itu banyak yang menghujat dia. Yang menghujat itu bukan saya, tapi netizen. Itu saja sih sebenarnya yang perlu dipahami,” jelas Lita. Fenomena perundungan digital atau cyberbullying memang menjadi isu sensitif di Indonesia, dan Lita merasa dirinya berada di barisan terdepan untuk memberikan edukasi mengenai dampak psikis yang bisa ditimbulkan dari komentar-komentar jahat di internet.

Ia menambahkan bahwa sebagai seorang profesional, ia merasa bertanggung jawab untuk menanggapi isu-isu viral yang berkaitan dengan perilaku anak dan remaja agar masyarakat mendapatkan informasi yang benar dari ahli, bukan hanya sekadar mengikuti arus opini yang liar.

Sudut Pandang Hukum: Antara Kritik dan Pencemaran Nama Baik

Tim kuasa hukum Lita Gading lainnya, Christian Adrianus Sihite, membeberkan dinamika selama proses pemeriksaan di penyidik. Salah satu fokus pertanyaan penyidik adalah mengenai legalitas atau izin penggunaan potongan foto dan video yang diunggah kembali oleh Lita Gading di akun media sosialnya.

Christian berpendapat bahwa materi yang digunakan oleh kliennya adalah konten yang sudah menjadi konsumsi publik dan viral di berbagai media massa maupun platform media sosial lainnya. Oleh karena itu, ia menilai penggunaan materi tersebut untuk kepentingan edukasi tidak memenuhi unsur pidana, baik itu dalam kategori pencemaran nama baik maupun perundungan.

“Di sini menurut kami tidak masuk unsur. Tidak ada di sini unsur pencemaran nama baik, pembully-an, bahkan klien kami sebenarnya sedang melakukan upaya perlindungan anak,” pungkas Christian. Pihak kuasa hukum yakin bahwa setelah proses klarifikasi ini, penyidik akan melihat kasus ini secara lebih objektif dan melihat bahwa tidak ada niat jahat (mens rea) dari tindakan yang dilakukan oleh Lita Gading.

Komitmen Terus Mengedukasi Masyarakat di Era Digital

Meskipun saat ini harus berurusan dengan pihak berwajib, Lita Gading mengaku tidak akan gentar untuk terus menyuarakan edukasi psikologi melalui kanal-kanal digitalnya. Baginya, risiko profesi seperti ini adalah bagian dari perjuangan untuk mencerdaskan bangsa dalam memahami kesehatan mental dan pola interaksi sosial.

Kasus ini menjadi pengingat bagi para pengguna media sosial dan tokoh publik lainnya mengenai pentingnya memahami batasan antara hak berekspresi, edukasi, dan perlindungan privasi. Perlindungan anak tetap menjadi prioritas utama, namun metode untuk mencapainya seringkali menjadi perdebatan di ranah hukum.

Hingga saat ini, proses hukum masih terus berjalan di Polda Metro Jaya. Publik menunggu bagaimana kelanjutan dari perseteruan hukum antara musisi papan atas Ahmad Dhani dan sang psikolog ini. Apakah kasus ini akan berakhir damai melalui jalur mediasi atau justru berlanjut hingga ke meja hijau, semuanya kini bergantung pada hasil pendalaman materi oleh pihak kepolisian.

RadarLokal akan terus memantau perkembangan kasus ini untuk memberikan informasi yang berimbang dan mendalam kepada Anda. Literasi hukum dan psikologi di era modern memang kian menantang, namun transparansi informasi tetap menjadi kunci utama dalam penyelesaian setiap konflik di ruang publik.

Nadia Safira

Nadia Safira

Content creator yang memiliki radar tajam terhadap isu viral dan gaya hidup. Menjaga konten Radar Hot tetap segar dan menghibur.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *