Aksi Totalitas Dewi Perssik: Tempuh Jalur Udara dengan Helikopter Demi Tunaikan Ibadah Kurban
RadarLokal — Di tengah hiruk-pikuk perayaan hari besar keagamaan, dedikasi seorang publik figur sering kali menjadi sorotan publik. Kali ini, nama pedangdut legendaris Dewi Perssik mencuat bukan karena perseteruan atau prestasi panggungnya, melainkan karena perjuangan luar biasanya demi menjalankan ibadah hewan kurban di Jakarta. Meski terjebak jadwal pekerjaan yang sangat padat di pelosok Kalimantan, pemilik goyang gergaji ini membuktikan bahwa jarak dan waktu bukanlah penghalang untuk berbagi kebaikan.
Pelaksanaan penyembelihan hewan kurban milik Dewi Perssik tahun ini memang sedikit berbeda dari biasanya. Jika mayoritas umat Muslim melaksanakannya tepat pada hari H Idul Adha, Dewi terpaksa menggeser jadwalnya satu hari lebih lambat. Hal ini bukan tanpa alasan kuat, melainkan karena tuntutan profesionalisme yang mengharuskannya berada di pulau seberang hingga detik-detik terakhir.
Menembus Langit Kalimantan demi Ibadah
Perjalanan Dewi Perssik untuk sampai ke rumahnya di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, layaknya sebuah skenario film aksi. Sebelum mendarat di ibu kota, ia diketahui tengah mengemban tugas pekerjaan di wilayah Kalimantan Barat. Akses transportasi yang terbatas di daerah tersebut sempat membuat Dewi Perssik khawatir tidak bisa menyaksikan langsung prosesi kurban yang telah ia persiapkan jauh-jauh hari.
“Ke Pontianak, dari Pontianak ke Ketapang. Dari Ketapang ke Kayong itu perjalanannya berapa jam? Waduh, rasanya nggak sampai-sampai, nggak kelar-kelar,” ungkap Dewi saat ditemui tim RadarLokal di kediamannya pada Kamis (28/5/2026). Mengingat durasi perjalanan darat yang memakan waktu sangat lama dan melelahkan, pihak penyelenggara acara di Kalimantan akhirnya mengambil langkah praktis agar sang diva bisa segera kembali ke Jakarta.
Demi mengejar waktu dan memastikan sang artis bisa merayakan Idul Adha bersama warga sekitar, Dewi akhirnya dipulangkan dengan menggunakan fasilitas pesawat komersial yang disambung dengan helikopter pribadi. Pilihan menggunakan transportasi udara ini diambil sebagai solusi paling efisien untuk memangkas waktu perjalanan yang semula berjam-jam menjadi jauh lebih singkat.
Filosofi di Balik Penggunaan Helikopter
Bagi sebagian orang, penggunaan helikopter mungkin terlihat mewah. Namun bagi Dewi Perssik, ini adalah bentuk ikhtiar agar ia tidak kehilangan momen sakral setahun sekali tersebut. Ia mengaku sangat merindukan suasana lebaran di rumah sendiri, sebuah kemewahan yang jarang ia dapatkan mengingat jadwal panggungnya yang sering kali mengharuskan ia berkeliling daerah.
“Akhirnya mau nggak mau, ya sudah deh naik helikopter. Karena saya bilang, ‘Mumpung saya ini Lebaran nih. Saya kan nggak pernah ke mana-mana, baru kali ini saya bisa ke mana-mana’,” jelas pelantun tembang ‘Mimpi Manis’ tersebut dengan nada antusias. Baginya, pulang ke rumah bukan sekadar untuk beristirahat, melainkan untuk menunaikan tanggung jawab moral dan spiritual kepada lingkungan tempat tinggalnya.
Dua Sapi Limosin Raksasa di Jakarta
Sesampainya di Jakarta, rasa lelah akibat perjalanan lintas pulau seolah sirna begitu melihat dua ekor sapi limosin berukuran jumbo sudah menantinya di area penyembelihan. Tidak tanggung-tanggung, masing-masing sapi tersebut memiliki bobot fantastis mencapai 1,3 ton. Kehadiran hewan kurban raksasa ini pun sontak menarik perhatian warga Lebak Bulus yang ingin melihat langsung sapi-sapi berkualitas super tersebut.
Dewi Perssik menegaskan bahwa ia merasa harus segera melaksanakan penyembelihan begitu tiba. Ia tidak ingin sapi-sapi tersebut menunggu terlalu lama. “Saya sudah beli sapi, sapinya nungguin saya di situ di rumah, jadi saya mesti pulang. ‘Pak, saya mesti pulang. Saya kalau nggak pulang bagaimana?’,” tegasnya menceritakan komunikasinya dengan panitia di Jakarta selama ia masih berada di perjalanan.
Menariknya, karena loyalitasnya sebagai pelanggan tetap di tempat peternakan, mantan istri Aldi Taher ini juga mendapatkan bonus berupa dua ekor kambing. Hal ini menambah daftar hewan yang dikurbankannya khusus untuk wilayah Jakarta pada tahun ini.
Momen Dramatis dan Penuh Haru saat Penyembelihan
Proses penyembelihan yang berlangsung di kediaman Dewi Perssik tidak hanya dihadiri oleh panitia, tetapi juga dipadati oleh warga sekitar yang antusias. Suasana berubah menjadi sangat emosional ketika pisau jagal mulai disiapkan. Artis Indonesia yang dikenal pemberani ini ternyata menunjukkan sisi lembutnya saat berhadapan langsung dengan momen tersebut.
Di tengah kerumunan, Dewi terlihat tak henti-hentinya melantunkan gema takbir. Suaranya yang merdu namun bergetar menunjukkan kedalaman perasaan yang ia rasakan. Sesekali, ia tampak menutup matanya rapat-rapat, tak kuasa menyaksikan detik-detik nyawa sang hewan kurban dilepaskan. Ada empati yang besar yang ia tunjukkan, namun tetap diiringi dengan keteguhan hati untuk menjalankan syariat.
“Sekarang ya sudah, lega rasanya bisa berjumpa dengan tetangga-tetangga dan Pak RT,” tuturnya usai prosesi selesai. Kehadiran Dewi di tengah warga juga menjadi ajang silaturahmi yang hangat, menghapus jarak antara statusnya sebagai bintang besar dengan perannya sebagai bagian dari warga masyarakat.
Sebaran Kurban di Jember dan Malang
Jiwa kedermawanan Dewi Perssik ternyata tidak hanya terfokus di Jakarta. RadarLokal mencatat bahwa total ada 12 ekor sapi jumbo yang dikurbankan Dewi pada tahun ini. Hewan-hewan tersebut disebar ke berbagai titik penting dalam hidupnya, termasuk kota kelahirannya di Jember dan juga Malang, Jawa Timur.
Distribusi kurban yang meluas ini menunjukkan manajemen spiritual yang terencana dengan baik. Dewi ingin memastikan bahwa keberkahannya tidak hanya dinikmati oleh orang-orang di sekitarnya saat ini, tetapi juga oleh masyarakat di tanah kelahirannya. Hal ini rutin ia lakukan setiap tahun sebagai bentuk syukur atas limpahan rezeki yang ia terima di panggung hiburan tanah air.
Dampak Sosial dan Teladan dari Sang Diva
Apa yang dilakukan oleh Dewi Perssik memberikan pesan kuat tentang prioritas. Di tengah gemerlapnya dunia hiburan yang sering kali menjauhkan seseorang dari realitas sosial, Dewi justru memilih untuk menggunakan sumber dayanya—termasuk menyewa moda transportasi mahal—hanya untuk bisa berbagi daging kurban secara langsung.
Kegiatan ini juga membantu mempererat hubungan sosial dengan warga setempat. Melalui pembagian daging kurban tersebut, Dewi berharap dapat membantu meringankan beban masyarakat, terutama mereka yang jarang mengonsumsi protein hewani berkualitas tinggi. Sapi limosin 1,3 ton yang ia kurbankan dipastikan akan menjadi berkah bagi ratusan kepala keluarga di sekitar rumahnya.
Meskipun penuh drama dan perjuangan fisik yang melelahkan, Dewi Perssik menutup hari itu dengan senyuman. Baginya, kelelahan fisik setelah menempuh perjalanan udara ribuan kilometer terbayar tuntas dengan melihat kebahagiaan di wajah para tetangga. Inilah esensi sejati dari kurban bagi seorang Dewi Perssik: sebuah pengorbanan yang tak hanya berupa materi, tetapi juga waktu, tenaga, dan perasaan.