Jeritan Hati Nur Rohmah: Menguak Tabir Tekanan Psikis dan Polemik Gaji di Kediaman Erin Taulany

Nadia Safira | RADAR LOKAL
07 Jun 2026, 22:12 WIB
Jeritan Hati Nur Rohmah: Menguak Tabir Tekanan Psikis dan Polemik Gaji di Kediaman Erin Taulany

RadarLokal — Tabir gelap di balik dinding kediaman mewah mantan istri Andre Taulany, Erin, perlahan mulai tersingkap ke publik. Nur Rohmah, seorang perempuan yang pernah mengabdikan dirinya sebagai Asisten Rumah Tangga (ART) di sana, kini muncul dengan pengakuan yang menggetarkan hati. Bukan sekadar urusan pekerjaan fisik yang berat, melainkan luka batin akibat tekanan psikis yang ia klaim didapatkan selama masa kerjanya yang singkat namun penuh beban tersebut.

Dalam sebuah pengakuan yang emosional, Nur Rohmah menceritakan bagaimana hari-harinya diwarnai dengan ketidakpastian emosi dari sang majikan. Ia mengaku sering kali menjadi sasaran kemarahan yang melampaui batas kewajaran hubungan kerja antara majikan dan bawahan. Pengalaman ini meninggalkan bekas yang mendalam, membuatnya merasa tidak hanya lelah secara raga, tetapi juga hancur secara mental.

Baca Juga Kemenangan Telak dr. Reza Gladys: Gugatan Fantastis Rp 244 Miliar Nikita Mirzani Kandas di Meja Hijau
Kemenangan Telak dr. Reza Gladys: Gugatan Fantastis Rp 244 Miliar Nikita Mirzani Kandas di Meja Hijau

Luka yang Tak Terlihat: Kekerasan Verbal di Balik Pintu Mewah

Bagi banyak orang, bekerja di lingkungan selebriti Indonesia mungkin dianggap sebagai sebuah keberuntungan. Namun, bagi Nur Rohmah, realitas yang ia hadapi justru bertolak belakang. Didampingi kuasa hukumnya, Basuki, Nur membeberkan bahwa selama bekerja di rumah Erin, ia kerap menerima perlakuan yang tidak menyenangkan secara verbal. Basuki menegaskan bahwa meskipun tidak ada ancaman fisik atau teror setelah Nur mengundurkan diri, namun memori akan kata-kata kasar itu tetap membekas.

“Kalau teror secara langsung setelah keluar, sementara ini memang tidak ada. Namun, saat masih berada di dalam rumah tersebut, klien kami sering mendengar bahasa-bahasa yang sangat tidak etis. Sebagai seorang majikan, ada satu dua kata yang keluar saat marah yang sangat tidak pantas untuk diucapkan kepada siapapun, apalagi kepada bawahannya,” ungkap Basuki saat ditemui oleh tim RadarLokal.

Baca Juga Drama Hukum Erin dan Eks ART: Antara Tawaran Damai dan Tekad Melawan Pembunuhan Karakter
Drama Hukum Erin dan Eks ART: Antara Tawaran Damai dan Tekad Melawan Pembunuhan Karakter

Ketika Nur Rohmah diminta untuk merinci lebih dalam mengenai apa yang ia maksud dengan bahasa tidak etis tersebut, suaranya terdengar bergetar. Ia mengungkapkan bahwa kata-kata seperti “tolol” dan “bego” seolah menjadi makanan sehari-hari saat sang majikan sedang naik pitam. Hal ini menciptakan atmosfir kerja yang sangat toksik dan menekan, di mana kesalahan sekecil apapun bisa berujung pada hinaan yang merendahkan martabat.

Efek Domino Kemarahan dan Tekanan Psikis

Nur menjelaskan bahwa kemarahan tersebut tidak selalu dipicu oleh kesalahannya sendiri. Seringkali, ia menjadi korban dari efek domino kemarahan di rumah tersebut. Jika ada satu pekerja lain yang melakukan kesalahan dan ditegur dengan keras, maka Nur dan rekan-rekan lainnya pun akan ikut terkena imbasnya. Pola komunikasi yang agresif ini menurutnya terjadi cukup sering, sehingga menciptakan rasa takut yang konstan bagi para pekerja di sana.

Baca Juga Skandal Film Dosa: Ratu Sofya Bongkar Borok PH, Curhat Tak Dibayar Sepeser Pun Meski Jadi Tulang Punggung Keluarga
Skandal Film Dosa: Ratu Sofya Bongkar Borok PH, Curhat Tak Dibayar Sepeser Pun Meski Jadi Tulang Punggung Keluarga

“Itu sering banget terjadi kalau lagi marah. Bukan cuma saya, yang lain juga kena. Kalau sudah marah, kata-kata seperti tolol atau bego itu dibilangnya sering keluar. Rasanya sangat sakit hati, padahal kita di sana niatnya mencari nafkah dengan baik-baik,” tutur Nur dengan nada sedih. Meskipun ia menegaskan bahwa kekerasan fisik tidak pernah dialaminya, namun kekerasan verbal yang berulang kali terjadi telah menciptakan trauma psikis yang tidak kalah menyakitkan.

Ponsel yang Disita dan Isolasi dari Dunia Luar

Salah satu poin paling memprihatinkan dari kesaksian Nur Rohmah adalah mengenai pembatasan komunikasinya dengan dunia luar. Ia mengklaim bahwa selama bekerja, telepon genggamnya sering kali ditahan oleh pihak majikan. Hal ini mengakibatkan dirinya terisolasi dan kesulitan untuk memantau kondisi keluarganya di kampung halaman. Situasi ini mencapai titik nadir ketika ia mendapat kabar bahwa orang tuanya sedang jatuh sakit parah.

Baca Juga Rahasia Dustin Tiffani Tetap Wangi Seharian: Transformasi Gaya Hidup dan ‘Titah’ Sang Istri yang Tak Terduga
Rahasia Dustin Tiffani Tetap Wangi Seharian: Transformasi Gaya Hidup dan ‘Titah’ Sang Istri yang Tak Terduga

“Saya sudah mencoba bilang ingin keluar secara baik-baik karena merasa tidak kuat lagi. Cuma karena HP selalu ditahan, saya kesulitan menghubungi orang tua dan keluarga. Padahal saat itu saya dengar orang tua saya sedang sakit, sampai muntah darah dan harus masuk Puskesmas. Saya merasa sangat tersiksa karena tidak bisa berbuat apa-apa di tengah tekanan yang ada di dalam rumah itu,” jelasnya panjang lebar.

Tindakan penahanan alat komunikasi ini, jika benar adanya, merupakan bentuk pelanggaran hak asasi pekerja yang sangat serius. Dalam konteks hak pekerja rumah tangga, kebebasan untuk berkomunikasi dengan keluarga adalah hak dasar yang tidak boleh dirampas, apa pun alasannya.

Baca Juga Buntut Kontroversi Sindiran terhadap Pandawara, Bigmo Resmi Berpisah dengan Team RRQ: Pelajaran Mahal di Balik Profesi Brand Ambassador
Buntut Kontroversi Sindiran terhadap Pandawara, Bigmo Resmi Berpisah dengan Team RRQ: Pelajaran Mahal di Balik Profesi Brand Ambassador

Hak yang Terabaikan: Polemik Gaji yang Belum Terbayar

Selain masalah tekanan mental dan isolasi komunikasi, Nur Rohmah juga membawa persoalan hak finansial yang belum ia terima. Setelah bekerja selama hampir dua bulan, ia mengaku belum menerima sepeser pun gaji dari pihak Erin. Hal ini menambah daftar panjang penderitaan yang dialaminya, mengingat tujuan utamanya bekerja adalah untuk membantu ekonomi keluarga dan membiayai pengobatan orang tuanya.

“Sampai sekarang, saya belum dapat hak saya. Belum dapat sama sekali,” tegas Nur. Ketidakjelasan mengenai pembayaran gaji ini menjadi alasan kuat mengapa ia akhirnya memilih untuk menempuh jalur hukum dan menyuarakan masalah ini ke publik. Baginya, gaji tersebut bukan sekadar angka, melainkan hasil keringat dan harapan untuk keluarganya.

Pentingnya Perlindungan Hukum Bagi ART

Kasus yang dialami oleh Nur Rohmah ini kembali membuka mata publik mengenai urgensi perlindungan hukum bagi ART di Indonesia. Selama ini, banyak ART yang bekerja dalam zona abu-abu, di mana hak-hak mereka sering kali diabaikan karena ketiadaan kontrak kerja yang jelas dan perlindungan undang-undang yang kuat. Kekerasan verbal, penyitaan alat komunikasi, hingga penahanan gaji adalah bentuk-bentuk eksploitasi yang masih sering terjadi di balik pintu-pintu rumah tangga.

Banyak pihak berharap agar kasus ini dapat diselesaikan dengan adil melalui jalur hukum yang berlaku. Masyarakat juga diingatkan untuk lebih peduli terhadap nasib para pekerja domestik di lingkungan sekitar. Hubungan antara majikan dan ART seharusnya didasarkan pada rasa saling menghormati dan profesionalisme, bukan berdasarkan relasi kuasa yang menindas.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Erin belum memberikan klarifikasi resmi lebih lanjut mengenai tudingan yang dilontarkan oleh mantan asisten rumah tangganya tersebut. Namun, Nur Rohmah menyatakan bahwa dirinya masih merasa enggan untuk bertemu langsung dengan sang mantan majikan karena rasa tidak nyaman dan trauma yang masih membekas. Fokus utamanya saat ini adalah mendapatkan haknya yang terabaikan dan memulihkan kondisi psikologisnya yang sempat terguncang.

RadarLokal akan terus mengawal perkembangan kasus ini untuk memastikan bahwa keadilan dapat ditegakkan bagi semua pihak. Kisah Nur Rohmah menjadi pengingat bagi kita semua bahwa di balik kemewahan dan popularitas, kemanusiaan dan keadilan harus tetap menjadi prioritas utama yang tidak boleh dilupakan.

Nadia Safira

Nadia Safira

Content creator yang memiliki radar tajam terhadap isu viral dan gaya hidup. Menjaga konten Radar Hot tetap segar dan menghibur.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *