Update Orang Terkaya Indonesia Mei 2026: Low Tuck Kwong Geser Dominasi Hartono, Prajogo Pangestu Kokoh di Puncak
**RadarLokal** — Dinamika peta kekuatan ekonomi di Indonesia kembali menunjukkan pergerakan yang signifikan pada pertengahan kuartal kedua tahun 2026. Laporan terbaru mengenai daftar orang terkaya di Tanah Air periode Mei 2026 memperlihatkan bagaimana fluktuasi pasar modal, kinerja emiten, serta pergeseran harga komoditas global secara langsung merombak pundi-pundi kekayaan para taipan. Meskipun wajah-wajah lama masih mendominasi panggung elit ini, urutan posisi mereka mengalami pergeseran yang cukup dramatis dibandingkan bulan sebelumnya.
Dinamika Harta Konglomerat di Tengah Ketidakpastian Pasar
Perubahan kekayaan bersih ini bukanlah tanpa alasan. Seiring dengan kondisi ekonomi global yang terus bergerak dinamis, nilai aset perusahaan yang mereka pimpin ikut terpengaruh oleh sentimen investor dan kinerja bisnis fundamental. Pada bulan Mei ini, kita menyaksikan fenomena menarik di mana sektor energi, khususnya batu bara, kembali menunjukkan taringnya, sementara sektor perbankan dan konsumsi tetap menunjukkan stabilitas yang kuat namun harus rela berbagi tempat dalam daftar peringkat.
Salah satu sorotan utama dalam pembaruan data kali ini adalah keberhasilan bos besar pertambangan batu bara, Low Tuck Kwong, yang berhasil menyalip posisi salah satu pilar perbankan Indonesia, Robert Budi Hartono. Pergeseran ini menjadi sinyal kuat bahwa sektor ekstraktif masih memiliki pengaruh besar terhadap struktur kekayaan individu di Indonesia, di tengah upaya diversifikasi ke arah ekonomi hijau dan teknologi digital.
1. Prajogo Pangestu: Raja Petrokimia yang Tak Tergoyahkan
Di urutan pertama, sosok Prajogo Pangestu masih kokoh berdiri sebagai orang paling tajir di Indonesia. Melalui bendera Barito Group, Prajogo berhasil mengonsolidasikan kekayaannya di angka fantastis, yakni US$ 20,9 miliar atau setara dengan Rp 362,32 triliun (dengan asumsi kurs Rp 17.336 per dolar AS). Keberhasilan Prajogo dalam mempertahankan posisi puncak ini tak lepas dari ekspansi masif di sektor energi terbarukan dan petrokimia yang menjadi tulang punggung bisnisnya.
Investasi strategisnya melalui emiten-emiten di bawah Barito Pacific telah memberikan imbal hasil yang sangat signifikan bagi portofolionya. Prajogo dikenal sebagai pengusaha yang visioner, yang mampu mengubah fokus bisnis dari sektor perkayuan di masa lalu menjadi raksasa energi yang relevan dengan kebutuhan masa depan. Ketangguhan aset-asetnya di pasar modal menjadi alasan utama mengapa ia sulit terkejar oleh pesaing lainnya.
2. Low Tuck Kwong: Sang ‘Raja Batu Bara’ Kembali Berjaya
Kejutan besar terjadi pada posisi kedua, di mana Low Tuck Kwong, pendiri Bayan Resources, berhasil naik peringkat. Dengan total kekayaan mencapai US$ 16,5 miliar atau sekitar Rp 286,04 triliun, ia kini resmi menggeser posisi Robert Budi Hartono. Kenaikan peringkat ini didorong oleh kinerja impresif Bayan Resources di tengah permintaan energi dunia yang masih sangat bergantung pada industri batu bara.
Meskipun ada tantangan global mengenai transisi energi, efisiensi operasional dan kontrak-kontrak jangka panjang yang dimiliki oleh Bayan Resources terbukti mampu menjaga nilai kapitalisasi pasar perusahaan tetap tinggi. Keberhasilan Low Tuck Kwong ini mencerminkan betapa vitalnya peran komoditas dalam menyokong kekayaan individu di negara-negara berkembang seperti Indonesia.
3. Robert Budi Hartono: Stabilitas dari Sektor Perbankan dan Rokok
Turun ke posisi ketiga, Robert Budi Hartono mencatatkan kekayaan sebesar US$ 15,8 miliar atau setara dengan Rp 273,9 triliun. Meskipun turun satu peringkat, perlu dicatat bahwa angka ini merupakan perhitungan individu, belum termasuk kekayaan saudaranya, almarhum Michael Hartono, yang dicatat secara terpisah. Kekayaan keluarga Hartono secara kolektif sejatinya tetap menjadi yang terbesar jika digabungkan.
Sumber kekayaan utamanya masih berasal dari raksasa perbankan swasta terbesar di Indonesia, Bank Central Asia (BCA), serta produsen rokok Djarum. Sektor perbankan Indonesia yang tetap resilien menghadapi guncangan ekonomi memberikan bantalan yang sangat kuat bagi aset-aset Robert Budi Hartono. Loyalitas nasabah dan manajemen risiko yang konservatif namun efektif di BCA tetap menjadikannya sebagai instrumen investasi paling berharga di tanah air.
4. Anthoni Salim: Gurita Bisnis dari Konsumsi Hingga Infrastruktur
Di posisi keempat, kita menemukan Anthoni Salim dengan total kekayaan US$ 11,9 miliar atau sekitar Rp 206,29 triliun. Melalui Salim Group, Anthoni mengelola ekosistem bisnis yang sangat luas, mulai dari mi instan melalui Indofood, ritel lewat Indomaret, hingga ekspansi besar-besaran di bidang telekomunikasi, energi, dan infrastruktur digital. Strategi diversifikasi yang dijalankan Salim Group terbukti sangat ampuh dalam menjaga stabilitas kekayaan di tengah volatilitas pasar.
5. Tahir & Keluarga: Kekuatan di Sektor Jasa dan Filantropi
Pendiri Mayapada Group, Tahir, menempati urutan kelima dengan pundi-pundi kekayaan sebesar US$ 9,7 miliar atau sekitar Rp 168,15 triliun. Bisnis keluarga Tahir mencakup berbagai lini vital mulai dari perbankan, layanan kesehatan (rumah sakit), hingga properti mewah. Keberadaannya dalam daftar ini juga menonjolkan pengaruh besar sektor jasa kesehatan yang terus bertumbuh pasca-pandemi, di mana permintaan terhadap layanan medis berkualitas semakin meningkat.
6. Sri Prakash Lohia: Raksasa Polimer dan Tekstil
Sri Prakash Lohia berada di peringkat keenam dengan kekayaan mencapai US$ 8,8 miliar atau setara Rp 152,55 triliun. Melalui Indorama Ventures, ia telah membangun kerajaan bisnis di bidang petrokimia, khususnya produksi polimer dan pupuk, yang menjangkau pasar internasional. Posisinya yang naik tipis bulan ini menunjukkan kekuatan permintaan global terhadap produk turunan minyak bumi untuk industri tekstil dan kemasan.
7. Otto Toto Sugiri: Sang Pionir Pusat Data Indonesia
Salah satu nama paling menarik dalam daftar ini adalah Otto Toto Sugiri yang berada di posisi ketujuh dengan kekayaan US$ 8,4 miliar atau Rp 145,62 triliun. Sebagai CEO DCI Indonesia, Otto adalah bukti nyata bahwa sektor teknologi digital dan infrastruktur data center telah melahirkan miliarder baru. Pertumbuhan konsumsi data yang meledak di Indonesia menjadikan perusahaan pusat datanya sebagai aset yang sangat bernilai tinggi di mata para investor.
8. Marina Budiman: Srikandi Teknologi di Panggung Miliarder
Marina Budiman mengukir prestasi sebagai satu-satunya wanita dalam daftar 10 besar orang terkaya Indonesia dengan kekayaan US$ 6 miliar atau Rp 104,06 triliun. Rekan bisnis Otto Toto Sugiri ini memegang peran strategis sebagai Presiden Komisaris di DCI Indonesia. Keberadaan Marina memberikan warna tersendiri dalam daftar yang didominasi pria ini, sekaligus menegaskan pentingnya kepemimpinan perempuan dalam industri teknologi tinggi.
9. Lim Hariyanto Wijaya Sarwono: Kejayaan dari Perkebunan Sawit
Di posisi kesembilan, Lim Hariyanto Wijaya Sarwono mencatatkan kekayaan sebesar US$ 5,3 miliar atau sekitar Rp 91,88 triliun. Melalui Bumitama Agri yang terdaftar di bursa Singapura, keluarga Lim mengandalkan sektor agribisnis, khususnya kelapa sawit. Meskipun harga komoditas sawit fluktuatif, efisiensi manajemen kebun dan luas lahan produktif yang mereka miliki tetap mampu menyokong kekayaan mereka di jajaran elit nasional.
10. Haryanto Tjiptodihardjo: Transformasi Manufaktur Menuju Puncak
Menutup daftar 10 besar, Haryanto Tjiptodihardjo memiliki kekayaan US$ 5 miliar atau setara Rp 86,68 triliun. Sebagai nakhoda Impack Pratama, ia berhasil melanjutkan sekaligus membesarkan warisan sang ayah dalam industri material bangunan dan plastik. Fokusnya pada inovasi produk dan ekspansi pasar regional menjadikan perusahaannya sebagai salah satu pemain manufaktur paling diperhitungkan di Asia Tenggara.
Secara keseluruhan, daftar orang terkaya Indonesia pada Mei 2026 ini memberikan gambaran bahwa investasi saham dan kepemilikan aset di sektor strategis tetap menjadi kunci utama akumulasi harta. Pergeseran peringkat antara sektor energi tradisional dan perbankan menunjukkan bahwa pasar terus mencari keseimbangan baru dalam menilai masa depan ekonomi nasional.