Ketegangan Industri Kecantikan: Fitri Salhuteru Resmi Adukan Produk Doktif ke BPOM

Nadia Safira | RADAR LOKAL
07 Mei 2026, 16:12 WIB
Ketegangan Industri Kecantikan: Fitri Salhuteru Resmi Adukan Produk Doktif ke BPOM

RadarLokal — Panggung industri kecantikan tanah air kembali diguncang oleh babak baru perseteruan yang kian meruncing. Jika sebelumnya publik disuguhi aksi saling lempar argumen di media sosial, kini konflik tersebut telah memasuki ranah formal. Fitri Salhuteru, sosok yang dikenal vokal dalam dunia bisnis dan gaya hidup, secara resmi mendatangi kantor Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk mengadukan produk kecantikan milik influencer Samira, yang lebih akrab disapa Doktif.

Langkah berani ini diambil di tengah memanasnya hubungan antara Doktif dengan dr. Richard Lee. Fitri tidak datang sendirian; ia didampingi oleh sejumlah pakar medis seperti dr. Andreas dan dr. Janeth, serta perwakilan dari Aliansi Masyarakat Peduli Kosmetik Indonesia (Ampikindo). Kehadiran mereka di pusat komando pengawasan obat dan makanan tersebut menandai titik balik penting dalam drama skincare lokal yang tengah menjadi konsumsi publik.

Baca Juga Ridho Illahi dan Anindya Caroline Ungkap Rahasia Pernikahan dan Kabar Kehamilan 10 Minggu: Kisah Haru di Balik Layar
Ridho Illahi dan Anindya Caroline Ungkap Rahasia Pernikahan dan Kabar Kehamilan 10 Minggu: Kisah Haru di Balik Layar

Misi Pencarian Keadilan di Kantor BPOM

Bertempat di kantor pusat BPOM, kawasan Salemba, Jakarta Pusat, pada Kamis (7/5/2026), Fitri Salhuteru menegaskan bahwa kedatangannya bukan sekadar bentuk solidaritas, melainkan upaya audiensi resmi. Ia merasa perlu ada tindakan tegas terkait peredaran produk yang dianggap bermasalah secara regulasi. Fitri mengapresiasi langkah BPOM yang bersedia membuka pintu bagi masyarakat untuk menyuarakan kekhawatiran mereka.

“Hari ini agendanya adalah audiensi yang sangat penting,” ujar Fitri kepada awak media yang telah menunggu. Menurutnya, BPOM menunjukkan sikap yang sangat kooperatif dan transparan dalam menerima laporan dari masyarakat. Hal ini menjadi angin segar bagi siapa saja yang ingin melaporkan adanya dugaan pelanggaran dalam peredaran produk kecantikan di Indonesia.

Baca Juga Momen Air Mata Atta Halilintar yang Mengubah Takdir: Rahasia di Balik Keputusan Aurel Hermansyah Menikah Muda
Momen Air Mata Atta Halilintar yang Mengubah Takdir: Rahasia di Balik Keputusan Aurel Hermansyah Menikah Muda

Keterlibatan Fitri Salhuteru dalam pusaran konflik ini memang cukup menyita perhatian. Sebagai figur yang memiliki jejaring luas, ia menilai bahwa apa yang dilakukan oleh Doktif di media sosial perlu mendapatkan tinjauan dari sisi etika dan legalitas usaha. Fitri menekankan pentingnya menjaga integritas pasar kosmetik agar konsumen tidak menjadi korban dari narasi-narasi yang menyesatkan.

Tudingan Penjualan Produk yang Telah Dicabut Izinnya

Salah satu poin krusial yang disampaikan Fitri dalam audiensi tersebut adalah dugaan bahwa Doktif masih memperjualbelikan produk yang sebenarnya sudah ditarik dari peredaran oleh otoritas terkait. Fitri bahkan membawa bukti fisik berupa produk yang ia beli secara langsung melalui platform daring untuk ditunjukkan kepada pihak BPOM.

Baca Juga Seni Mendidik Ala Hanung Bramantyo: Tanpa Kemewahan Instan, Prestasi Jadi Syarat Mutlak Hadiah
Seni Mendidik Ala Hanung Bramantyo: Tanpa Kemewahan Instan, Prestasi Jadi Syarat Mutlak Hadiah

“Saya selalu mengatakan tentang konsep ‘mirroring’. Apa yang dilakukan Samira, khususnya yang dilakukan berulang kali di dunia maya, harus kita lihat secara objektif,” tegas Fitri. Ia menunjukkan sebuah produk yang baru saja di-checkout sebagai bukti nyata bahwa barang tersebut masih bebas beredar di tangan konsumen meskipun status legalitasnya dipertanyakan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun tim RadarLokal, produk tersebut diduga telah dicabut nomor izin edarnya. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan hal yang kontradiktif. Temuan ini menjadi landasan utama bagi Ampikindo dan rekan-rekan Fitri untuk mendesak BPOM melakukan investigasi lebih mendalam terhadap seluruh lini produk yang dipasarkan oleh influencer tersebut.

Eskalasi Konflik Doktif dan Richard Lee

Bukan rahasia lagi bahwa aksi Fitri Salhuteru ini merupakan buntut dari perselisihan panjang antara Doktif dan dr. Richard Lee. Perseteruan yang awalnya berfokus pada ulasan produk atau ‘review’ jujur, kini bergeser menjadi saling serang privasi dan dugaan pelanggaran hukum. Doktif sebelumnya sempat menuding pihak Richard Lee menggunakan buzzer untuk menjatuhkan reputasinya, bahkan membawa-bawa isu Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Baca Juga SugarBaby Gebrak Belantika Musik dengan ‘Hempaskan’, Sebuah Manifesto Melawan Cowok Red Flag dan Hubungan Toxic
SugarBaby Gebrak Belantika Musik dengan ‘Hempaskan’, Sebuah Manifesto Melawan Cowok Red Flag dan Hubungan Toxic

Namun, Fitri Salhuteru tampaknya ingin mengalihkan fokus kembali kepada substansi keamanan produk. Ia menilai bahwa seorang influencer kecantikan seharusnya menjadi garda terdepan dalam kepatuhan regulasi, bukan justru menjadi oknum yang melabrak aturan demi keuntungan pribadi. Perseteruan ini pun kini tak lagi sekadar masalah personal, melainkan sudah menyentuh aspek perlindungan konsumen yang lebih luas.

Dinamika ini juga memicu perdebatan di kalangan netizen. Sebagian mendukung langkah Fitri sebagai bentuk kontrol sosial, sementara sebagian lainnya melihat ini sebagai persaingan bisnis yang dibalut dengan isu hukum. Terlepas dari itu, kehadiran institusi negara seperti BPOM diharapkan mampu memberikan jawaban yang adil berdasarkan fakta-fakta ilmiah dan administratif.

Baca Juga Perjuangan Spiritual Ashanty: Menunda Operasi Sinus Kronis Demi Menunaikan Ibadah Haji ke Tanah Suci
Perjuangan Spiritual Ashanty: Menunda Operasi Sinus Kronis Demi Menunaikan Ibadah Haji ke Tanah Suci

Pesan untuk Pengusaha Skincare: Jangan Takut Ancaman

Di sela-sela kunjungannya, Fitri Salhuteru juga menitipkan pesan yang cukup kuat bagi para pelaku usaha di bidang kecantikan. Ia menyadari bahwa banyak pengusaha yang merasa terintimidasi oleh gerakan-gerakan influencer tertentu yang memiliki massa besar di media sosial. Fitri mendorong para pengusaha untuk tetap fokus pada kualitas produk dan kepatuhan hukum.

“Untuk teman-teman pengusaha skincare di luar sana, kalian jangan takut. Jangan pedulikan jika ada ancaman atau upaya menjatuhkan dari oknum influencer manapun,” tutur Fitri dengan nada tegas. Ia meyakini bahwa selama sebuah bisnis dijalankan dengan jujur dan mengikuti aturan BPOM, maka tidak ada alasan untuk merasa gentar terhadap tekanan publik yang tidak berdasar.

Fitri berharap bahwa kejadian ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi ekosistem kecantikan di Indonesia. Menurutnya, mengkritik produk orang lain adalah hak setiap orang, namun harus dilakukan dengan etika dan tanpa mengabaikan kesalahan pada produk sendiri. Ia menginginkan adanya iklim usaha yang sehat, di mana setiap brand bersaing secara adil lewat kualitas, bukan lewat narasi negatif yang menjatuhkan kompetitor.

Komitmen Memperbaiki Dunia Usaha Kecantikan

Menutup pernyataannya, Fitri menyampaikan rasa terima kasihnya kepada BPOM yang telah memberikan ruang bagi mereka untuk berdiskusi. Ia menegaskan bahwa gerakannya ini bukan didasari oleh kebencian pribadi, melainkan keinginan untuk memperbaiki standar industri kosmetik nasional. Baginya, keamanan konsumen adalah prioritas tertinggi yang tidak bisa ditawar dengan alasan apa pun.

“Tujuan kami di sini hanya satu, ingin bersama-sama memperbaiki dunia usaha skincare di Indonesia agar lebih berintegritas,” tutup Fitri sebelum meninggalkan gedung BPOM. Langkah ini diprediksi akan memicu respons balik dari pihak Doktif, yang hingga kini masih cukup aktif menyuarakan pembelaannya di platform media sosial.

Dengan keterlibatan BPOM dalam pusaran kasus ini, publik kini menunggu hasil verifikasi resmi terkait status produk-produk yang dipermasalahkan. Apakah ini akan menjadi akhir dari karier sang ‘Dokter Detektif’ atau justru menjadi momentum bagi industri kecantikan untuk melakukan pembersihan massal dari produk-produk ilegal? Satu hal yang pasti, mata masyarakat kini tertuju pada transparansi BPOM dalam menangani laporan ini.

Dunia kecantikan memang selalu penuh warna, namun di balik kemasannya yang cantik, ada aturan main yang harus dipatuhi. Konflik antara Fitri Salhuteru dan Doktif ini adalah pengingat bagi semua pihak bahwa di era digital, jejak rekam dan kepatuhan hukum akan selalu menjadi tolok ukur utama dalam membangun kepercayaan konsumen.

Nadia Safira

Nadia Safira

Content creator yang memiliki radar tajam terhadap isu viral dan gaya hidup. Menjaga konten Radar Hot tetap segar dan menghibur.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *