Berburu Harta Karun di Negeri Sakura: Mengintip Hobi Thrifting Ferry Maryadi yang Pilih Kualitas Tanpa Was-was

Nadia Safira | RADAR LOKAL
30 Mei 2026, 20:13 WIB
Berburu Harta Karun di Negeri Sakura: Mengintip Hobi Thrifting Ferry Maryadi yang Pilih Kualitas Tanpa Was-was

RadarLokal — Bagi sebagian besar pecinta mode, berburu barang bekas berkualitas atau yang lebih dikenal dengan istilah thrifting adalah sebuah petualangan tersendiri. Namun, bagi aktor kawakan Ferry Maryadi, kegiatan ini bukan sekadar mencari pakaian murah, melainkan sebuah misi untuk menemukan barang otentik dengan fungsionalitas tinggi. Jepang pun menjadi destinasi pilihannya untuk menyalurkan hobi unik tersebut.

Kepopuleran Jepang sebagai kiblat fashion pria dunia memang tidak perlu diragukan lagi. Dari distrik Harajuku hingga sudut-sudut tenang di Shimokitazawa, negeri ini menawarkan surga bagi mereka yang teliti dalam memilih serat kain dan detail jahitan. Ferry Maryadi mengakui bahwa setiap kali dirinya menginjakkan kaki di Negeri Sakura, agenda mencari barang-barang second-hand selalu masuk dalam daftar prioritasnya.

Baca Juga Drama Hukum Erin dan Eks ART: Antara Tawaran Damai dan Tekad Melawan Pembunuhan Karakter
Drama Hukum Erin dan Eks ART: Antara Tawaran Damai dan Tekad Melawan Pembunuhan Karakter

Alasan Keamanan dan Keaslian Barang Menjadi Prioritas Utama

Salah satu poin utama yang membuat Ferry begitu mantap berbelanja di Jepang adalah integritas pasar barang bekas di sana. Berbeda dengan banyak pasar loak di negara lain yang sering kali mencampuradukkan barang asli dengan tiruan, Jepang dikenal memiliki regulasi yang sangat ketat mengenai peredaran barang palsu.

“Kenapa kita yakin belanja di sana? Karena memang barang palsu itu dilarang keras. Jadi saat kita membeli sebuah item, ada rasa tenang karena kita tahu barang itu benar-benar asli,” ungkap Ferry saat ditemui di kawasan Mampang, Jakarta Selatan. Menurutnya, kejujuran penjual di Jepang menjadi nilai tambah yang sulit ditemukan di tempat lain. Jika sebuah barang memiliki cacat sekecil apa pun, biasanya pihak toko akan memberikan label informasi yang sangat transparan.

Baca Juga Bukan Sekadar Gimmick, Ardhito Pramono Buka Suara Soal Hubungannya dengan Davina Karamoy yang Menghebohkan Publik
Bukan Sekadar Gimmick, Ardhito Pramono Buka Suara Soal Hubungannya dengan Davina Karamoy yang Menghebohkan Publik

Hal ini tentu menjadi daya tarik bagi para kolektor barang branded. Meskipun statusnya adalah barang bekas, kualitas yang ditawarkan sering kali masih menyerupai kondisi baru. Ferry menekankan bahwa di Jepang, barang asli memang memiliki harga yang relatif tinggi, namun kepastian kualitasnya sebanding dengan nominal yang dikeluarkan.

Seni Menawar: Mendapatkan Kualitas Premium dengan Harga Miring

Meskipun Jepang dikenal sebagai negara dengan biaya hidup yang cukup tinggi, Ferry Maryadi mengungkapkan sebuah rahasia kecil dalam berbelanja di sana. Ternyata, kemampuan bernegosiasi atau menawar harga tetap bisa dipraktikkan di beberapa tempat tertentu, terutama di pasar-pasar barang bekas yang lebih tradisional atau toko-toko non-waralaba.

Ia memberikan gambaran yang cukup mencolok mengenai perbandingan harga. Ferry menjelaskan bahwa jika seseorang memiliki ketelitian dan kepandaian dalam menawar, barang yang awalnya dibanderol dengan harga yang lumayan tinggi bisa didapatkan dengan harga yang jauh lebih terjangkau. “Kalau pintar menawar, barang yang mungkin di sana seharga Rp 100 ribu bisa kita bawa pulang dengan harga Rp 30 ribu atau Rp 40 ribu saja,” ujarnya dengan nada antusias.

Baca Juga Misteri Dibalik Layar Cerita Lila: Transformasi Fenomena YouTube Menuju Teror Emosional di Bioskop
Misteri Dibalik Layar Cerita Lila: Transformasi Fenomena YouTube Menuju Teror Emosional di Bioskop

Tentu saja, aktivitas belanja hemat ini memerlukan kesabaran ekstra. Ferry tidak jarang menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menyisir satu blok pertokoan demi menemukan item yang benar-benar pas di hati dan tentu saja, pas di kantong.

Fungsionalitas di Atas Gaya: Pakaian Khusus untuk Motoran

Sebagai seorang pecinta otomotif dan anggota komunitas motor, Ferry Maryadi tidak mencari pakaian hanya berdasarkan tren semata. Ia memiliki kebutuhan spesifik, terutama untuk perlengkapan berkendara atau riding gear. Thrifting di Jepang memberinya akses ke merek-merek teknis yang fokus pada durabilitas dan kenyamanan saat di jalan.

Salah satu barang favorit yang sering ia cari adalah celana jeans khusus motor. Ferry menjelaskan bahwa ada perbedaan signifikan antara jeans biasa dengan jeans yang dirancang untuk kebutuhan berkendara. “Kalau buat motoran, saya biasanya cari brand tertentu. Bukan kayak jeans biasa yang kalau kena hujan langsung terasa berat dan tidak nyaman,” jelas suami Deswita Maharani tersebut.

Baca Juga Simbolisme Angka 2026 dan Logam Mulia: Mengintip Detail Mahar Mewah El Rumi untuk Syifa Hadju
Simbolisme Angka 2026 dan Logam Mulia: Mengintip Detail Mahar Mewah El Rumi untuk Syifa Hadju

Teknologi bahan yang ditawarkan oleh produk-produk tersebut membuatnya tetap merasa ringan dan nyaman meskipun cuaca tidak menentu. Hal inilah yang membuat Ferry merasa bahwa berburu barang bekas di Jepang bukan sekadar gaya hidup, melainkan investasi untuk kenyamanan hobinya di atas aspal. Ia mencari perpaduan antara perlindungan maksimal dan estetika yang tetap maskulin.

Thrifting Sebagai Agenda Liburan Keluarga

Hobi thrifting ini ternyata tidak dilakukan Ferry sendirian. Saat liburan ke Jepang tahun lalu, ia turut mengajak anak-anaknya untuk merasakan pengalaman yang sama. Menariknya, di Jepang, konsep toko barang bekas sudah sangat modern, bahkan ada yang menempati bangunan serupa mal dengan penataan yang sangat rapi dan bersih.

Baca Juga SugarBaby Gebrak Belantika Musik dengan ‘Hempaskan’, Sebuah Manifesto Melawan Cowok Red Flag dan Hubungan Toxic
SugarBaby Gebrak Belantika Musik dengan ‘Hempaskan’, Sebuah Manifesto Melawan Cowok Red Flag dan Hubungan Toxic

“Waktu liburan kemarin, anak-anak juga ikut belanja. Tempatnya bagus, ada malnya juga, jadi belanjanya ya lebih sering baju sih. Ada yang buat kerja, ada juga yang memang buat kebutuhan motoran saya,” tambah Ferry. Hal ini menunjukkan bahwa budaya barang bekas di Jepang sudah naik kelas dan menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat luas, bukan lagi sesuatu yang dipandang sebelah mata.

Ferry juga melihat bahwa anak-anaknya mulai belajar menghargai kualitas barang dibandingkan sekadar melihat label harga. Mengajarkan anak-anak untuk memilih barang bekas berkualitas juga secara tidak langsung memberikan edukasi mengenai gaya hidup berkelanjutan atau sustainable fashion, di mana kita memperpanjang masa pakai sebuah produk daripada terus-menerus membeli produk baru yang meningkatkan limbah industri.

Mengapa Jepang Sangat Berbeda dengan Pasar Thrifting Lokal?

Meskipun di Indonesia pasar thrifting atau yang sering disebut ‘cakar’ sangat menjamur, Ferry merasa ada atmosfer yang berbeda saat melakukannya di Jepang. Selain faktor keaslian barang, faktor kebersihan dan kurasi barang di toko-toko Jepang sangatlah ketat. Barang yang dipajang biasanya sudah melalui proses pencucian atau pembersihan profesional terlebih dahulu.

Selain itu, variasi ukuran dan model yang tersedia di Jepang sering kali lebih cocok dengan selera pribadinya yang menyukai gaya-gaya klasik dan vintage. Budaya masyarakat Jepang yang sangat apik dalam merawat barang pribadi membuat kondisi barang bekas di sana rata-rata masih berada di angka 90 persen ke atas.

Bagi Ferry, thrifting adalah sebuah perjalanan mencari identitas melalui pakaian. Ia tidak ingin terlihat sama dengan orang lain yang hanya mengikuti tren toko ritel besar. Dengan barang bekas, ada nilai historis dan keunikan yang tidak bisa diduplikasi secara massal.

Kesimpulan: Kesenangan dalam Ketelitian

Kisah Ferry Maryadi ini memberikan perspektif baru bahwa dunia fashion bekas bisa menjadi sangat eksklusif jika kita tahu ke mana harus mencari. Jepang dengan segala ketertiban dan standarnya yang tinggi telah berhasil mengubah pandangan Ferry mengenai barang second-hand.

Bagi Anda yang berencana mengunjungi Jepang dalam waktu dekat, mungkin mengikuti jejak Ferry Maryadi untuk menyelami pasar barang bekas bisa menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Bukan hanya soal mendapatkan harga murah, tapi tentang kepuasan menemukan barang impian yang original dan memiliki fungsionalitas tinggi.

Pada akhirnya, seperti yang ditunjukkan oleh Ferry, gaya hidup tidak harus selalu tentang barang baru yang mahal. Dengan sedikit ketelitian, kesabaran, dan tentu saja keberanian untuk menawar, siapa pun bisa tampil gaya tanpa harus mengabaikan faktor keamanan dan kenyamanan. Dunia thrifting adalah dunia bagi mereka yang menghargai kualitas di balik setiap helai pakaian.

Nadia Safira

Nadia Safira

Content creator yang memiliki radar tajam terhadap isu viral dan gaya hidup. Menjaga konten Radar Hot tetap segar dan menghibur.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *